
Dua orang Pria memakai Jubah Putih biru turun dari Kapal Kayu ke Dermaga di depannya. Salah seorang lebih terlihat dewasa dari yang lainnya.
Pria itu mungkin berusia 19 Tahun, sementara Pria remaja di sampingnya sekitar 15 tahunan. Tinggi mereka pun hampir sama, hingga tidak heran orang-orang akan menyamakan usia mereka.
"Inilah Kerajaan Andalas," Ucap Pria yang lebih dewasa. "Begitu ramai," ujar Pria yang lebih muda. "Iya Satria sekarang sedang ada Pesta Rakyat."
Mereka tidak begitu banyak bicara, tapi ketika melewati pasar atau keramaian mereka akan selalu menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.
Arya selalu tersenyum untuk setiap tatapan kagum yang orang-orang berikan, sementara Satria tidak menggubris sedikit pun perhatian dari mereka.
Saat mereka tiba di Area lomba Panahan, Satria berhenti dan menatap mereka yang sedang memanah. Teringat kembali saat dia masih kecil, Ayah dan Kakaknya akan mengajaknya untuk mengikuti Lomba Panahan. Kenangan masa kecil berputar di kepalanya.
"Kau ingin main panahan bukan, ayo," ajak Arya. Mereka pun tiba di Area lomba Panahan. Mereka membayar biaya pendaftaran. Satria pun mulai menarik busurnya.
Ketampanan mereka berdua menbuat gadis-gadis penasaran dan berkumpul di Area Lomba Panahan, Pria-pria lain yang melihat pun langsung bergabung.
Satria menarik busurnya, panah melesat dengan cepat dan tepat sasaran tidak melenceng sedikit pun. Penonton yang mengelilinginya bersorak gembira. Bagaimana tidak, dengan jarak 50 meter Panah itu melesat tepat di tengah.
Satria menarik busur untuk kedua kali dan melesatkan lagi anak panahnya. "Shuuuuuuuuu" Anak Panah melesat kembali dengan mendarat tepat di titik tengah.
"Wah hebat sekali anak muda itu, tapi aneh aku belum pernah mendengar atau melihat tentang anak muda ini," ujar salah satu penonton pria.
"Ahhh tidak peduli kenal atau tidak, kau lihat penampilannya, dia pasti bangsawan, dia begitu tampan, dan jago memanah, andai aku bisa menikah dengannya," ujar gadis belia tak jauh dari Pria itu.
"Ahhh brengsek siapa yang mendorongku," ucap seorang penonton. Pria berjubah hitam menerobos kerumunan dengan cepat kemudian dia berteriak yang membuat perhatian teralih padanya.
"Aku ingin menantangmu memanah," teriak Pria berjubah hitam. Satria mengendurkan tarikannya pada busur kemudian menoleh kebelakang dan melihat sosok Pria memakai jubah hitam.
Penjaga Area lomba mengambil uang pendaftaran dengan tersenyum dan menyerahkan anak panah serta busur kepada Panji. Panji tersenyum sedikit dan memikirkan sesuatu.
"Rasanya tidak adil jika bertanding seperti biasa, bagaimana jika melakukannya dengan sedikit berbeda?."
Panji mengambil Sebuah Pita berwarna hitam dari balik bajunya dan memasang itu di kedua matanya.
__ADS_1
Kemudian dia langsung menarik 3 anak Panah.
"Ahh anak ini Pamer lagi," ujar Mahesa yang tidak jauh dari tempat Arya berdiri. Arya menoleh pada Pria itu sekilas, kemudian melihat pertandingan lagi di depannya.
Anak Panah Satria dan Panji pun melesat. Tidak perlu bertanya lagi kemana anak panah Satria itu tertancap. Tepat di titik tengah Papan Panahan.
Tapi orang-orang begitu terkejut melihat hasil Pria berjubah hitam, dia menutup mata dan melesatkan 3 anak Panah ke Papan yang berbeda. Tapi ketiga-tiganya tepat sasaran tidak melenceng sedikit pun. Bahkan ada Pancaran ke kaguman sedikit darj Satria untuk Panji.
