
"Apa?Kstaria Panji? Dasar ada ada saja iya kan Patriak, Patriak, Patriak" Panji menggelengkan kepalanya kemudian menoleh ke arah Patriak dan berbicara dengannya.
Sesaat Patriak seperti termenung dan memikirkan hal lain. Pikirannya seperti tidak berada di sini. Panji memberanikan diri untuk memegang tangannya.
"Patriak…. " Satria menoleh dan Panji terkejut melihan genangan air di mata Satria yang hampir jatuh. Tiba-tiba Patriak menghilang.
Satria kembali ke Hutan Kecilnya, memasuki kawasan hutan kecil yang hanya bisa di masukinya. Tertulis di sana "Ksatria Panji"
Satria memegang Tulisan yang di ukir di pohon itu, perlahan air matanya turun mengingat kejadian masa lalu.
"Aku akan mengingatmu, ini adalah hari dimana kita Resmi menjadi teman, selain itu karena kau menolongku aku akan menulis ini"
Tangan pemuda yang ceria itu mengukir tulisan di Sebuah Pohon dengan pedang. "Nah, sudah jadi lihatlah Ksatria Panji" Ucap pemuda ceria itu sembari menarik Pria dingin di sebelahnya agar mau melihat tulisannya.
"Cih, kekanak-kanakan sekali" Pemuda yang dingin itu kemudian menjauh dan pemuda Ceria itu mengejarnya serta bercerita banyak hal.
'Apa yang aku fikirkan, hah Panji pasti mengkhawatirkan ku sekarang' Satria pun menghilangkan bekas-bekas air mata di wajah serta matanya.
Satria muncul kembali di Atas Arena. Panji yang ada di sebelahnya langsung kaget, dan menanyakan, "Patriak ada apa, apa Patriak Sakit" Tanya nya penuh khawatir, Panji tidak sadar dia memegang lengan Patriak dan mendapat pelototan dari beberapa tetua di belakangnya.
Patriak melirik ke arah lengan bajunya yang di pegang oleh Panji. Sadar akan hal yang tidak sopan di lakukannya dia pun melepaskan pegangannya dan meminta maaf. "Tidak apa, kau bisa terus memegangnya jika kau mau" ucap Patriak.
Beberapa Tetua di belakang terkejut hingga menyemburkan minuman yang baru saja masuk ke mulut mereka.
Panji yang mendengar itu kemudian menyentuh lengan baju Satria, 'ah tunggu sebentar kenapa aku melakukan ini, aneh sekali tubuhku seperti bergerak sendiri'
Melihat Pikiran dan tubuhnya tak sejalan, Panji kemudian menarik lengannya. Tapi kemudian di tahan oleh Satria, " Pa… Patriak, apa boleh teman-temanku naik ke atas sini" Suara Panji bergetar dan semakin mengecil di akhir kalimatnya.
"Boleh" ujar Satria singkat kemudian dia melepaskan pegangannya. Panji pun berteriak pada temannya untuk naik ke Atas Arena. Mereka naik dan kemudian duduk kembali di belakang. Mereka mengobrol bersama Tetua. Beberapa Tetua menyemangati mereka dan memuji ke 5 pendekar.
"Panji istrimu heboh sekali, setiap kali aku menyerang si double stick dia pasti akan berteriak agar jangan membunuh orang, padahal kan rantaiku tidak semenakutkan itu" Ujar Oni dengan Santai.
"Siapa yang istri, Kau dasar gendut, kau suka meledekku" Sakya kemudian memukul Oni gendut dengan Kipasnya.
"Hei kalian tidak sopan, kita di dekat Patriak dan Para Tetua bisakah kalian sedikit menahan diri?" Lerai Cayya yang berada di tengah mereka.
"Siapa yang jadi istri panji?" Tanya Patriak dengan suara yang cukup dingin membuat beberapa orang di sanak bergidik ngeri.
