Ksatria Panji

Ksatria Panji
TRAGEDI DI MALAM HARI


__ADS_3

   "Kemana Panji?," Tanya Sakya yang tengah berbaring di samping cayya. Kedua tangannya di lipat menumpu Kepalanya. Posisi yang sama dengan temannya yang lain. Pandangan mereka menerawang ke atas.


     Mereka bersama melihat tempat tidur paling ujung tepat di samping Sakya tengah kosong. "Kurasa dia bersama Patriak, " Jawab Cayya. 


     Sakya kemudian duduk menghadap mereka. "Apakah kalian tidak melihat hubungan yang ambigu antara Patriak dan Panji," ujar Sakya dengan heran. 


     Tiba-tiba ada guling terbang kearahnya dan mengenai kepalanya. "Kau yang lebih ambigu, kenapa kau selalu memperhatikan Panji berlebihan dan membuat Patriak marah, " Kata Oni setelah melempar guling kesayangannya. 


   "Kenapa kau selalu menyerangku gendut, ini aku kembalikan gulingmu yang bau, " Sakya kemudian melempar kembali guling yang bau dan kumel tersebut.


     "Iya benar juga kau lebih Parah daripada Patriak, kau sangat perhatian seperti istri pada suami, memberi makanan, menangis jika suami terluka, khawatir berlebihan dan….," belum sempat Damar melanjutkan perkataannya dia langsung di cekik oleh Sakya. Mereka pun membuat keributan. 


     Sakya menaiki tubuh Damar dan mencekiknya. "Hei hei berhenti Damar bisa mati," Kata Galih yang berusaha memisahkan mereka begitu pula Oni dan Cayya. Sakya kemudian memasukkan Sesuatu kedalam mulut Damar, dan masih mencekiknya. 


    Tanpa sengaja Damar memegang Bokong Sakya. "Kau brengsek, Lepaskan atau aku akan mencekikmu sampai mati, " Teriak Sakya. "Ini lembut seperti Roti, " Wajah Sakya berubah semakin merah dan mencekiknya semakin kuat. 


     "Hei apa yang kalian lakukan ribut-ribut begini,"Terdengar gebrakan pintu kamar terbuka dan Para Tetua pun masuk ke kamar mereka. 


     "Apa yang……. astaga lihatlah murid mu Safa, Dalu lihatlah kelakuan mereka," ujar Tetua Danu yang paling gendut. 


     Tetua Dalu dan Safa pun kaget. Yang satu menggelengkan kepala yang satunya menepuk dahi. 


     "Apa kau akan berada terus di atasnya?," tanya Tetua Safa setengah marah. Sakya pun langsung turun dan kembali ke tempat dia tidur.


     "Berhenti membuat keributan, dan tahan hasrat kalian aku akan mengawasi kalian berdua," ucap Tetua Dalu dengan tegas sambil menunjuk Sakya dan Damar. Dia kemudian mengedipkan matanya ke arah Damar. (Tetua Dalu berusaha mengerti isi hati Damar, dan dia benar benar salah paham)


     Para Tetua pun menutup kamar dan kembali ke tempat tidur mereka masing-masing.


Sementara Sakya belum bisa tidur, dia memikirkan apa reaksi Damar setelah meminum obat yang barusan dia berikan.


     Sakya pun tertawa cekikikan hingga matanya terpejam tak sadar di depannya ada seseorang. "Ahhh," Damar menutup mulut Sakya dengan tangannya untuk menghentikan Sakya berteriak dan membangunkan orang-orang kembali. 


    "Kau, apa yang kau lakukan di sini, ini tempat tidur Panji," bisik Sakya dengan marah.

__ADS_1


    "Dia tidak akan kembali, Dia bersama Patriak sekarang."


    "Kalau begitu pergi dari hadapanku, "bentak Sakya. 


     "Setelah kau memberikan obat itu padaku lihat ini," Damar menuntun tangan Sakya. Sakya pun menarik tangannya dan berkata, "Kau benar-benar menjijikkan, apa hubungannya denganku?."


     "Kau keluarkan atau aku akan membuatmu merasa susah untuk buang air besar?," ujar Damar setelah itu dia menjentikkan tangannya membuat Sakya tiba-tiba tidak bisa mengeluarkan suara apapun. 


      Sakya meraba-raba pinggangnya. "Apa kau mencari kantung penyimpanan hartamu, aku sudah menyembunyikannya," seringai Damar. Sakya semakin panik dan meraba-raba pinggang Damar tapi tidak menemukan Kantongnya.


     "Percuma bahkan jika kau mencari ke seluruh ruangan ini pun, kau tidak akan menemukannya" jelas Damar.


     "Lakukan dengan tanganmu atau….," dengan cepat Sakya mengangguk. Sakya kemudian menangis, tidak tega Damar kemudian melepaskan sihir bisunya.


