
"Masih tidak bisa kan?," tanya Panji kemudian di jawab oleh anggukan oleh Satria. Panji yang merasa dia berhasil berteman dengan pria dingin di sebelahnya mulai duduk mendekat lagi.
Satria melirik dan berkata, "Menjauh dariku."
"Bukankah kita sudah berteman?"
"Tidak, kita tidak berteman," tegas Satria, wajahnya memerah seakan dia benar-benar meluapkan emosinya.
Wajah dari Panji menjadi aneh dan dia cengengesan dengan rasa tidak nyaman.
"Bukankah sudah kubilang untuk tidak menjahili orang lain, kau membuat Pangeran Satria marah." Seseorang membisikkan ke telinga kiri panji. Panji terkejut hingga dia memegangi dadanya, dia menoleh dan melihat ternyata itu adalah Mahesa. Dia lalu bernafas lega.
"Maafkan Dia Pangeran Satria, membuatmu marah, dia memang tidak punya sopan santun dan sangat semberono," Mahesa kemudian duduk di sebelah Panji dan memegang tangan Panji. "Tidak apa," Jawab Satria Singkat.
"Tidakkah energi mu akan cepat habis jika keahlian ini di gunakan dengan sia sia?" tanya Mahesa.
"Tidak ini hanya memakai sedikit energi…. "
Satria melihat keakraban Mahesa dan Panji. Dia sedikit menyipitkan mata dan mengalihkan pandangannya kearah lain.
Raja Jayanegara sibuk dengan diskusinya dengan Pangeran Arya. Ratu Yashna menikmati pertunjukkan tari dan musik, Para bangsawan pun demikian dengan cemilan dan makanan yang cukup banyak di meja mereka. Putri Lyla dan Putri Ara pun mengobrol ringan.
Raja berdiri dan mengumumkan hal yang penting. "Kalian semua pasti penasaran tujuan kedua Pangeran yang datang ke Kerajaan Kita. Maka kali ini aku mempersilahkan Pangeran Arya sebagai perwakilan dari Kerajaan Java untuk mengatakannya."
Pangeran Arya berdiri dan berbicara, "Sebelumnya aku minta maaf karena datang tanpa di undang. Ini semua atas Perintah dari Raja Mahawira Wikrawardhana, Raja dari Kerajaan Java."
"Beliau menyampaikan kepadaku untuk memberitahu Kerajaan Andalas agar bisa ikut serta dalam Pertandingan Bela Diri yang akan di adakan Oleh Perguruan Moksha Laghu. Pertandingan ini untuk pemuda pemudi yang akan bergabung ke Perguruan Seribu Bintang pada 6 bulan ke depan."
"Pertandingan ini untuk pemuda dan pemudi berusia 15-20 tahun, sesuai dengan usia maksimal untuk masuk ke Perguruan Seribu Bintang. Pertandingan Bela Diri akan di adakan sebulan lagi."
"Aku harap kalian datang sebelum waktu pertandingan agar bisa lebih mempersiapkan diri. Itu saja. Terimakasih."
Pangeran Arya duduk kembali dan berbincang kembali dengan Raja Jayanegara.
__ADS_1
Keributan pun mulai terdengar di antara para bangsawan mau pun beberapa murid perguruan Elang Emas yang ada di bawah Panggung.
"Berhenti membuat keributan," Ujar Maha Guruh Ki Agus Permana yang merupakan pemimpin perguruan Elang Emas.
Mereka menghentikan keributan setelah di hentikan oleh Maha Guruh. Tarian dan Musik pun mengalun kembali setelahnya.
"Bagaimana pun karena Pangeran sudah di sini menginaplah selama 3 hari, kita bersama-sama menyaksikan beberapa pertandingan untuk besok dan lusa," Raja Jayanegara membujuk Pangeran Arya untuk tinggal beberapa hari di Istana Kerajaan.
"Kalau itu tidak merepotkan Paduka," jawab Pangeran Arya. "Tidak tidak sama sekali tidak merepotkan, ah minum dan makan lah," Raja mengangkat Cangkirnya dan bersulang dengan Pangeran Arya dan beberapa bangsawan.
Hari itu pun Tarian dan Musik dam di tampilkan berakhir dengan baik. Senja mulai menyelimuti langit, Pesta di Kerajaan pun berakhir untuk hari ini. Raja, dan Semua bangsawan pun kembali ke tempat masing-masing.
Begitu pula Pangeran Arya dan Satria yang telah beristirahat di kamar yang telah di persiapkan sebelumnya.
"Bukankah hari ini menyenangkan," Ucap Pangeran Arya. Dia membuka Sehelai demi Helai Pakaiannya untuk berganti baju.
"Aku akan kembali ke kamarku," Ucap Satria. Wajahnya masih dingin seperti sebelumnya berbanding terbalik dengan Kakaknya yang selalu tersenyum lembut. Satria pun Keluar dari Kamar Pangeran Arya dan kembali ke kamarnya.
"Mungkinkah Panji bisa melelehkan Bongkahan Es itu," tanya Pangeran Arya pada dirinya sendiri. Dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan berkata, "tidak mungkin."
Satria yang kembali kekamarnya tidak langsung beristirahat. Dia mengeluarkan Sebuah Sitar dari Kantong Penyimpanannya. Dan mulai memainkan melodi yang begitu indah di dengar.
