Ksatria Panji

Ksatria Panji
BABAK KEDUA TARUNG BEBAS


__ADS_3

"Sakya, Sakya bangunlah sudah pagi." Cayya Menggoyang-goyangkan tubuh Sakya. 


     "Kalian pergi lah duluan, aku akan bangun setelah ini sebentar lagi," ujar Sakya di dalam selimut. Cayya pun percaya karena selama dia mengenal Sakya, Sakya belum pernah bangun di atas jam 5. Mungkin pertarungan dan kegiatan memasak kemarin malam membuatnya lelah. 


     "Baiklah, kami akan duluan segera menyusul kami, kami berada di atas Arena seperti kemarin bersama Patriak dan juga beberapa Tetua," lanjut Cayya. Setelah itu mereka pun keluar dari kamar. 


     Sakya kemudian menyembulkan kepalanya dari selimut, melihat sekelilingnya, dia pun kemudian berusaha duduk, "ahh sialan, rasanya sangat aneh."


     Sakya dengan pakaian tidurnya yang tipis kemudian menuju tempat mandi. Ada sebuah bak, dia membuka pakaiannya dan berkaca di cermin. Dia melihat hampir sekujur tubuhnya memiliki bercak kemerahan.


    'Sial ini semua karena Damar.' Dia kemudian masuk ke bak mandi yang telah di isi dengan air hangat, dia kemudian berendam di dalamnya. 


      Tanpa dia sadari, sesorang membuka pintu kamarnya lalu mendebrak pintu kamar mandi, Sakya yang kaget reflek menutupi dadanya. Dia melihat Damar berdiri dan bersender di pintu kamar mandi. 


     "Apa yang kau lakukan di sini," ujar Sakya dengan kaget. Damar hanya mengatakan, "aku akan menunggumu di kamar, setelah itu kita pergi ke arena bersama." Tanpa persetujuan apapun dari Sakya, Damar kembali ke kamar.


     Sakya hanya bisa mendengus kesal, dia melanjutkan mandi, berpakaian dan berdandan berusaha menutupi area lehernya.


     Sakya dan Damar pun menuju Arena Tarung Bebas bersamaan.


"Aku tidak akan pernah memaafkanmu," ujar Sakya. Suaranya rendah dan dingin menandakan keseriusan dalam nada bicaranya. 


     Dia pergi melaju meninggalkan  Damar yang termenung mendengar ucapannya.


    Sakya yang di ikuti oleh Damar di belakangnya menghampiri teman-temannya di arena. Mereka kemudian memberi penghormatan pada Patriak, wakilnya serta beberapa Tetua. 


     Mereka pun duduk tempat masing-masing. Beberapa Tetua bahkan melirik mereka dan saling berbisik satu sama lain.


    Sakya melihat panji yang bicara pada Patriak, menperhatikan teman-temannya dan matanya jatuh pada senyum Damar, dia kemudian memalingkan wajah, telinganya yang merah dan wajahnya yang memanas. "Sial," batin Sakya. 


    "Selamat pagi untuk Patriak, Wakil Patriak, Para Tetua dan beberapa calon murid spesial kita di atas sana, juga kepada seluruh peserta selamat kepada 1.500 peserta yang akan bertanding hari ini," teriak Murid Inti Akarsana yang membuka acara pada pagi ini. 


     "Pada Babak kali ini, sama seperti kemarin kalian akan membentuk kelompok dan melawan kelompok lainnya dari 1.500 orang maka akan tersisih 750 orang yang akan memasuki Babak Tarung Bebas babak ke 3 yaitu Pertarungan Tunggal, dimana Kalian masing masing orang akan bertarung sendirian di atas arena Babak Tarung"

__ADS_1


     "Kalian siap?," Teriak Akarsana. Suaranya menggelegar dan penuh semangat memenuhi Arena. 


     "Kami siap," Teriak Para Peserta.


     "Kami sudah mendapatkan kelompok kalian, perhatikan di layar untuk kelompok yang pertama bertanding silahkan maju"


     Mereka pun mulai bertanding dan beberapa kelompok memulai pertarungan.


     "Tuan mana barangnya?," Tanya Damar pada Tetua Dalu di sebelahnya. Tetua Dalu pun sembunyi-sembunyi memberikan sesuatu pada Damar. 


Secepat kilat Damar kemudian menyimpan benda tersebut.


     "Terima kasih Tuan Dalu, jika bukan karena Tuan aku tidak akan bisa memberikan pelajaran pada Sakya." 


     "Sakya, kenapa kau memakai pakaian dalam dengan leher tinggi? Bukankah kau biasanya selalu memakai pakaian terbuka di sekitar dada," tanya oni penuh selidik. 


     "Ini style baru gendut, kau mana mengerti Pakaian termodis sekarang, urus saja perutmu yang bulat itu," ujar Sakya dengan ketus. Galih pun menepuk-nepuk pundak Oni agar dia bisa lebih bersabar dengan mulut penuh api milik Sakya. 


     "Gayamu cukup bagus Sakya, apa kau mau ini," tanya Panji yang duduk di depan sakya. Sakya pun mengangguk dan mengatakan,"Ya aku mau."


