
"Waktu istirahat telah berakhir, kita ucapkan terimakasih kepada Patriak Karena membiarkan kita mendengarkan melodi dari kecapi dan juga seruling dari Panji yang menenangkan hati dan jiwa kita."
"Aku harap kalian bisa bertarung dengan seluruh kemampuan kalian, dari 750 orang ini, kami akan memilih 500 orang untuk menjadi murid dalam, Kalian bisa melihat di layar siapa saja lawan kalian, untuk pertandingan pertama Oni melawan Roben"
"Kalian bersiaplah untuk bertanding," ujar Akarsana. "Roben, namanya cukup asing di telinga bukan," tanya Tetua Safa pada Tetua tetua di sebelahnya. "Ya nama yang cukup asing," timpal Tetua Danu.
Oni pun turun ke Arena Tarung Bebas dan berhadapan dengan seorang pemuda yang memakai jubah berwarna coklat, dia memiliki alis bagai pedang dengan rahang yang tegas. Wajahnya menampilkan maskulinitas yang kuat.
"Menyerahlah," ujar Pria itu dengan suaranya yang cukup berat. "Alasan apa kau memintaku untuk menyerah,"Teriak Oni sembari menunjuk wajahnya.
"Saat Pedangku Keluar, dia hanya akan melewati 2 hal yang pertama orang yang di tebas oleh pedangku akan sekarat, yang kedua akan mati."
"Betapa sombongnya aku tidak akan menyerah semudah itu," Oni kemudian mengeluarkan Rantai Bola berdurinya dan memutarnya dengan kencang. Dia kemudian akan menghantamkannya ke dada Pria itu, tapi seperti seringan bulu, Pria itu hanya menghindar melompat ke sana kemari.
Pria itu melompat ke belakang Oni, Oni pun berputar dan melontarkan Besi berdurinya sekali lagi, Pria yang bernama Roben itu begitu gesit membuat kesabaran Oni habis.
Oni kemudian membuat badai bola berduri. Rantai yang semula tanpa cahaya kini bersinar hitam kemerahan, dia memutarnya dengan kuat membuat debu berterbangan bercampur dengan cahaya yang di keluarkan Senjata Oni.
"Gila, oni ini ternyata kuat sekali, jika itu aku mungkin aku sudah terlempar ratusan meter dan muntah darah," ujar salah satu peserta pada teman di sebelahnya.
"Tidak salah jika dia berada di kelompok Ksatria Panji, memang sangat kuat," Beberapa Peserta yang tidak kuat mundur dari Arena Tarung Bebas sejauh mungkin.
"Ahhhhhhhhh" Oni berteriak mengeluarkan sebagian tenaga dalamnya dan menyebarkannya seiring berputarnya Rantai bola Berduri itu. Tidak mungkin ada yang bisa menghindarinya bahkan jika dia melompat ke sana kemari.
Sesuai dugaan Oni dia memang tidak menghindarinya, tapi dia mengeluarkan Senjata Pamungkas berupa Pedang Berat. Pedang berwarna Hitam Keabu-abuan yang besarnya lebih dari setengah tubuh Pria dewasa.
Pria bernama Roben itu kemudian mengayunkan sedikit Pedangnya Badai malah berbalik menyerang Oni. Menubruk tubuh Oni dengan Keras hingga pegangannya Pada Rantai terlepas. Oni terlempar beberapa puluh meter.
__ADS_1
Tidak mau menyerah, Oni mengambil lagi Rantai Berdurinya dan menyerang orang itu, sama seperti sebelumnya Roben menghindar ke samping kemudian dia sedikit mengayunkan Pedang Beratnya, dan membuat Oni muntah darah.
Panji berdiri kaget dan berteriak "Menyerah Oni. Dia bukan lawanmu"
Tetua Dalu pun mengangguk tanda persetujuan. Kelompok Ksatria Panji begitu cemas dengan Keadaan Oni, mereka bisa melihat getaran di tangan Oni saat memegang Rantai berdurinya.
Oni seolah-olah tidak mendengarkan dia tetap menyerang Pria itu membabi-buta, Ayunan Rantainya pun mulai kehilangan arah. Oni menggerakkan Bola berdurinya dan melemparnya, Roben menghindar ke kanan dan melibas nya dengan Pedang berat sekali lagi.
Oni kemudian Memutar Rantai nya dan mengarahkan Dua Bola berduri ke arah Roben, tidak mau Kalah Roben kemudian mengayunkan Pedang beratnya hingga pedang itu membelah Arena Tarung Bebas. Angin bertiup sangat kencang dan badai Cahaya abu kehitaman menyerang Oni.
