Ksatria Panji

Ksatria Panji
Pertemuan Pertama Setelah 100 Tahun


__ADS_3

"Hei minggir" Teriak beberapa anak muda yang berlari dengan sangat cepat seolah mereka dikejar oleh Hewan buas.


"Hei kisanak, minggir lah kami akan lewat" Anak-anak muda tersebut semakin tidak sabar.


"Lewat aja aku tidak menghalangi kalian". Kisanak itupun berbalik badan dan mendapati 4 orang anak muda yang menyerangnya dari belakang.


Begitu tiba-tiba, Pria tadi menangkis serangan dan memukul mereka sebagai balasan hingga mereka terjerembab.


Seruling yang selalu dimainkannnya pun menjadi senjata untuk melawan anak-anak tadi. Ketika Pria itu akan menyerang terakhir kali anak yang terakhir menjadi lawannya langsung menyerah.


"Tu tunggu kisanak". Anak muda terakhir gemetardan mengangkat tangannya, nafasnya pun tidak beraturan. Sedangkan Pria yang memegang suling tadi hanya tersenyum.


"Kalian mau kemana buru-buru seperti ini, kalian lihatkan ini pasar, banyak orang lalu lalang disini. Berapa usia kalian sehingga kalian main lari-larian disini?" Omel Pria itu sambil menyelipkan suling dibalik pakaian yang dikenakannya.


4 anak muda tadi langsung berdiri dan meminta maaf pada Pria berseruling. "Kisanak, sebenarnya kami benar-benar diburu waktu". Kata Pria yang paling kurus dengan nada tergesa-gesa.


"Benar, Perguruan harimau Putih menerima murid-murid baru, jadi kami menempuh perjalanan yang cukup jauh dari desa kecil, hari ini adalah hari terakhir penerimaan murid" Kata Pria yang paling dewasa di antara mereka.


"Hahahaha jadi begitu sebenarnya, baiklah kalau begitu aku akan ikut dengan kalian". Pri pemilik seruling langsung meraangkul mereka berempat dan berbicara banyak hal.


"Jangan dengarkan dia, dia itu sok tau". Teriak Tukang sayur didekat mereka setelah melemparkan sayur busuk ke arahnya.


"Paman kenapa kau selalu mencampuri urusanku, apa kau begitu berindukan untuk berbicara denganku" Ujarnya sambil melempar kembali sayur busuk yang dilempar penjual sayur tadi.


"Hahaha aku hanya senang mengganggumu, Panji, cepat-cepatlah pergi jauh-jauh dari toko ku, kau membuat sayuranku banyak 6ang busuk"


"Ckckck, Panji hanya mendecit berlalu dengan ke 4 pria tadi.


"Ahh, jadi kisanak bernama Panji, saya mendengar beberapa penduduk didesa ini kalo ada seseorang pendekar bernama Panji, apa itu kisanak?".


Tanya Pria gemuk dan berkepala botak.


"Ahh tidak-tidak aku hanya penjaga pasar saja bukan Panji yang pendekar itu hahaha, mana mungkin, kalian lihat gaya pakaianku," Panji menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan, "ahh tapi aku penasaran kalian belum memperkenalkan diri."


"Maaf sebelumnya kisanak saya Cayya yang paling kurus ini adalah Galih, yang botak itu Oni dan yang berambut panjang dan paling tampan itu Sakya"


"Baik karena tujuan kita sama, aku bisa berpergian bersama kalian"


"Jadi Panji, kau akan pergi juga itu bagussetidaknya jumlah kita bertambah". Cayya begitu semangat sedangkan Sakya "cih, asal jangan merepotkan dan pamer kekuatan saja".


Sakya berlalu dengan cepat kipas berayun-ayun ditangannya.


"Maaf Panji, Dia memang suka begitu, aku harap kau tidak tersinggung" Cayya pun meminta maaf untuk perlakuan Sakya.


"Ahhh, sudahlah sekarang ceritakan Perguruan harimau putih yang akan kita tuju sekarang"

__ADS_1


"Perguruan Harimau Putih adalah tempat kita untuk melatih beladiri sama seperti perguruan lainnya, tetapi di perguruan ini lebih banyak sumber daya dan mereka merekrut murid dari seluruh penjuru nusantara, dan sering masuk ke desa-desa kecil. Selain itu, Pemilik Perguruan Harimau Putih adalah pendekar yang berusia di atas 100th"


Cayya bercerita dengan semangat sehingga membuat mereka mendengar pun tidak merasa bahwa mereka telah melewati pasar dan telah memasuki hutan.


"Apa 100th?? Bukankah itu berarti sudah tua, sesepuh tua???" Tanya Panji.


"Tidak"


"Kenapa tidak" tanya Panji lagi.


"Kau ini bodoh ya, Pemilik Perguruan Harimau Putih itu ilmu kanugaran yang sangat tinggi sehingga berumur panjang bahkan bisa sampai 1000th, kau ini tinggal dimana, apa tidak mendengar hal seperti ini."


Sakya terlihat agak emosi, dia menggulung kipasnya dan menjadikan itu sebagai alat untuk menunjuk-nunjuk wajah Panji.


"Hei hei berhenti, kau ini apa-apaan Sakya tidak sopan sekali" kemudian Garih memperingatkan Sakya untuk bersikap lebih sopan.


