
"Panji, Bagaimana jika kau kalah tadi," Tanya Pria cantik memegang kipas, siapa lagi kalau bukan Sakya.
"Kalah, ya Kalah mau bagaimana lagi," ujarnya sembari melihat-lihat dan memutar Kotak Transparan berisi bunga Pheony merah dengan batu kecil berwarna putih di tengahnya.
"Hei lihat aku jika bicara, bagaimana jika kau kehilangan serulingmu?" tanya Sakya kembali.
"Tidak apa itu hanya sebuah seruling, daripada aku harus melihat keadaan temanku seperti itu," Kata Panji yang mengalihkan padangannya Pada Oni yang telah di beri Pil pemelihara Tubuh.
Wajah Oni kembali segar, tapi dia masih belum membuka matanya sedangkan pertandingan terakhir antara 375 orang masih berlangsung.
"Ahh aku lupa memberitahumu, sebenarnya Seruling itu bukan barang pusaka, hanya seruling biasa, aku menyalurkan Tenaga dalam saat meniup Seruling yang sesuai dengan nada sehingga bisa menyamai permainan Patriak," ucap Panji dengan ringan.
Sakya sedikit terpaku dan berkata, "Dasar Penipu, Orang lain memberikan harta berharga mereka dan kau hanya mengeluarkan Seruling biasa," Ujar mulut Api Sakya.
Cayya menepuk Sakya dan mengatakan, "Bukankah itu cara yang bagus untuk mengalahkan lawan sekaligus mengambil harta mereka."
"Wah ternyata kau cukup licik ya Panji," Kata Galih sambil tertawa.
"Uhuk, uhuk, uhuk" Oni terbatuk dan mengeluarkan darah hitam. Perlahan dia membuka matanya. "Untunglah akhirnya Oni Sadar" Ujar Patriak Danu. Dia terlihat lelah setelah menyalurkan Energi tenaga dalam yang banyak untuk Oni.
"Tetua Danu, sebaiknya kau beristirahat, Oni sekarang sudah Sadar," ujar Tetua Dana di sampingnya. Tetua Danu pun menurutinya dan mulai duduk beristirahat memulihkan diri. Dia memakan beberapa obat-obatan untuk mengembalikan EnergibTenaga Dalamnya agar terisi kembali.
Oni perlahan bangkit dan duduk. "Bagaimana perasaanmu," tanya Galih. "Aku merasa penuh energi, ah bukan kah aku kalah dari si Pedang Berat, lalu aku akan akan akan tersingkir dari Perguruan Harimau Putih, hiks, hiks, hiks," Tangis Oni pun mulai terdengar dan semakin kencang.
Buk!!!! Kepala Oni di lempar dengan Bantal oleh Tetua Danu, "Diamlah," ujar Tetua Danu.
"Jangan berisik Oni, Tetua Danu sedang memulihkan diri, karena dia berjam-jam memberikanmu Tenaga Dalam," Kata Tetua Dana. Oni pun melihat Tetua Danu dengan perasaan Haru.
"Eh Gendut, Kau juga harus berterima kasih pada Panji kalau bukan dia yang mengalahkan Pendekar Pedang Berat dan mendapatkan Pil pemelihara tubuh untukmu, kau akan tetap di tempat tidur selama sebulan penuh," Kata Sakya sambil menatap si Gendut yang baru sadar dari Pingsannya.
"Apa maksudnya," tanya Oni. Mereka pun menceritakan pertarungan antara Panji dan Roben, wajah Oni sangat Antusias mendengarkan cerita. Setelah selesai cerita dia kemudian mengucapkan terimakasih kepada Semua Tetua, terutama Tetua Danu. Terkhusus untuk Panji.
"Panji," Panggil Oni Penuh haru. "Kau berulang kali, membantu aku aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu, aku akan bersumpah untuk jadi saudara denganmu."
"Itu tidak perlu," kata Patriak dengan suara yang dingin membekukan tulang. Orang-orang pun menjadi salah tingkah hingga wakil Patriak memecah kesunyian.
"Haahhaah, karena kau baik-baik saja, kau bisa memulai pertandingan sekali lagi, aku yakin kau bisa menjadi salah seorang dari 500 murid dalam," Wakil Patriak menepuk-nepuk bahu Oni.
"Ah, bukankah aku sudah di eleminasi Patriak?," Tanya Oni kembali.
"Maaf Patriak biarkan aku menjelaskan pada si gendut ini, Hei gendut meski kau termasuk dalam 375 orang yang tereliminasi, tapi apa kau lupa jika baru ada 375 orang yang lolos menjadi murid dalam?," Kata Sayka sembari memukul-mukul kepala botak Oni dengan ringan.
__ADS_1
Oni menyingkirkan Kipas Sakya kemudian berkata, "Ya lalu kemana sisanya, apakah hanya 375 orang yang di ambil menjadi murid?."
'Oni ini tenaganya saja yang kuat tapi otaknya…. ' batin Damar.
'Astaga apa ini temanku, kenapa dia begitu bodoh' batin Galih.
"Kenapa kau itu loading nya lama sekali, tentu saja dari 375 orang yang tereliminasi termasuk kau akan mengadakan pertandingan ulang untuk mengambil 125 orang lagi menjadi murid dalam," ujar Sakya dengan kesal sambil mengetuk ngetuk dada Oni dengan kipasnya.