Panji membuka penutup matanya dan dia merasa puas dengan hasil yang di dapatkan. Dia kemudian menoleh pada Pria tampan di sebelahnya dan berkata dalam hati, "Kau boleh lebih tampan dariku, tapi kau tidak akan bisa mengalahkan ku dalam memanah,"
Satria hanya melirik tanpa memberikan komentar apa-apa. Dia menyerahkan panah dan busurnya pada penjaga Area dan akan melangkah pergi. "Hei tunggu dulu, kita belum selesai bertanding," ujar Panji sambil tergesa-gesa mengejar Pria tadi.
Pria itu menoleh kebelakang, hampir saja mereka bertabrakan jika Panji tidak berhenti tepat waktu, wajah mereka saling berdekatan. Penutup Kepala panji kemudian terbuka dan memperlihatkan seluruh wajahnya pada Penonton.
"Hei bukankah itu Pangeran kedua?"
"Wah benar Pangeran kedua, Pangeran kedua kemarilah bersama kami," Teriak gadis-gadis muda yang centil. Meskipun ada Pria yang lebih tampan tapi Pangeran kedua tetap ada di hati mereka, selain itu asal usul Pangeran pun membuat hati para Gadis gembira.
Panji berlari ke arah Petugas Area untuk mengembalikan busur dan Panah, serta mengambil hadiahnya 5 botol Arak Kaisar Girang. Dia berlari cepat lagi menghampiri Pria tampan tadi dan menyerahkan 2 botol Arak untuknya.
"Senang sekali bisa bermain denganmu, tapi aku tidak bisa berlama-lama di sini, ambil ini hadiah untukmu." Panji memberikan 2 botol Arak Kaisar Girang dan Pita hitam yang dia kenakan tadi.
Mahesa secepat kilat menarik Panji agar mereka melarikan diri. Tidak jauh dari mereka beberapa Prajurit datang dan masih terhalang oleh Penonton. "Ahh sial, kau banyak sekali bicara cepat kita pergi atau kita akan tertangkap," teriak Mahesa sambil menarik tangan Panji.
Mereka beberapa Kali kali melompat tinggi bahkan melewati atap-atap di Pasar, menjauh dari Prajurit yang mengejar mereka sampai bayangan mereka pun hilang tak berbekas.
Satria termenung sebentar kemudian melihat kedua tangannya di sebelah kiri tergantung 2 buah Arak Kaisar Girang, di tangan kanan terdapat pita berwarna hitam. Dia mengerutkan keningnya dan berkata, "Teman?."
Arya di sebelahnya tersenyum kemudian menepuk pundak Satria. "Hebat, baru pertama kali kemari Kau langsung berteman dengan seorang Pangeran."
"Tidak, aku bukan temannya," Ujar Satria. Dia kemudian menyimpan Arak dan pita di dalam kantung penyimpanan yang tergantung di pinggangnya.
Mahesa melepaskan tangan Panji setelah mereka merasa berada di tempat yang aman, "Kenapa kau selalu membuat masalah, sekarang kita di kejar-kejar Prajurit kau Tau."
"Ya ya aku tau aku tau, tadi aku hanya main-main oke bagaimana kalau kita main ke tempat selanjutnya," Ajak Panji.
"Ahhh ahhhh ahhhh," Teriak Panji yang merasakan sakit di telinganya. "Owh jadi kau mau main lagi tidak cukupkah kalian bermain-main tadi?". Seorang Pria yang agak tua dengan badan yang cukup besar menjewer telinga Panji.
__ADS_1
"Maha guruh," ujar Mahesa dia menangkupkan kedua tangannya dengan sopan dan ada sedikit rasa takut di matanya. "Paman Guruh,,,, ahhhh iya iya Maha Guruh kenapa kau menjewerku, ini sakit lepaskan aku," Rengek Panji.
"Kenapa Menjewer bukankah sudah jelas kau biang keladi semuanya, kalau bukan karenamu, tidak Mungkin Pangeran Pertama akan pergi keluar saat Pesta sedang berlangsung, Ayo Kembali, setelah Pesta selesai aku akan menghukummu," Mahaguruh tetap menarik telinga Panji hingga mereka hampir tiba di Istana.