"Hei lihat kita sudah sampai, ini tempatnya" si botak Oni menunjuk tempat didepan mereka. Pintu depan yang telah terbuka dan didalamnya sangat ramai orang-orang yang akan ikut seleksi penerimaan murid baru.


"Mari kita masuk" Cayya memimpin mereka masuk melalui pintu gerbang yang besar. Si botak Oni terheran-heran dengan besarnya pintu begitu Gali yang melihat keramaian orang didalam. Sedangkan Sakya hanya mendesah sinis melihat perilaku mereka. Panji bersikap biasa saja.


****


"Tuan, sangat jarang melihat anda untuk ikut perekrutan murid baru, apa yang membawa anda kemari" Pria tua dengan janggut panjang terlihat begitu sopan bicara dengan seseorang, bahkan dia sedikit membungkuk tanda penghormatan.


"Tidak ada,hanya ingin saja".


"Ya" Pria anggun berjubah putih keemasan dengan mahkota sederhana berwarna perak serta rambut panjang hitam legam, wajah yang rupawan dengan kulit putih bersih menduduki kursi utama di arena itu.


Pria itu terlihat seperti pemuda yang berusia 20an. Tapi sebenarnya dia adalah Monster Tua yang telah hidup lebih dari 100th, bener Ilmu kanugaraannya yang tinggi membuat dia selalu tampil awat muda.


'Merasakan reaksi dari Mustika Harimau Putih, itulah kenapa aku mau berlama-lama disini'


"Tuan apa perlu tambah teh atau snack lagi, jika..." Belum selesai dia berbicara Pria tampan pun menjawab, "Tidah perlu"


"Baiklah kalau begitu saya akan pergi sebentar untuk menyambut tetua-terua yang datang"


"Ya" jawab Pria tampan dengan singkat


"Sial, kenapa jawab selalu singkat, begitu dingin membuat aku merinding" Pria itu berbisik sepelan mungkin pada dirinya sendiri, dia berharap Tuan tampan itu tidak mendengarnya.


Alun melodi seruling yang indah terdengar. Peia tampan itu berdiri dengan kaget, Tangan kirinya memegang Muslihat Harimau Putih yang bergetar dan bercahaya sejak alunan seruling terdengar.


"Tuan Satria, apa yang terjadi anda terlihat begitu..."


Tuan Satria kemudian terbang turun kebawah Arena untuk mencari Siapa yang mengalunkan melodi Seruling tadi.

__ADS_1


Satria tidak lagi peduli dengan tatapan dan pembiacaraan orang-orang disekitarnya.


"Lihat dia yang barusan terbang"


"Wah, tampan sekali dan dia memiliki Ilmu Kanuragan tinggi"


"Dia hebat sekali"


"Aku harus menikah dengannya"


"Satria melihat penampilan dari belakang Seorang Pria yang meniup Seruling. Rambutnya hitam panjang, baju dan celana panjang berwarna dominan hitam dan merah, kulitnya kuning langsat dengan badan yang lumayan atletis.


"Panji". Panggil Satria dengan pelan. Panji menoleh dan mendapati seorang Pria tampan didepannya. Panji pun melihat disekelilingnya dan dia baru sadar telah menjadi pusat perhatian.


Pria dihadapannya pun memiliki ekspresi rumit dan kaget terlukis diwajahnya, bahkan rona wajahnya mulai memerah.


Pria didepan perlahan mendekatinya. Pria itu kemudian meletakkan kedua tangannya dibahu Panji. Panji melirik tangan Pria itu yang menempel dipundaknya dan melirik disekitar melihat orang-orang yang memperhatikannya.


Panji terlihat kebingungan.


"Panji"


"I iiya" Panji sedikit gugup karena tekanan yang diberikan Pria didepannya.


Mereka terdiam sedikit lama membuat Panji tidak betah kemudian dia berkata, " Apa kita saling mengenal?" Panji memiringkan sedikit kepalanya dengan wajah yang dipenuhi ekspresi terheran-heran.


Perlahan cengkraman Satria dan Panji mengendur dan kemudian terlepas. Satria mengatur kembali ekspresi wajahnya semula menjadi lebih dingin.


Satria kemudian pergi menjauh tanpa melihat Panji kembali. "Aaaa Kisanak tunggu sebentar, siapa anda, Kisanak..." Teriak Panji tapi tidak digubris oleh Satria.


'Siapa dia? Apa dia mengenalku? 'batin Panji.


"Cih, belum apa-apa kau sudah menarik perhatian orang-orang terutama Pria tampan tadi,,, apa jangan-jangan kau... .." Ledek Sakya yang mendekati Panji setelah dia memperhatikan Satria dan Panji bicara.


"Berhenti bicara omong kosong" Terlihat sedikit kepanikan di mata Panji.


"Sudahi pentengkaran kalian, lihat sebentar lagi pendaftaran akan ditutup, pintu gerbang juga akan ditutup. Setelah itu baru seleksi akan dimulai".


Cayya pun menjelaskan dan diterima dengan Anggukan oleh teman-teman nya termasuk Panji.


***


'Sial apa yang terjadi pada ku, aku terlalu emosional, tentu saja dia tidak mengenalku, ini telah lewat 100th, tapi aku bersyukur karena telah dipertemukan kembali dengan Panji, aku harus mendekatinya dan mengembalikan ingatannya '


Diatas Arena Satria duduk sembari memegang Muslihat Harimau Putih yang masih terus bergetar dan bercahaya didalam kantung bajunya.

__ADS_1


***


__ADS_2