     "Aku ini normal kenapa kau menyuruhku melakukan ini," Tangis Cakya semakin banyak, benci melihat Sakya menangis, Damar pun melancarkan aksinya yang berlebihan, mengunci kembali mulut Sakya. Seringai lebar dari Wajah Damar menakuti Sakya. 


Di hutan kecil milik Patriak Satya


     Panji sedang membaca buku tentang Legenda Patriak Pembantai Iblis, sementara Patriak sedang melukis di meja kecilnya.


     "Ya aku cukup mengenalnya," ucap Patriak lalu dia rileks kembali.


     "Dia orang yang seperti apa menurut Patriak?," tanya Panji sekali lagi. Dia benar-benar semakin penasaran. 


      Patriak kemudian berfikir, "dia orang yang sangat baik, setia, sayang pada keluarga, polos, selalu membela yang benar dan melawan kejahatan, dia juga sok pahlawan, kekanak-kanakan, menyebalkan, dan sering membuat orang lain menunggunya." 


     "Wah, Patriak ternyata sangat mengenal orang ini tapi bukankah dia seharusnya memiliki nama, siapa nama aslinya? Di buku ini tidak di sebutkan."


     "Namanya Panji Semirang," jawab Patriak sekali lagi. Dia berhenti melukis. "Apa ada lagi."


     "Tidak kah kau mengantuk, ini sudah larut malam, tidurlah," perintah Patriak Satria.


     "Baiklah kalau begitu aku akan kembali ke paviliun Kenanga." Dia beranjak dari kursi dan akan kembali, tapi kemudian Satria mengatakan, "Tidur di sini maksudku, tidur di ranjang itu," seraya menunjukkan Tempat tidur yang tersedia selimut di atasnya. 

__ADS_1


     "Aku tidak akan sungkan kalau begitu." Patriak Satria kemudian mengeluarkan Kendi berisi Arak Kaisar Girang. Dia kemudian mengambil cangkir kecil dan menatanya di meja. 


Panji pun langsung turun dari tempat tidur dan duduk di depan Satria melihat kendi dan cangkir dia langsung menuangkannya. 


     "Terimakasih Patriak," Ucapnya. Patriak Satria terus memperhatikannya minum cangkir demi cangkir hingga dia mabuk.


     Setelah satu kendi habis dia meminta lagi pada Satria, melihat Panji mabuk seperti itu Satria menolaknya, tiba tiba Panji bergerak dan pindah ke samping Satria.


     Panji langsung memeluk lengan Satria dan memohon untuk memberikan Arak itu sekendi lagi. Satria tetap menolak, Panji tidak menyerah dia kembali memeluk Seluruh tubuh Satria. 


     "Kau…," Satria merasa Panji yang sedang mabuk sama mengesalkannya dengan Panji di masa lalu. 


     "Ayolah pria tampan beri aku 1 kendi lagi atau aku akan menciummu… mmmmmmmm."


     "Astaga kenapa dia mabuk separah ini, sudah ayo tidur, ahh kau berat sekali dasar, " Ketika Panji ingin mencium Satria dengan Sigap Satria memblokir wajahnya, dia kemudian memapah Panji untuk berbaring di tempat tidurnya.


     Saat Panji di letakkan di atas tempat tidur, dia menarik kerah Satria untuk mendekatinya.


 


     "Kenapa hatiku sangat sakit saat bertemu denganmu, apakah dulu perpisahan kita sangat menyakitkan, atau aku sering menyakiti perasaanmu dulu?"


     "Jika iya, maka di kehidupan kedua ini aku tidak akan menyakitimu lagi, terlepas dari masa lalu yang tidak aku ingat, aku ingin menjadi temanmu mulai sekarang, apakah boleh menjadi teman seorang Patriak?," Tanya Panji yang sedang mabuk. 


     "Lagi lagi dia berkata ingin jadi temanku dasar bodoh, kau selalu jadi sahabatku sejak 100 tahun lalu, untuk apa kau memintaku menjadi sahabatmu lagu."


     "Aneh, sekali kenapa dia cepat mabuk apa toleransi alkohol di tubuhnya sekarang tidak terlalu bagus, dia cepat sekali mabuk." 


Satria melihat wajah panji dan senyum tipis melengkung dari bibirnya. 


     Panji mulai mengigau macam macam hingga akhirnya diapun terlelap.


     Satria kemudian keluar ke teras rumah Pohon bambu, melihat banyak kunang-kunang di sekitarnya.

__ADS_1


     Dia kemudian menatap rembulan purnama, sinar rembulan perlahan memasuki rumah Pohon Bambu mengirimkan ketenangan, keteduhan, dan terbalasnya kerinduan. 


*******


__ADS_2