"Maha guruh aku mohon lepaskan jepitanmu di telingaku, dimana martabatku jika bangsawan lain melihatnya, aku mohon," Ucap Panji dengan memelas.
Maha guruh pun melepaskan jeweran di telinga Panji, kini telinga Panji terlihat memerah sebelah. Dia menyentuhnya dan masih sedikit sakit. Ketika mereka memasuki halaman Istana yang masih menampilkan beberapa tarian dan lagu daerah.
Pesta Rakyat berlangsung selama 3 hari dan hari pertama akan menampilakan berbagai Tarian dan permainan musik dari berbagai daerah, hari kedua akan menampilkan pertandingan keahlian memanah, pedang, dan tombak, hari ketiga akan menampilkan Pertarungan individu. Berbagai hadiah menarik pun akan di berikan.
Pesta Rakyat tidak hanya berlangsung di Istana tapi juga seluruh wilayah Kerajaan Andalas. Berbagai daerah ikut memeriahkan dengan berbagai lomba yang ada.
Panji dan Mahesa Pun sampai di Panggung tempat Raja dan Para bangsawan duduk. Ratu kemudian berdiri dan menghampiri Mahesa serta berkata, "Kemana saja Pangeran Pertama pergi, ibu begitu Khawatir jika ingin pergi keluar bawalah beberapa pengawal bersamamu agar selalu aman," Ratu Yashna memegang lembut pipi anaknya.
Panji tidak peduli dan melihat sekeliling, hingga matanya jatuh pada dua Pria yang berdiri dan menghampiri Raja. Tatapan Panji dan Mahesa pun bertemu, "Kau?, bagaimana kau kemari," bisik Panji dengan isyarat di mulutnya.
Ratu Yashna mengalihkan pandangannya pada Panji, raut wajahnya berubah kesal dan bercampur kebencian. "Kau, berani-beraninya kau membawa Pangeran Pertama melarikan diri," suaranya begitu besar sehingga menarik perhatian beberapa bangsawan.
"Tidak heran, untuk anak nakal sepertimu tidak betah berada di istana yang di penuhi aura ningrat, tidak apa kalau kau mau pergi, tapi jangan bawa Pangeran Pertama," ujar Ratu Yashna dengan sinis. Terlihat kedua tangan Panji mengepal erat.
"Sudahlah ibu, ini karena aku yang mengikutinya," ujar Pangeran Mahesa.
"Kak aku akan menghentikan ibu," Ujar Ara ketika akan bergegas tangannya di tahan Oleh Lyla. "Biar kakak saja."
"Ibu," Tatapan lembut Lyla dan dekapan kedua tangan di pundak Ratu membuat Ratu sedikit tenang. "Ibu tenanglah, sekarang banyak orang yang melihat, tenang dan duduklah kembali," Ucap Lyla dengan lembut.
Kata kata Lyla seperti hipnotis, membuat Ratu mendengus ringan kemudian kembali ke tempat duduknya.
Mereka semua mendesah lega terutama Mahesa dan Raja. Tidak ingin keributan ini berubah jadi rumor yang tidak penting. Apalagi mereka sedang kedatangan tamu dari Kerajaan Java. Ini akan membuat mereka malu jika hal tadi di teruskan.
"Ahh semuanya, aku ingin memperkenalkan tamu kita pada kalian semua."
"Lihat sebelah kanan yang tampan ini, dia adalah Pangeran Arya Birawa Wikramawardhana dan adiknya di sebelah adalah Pangeran Satria Birama Wikramawardhana."
"Mereka adalah Tamu dari Kerajaan Java, aku harap kalian semua menghormati mereka seperti menghormati aku juga, haahahah, mari mari duduk." Mereka berdua pun duduk di sisi Raja.
Panji dan Mahesa saling pandang, "Ternyata mereka Pangeran seperti kita," ungkap mereka serempak.
__ADS_1
*******