"Lapor Patriak, sebenarnya ini hanya olok-olokan, Karena Sakya pernah memasak untuk kami, dia bahkan melebihkan semua menu untuk Panji makanya kami memanggilnya begitu" ujar Damar.
" Kau… kau… juga bekerja sama dengan Oni si gendut" Ujar Sakya dengan Kesal dan mendapat juluran lidah dari Damar. Sementara Panji hanya tertawa melihat tingkah mereka.
"Kalau begitu kalian tidak keberatan kan untuk memasakkan makan malam untuk Aku dan Para Tetua" Kata Patriak Satya yang menghentikan aktivitas perkelahian anak-anak mereka.
"Terutama Sakya berikan aku makanan yang lebih" Tambah Patriak.
Beberapa Tetua Berbisik "Kenapa Patriak banyak sekali bicara terutama menyangkut Panji"
"Mana aku tahu" Ucap Tetua di sebelahnya.
"Baik Patriak" Ucap Sakya dengan Pelan seolah-olah keberaniannya memaki Oni dan Damar telah hilang berganti dengan kepatuhan.
"Wakil Patriak siapkan Pavilliun kenanga untuk kita beristirahat malam ini" Perintah Patriak
__ADS_1
"Apa itu berarti anak anak ini juga….. "
"Iya" Jawab Patriak dengan cepat tidak ingin mendengar lanjutan dari perkataan Wakil Patriak.
'Apa artinya ini?' Tanya ke 5 Pendekar Ksatria Panji dalam hati mereka. "Jadi kalian tidak perlu mendirikan tenda, kalian bisa istirahat di Pavilliun Kenanga"
Tak lama kemudian Wakil Patriak berdiri di Area yang kosong dan gersang di sekitar Atas Arena. Dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari Kantong penyimpanan Hartanya dan melemparkannya kedepan di tanah yang gersang itu.
Tiba-tiba Sinar cahaya putih memenuhi mata dan berdiri lah sebuah bangunan yang cukup besar beserta pohon kenanga di sekitarnya.
"Wah luar biasa" Teriak 5 pendekar Ksatria Panji Serentak. "Ahh kalian bisa memakai dapur, di dapur lengkap dengan bahan-bahan untuk membuat makanan, cepat-cepat masuk kedalam" Kata Wakil Patriak memerintahkan mereka untuk masuk.
"Patriak tidak makan di atas jam 8 malam, ku harap kalian segera memasak makanan yang lezat" Lanjut Wakil Patriak.
Mereka berlima pun masuk, tapi Sakya memanggil Panji untuk ikut "Panji kau mau ikut?" Tanya Sakya dengan senyumnya yang manis.
Saat Panji akan beranjak, Patriak mengeluarkan suaranya membuat Panji terdiam duduk lagi. "Panji akan tetap duduk di sini" Patriak kemudian menatap dingin Sakya yang membuat dia langsung menciut "Baik Patriak"
Panji terlihat cemberut "Apa kau marah" Tanya Patriak. "Tidak, Hanya kau menyebalkan, selalu seenakmu sendiri" Entah apa yang Panji pikirkan Patriak sangat terkejut dan menoleh menatapnya. Begitu pula Tetua dan Wakil Patriak, Kue yang baru di masukkan ke mulut wakil Patriak langsung terjatuh.
Panji pun tersadar dengan apa yang dia ucapkan tanpa sadar menutup mulutnya, Patriak meraih tangan Panji dan membawa nya pergi. Mereka pun tiba di Hutan Kecil milik Patriak.
Patriak menarik genggaman tangan mereka, ketika tiba di sebuah pohon besar, Patriak menyandarkan Panji ke Pohon, Punggung Panji tersentak. Tapi dia tidak merasakan sakit, "Apa kau ingat sesuatu" Tanya Patriak dengan menggebu-gebu.
