
Sebuah Bahtera yang cukup besar berbentuk kapsul, seluruh bagiannya berwarna putih dengan hanya ada beberapa motif harimau putih memegang bunga Peony merah di bagian sisinya.
Bahtera itu cukup kencang membelah langit. Tapi keadaan di dalam begitu tenang, berbanding terbalik dengan keributan yang ada di luar bahtera kala suara angin menerpa Bahtera tersebut.
Lantai dasar di isi oleh 1000 murid luar, lantai kedua di isi 500 murid dalam, lantai ketiga di isi puluhan murid inti, lantai 4 di isi oleh 6 Tetua dan Wakil Patriak. Lantai ke 5 di isi Oleh Patriak itu sendiri.
"Wah ini besar sekali kan, aku belum pernah naik ini, biasanya aku naik perahu" ucap seorang murid baru
"Ya aku juga belum pernah melihat yang seperti ini, besar sekali."
Di lantai 2 lebih terasa lega karena lebih sepi. "Aku bosan," ucap Sakya yang memangku kedua tangannya di atas meja. Beberapa temannya di kerumuni oleh murid dalam lainnya sedangkan dia tersisa sendirian di sudut dan tidak ingin bergabung.
"Apa yang kau lakukan di sini?, kau tidak mau bergabung dengan yang lain," Sakya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan yang di lontarkan Damar.
"Ehm aku akan menemanimu di sini," ujar Damar. Dia kemudian duduk di depan Sakya, Wajah Sakya sedikit berubah. Damar menuangkan segelas air dari kendi kecil dan meminumnya sendiri.
"Aku minta maaf soal yang malam itu aku….."
"Cukup Damar aku tidak ingin dan tidak mau mengingatnya," ucapan Sakya membuat Damar sedikit lebih murung.
Sementara di meja lain, "Wah Kak Panji kau hebat sekali bisa mengalahkan Roben, ku dengar Roben memakai Pedang Kuno kan?," tanya Salah satu murid dalam.
"Hahahaha itulah hebatnya Panji, bukankah Kak Panji sudah melewati babak Tombak dan menyelesaikannya, bukankah lebih mudah untuk mengalahkan Roben, iya kan KAK PANJI?, ujar Oni di sebelahnya yang merengkuh pundak Panji dan menekankan Kata Kak untuk meledeknya.
Panji hanya menggelengkan kepala tertawa sedikit kemudian dia berkata, "Babak tombak itu sangat Sulit, aku hampir mati saat melewatinya, dan untuk melawan Roben aku juga mengerahkan seluruh tenagaku, ini hanya Keberuntungan saja, jangan berlebihan," ucap Panji.
Murid dalam yang lain pun menimpali, " Tapi Kak bukankah Keberuntungan juga termasuk Kekuatan, iya kan?" Murid ini melihat ke kiri dan kanan sisinya agar teman-teman di sekitar menyetujuinya.
"Iya itu benar kak."
"Bagaimanapun Kak Panji sekarang jadi no 1 di antara murid dalam."
"Iya Kak Panji yang terkuat."
__ADS_1
Tidak mereka sadari, Roben melihat ke arah mereka dan menatap tajam Panji. Panji yang merasa di tatap, sadar dan melihat Roben. "Aku tidak akan kalah darimu, aku akan berjuang sekuat tenaga," Lirih Roben.
Tidak lama kemudian 3 orang murid inti turun ke lantai 2 mereka adalah Akarsana, Brama, dan Sagra.
"Wah Ramai juga di lantai 2, ahh iya kita harus mencari panji dan teman-temannya di mana mereka?," tanya Sagra.
Brama pun menunjuk suatu tempat yang cukup ramai. Mereka mengelilingi meja dengan banyak minuman di atasnya. "Panji," Teriak murid inti brama membuat mereka semua menoleh dan segera berdiri serta memberi murid inti itu penghormatan. "Kakak Senior", ujar mereka serempak sambil membungkukkan badan.
"Tidak perlu salam hormat begitu," ujar Sagra. "Ahh Panji, sepertinya beberapa Tetua ingin kalian naik ke lantai 4, Kalian ikut bersama kami," ujar Akarsana.
"Eh dimana 2 orang lainnya," tanya Sagra. "Ahh itu mereka," tunjuk salah seorang murid dalam. Cayya pun segera menghampiri mereka dan mengatakan bahwa Tetua ingin bertemu. Mereka pun bersama-sama menuju ke atas.
"Ah iya Roben, kau juga naiklah, Wakil Patriak ingin bertemu denganmu," Teriak Brama yang baru saja teringat pesan wakil Patriak.
Roben kemudian mengambil pedang beratnya yang ada di atas meja dan menggantungkannya di punggung. Pedang itu terlilit kain putih yang di bebat. Dia pun berjalan bersama ke 6 murid dalam lainnya.
"Wah bukan kah mereka 7 pendekar di murid dalam yang paling hebat."
"Iya benar-benar."
Akarsana, Brama, dan Sagra pun menaiki anak tangga bersama Panji dan teman temannya. Sebelum menemui Tetua, Brama mengajak mereka berkeliling di lantai 3 tempat murid murid inti. Beberapa murid inti ada yang memperhatikan mereka ada pula yang acuh dan ad beberapa orang yang menyerang mereka seperti Bagas.