Badai abu kehitaman menyentuh dadanya membuat dia terseret mundur beberapa meter. Oni memegang dadanya, kemudian Jatuh berlutut dan hampir tersungkur, beberapa kali dia memuntahkan darah, Pakaiannya Compang-camping koyak di mana-mana, luka-luka pun memenuhi tubuhnya.
Dia jatuh tersungkur dan Pingsan. Tetua Dinata kemudian naik Ke Arena Tarung Bebas untuk memeriksa Oni, dia memerintahkan murid murid inti untuk membawanya ke atas Arena. Ini atas permintaan Tetua Danu.
"Gila pertarungan yang sangat luar biasa, Oni sekuat itu dan di kalahkan dengan mudah oleh pria bernama Roben itu, jadi sebenarnya seberapa kuat dia?."
Akarsana pun mengumumkan pemenangnya. Roben kemudian meminta izin untuk bicara. Roben pun mengatakan, "Panji setelah Babak ini berakhir, Aku ingin bertarung denganmu, kau mau atau tidak?."
"Kalau aku mau kenapa, kalau tidak kenapa?" Tanya Panji.
Pria itu mendengus kesal, "Heh jika kau tidak mau itu berarti kau hanya sembunyi di balik Kekuatan Orang lain,"
"Jika hanya bertarung dan menghabiskan energiku untuk apa aku bertarung, di katakan berlindung di balik seseorang yang kuat pun tidak apa-apa" Panji kemudian bersembunyi di balik tubuh Patriak Satria.
"Kau," Tunjuk Roben dengan kesal. Beberapa murid inti pun agak kesal dengan sikap Panji, bahkan Tetua pun merasa sedikit dongkol.
"Berhenti bermain-main," Ucap Patriak Satria.
__ADS_1
"Baiklah, aku mengerti apa maksudmu, jadi apa yang ingin kau pertaruhkan, " Tantang Roben dari Arena Bertarung Bebas.
Panji kemudian berdiri dan senyum lebar terukir di wajahnya, "Tentu saja aku ingin sesuatu yang bagus"
Roben kemudian mengeluarkan sebuah kotak. Dia membukanya dan tercium bau obat yang sangat kental. Di dalamnya terdapat Sebutir Pil berwarna hijau.
"Ini adalah Pil pemelihara tubuh tingkat 2, sangat baik untuk memelihara vitalitas tubuh, jika tubuh seseorang luka parah, obat ini akan membuat mereka sembuh seketika," terang Roben.
"Lalu apa yang akan kau pertaruhkan?," Tanya Roben. "Aku akan mempertaruhkan ini," Panji kemudian menunjukkan Serulingnya, Roben wajahnya berubah masam.
"Kenapa dengan wajahmu itu, bukankah kau menyaksikan tadi Serulingku ini sangat baik dalam mengalunkan melodi Penenang Jiwa?, ini adalah harta karun terpenting untukku."
Sejenak Roben berpikir, Seruling Panji pasti setingkat dengan Kecapi milik Patriak, itu tidak akan ada rugi untuknya. "Baiklah kalau begitu aku pegang janjimu."
"Aku juga akan memberi hadiah," ujar Patriak Satria. Patriak mengambil sesuatu dari Kantong Penyimpanan Hartanya.
"I ini bunga Peony merah, lihat di tengahnya terdapat inti berwarna putih, setidaknya ini Peony merah berusia 50 Tahun," teriak salah satu pemuda yang merupakan Peserta.
"Hahahaha, Kau Benar, ini adalah Bunga Peony merah berusia 50 Tahun, ehm hadiah ini di peruntukan bagi pemenang antara Roben dan Panji. Bukankah kita harus menyaksikan Pertarungan spektakuler di Akhir?, Salah satunya adalah Pemenang Petarung Arena Tombak dan yang Satunya Pendekar Pedang Berat," ujar Wakil Patriak sembari menyisir jenggotnya lagi.
"Terima kasih Patriak," Ucap Pria itu sambik memberi hormat kepada Patriak.
Pria bernama Roben itu kemudian meninggalkan Arena Tarung Bebas dan kembali ke tempat duduknya.
"Panji apa yang kau lakukan?, tidakkah seruling itu penting untukmu?, tanya Sakya.
"Tenang saja, aku tau apa yang aku lakukan, sebaiknya kita lihat keadaan Oni," Panji kemudian melirik ke samping dan melihat Oni masih belum sadarkan diri.
"Bagaimana keadaan Oni, Tetua?," tanya Panji pada Tetua Dinata. "Keadaannya cukup buruk, jika tidak di rawat dengan benar, aku takut dia akan sadar hingga sebulan lagi."
__ADS_1
Tetua Danu pun menyuntikkan Energi Tenaga dalam untuk Oni agar luka dalam Oni sedikit demi sedikit sembuh. "Aku sudah meminumkan dia Obat, Semoga saja dia cepat sadar," ujar Tetua Dinata.
*******