
"Panji………….. "Teriak Sakya melihat Darah yang bercucuran dari mulut, hidung dan telinga panji.
"Hei tenanglah biarkan Patriak dan Para Tetua yang membantunya" Ucap murid inti bernama Sagra yang berusaha menenangkan Sakya dan teman-teman panji yang lainnya.
"Kenapa ini bisa terjadi, kenapa tombolnya bisa rusak?" Tanya Cayya,
"Aku tidak tau, sebelum pertandingan di mulai kami semua memastikan setiap peralatan aman di gunakan dan tidak ada satu pun yang rusak" Jelas Brama yang berada di samping Sagra
Pria berwajah pucat yang gemetaran pun telah di jaga oleh Para Tetua agar dia tidak kabur.
"Lalu bagaimana Panji bisa Keluar dari Alam Aula Tombak jika tombolnya rusak", Tanya Damar.
"Hanya ada satu cara yaitu menyelesaikan semua pertarungan di Aula tapi….. " Brama berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Tapi apa?" Tanya Galih
"Tapi sayangnya tidak pernah ada yang bisa melewati seluruh Pertarungan di Alam Aula Tombak, bahkan Patriak pun tidak" Sagra pun melanjutkan.
Terlihat kesedihan dan kesuraman di wajah mereka. "Ini semua tergantung bakatnya, kita ketahui bahwa Setiap Pertarungan di Alam Aula Tombak menyesuaikan dengan kemampuan dan bisa menarik kemampuan tersembunyi kita"
"Jadi, tenanglah dan berdoa agar Panji bisa melewati ini semua dan selamat" ujar Brama berusaha menenangkan mereka.
Tak lama terdengar teriakan Tetua agar semua orang menyingkir dari Aula Tombak, karena Panji akan di beri ruang khusus untuk memulihkan diri serta memudahkan Patriak menuntun Sukmanya. Itulah yang di teriakkan oleh Tetua.
Setelah itu Semua Tetua bersama mengumpulkan Tenaga dalam untuk menarik Kubah Perak yang sebelumnya ada di bawah Aula Tombak untuk naik ke atas menutup Aula Tombak.
Aula tombak tertutup dengan rapat. Siapapun tidak bisa melihat ke dalam, dan di dalam tidak bisa melihat keluar.
10 menit berlalu
20 menit berlalu
Sudah sejam berlalu sejak Panji mulai memasuki Alam Aula Tombak yang berarti 60 jam di dalam Alam Aula Tombak.
Beberapa peserta mulai berkomentar.
"Hei, Kira kira siapa ya yang merusak tombol pada tombak panji" tanya salah seorang di antara mereka.
"Siapa lagi kalau bukan si muka pucat itu, aku melihatnya menyerahkan tombak pada Panji"
"Hah benar-benar di sayangkan kalau Panji harus mati di dalam sana, dia benar-benar berbakat" seseorang di antara mereka mendesah dan menggelengkan kepalanya.
Mendengar pembicaraan orang lain Sakya hanya duduk di tanah membelakangi Aula Tombak, nampak kesedihan dan kegundahan memenuhi hatinya.
Setiap saat dia akan menganggu Panji dengan kata ketus nya atau teriakannya. Meski baru mengenal Panji beberapa hari, Sakya bisa merasakan bahwa Panji adalah orang yang sangat baik dan setia kawan.
Tentu saja Panji telah masuk ke relung hatinya dan menempati tempat spesial "sahabat" untuk nya yang tak mengenal pertemanan selain Cayya.
__ADS_1
"Aku bisa merasakan kesedihanmu kawan" kata oni sambil menepuk-nepuk Pundak Sakya. Jika dalam keadaan biasa, mungkin Sakya akan menggoreng tangan Oni yang berani menyentuhnya.
Tapi saat ini Sakya dalam keadaan yang tidak memikirkan itu. "Kalau aku tau kau akan pergi secepat ini, seharusnya aku memarahimu lebih keras, memakimu lebih banyak" suara serak terdengar dari Sakya.
"Hei kau menangis.. Kau" belum galih melanjutkan dia di tahan oleh Cayya.
"Biarkan saja, dia kalau galau memang seperti itu, sudah nanti kita lagi yang di maki kalau menegur dia" bisik Cayya di telinga Galih.
"Kau sudah menjadi sahabatku, aku tidak bisa membiarkan mu mati semudah ini, padahal aku masih ingin membuatkan makanan untukmu hik hik hik"
"Pa… panji" Teriak Cayya, Galih, Ino, Damar.
"Iya benar Panji, siapa lagi, hei kenapa kalian kaget begitu" Sakya memutar badannya dan melihat Panji tersenyum, menggelengkan kepala, dan menyilangkan kedua tangannya.
Cayya, Oni, Galih, Damar mengelilingi Panji dan menanyakan keadaannya. Sakya pun berdiri dan mengambil kipasnya. Mengetuk Panji cukup keras di dadanya, "kau ini membuatku khawatir, ahh maafkan aku apa keadaanmu baik-baik saja" Setekah di ketuk dengan Kipas Panji memuntahkan sedikit darah dari mulutnya.
"Ahhh maafkan aku, maafkan aku" Panji hanya tersenyum menyeka darah yang merembes keluar melalui bibirnya. "Tidak apa tidak apa, kau harus membayarny dengan sering-sering membuatkanku makanan"
Panji mengelus sebentar kepala Sakya.
"Panji" panggil Seorang yang suaranya semerdu melodi kecapi. "Ikut aku" lanjut Patriak Satria.
