Ksatria Panji

Ksatria Panji
Memasuki Hutan Belakang Istana


__ADS_3

"Cuit… cuit… cuit" Suara burung terdengar dari luar jendela kamar Panji. Panji tengah duduk di atas tempat tidur sembari meregangkan seluruh tubuhnya yang sakit karena semalaman di tindih oleh Satria.



"Satria ini benar-benar tega. Semalaman menindihku tanpa ras bersalah."



Brak!!! Pintu kamar Panji terbuka Lebar. "Kakaaaaaaak," Teriak adiknya yang paling kecil Putri Ara. Terpaku sebentar, Ara bergegas menghampiri Panji dan memegang kedua pipi Panji.



"Kakak Apa yang terjadi dengan wajahmu?" Ujar Ara yang kaget melihat wajah Panji yang Sayu dengan kantung mata yang menghitam. "Tidak apa," jawab Panji.



Panji mengingat kejadian semalam. Dia di tindih Satria yang tengah terlelap tidur karena Arak yang di bawanya. Bahkan Dia di totok hingga tidak bisa bergerak dan bersuara. Hingga Dini hari pun dia terus terbangun, tidak bisa tidur.


Satria Perlahan bangun dari tidur dan kaget melihat Panji berada di bawah tubuhnya. Wajahnya memerah seakan marah. Satria Bergegas bangkit, Panji yang melihatnya berusaha memberi isyarat dengan matanya agar melepaskannya.


Satria kemudian memegang dada Panji dengan Jari telunjuk dan tengahnya dan menotoknya dengan keras di dada Panji. Panji pun menghela nafas dan mulai menggerakkan tubuhnya.



"Kau… kenapa kau menotokku," kata Panji dengan nada suara yang kesal. Dia berdiri dari tempat tidur. "Kau dulu yang membuatku mabuk." jawab Panji.



"Tidak tau apa yang akan kau lakukan padaku saat aku tidur," lanjut Satria. "Apa yang kau fikirkan, Tidak mungkin kan kau berfikir aku akan menidurimu seperti seorang gadis?."


Satria mundur selangkah dan berkata dengan kaget, "Kau….."


"Aku tau apa yang kau fikirkan," Ucap Panji dengan Nakal.


Begitu Kaget, Satria pun mengambil Sitar dan memainkannya. Gelombang Sitar yang di aliri energi tenaga dalam membuat Panji terlampar keluar jendela dan terjatuh ke tanah. Secepatnya Satria menutup jendela kamarnya. Terdengar beberapa teriakan dari bawah jendela.



"Ahhh, Satria kau tega sekali padaku, aku bahkan belum melakukan apapun dan kau langsung melemparku keluar jendela," Panji yang terduduk di tanah bangkit perlahan dan pergi menuju ke Kamarnya sendiri.


__ADS_1


"Ahh Sakit sekali seluruh tubuhku, aku bahkan tidak punya waktu untuk beristirahat, lihatlah Satria dia begitu malu-malu tadi hingga melemparku keluar jendela."



"Ahh tunggu sebentar, bukannya dia tidak memiliki teman tentu saja dia tidak akan memiliki kekasih, Ahh aku membicarakan tentang meniduri wanita, tentu saja dia malu."



"Ahh, nanti jika ada kesempatan aku akan membawa beberapa buku erotis untuk mengajarinya soal wanita, tapi dia tidak bisa mabuk, ahh tidak dia tidak boleh mabuk, itu sangat merepotkan, ahh sebaiknya kembali kekamarku saja." batin Panji.



"Kakak," Panggilan Ara menyadari Panji dari Lamunan. "Kenapa Wajahmu terlihat buruk sekali hari ini, lihatlah" Ara mengambil cermin kecil dan menunjukkannya pada Panji. "Lihat lah kantung matamu dan wajahmu yang pucat."



"Ahhh iya sedikit buruk tapi tidak apa-apa."


"Tumben sekali, biasanya kakak akan selalu memperlihatkan wajah paling tampan, apalagi hari ini akan ada banyak wanita yang melihat kakak bertanding, iya kan," Goda Ara.


"Berhenti menggodaku, ayo kita pergi." Panji menarik tangan adiknya dan pergi ke Halaman Istana untuk melihat pertandingan hari ini.


"Kak Panji, Kak Lyla dan Kak Mahesa sudah pergi dari tadi."


Panji dan Ara Pun pergi, Sepanjang jalan yang mereka lalui. Pelayan atay bangsawan lain selalu menaruh kekaguman pada mereka.



Panji yang mengenakan Pakaian adat melayu berwarna emas bermotif, dengan rambut panjangnya yang di ikat dan Mahkota emas kecil di kepalanya. Sabuk Emas melilit pinggangnya yang ramping. Kantong penyimpanan selalu tergantung di pinggangnya.


Sedangkan Adiknya, Raras Laraswati Jayanegara yang biasa di panggil Putri Ara atau Putri kedua Mengenakan Pakaian adat melayu pula. Atasan kemben dengan Luarnya Pakaian Transparan berlengan pendek bermotif berwarna hitam serta rok bermotif corak insang berwarna hijau.