Dia melangkah dan kemudian mendengar Alunan melodi Sitar yang begitu merdu. Panji tersenyum puas. "Ahh mungkinkah ini kamar Satria," Panji melihat ke atas. Ada sebuah jendela terbuka dengan Tirainya yang berkibar tertiup angin.
Tidak jauh dari Sana, ad sebuah Pohon yang cukup besar. Panji pun. memanjat pohon itu hingga dia mendapatkan sebuah dahan yang cukup Kokoh dan duduk di sana tepat menghadap Jendela kamar Satria yang terbuka.
Dia melihat Satria menunduk sedang memainkan Sitar. Dia seperti tidak merasakan kehadiran Panji.
Panji cukup takjub dengan pemandangan di depannya yang begitu indah. Pria itu masih mengenakan Pakaiannya tadi siang. Dia memejamkan matanya merasakan alunan melodi yang dia petik melalui jari-jarinya yang panjang.
Wajahnya tirus dengan bibir merah muda alami, alis nya terkesan lembut tapi tegas di saat yang berbeda, hidungnya kecil dan mancung. Memang terlahir seperti bukan manusia. Di tambah dengan kulitnya yang putih lembut.
Angin menghembuskan helaian rambut Panji. Dia berpikir, "Kenapa aku tidak terlahir sebagai wanita. Setidaknya jika aku terlahir sebagai wanita aku masih memiliki kesempatan untuk mendapatkannya."
"Baiklah, sepertinya aku pergi saja dari pada menganggunya, tapi sebentar saja aku akan duduk di sini mendengar melodi Satria." Panji pun duduk bersandar di dahan pohon dengan kaki yang terjuntai.
Dia memejamkan mata merasakan alunan melodi yang masuk ke hatinya. "Melodi apa yang begitu menenangkan seperti ini," pikir Panji.
Alunan melodi Sitar berhenti tapi Panji belum membuka matanya.
__ADS_1
Satria yang telah selesai memainkan sitarnya beralih menatap jendela. Melihat sosok yang duduk di dahan Pohon. Dia pun mendekat ke jendela. Panji membuka matanya, sedikit terkejut karena Satria telah ada di balik Jendela menatapnya.
"Satria, Melodi tadi hebat sekali," kata Panji dengan bersemangat. Tidak lupa senyum tersungging di bibirnya.
Tanpa basa basi Satria menjawab, "untuk apa kau kemari."
"Hei, bukankah kita ini teman, kenapa kau harus menanyakannya lagi," Panji terlihat agak kesal, dia menyilangkan kedua tangannya. "Kembalilah ke kamarmu," Jendela pun tertutup rapat.
"Hei… kau…. " Panji berdiri dan terlihat marah sekaligus kesal. "Ahhh, ini tidak bisa di biarkan, aku sudah lelah mencari kamarnya dari tadi, bahkan diam-diam menyelinap kesini, tapi dia masih dingin padaku."
Terlintas ide nakal di pikiran Panji, dia pun tersenyum lagi. Mengetuk Jendela kamar Satria. "Biarkan aku masuk sebentar, aku ingin belajar Sitar denganmu, ayolah buka jendelanya."
Setelah beberapa saat memohon dan meminta, Satria pun membuka Jendela kamarnya dan Panji langsung memasuki Kamar Satria. "Ohh, jadi kau tadi berganti pakaian."
"Ini sudah larut malam, lebih baik kau kembali ke kamarmu," ucap Satria dingin. "Ahh padahal aku membawa ini," Panji membawa Kendi berwarna putih. "Apa ini," tanya Satria.
Panji mengambil 2 cangkir kecil dan duduk serta membawa Kendi berwarna putih dan meletakkannya di atas meja. Dia kemudian meminta Satria untuk duduk dan menemaninya serta merasakan kenikmatan minuman yang dia bawa.
Panji menuangkan air di dalam kendi ke 2 cangkir dan meminum salah satunya. Sedangkan cangkir lainnya di berikan pada Satria. Setelah Satria meminumnya dia merasa sedikit pusing. Merasa ada yang salah dia melihat Panji yang tersenyum menyeramkan di depannya.
Sebelum kesadarannya menghilang, dia depan cepat bergegas ke arah Panji dan menotok dada panji, membuat panji tidak bisa bergerak. Panji ingin bicara tapi tidak bisa. Badannya Kaku dan dia tidak bisa bergerak.
Dia akan jatuh ke lantai, tapi di tangkap Oleh Satria. Satria menggendongnya di pundak. Dengan sempoyongan Satria berjalan melangkah ke tempat tidur kemudian menghempaskan tubuh Panji di atas tempat tidur.
Panji pun kemudian tidur dengan sebagian tubuhnya menindih tubuh Panji. "Ahhh sial, lepaskan aku, hei bangun cepat bangun," teriak Panji dalam hati.
"Ahhhhh, kenapa jadi aku yang di kerjai, lagi pula itu hanya arak biasa. Aku ingin mengerjai dia yang tidak boleh minum arak. Tapi kenapa malah aku yang berada dalam posisi merugikan."
Beberapa saat Panji teringat Obrolan beberapa Murid perguruannya yang menggosipkan Satria, mengatakan Satria tidak pernah mau dan tidak boleh minum arak. Awalnya Panji biasa saja mendengarnya, hingga tercetus dalam pikirannya untuk mengerjai Satria.
"Aku tidak akan bisa tidur kalau begini."
__ADS_1
*******