
"Untuk Kalian ketahui bahwa telah ada 1 orang yang telah di terima menjadi murid, ya sesuai dugaan Kalian dia adalah Panji, Panji bisakah kau naik ke atas sini" Panggil Tetua Dinata.
Panji pun naik ke atas Aula Tarung Bebas. "Panji adalah murid pertama sekaligus orang pertama yang menyelesaikan Pertarungan di Alam Aula Tombak"
"Tapi Tetua apa Patriak juga tidak dapat menyelesaikan Pertarungan di Alam Aula Tombak" Teriak seorang Peserta yang kemudian di tampol kepalanya oleh teman di sebelahnya karena bicara sembarangan.
"Ya seperti yang kalian alami, Patriak Saat itu hanya menyelesaikan Pertarungan Di Alam Aula Tombak selama 20 menit jadi tidak bisa di bilang selesai"
"Selain itu Patriak juga tidak menggunakan seluruh kekuatannya," Bela Tetua Dinata.
"Wahhhhh" Beberapa Peserta mulai ribut dan bicara di antara mereka.
"20 menit, aku 10 menit saja sudah langsung K.O"
"Iya jangankan 20 menit 5 menit saja itu sudah batasku"
"Baik, berhenti bicara dan dengarkan aku, Ahh panji kau bisa turun juga" Panji turun dan kembali ke teman-temannya.
"Babak Tarung Bebas tidak memiliki peraturan, kalian bebas membawa senjata apapun untuk bertarung. Untuk mempersingkat waktu kalian akan di bagi menjadi berkelompok, 1 kelompok berisi 5 orang, Kalian bebas memilih teman."
"Sekarang kalian di beri waktu untuk membentuk kelompok, hanya 5 menit oke" Ujar Tetua Dinata yang memperlihatkan kelima jarinya pada mereka.
5 menit pun terlewati dan mereka semua telah berkumpul pada kelompok masing-masing.
"Di tanganku sekarang ada nomor urut, masing-masing perwakilan kelompok kalian maju dan ambil 1" Mereka pun maju dan mengambil nomor satu persatu.
"Dari 300 kelompok, 2 kelompok akan memiliki nomor yang sama yang menentukan kelompok mana yang jadi lawan kalian, sekarang yang memiliki nomor urut 1 maju dan bertarung"
"Ah ya hanya sekedar memberi tau, untuk yang kalah pada pertarungan kelompok ini akan langsung tereliminasi, jadi berjuang lah sekuat tenaga, ingat jangan sampai sekarat apalagi mati"
"Baik kalian bisa bertarung sekarang"
"Cayya kita dapat nomor berapa?" Tanya Sakya yang mengintip nomor yang di dapat Cayya
"485" jawab Cayya menempelkan nomor urut itu di Kening Sakya dan mendapat gerutuan darinya.
"Wah jauh Sekali 485"
"Panji, jika kau ingin lihat pertarungan lebih jelas kau bisa naik ke atas sini"
Panji mendengar Suara lembut yang di kenalnya tapi dia kebingungan cara menjawab suara yang tiba-tiba masuk ketelinganya.
__ADS_1
"Jawab seperti biasa aku bisa mendengar suaramu dari sini" Panji kemudian menoleh ke arah Pria menawan yang duduk jauh di atas arena.
"Bisakah aku membawa teman-temanku?" Tanya Panji membuat teman di sekitarnya terheran-heran.
"Bawalah, aku akan siapkan 6 kursi lagi untuk kalian" Ucap Patriak Satria.
"Panji kau bicara dengan siapa?" Tanya Damar di sebelahnya.
"Aku bicara dengan Patriak, Beliau memintaku untuk naik dan duduk di atas tapi aku bertanya apa aku boleh membawa kalian lalu Patriak membolehkan nya" jawab Panji.
"Tunggu apalagi ayo kita ke atas" Ujar Oni yang berlagak akan memimpin jalan kemudian di tarik kembali oleh Galih.
"Hahaha aku hanya bercanda" kata Oni sambil tertawa cengengesan, dia pun mendapat pukulan kipas Oleh Sakya.
Panji beserta temannya naik ke atas Arena. Kemudian memberi penghormatan kepada Tetua dan Wakil Patriak yang kemudian di jawab dengan anggukan oleh Tetua.
Mereka pun memberi penghormatan kepada Patriak. Panji kemudian di perintahkan duduk di sebelah kanan Patriak. Sedangkan mereka berlima duduk di belakang bersama Para Tetua.
Sakya yang duduk paling kanan pun membisikkan sesuatu ke telinga Cayya di sebelahnya sembari menutupi nya dengan kipas. "Cayya, ehm kenapa kita juga duduk di sini aku gugup sekali"
"Tenanglah tenanglah" ucap Cayya menenangkan Sakya, tapi kemudian dia teringat teriakan Patriak yang menggelegar dan membuat banyak peserta seleksi serta murid keluar darah dari hidung dan mulut mereka. Cayya pun bergidik ngeri.