Setengah Rambut Panjangnya di ikat kebelakang dan yang lainnya di biarkan terurai. Kepalanya pun di hiasi mahkota kecil.


Perhiasan di leher dan di tangannya pun menjadi saksi bahwa mereka benar-benar Pangeran dan Putri, dan membuat mereka terlihat berbeda dari bangswan lainnya.


Panji dan Ara tiba, Seorang Pejabat Istana pun mengumumkan hal Penting. "Di karenakan Semua orang telah berkumpul, maka Saya akan memberitau bahwa Pertandingan hari kedua dan ketiga akan di adakan di hutan belakang Istana Kerajaan agar lebih leluasa, Kalian semua bisa pergi Ke Hutan di Belakang Istana di Pandu Oleh Maha Guruh, Silahkan memimpin jalan Maha Guruh."


Maha Guruh pun memimpin jalan. Beberapa orang berbisik-bisik tentang ini. "Kenapa harus Maha Guruh yang memimpin kita ke Hutan, memang tidak ada murid lain yang bisa?"


"Kau ini bodoh ya, Raja sedang berada di sini, apa kau kira Maha Guruh bisa tidak hadir?, lagi pula apa salahnya memimpin jalan kehutan?"

__ADS_1


"Lagi pula yang membuka hutan belakang itu tidak sembarangan murid, hanya murid terpilih saja, apa kau tau banyak binatang buas di dalam hutan itu, jika ada kesalahan sedikit saja dan hewan-hewan buas di kedalam hutan itu keluar. Kita semua bisa mati, kau tau?"



"Ahh jadi hutan ini juga berbahaya ya?."


"Tidak jika kita tidak masuk terlalu dalam, jika kita masuk terlalu dalam ada banyak hewan buas dan berbahaya yang bisa menyerang kita kapan saja."


Panji, Mahesa, Ara, dan Lyla jalan berbarengan. Tak jauh dari mereka di depan, Ada Raja dan Ratu serta Pangeran Arya dan Satria di belakangnya. Panji dan Satria saling melirik beberapa kali. Wajah dingin Satria membuat Panji merasa sedikit tidak nyaman tapi itu semakin membuatnya penasaran. Dan menginginkan Panji sebagai temannya.



Setibanya di Pintu Gerbang besar. Maha Guruh pun membukanya dengan Simbol yang ada di tangannya. Pintu Gerbang terbuka lebar dan mereka pun memasuki hutan.


Beberapa Prajurit mengarahkan bangsawan pada tenda-tenda yang telah di siapkan. Raja, Ratu, Pangeran putri dan semua bangsawan mendapat tempat duduk masing-masing. Sementara Murid-murid dan rakyat biasa yang mengikuti mereka berdiri di sisi lainnya.


Pemandu pun mengatakan bahwa pertandingan kali ini adalah berburu binatang terbanyak, Siapa pun yang berburu binatang buas paling banyak maka akan menjadi pemenangnya. Busur dan Panah pun telah di siapkan oleh Panitia agar pertandingan ini tetap adil.



Mereka semua mengambil Anak Panah dan busur yang telah di sediakan. Mahesa dan Panji tidak terkecuali, bahkan Satria pun berpartisipasi. Ada pula anak-anak bangsawan dan Rakyat jelata yang mengikuti perburuan kali ini.


"Pertandingan di mulai….." Teriak Pemandu. Beberapa orang pun segera melesat ke kedalaman hutan.


"Ingat untuk tidak masuk terlalu dalam karena banyak binatang buas di kedalaman hutan yang tidak biaa kalian hadapi," ujar Pemandu.


Panji pun menghampiri Satria dan meninggalkan Mahesa di belakangnya. "Ehmm bagaimana dengan pergi bersama," Ujar Panji. Tidak menjawab pertanyaan Panji, Satria meloncat tinggi dan berlari cepat meninggalkannya.



Mahesa menghampiri Panji. "Kau berbuat apalagi, kau membuat dia tidak nyaman bukan?."


Panji memutar kedua bola matanya dan berkata,"tidak dia hanya terlalu dingin."


"Sudahlah tidak usah bahas ini, sebaiknya kita berburu binatang buas," Ujar Mahesa yang langsung menarik tangan Panji untuk ikut bersamanya.


Sementara di tenda, "Ibu aku ingin ikut Kak Mahesa dan Kak Panji,"


Ratu Yashna menoleh pada Putri keduanya, Ara yang terlihat paling kecil karena baru saja menginjak usia 13 tahun. "Tidak boleh, kau tidak punya ilmu beladiri yang bagus, panahanmu juga tidak bagus, lebih baik kau diam di sini."


"Tapi ibu…." belum selesai Ara bicara tangannya di senggol Oleh Kakak Pertamanya Putri Lyla. "Sudahlah turuti saja, jangan membuat masalah dengan ibu, nanti yang di salahkan malah Panji, apa kau mengerti?."

__ADS_1


"Baiklah," kata Putri Ara dengan suara yang lemah.


*******


__ADS_2