Manik mata Panji bertemu dengan tatapan Satria. "Sesuatu seperti apa Patriak, Apa sesuatu seperti rasa sakit dan sedih saat melihatmu, jika itu yang Patriak maksudkan maka memang aku merasakannya, Rasa sakit di hatiku seperti aku melihat kematian Nenek Sekar, itu terlalu tak tertahankan"
"Sangat sakit disini" Panji kemudian meraih tangan Satria dan meletakkannya di jantungnya. Air mata perlahan turun membasahi kedua pipinya. Satria menghapus air mata Panji kemudian memeluknya.
"Tidak apa apa tidak apa apa" Satria berusaha menghibur Panji yang sedang menangis.
Perlahan Patriak melepaskan pelukannya, "Kita memang saling kenal di masa lalu, tapi itu tidak perlu jadi fikiranmu, tenang saja aku akan mencari cara untuk membuat kau mengingat kembali semuanya" ujar Patriak tanpa satu pun kebohongan.
"Lalu aku, siapa aku sebenarnya?" Tanya panji penasaran. "Untuk sekarang lebih baik kau meningkatkan kekuatanmu, jika aku merasa kau sudah sangat kuat maka aku akan memberitaumu tanpa menutupi apapun"
"Baiklah kalau begitu"
"Bagaimana jika kita memainkan melodi, aku akan bermain kecapi dan kau bermain seruling, seperti yang kita lakukan tempo hari" Ajak Ksatria, Dia pun menarik Panji kerumah bambu, duduk di sana memainkan melodi yang harmonis.
Hingga petang pun menjamah dan awal malam menyelimuti langit mereka masih memainkan melodi yang indah, Petikan Kecapi dan tiupan Seruling terdengar begitu merdu.
Kembali ke Arena Tarung Bebas
"Pertarungan untuk hari ini telah berakhir dan kita akan melanjutkannya besok pagi, tapi sebelum itu Saya akan menyampaikan kabar gembira pada kalian semua"
"Untuk 1.500 orang hari ini saya akan menyampaikan kabar bahagia untuk kalian, meski kami menerima 500 orang sebagai murid, untuk 1.000 orang lainnya kami akan memberikan kalian kesempatan sebagai murid luar di sekte Perguruan Harimau Putih"
Kehebohan di mulai antara Para Peserta. "Tenang dulu" Teriak Tetua Dinata membuat semua Peserta menutup mulut mereka. "Meski kalian kalah dan tetap menjadi murid luar sekte, besok pada pertandingan babak kedua kalian tidak boleh mengalah"
"Kalian harus berjuang untuk menjadi murid dalam atau inti karena sumber daya yang berbeda yang akan kalian dapatkan sangat berbeda dengan murid luar, apa kalian mengerti?"
"Mengerti" Teriak Peserta Serentak
"Tapi untuk murid luar tidak perlu khawatir karena setiap 3 bulan sekali akan ada ujian untuk menjadi murid dalam/inti jika kalian benar-benar mau berusaha"
"Karena hari telah petang, kalian bisa bubar dan mendirikan tenda serta beristirahat bersama teman-teman kalian, " Peserta pun bubar dan mendirikan tenda masing-masing.
__ADS_1
***
"Tuan, Maafkan saya menganggu, tapi sudah waktunya makan malam" Pemberitahuan dari wakil Patriak menghentikan permainan kecapi dan seruling yang dimainkan oleh Satria dan Panji.
"Baiklah, kau bisa pergi duluan" Kata Patriak pada Wakil Patriak, Wakil Patriak pun langsung menghilang. Sementara itu Satria menggenggam tangan panji dan ikut menghilang.
Panji mengerjapkan matanya dan dia tiba di dalam sebuah ruangan yang cukup nyaman, semua berwarna putih ada sedikit campuran biru muda.
"Ayo kita makan" sementara tangannya terus menggenggam tangan Panji.
Ketika Panji melihat teman-temannya dia langsung melepaskan genggaman satria dan menghampiri ke 5 temannya yang sedang menyiapkan makanan. Panji tertawa gembira melihat lawakan oni dan damar pada Sakya.