Galih dan Oni malah ngobrol sambil tertawa, terutama Oni yang kadang tawanya mengagetkan Para Tetua di sebelahnya.
"Panji, bagaimana keadaanmu" Tanya Patriak Satria.
"Berkat Patriak, Luka dalam sembuh dan Tenaga dalam ku terisi penuh, aku mengucapkan terima kasih banyak pada Patriak, tapi…. Aku minta maaf…" sesal Patria.
"Minta maaf untuk apa? "
"Aku tadi melihat-lihat buku yang ada di sebelah rak obat" jawab Panji
"Kau membaca buku apa?" Tanya Patriak kembali.
"Aku membaca tentang legenda Patriak Pembantai Iblis"
"Lalu apa pendapatmu tentangnya?" Tanya Patriak, dia mengangkat cangkir teh dan meminumnya, pandangannya pun lurus sedari tadi.
"Dia orang yang sangat hebat, meskipun dia di anggap jahat tapi aku tidak menemukan kejahatan apapun selain balas dendam yang dia lakukan. Selain itu dia juga seorang Penemu yang handal, beberapa barang ciptaannya sekarang di pakai banyak orang. Energi gelap yang luar biasa dia miliki mungkin membuat Pendekar yang lain terancam", tutur Panji menjelaskan.
Temannya di belakang mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedang Patriak hanya terdiam, Wakil Patriak di sebelah kirinya hanya tersenyum tipis kemudian mengangkat cangkir berisi arak dan kemudian meminumnya hingga habis.
__ADS_1
"Akhirnya aku menemukan muridku" Tetua Dalu pun mengekspresikan kebahagiaannya menemukan Damar sebagai pengganti Panji untuk menjadi muridnya.
"Ehm damar kemarilah" ujar Tetua Dalu. Damar menunjuk dirinya kemudian di jawab dengan anggukan oleh Tetua Dalu dan langsung memberi hormat kemudian berbincang-bincang dengan tetua tersebut.
Begitu juga teman-temannya yang lain di panggil Oleh Tetua yang sebelumnya ingin menjadikan mereka sebagai murid. Mereka berbincang banyak hal, mulai dari Asal-usul mereka dan kehebatan-kehebatan Para Tetua serta mendiskusikan pertandingan di depan mereka.
"Apa kau suka minum arak" Tanya Patriak pada Panji di sebelahnya.
"Apakah ada Arak yang enak Patriak" Tanya panji kembali dengan wajah sumringah sambil menatap Patriak.
Satria kemudian merogoh kantong penyimpanan harta dan mengeluarkan kendi hitam kecil. "Arak ini bernama Arak Raja Girang"
Beberapa Tetua dan Teman panji di belakang menahan tawa mendengar nama Arak yang begitu lucu tapi tidak dengan Wakil Patriak yang langsung menghampiri mereka.
Dia kemudian mengeluarkan Kendi yang sama. "Kalian tidak tau kenikmatan Arak Raja Girang, aku akan menuangkan sedikit untuk kalian berikan cangkir kalian" Tetua dan teman panji pun mengangkat cangkir mereka, menerima sedikit arak dari wakil Patriak.
"Kalian tidak akan dapat cangkir kedua karena aku hanya punya 2 kendi" wakil Patriak langsung menyimpan kendi itu kedalam kantong penyimpanannya.
"Wah ini enak sekali" Kagum Cayya.
"Iya benar, dari mana Arak seenak ini berasal?" Tanya Tetua Danu.
"Ini di beli dari Desa Karo di Kerajaan Andalas" jawab Wakil Patriak dengan bangga tak lupa dia mengelus-elus jenggotnya.
Satria mengulurkan kendi hitam kecil berisi Arak Raja Girang kepada Panji, kemudian panji menerima dan menuangkannya ke dalam cangkir dan meminumnya.
Saat itu pula dia langsung jatuh cinta pada Arak tersebut dan akan menyimpannya tetapi di tahan Oleh Patriak, "minumlah, aku masih memiliki Ratusan kendi Arak Raja Girang untukmu"
"Benarkah Patriak, kalau begitu aku tidak akan sungkan" Panji kemudian menghabiskan hampir setengah kendi Arak Raja Girang.
Panji tak sengaja menatap minuman yang ada di atas meja Patriak, jadi dia bertanya-tanya dalam hatinya. 'Kenapa tidak ada arak di atas meja Patriak? Bukankah dia memiliki ratusan Arak Raja Girang'
"Patriak, kenapa Anda tidak minum Arak" belum sempat Patriak menjawab Wakil Patriak pun nyeletuk, "Patriak tidak bisa dan tidak boleh minum arak"
"Owh jadi begitu" Satria mengangguk, kemudian dia menatap nanar cangkir berisi Arak Raja Girang dan meminumnya lagi dan lagi.
"No urut 485 turun dan bertarung" Teriak Tetua Danu.
"Ahh Giliran kita, Ayo Bertarung". Ucap Sakya dengan Percaya Diri. Mereka pun Turun dari Arena.
******
__ADS_1