"Itu artinya jika aku bertanding sekali lagi, maka aku akan menang dan menjadi murid dalam?."
"Yah, seperti itu, Kau bertanding sekali lagi dan jika kau menang. Kau akan di terima menjadi murid dalam," ungkap Wakil Patriak.
"Jadi kapan Aku akan bertanding, aku jadi tidak sabar, tubuhku terasa penuh Energi," Ucap Oni dengan bersemangat.
"Sebentar lagi," Kata Tetua Dinata yang kemudian menghilang dan muncul di Arena Tarung Bebas dan membisikkan Sesuatu ke telinga Akarsana.
"Untuk mengakhiri Babak Terakhir kali ini kita akan melihat pertandingan Antara Oni dan Setya. Silahkan Oni dan Setya turun ke Arena Tarung Bebas,"
Oni dan Setya pun Turun, di bandingkan dengan Roben, Setya lebih mudah di kalahkan, tidak butuh waktu lama hanya beberapa menit Setya terkapar di tanah dengan penuh luka Tusukan Bola berduri.
"Ahh maafkan aku, aku terlalu bersemangat, maafkan aku maafkan aku," Setya tidak bisa membalas perkataan Oni dia hanya memuntahkan seteguk darah. Antara dia marah atau karena tekanan dari Oni yang di terimanya.
Setya pun pingsan di tempat, dia terpaksa di bopong oleh murid-murid yang lain ke tepi Arena dan dia pun di obati.
"Pemenang untuk Pertandingan kali ini adalah Oni" Teriak Akarsana yang di sambut oleh riuh teriakan Para Penonton.
Wakil Patriak pun dengan indah meloncat dari Atas Arena, rambutnya beterbangan begitu pula jenggot nya yang memutih. Dia pun mendarat sempurna di Arena Tarung Bebas.
"Hahahahahaah," kembali tawa menggelegar wakil Patriak terdengar, tapi kali ini orang-orang tidak muntah darah.
"Aku sangat senang bisa melihat pertunjukan yang luar biasa dari kalian semua, aku ucapkan selamat kepada 500 orang yang telah menjadi murid resmi, dan 1.000 orang yang bersedia menjadi murid luar."
"Menjadi murid dalam kalian harus lebih keras berlatih karena di atas murid dalam ada lagi murid inti, tentunya murid inti lebih kuat dan sumber daya mereka lebih banyak. Kalian harus bekerja keras dan menampilkan kekuatan maksimal kalian agar bisa menjadi murid inti."
"Ingat untuk selalu menjaga sikap kalian dan sesuaikan dengan lingkungan agar tidak menjadi masalah, apa kalian mengerti?"
"Kami mengerti," Teriak mereka serempak.
"Baik dengan ini Seleksi Penerimaan murid baru Perguruan Harimau Putih Resmi di tutup, Aku kembalikan pada Akarsana biar dia yang membimbing kalian untuk selanjutnya," Akarsana pun tiba di Arena Tarung Bebas dan Meminta 1000 murid luar dan 500 murid dalam untuk berbaris rapi.
Tidak jauh dari mereka Wakil Patriak kemudian mengeluarkan Sebuah Bahtera yang sangat besar yang mampu menampung hingga 5.000 orang.
"Wah itu Bahtera milik Perguruan Harimau Putih, besar sekali," ujar salah satu murid dan menunjuk Bahtera. Beberapa murid lain pun mengikuti Arah telunjuk si Pria tadi.
__ADS_1
"Gila ini sangat besar," ujar murid lainnya.
"Ah lihat disana Patriak dan Tetua memasuki Bahtera." Setelah semua Tetua masuk, Panji dan kelima temannya pun masuk juga. Di ikuti beberapa murid inti di belakangnya.
"Kalian ingatlah, untuk Lantai bawah adalah murid luar, lantai kedua untuk murid dalam, Jangan berani untuk naik ke lantai ketiga jika tidak ada hal penting, Kalian juga di larang keras untuk naik ke lantai 4&5. Apa kalian mengerti?."
"Kami mengerti," lalu tiba-tiba ada seorang murid luar yang nyeletuk, "kenapa kami tidak boleh naik ke lantai 4&5 senior?
"Lantai ke 4 adalah ruangan khusus untuk Tetua dan Wakil Patriak, Ruang ke 5 adalah Milik Patriak, kalian masih bisa naik ke lantai ke tiga tapi jika hanya ada keperluan saja. Lantai ketiga milik murid inti," Jelas Akarsana
"Kalian bisa masuk setelah murid inti masuk semua," ujar Akarsana lagi.
*******
Note :
Nama Para Tetua
Wakil Patriak : Rendra
Tetua Danu : Pendek, botak gendut (guru Oni)
3.Tetua Dalu : Kurus, wajah biasa, Tinggi (Guru damar)
4.Tetua Sanu : Tampilan normal (guru Galih)
5.Tetua Dana :mayan tampan hdung mncung, atletis (Guru Cayya)
6.Tetua Safa : Paling tampan & Perfect (Guru Sakya)
__ADS_1
Tetua Dinata : Lumayan tampan, Kaku, penampilan seperti pria 30 an