Mereka pun bersama duduk di lantai beralaskan bantal pada masing-masing orang. Meja yang panjang tertata rapi dengan banyak makanan. Posisi duduk mereka pun di atur, Patriak ditengah / tempat utama. Sementara di kanannya Wakil Patriak dan Para Tetua. Di sebelah kirinya Panji, Sakya dan temannya yang lain.
"Wah makanan apa semewah ini" Kagum Tetua Dinata.
"Bisakah Kalian jelaskan apa saja makanan yang ada di sini?" Tanya Wakil Patriak.
Sakya pun mulai menjelaskan. "Baik Patriak Pertama adalah Soto Banjar, ini sangat terkenal sekali di borneo selatan terbuat dari ketupat dengan kuah berupa suwiran ayam"
"Yang ini adalah bubur paddas terbuat dari beras yang di campur berbagai macam sayuran, ini sangat nikmat karena di campur dengan daging sapi"
"Ini juga ada cemilan Chai kue dan pengkang"
"Nah yang di sebelah sana ada Garang asam banjar, gangang humbut, dan mie sagu Goreng, Ikan bakar patin"
"Tambahan untuk cemilannya berupa hekeng, kelepon martapura, dan Bingka Borneo, semua ini adalah makanan Khas Kerajaan Borneo untuk pelengkap saya buatkan sayur kangkung tumis dan sayur bening bayam"
"Untuk minuman ada Es lidah buaya, Es tebu dan Es jagung" jelas Sakya.
"Wah luar biasa keterampilan masak kalian sangat hebat" Puji Tetua Safa (Tetua ini yang pengen sakya jadi muridnya)
"Baiklah silahkan makan" Ujar Patriak.
Sakya pun mengambilkan lauk untuk Panji di sebelahnya. "Kau mau apa?"
"aku mau ini dan ini, ah ini juga wah enak semua aku mau yang itu juga" Sementara Sakya mengambilkan Lauk, Satria menatapnya dengan penuh amarah.
"Panji ambilkan aku lauk" Kata Patriak dengan dingin dan menyodorkan piring nasinya. "Baik Patriak" Panji nampak kesal dan cemberut tapi dia tetap mengambilkan lauk yang di tunjuk Patriak.
Mereka pun melanjutkan makan. Sementara itu Para Tetua hanya memperhatikan dan melanjutkan makan. "Panji kau harus banyak makan Sayur, kenapa tidak ada aayur di piringmu?" Sakya pun mengambilkan Sayur Kangkung yang terletak tidak jauh dari Panji.
Brak!!!
Tiba-tiba meja di gebrak oleh Patriak, membuat semua yang ada di meja makan kaget dan melihat Patriak. Tetua Dinata bahkan kemasukan Nasi dalam hidungnya, Sementara Tetua Dalu Keselek Tulang ikan, beberapa orang terbatuk-batuk.
"Ada nyamuk" Kata Patriak dengan singkat tanpa wajah bersalah dan tetap tanpa ekspresi.
"Hei berhenti memberikan makanan ke piring Panji, kau lihat itu seperti gunung yang mau meledak" bisik Cayya pada Sakya. Cayya sebenarnya mengerti kenapa Patriak bersikap seperti itu. Dia sepertinya tidak suka kedekatan antara Panji & Sakya.
Mereka pun melanjutkan makan, Satria kemudian mengambil sayur humbut dan menaruhnya di piring Panji "Kau harus banyak makan sayuran"
Lagi lagi beberapa orang tersedak, bahkan semua tetua membelalakkan matanya ketika melihat Patriak mereka begitu perhatian kepada seseorang. "Te terima kasih Patriak" Ucap Panji dengan gugup.
Makan malam pun berlanjut dengan perhatian-perhatian Satria kepada Panji, Beberapa orang terpaksa undur diri karena takut menganggu.
__ADS_1
******