    "Patriak terimakasih untuk Araknya," ujar Panji sembari tersenyum manis. Patriak hanya menyunggingkan sedikit senyumnya sambil melirik panji. Beberapa Tetua dan teman panji melihat sekilas dan mengabaikan kedekatan mereka. 


    "Tim Ksatria Panji turun untuk bertarung," teriak Akarsana. Oni yang sedang memasukkan cemilan ke dalam mulutnya pun, mendesak seluruh isi piring ke perutnya. "Aihhh, pelan-pelan ini semua milikmu apa yang kau takutkan," ujar Tetua Danu sembari mengelus punggung Oni setelah dia terbatuk-batuk kebanyakan makan. 


     "Kenapa cepat sekali sih, ahh," teriak Sakya saat bangun dari duduknya, dia memegang bokongnya menahan rasa sakit dan aneh yang menimpanya. Semua menoleh padanya bahkan Patriak. 


     "Apa yang terjadi dengan bagian belakangmu, apa kau tidak apa apa?," Tanya Cayya dengan penuh khawatir dan hanya di jawab singkat oleh Sakya, "tidak apa."


     "Apa kau tidak apa-apa?," tanya Damar yang memulai percakapan. "Ini ku kembalikan padamu," Damar menunjukkan Kantong Penyimpanan Harta milik.


     Sakya langsung merampasnya tanpa bicara apapun, hanya ada tatapan bengis, dingin, dan kebencian. Damar tidak berdaya dan hanya menghela nafas


 

__ADS_1


     Mereka pun turun dan bertarung seperti hari kemarin, dan tidak perlu di ragukan mereka menang sekali lagi.


Mereka naik ke atas Arena dan menerima pujian lagi seperti kemarin.


     "Apa masih sakit?," bisik damar di telinga kiri Sakya hampir membuat Sakya berlonjak kaget, tapi bahunya di pegang oleh Damar sehingga Sakya tetap duduk di tempatnya. 


     "Ini ada obat untukmu, akan langsung menghilangkan rasa sakit di…." Damar menyodorkan 1 pil obat berwarna hitam kemerahan. Sempat curiga sebelum Damar melanjutkan, "Ini dari Tetua Danu, ku harap kau mau menerimanya."


     Sakya sedikit ragu tapi dia menerimanya. "Aku akan minum nanti," katanya. "baiklah kalau begitu," ujar Damar.


     Hari pun berganti dari pagi menjadi siang. Tinggal beberapa kelompok lagi yang menuntaskan pertarungan mereka maka babak ke 2 dari Tarung bebas akan selesai dan akan di teruskan ke babak ke 3.


     "Dengan menangnya Tim Gingger maka telah selesailah babak ke dua. Babak ketiga akan di lanjutkan lagi setelah istirahat 30 menit. Terima kasih," ujar Akarsana memberitau peserta. 


     Beberapa peserta beristirahat, ada yang makan, berbaring, bahkan berlatih. Peserta yang kalah dari beberapa hari lalu pun masih ada yang belum pulang. Mereka ingin menonton pertandingan sampai selesai. Dalam fikiran mereka meski mereka tidak bisa menjadi murid, setidaknya ada cerita yang bisa mereka bagikan kepada orang-orang di sekitar di daerah mereka masing-masing. 


     "Hei lihat itu bukankah Patriak bersama dengan Panji, mereka seperti nya sedang bermain melodi ayo kita mendekat agar lebih terdengar melodinya," ujar beberapa peserta. 


     Banyak Peserta yang mendekat, bahkan murid inti dan Tetua pun tidak mau ketinggalan. 


 


     Wakil Patriak berkata pada mereka, "Ini adalah Melodi penenang jiwa, setelah kalian bertarung habis-habisan mungkin jiwa kalian menjadi tidak stabil, mendengarkan melodi penenang jiwa dapat mengembalikan vitalitas jiwa seperti kalian saat sebelum bertarung," jelas wakil Patriak sembari menggosok jenggotnya yang panjang.


    Senyum tipis terukir di wajahnya hingga matanya terlihat lebih sipit dari sebelumnya. Penjelasannya tadi membuat orang semakin banyak berkumpul di bawah Arena. Mereka melihat ke atas Patriak dan Panji memainkan seruling dan Kecapi yang sangat harmoni. 


     Sementara 5 pendekar dan 5 Tetua di atas sana sedang memejamkan mata, mendengarkan Alunan Melodi yang sangat menenangkan Jiwa mereka. Para Peserta serta murid inti pun melakukan hal yang sama. Setelah melewati 20 menit barulah melodi itu berhenti, mereka kemudian membuka mata dan berterima kasih pada Patriak dan Panji. 


      "Terima kasih Patriak," ujar merka sambil menyatukan tangan tanda hormat dan membungkuk sedikit. Setelah itu mereka berpencar. 


     " Melodi Penenang ini luar biasa, vitalitas jiwa kita kembali seperti semula," ujar Cayya dia kemudian memeriksa tubuh dan jiwanya yang kini mendapat asupan. Mereka berlima pun berterima kasih pada Panji dan Patriak. 


     Patriak hanya mengangguk dan Panji tersenyum pada temannya, "bukankah bagus untuk pertandingan kalian selanjutnya?," kata Panji.

__ADS_1


"Ehm," mereka pun mengangguk serempak. 


*******


__ADS_2