"Baik, Patriak"
"Ahh, Kalian tunggulah di sini aku akan mengikuti Patriak" Panji berpamitan pada mereka yang di jawab dengan anggukan. Panji pun mengikuti Patriak.
Patriak berjalan di dalam hutan kecil di ikuti dengan Panji. Mereka terdiam untuk waktu yang lama dan panji tidak betah dia mulai membuka percakapan.
Patriak Satya menoleh kemudian menjelaskan, "Aku membawa Hutan kecil ini di dalam kantong penyimpanan ini" Satria menunjukkan Kantong penyimpanan harta yang tergantung rapi di pinggangnya.
"Wah, baru kali ini aku mendengar kantong penyimpanan bisa menyimpan sebuah Hutan" Panji sedikit kaget mendengar jawaban Patriak Satria.
"Siapa orang hebat yang membuat Kantong Penyimpanan itu Patriak? Ahh, Bunga Peony merah? cantik sekali" Kagum Panji saat melihat motif pada kantong penyimpan harta milik Patriak.
"Patriak lihat di sana ada sepasang merpati, apa itu milikmu juga" Tunjuk panji pada merpati yang sedang bermesraan di sebuah dahan pohon dekat mereka.
"Iya"
Panji mendekati mereka dan mengulurkan tangannya. Merpati itu langsung mendekat "Wah burung merpati memang cantik, putih bersih seperti pemiliknya". Panji menyadari kata-kata yang keluar dari mulutnya kurang sopan.
'Ahh sial, apa yang barusan aku katakan, kenapa aku hilang kendali saat berada di dekat Patriak, ini aneh'
"Tapi ini aneh, bukannya ini pasangan tapi kenapa mereka sama sama jantan, apa memang ada di antara hewan yang suka sejenis ya" Tanya Panji dengan Heran.
Tapi Patriak berjalan semakin jauh meninggalkan Panji, Panji meletakkan Merpati kembali dan mengejar Patriak. Mereka menuju Rumah bambu yang pernah Panji datangi.
Panji dan Satria pun masuk ke dalam, Satria memerintahkan Panji untuk duduk. Setelah itu Satria mencari botol obat dan memberikannya pada Satria.
__ADS_1
"Ini untuk memulihkan Tenaga dalam dan menyembuhkan Luka dalam, minumlah"
Satria kemudian mengambil sebuah Pil dan meminumnya. Beruntung ada air dan gelas di mejanya.
"Sekarang lepaskan pakaianmu, aku akan memeriksa inti mu"
"Melepaskan Pakaian?" Tanya Satria
"Iya, cepat buka" titah Patriak. Panji pun perlahan membuka Pakaiannya.
'Ahh sial kenapa aku malu, dia kan Laki-laki juga' Tanpa Panji Sadari wajah dan telinga nya memerah.
Patriak Satria memeriksa pusar panji dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. Dia memejamkan mata lalu membuka mata dan terkejut.
"Kau… Inti mu adalah Inti Berlian"
"Apa itu inti berlian Patriak? Nenek ku bilang kalau aku hanya memiliki Inti Perak"
"Inti terdiri dari beberapa jenis, umumnya ada inti putih, inti perunggu, inti perak, inti emas, dan inti giok. Tapi ada sebuah buko kuno yang menjelaskan bahwa ada yang namanya Inti Berlian dan ciri-cirinya sama persis seperti inti milikmu" Jelas Satria
"Ahh iya Patriak, aku ingat setelah menyelesaikan Pertarungan di Alam Aula Tombak, aku di berikan sebuah Hadiah, batu berwarna putih kemudian karena tidak sengaja terkena darahku, Batu itu kemudian menyatu ke dalam inti milikku"
"Ahh jadi begitu, Kau beristirahat lah, jika sudah membaik, kembali ke arena untuk melihat Pertandingan" Ucap Satria sambil menganggukkan kepalanya.
"Aku akan pergi duluan" ujar Satria dengan singkat.
"Iya Patriak" Panji pun memakai Pakaiannya kembali.
Satria Pergi ke Arena sementara Panji melihat sekeliling rumah Bambu, di dekat Rak obat-obatan ada pula beberapa Rak buku. Panji bimbang apa dia harus melihat buku-buku itu atau tidak, apa dia akan bersikap lancang jika membaca buku-buku itu.
Tapi rasa Penasaran menyeruak di pikirannya, dia pin menghampiri Rak buku dan melihat salah satu buku yang menarik.
"LEGENDA PATRIAK PEMBANTAI IBLIS"
"Wah, Patriak pembantai iblis, siapa dia?" Panji pun membuka Buku dan membaca beberapa Halaman.
"Walau dia ini jahat, tapi dia sangat cerdas terbukti dia menciptakan banyak barang yang berguna, dia seorang penemu, benar-benar hebat"
Panji kemudian membaca beberapa kalimat lagi "Beberapa barang yang di buat oleh Patriak Pembantai Iblis memiliki Motif Bunga Peony Merah di atasnya"
Seketika Panji teringat Kantong Penyimpanan Harta milik Patriak.
"Ahh sebaiknya aku segera ke Arena, aku ingin melihat teman teman bertarung" Panji pun menutup buku dan berjalan keluar rumah bambu, menelusuri hutan dan kembali ke arena.
'Ahh sepertinya aku tepat waktu'
"Panji cepat kemari" Teriak Oni. Panji pun bicara singkat dengan mereka. Mereka bersyukur bahwa panji dalam keadaan yang baik-baik saja.
__ADS_1
"Selamat untuk Kalian 1.500 orang yang berhasil sampai di babak kali ini, tidak akan berlama lama lagi Babak ke 3 Tarung Bebas di mulai"
*******