"Wah, wah, bukan kah ini 7 murid baru terhebat kita," Teriak bagas dari kejauhan. Dia bersama beberapa orang temannya menghampiri Akarsana, Brama, dan Sagra.
"Ahh ternyata ada Senior-senior semua, tapi kenapa ada beberapa murid tidak penting di sini,"
"Ada penjilat Patriak, Ada juga 5 orang penjilat Para Tetua seperti Banci ini, Apalagi si gendut ini, ahh semua murid inti memiliki penampilan menawan bagaimana Kau bisa menjadi murid inti dengan penampilanmu yang jelek ini, dan ini ya ini Masih lumayan," ejek bagas bahkan matanya melihat mereka satu persatu saat dia mengejeknya.
"Kau….," saat Oni akan menyerang dia di tahan oleh Brama. "Tidak boleh berkelahi di dalam Bahtera, Karena siapa yang menyerang duluan mereka akan terkena serangan balik dari Bahtera," ucap Brama yang menghentikan usaha Oni untuk memulai perkelahian.
Si mulut Api Sakya pun mulai mencemooh mereka, "menawan? Semua murid inti menawan? Kenapa aku malah melihat sekumpulan katak di depanku?," kata kata Sakya mulai membuat wajah mereka berubah gelap.
"Lihat lah kulitmu yang gelap itu, dan lihat wajahmu yang paling belakang penuh jerawat, Lihat juga rambutmu yang kasar, cih bagian mana dari kalian yan menawan," Sakya mengibaskan kipasnya dan menunjuk mereka satu persatu.
__ADS_1
"Beraninya kau….." Bagas berlagak mendekati Sakya ingin memukulnya tapi di halangi oleh Akarsana. "Berhenti, bukankah sudah di bilang kalau tidak boleh berkelahi di sini."
"Cih, kali ini aku melepaskanmu karena ada Akarsana, Bagas, juga Brama, lihat nanti saat di Perguruan, aku akan menghajarmu," Unjuk Bagas pada Sakya. Bagas dan teman-temannya pun pergi meninggalkan mereka.
"Heh, sombong sekali, seperti Perguruan Harimau Putih adalah milik mereka, berlagak menawan di depan Pangeran sepertiku cih," ujar Sakya Kesal. Dia kemudian di sikut oleh Cayya.
"Pangeran??," tanya Damar. "Tentu saja, kau buta tidak melihat penampilanku yang sangat indah seperti Pangeran?" Sakya pun berlagak merasa dia yang paling tampan.
"Sebaiknya kita lanjut bertemu tetua saja," Ujar Brahma. Mereka semua pun menaiki lantai 4.
Tiba di lantai 4 mereka lalu di pandu untuk bertemu dengan Para Tetua. Beberapa Tetua pun berkumpul, Tetua Danu, Tetua Dalu, Tetua Sanu, Tetua Dana, Tetua Safa, bahkan Wakil Patriak. "Salam hormat untuk Para Tetua". Mereka menangkupkan tangan dan membungkuk sedikit memberi hormat.
Beberapa Tetua mengangguk ada pula yang menyisir janggutnya. Para Tetua pun menyampaikan maksud memanggil mereka ke lantai 4. Para Tetua ingin menjadikan mereka untuk menjadi murid Langsung.
Tetua Danu mengangkat Oni sebagai muridnya, Tetua Dalu mengangkat Damar. Tetua Sanu menjadikan Galih sebagai muridnya, Tetua Dana membuat Cayya juga sebagai murid. Begitu Pula Tetua Safa ke Sakya.
Bahkan wakil Patriak juga. "Ehm, Roben, apa kau mau menjadi muridku, di ajari langsung olehku, dan mendapat sumber daya lebih dari pada yang lain?," tanya Wakil Patriak.
Sangat terkejut. Itu yang ada di dalam pikiran Roben, dia mengikuti Seleksi hanya ingin menjadi murid dalam. Tapi tidak di sangka dia mendapat kesempatan menjadi murid langsung dari Wakil Patriak. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
Setidaknya dia akan terus berusaha mengalahkan Panji, mungkin ini salah satu caranya. Dia pun menjawab pertanyaan Wakil Patriak, "Roben bersedia menjadi murid langsung dari Wakil Patriak."
Mereka berlima dan Roben pun langsung berlutut dan menangkupkan tangan, menerima mereka sebagai guru. "Tapi ingat, untuk menjadi murid Langsung kalian dalam tiga bulan harus bisa menjadi murid inti," lanjut Wakil Patriak.
"Ya itu benar, untuk menjadi murid Langsung Kalian harus menjadi murid inti, dan Tes untuk menjadi Murid Inti hanya di adakan setiap 3 bulan sekali," ungkap Tetua Safa.
"Dimana hampir dari 1000 orang yang mengikuti, tidak pernah lebih dari 10 orang yang lolos dan bisa menjadi murid inti, jadi persiapkan diri kalian," ucap Tetua Sanu dengan berapi-api.
Sementara itu Panji hanya melihat mereka. Wakil Patriak hampir melupakan Panji yang ada di sana. Dia pun mengatakan setelah tertawa sedikit, "Hahaha, Panji maafkan aku melupakanmu, Patriak menunggumu di Lantai 5, pergi lah sendiri."
"Terima kasih Wakil Patriak," ujar Panji. Setelah itu Panji pun menaiki anak tangga Menuju Lantai 5.
*******
__ADS_1