
Sagra kemudian memanggil 100 orang untuk maju, Tombak dibagikan dan mereka mengikuti arahan dari Sagra.
Tidak butuh waktu 10 menit, mereka semua kembali ke raganya dengan batuk darah atau memar di wajah mereka, ada yang hanya semenit, 2 menit, 5 menit. Bahkan ada yang baru beberapa detik sudah terpental kembali ke Aula Pedang.
Tak lama muncul Nama Peserta beserta Angka-Angka jumlah buruan mereka di Sebuah Papan yang menjulang tinggi.
"Masih lumayan nilai tertinggi dengan 2.678 Buruan, Kalian yang masih tergeletak di Aula segera keluar dan berikan Tombak kepada teman kalian yang belum dapat giliran" Mereka pun melakukan sesuai Arahan Sagra.
"Uhuk uhuk uhuk Sial aku tidak bisa bertahan lagi" Pria berwajah pucat dengan Pakaian Serba abu-abu pun memencet tombol merah yang ada di bawah tombak.
"Apa yang terjadi jika tombol ini rusak dan kuberikan ke anak yang memecahkan Batu Cahaya tadi, apa dia akan mati?" Lanjut pria berwajah pucat tadi.
"100 orang selanjutnya" kata Sagra. "Giliran kita" Ucap Oni kemudian di berikan Anggukan oleh Panji, Sakya, Galih, Cayya, dan Damar.
Mereka pun mendapat tombak dari rekan-rekan yang sebelumnya berada di Aula Tombak.
"Ini tombakmu" Ujar Pria berwajah Pucat Kepada Panji. "Ahh, terima kasih" Ucap panji seraya mengambil Tombak dari lengan di Pria Pucat tadi.
Pria Pucat tersenyum menyeramkan,
Lalu turun dari Aula Tombak.
Panji beserta 6 orang temannya juga 94 pendekar lain mulai mengikuti arahan Sagra, Pertama mengatur nafas kemudian pejamkan mata sambil memegang tombak.
Hanya Beberapa detik kemudian mereka membuka mata karena di kejutkan Oleh Auman binatang buas yang menggelegar. Mereka sekarang berada di Atas sebuah Aula Besi juga tapi di sekitar mereka tidak ada orang lain hanya Auman binatang buas.
Lama-kelamaan wilayah itu tertutupi kabut tipis yang semakin tebal Seiring berjalannya waktu. Tak butuh waktu lama mereka kemudian di kelilingi oleh monyet monyet bermata merah berbulu hitam yang mengeluarkan darah bercampur liur dari mulut mereka. Beberapa orang benar-benar jijik dan muntah di tempat.
Sementara Panji dan 5 orang temannya membasmi Monyet monyet itu dengan Libasan tombak mereka.
"Sial mereka seperti tak ada habisnya" Ujar Sakya yang terengah-engah menghadapi ratusan Monyet. Dia kemudian mengumpulkan Tenaga dalamnya lebih banyak dan menyalurkannya kedalam tombak.
Nampak tombak itu lebih bercahaya dari sebelumnya kemudian Tombak itu di hentakan ke Lantai menyebabkan Semua monyet terbunuh seketika.
Hal yang sama pun di lakukan oleh Galih, Oni, Damar, Cayya dan Panji mereka menyalurkan lebih banyak Tenaga dalam ke dalam tombak dan melibas mereka sekaligus.
Gelombang kedua pun datang Kali ini adalah Anjing dengan taring yang Panjang. Badan mereka cukup besar dan menakutkan terutama taring panjang mereka yang siap mengoyak Kulit manusia yang mencoba melawan mereka.
"Sial rasanya energiku akan habis" erang Oni. Tapi dia tetap melibas, menusuk Anjing ganas itu, Malangnya Oni harus mendapat gigitan dari beberapa Anjing tersebut dia pun melompat dan menjauh tapi Anjing yang Haus darah manusia itu tak mau menyerah terus mengejar Oni dan Merobek Pakaiannya.
Oni merasa tidak mampu bertahan dia pun menekan tombol merah yang ada di bawah Tombak. Ketika tiba di Aula Tombak dia langsung muntah darah cukup banyak. Beberapa murid inti membantunya dan memberikan Tenaga dalam mereka, tak lupa mereka pun membersihkan darah yang berceceran. "Terima kasih Senior" Ucap Oni yang langsung tak sadarkan diri.
"Si gendut itu hebat juga lihat nilainya berubah, 25.600 dasar gila bukan kah itu berbeda puluhan ribu dari sebelumnya" Beberapa Peserta pun ribut kembali mengagumi kehebatan Oni.
__ADS_1
Sementara itu Galih masih bertarung dengan Anjing ganas itu dan menerima luka robekan di sekujur tubuhnya. "Sial jika terus begini aku bisa mati" Dia pun menekan tombol merah dan kembali ke Aula Tombak, kembali angka di Layar berubah 29.678 buruan.
Dia mencari-cari Oni yang ternyata tengah Pingsan dan di bantu beberapa Murid inti untuk penyembuhan, dia pun langsung menghampiri Oni.
Gelombang ke 3 binatang buas pun berdatangan. Panji dengan Baju dan penampilannya yang masih bersih terlihat tenang sambil melihat Harimau belang yang besarnya hampir sama dengan tubuh manusia. Taringnya panjang dan lebih tajam dari Anjing yang sebelumnya dia lawan.
Begitu juga Damar, Sakya, dan Cayya yang memegang Tombak mereka dengan Erat dan mulai bertarung.
Pertarungan semakin berat untuk mereka bertiga karena Harimau ini jauh lebih kuat dari pada Anjing sebelumnya. Terkaman di Kaki Cayya dan kemudian gigitan Di tangan Kirinya membuat dia terpaksa menekan tombol merah yang ada di bawah Tombak.
Dia pun kembali dengan wajah Pucat, dan hidung berdarah, tapi dia cukup puas melihat hasil di layar "32.789 buruan" Dia berjalan menyusuri Aula Tombak, Ketika turun hampir saja dia tersandung jatuh. Kemudian dia terbaring di dekat Oni.
Tersisa Damar, Panji, dan Sakya di Aula Tombak. Yang lain bahkan berjatuhan sebelum Oni.
Damar menggunakan semua kekuatan untuk menghabisi Harimau Belang yang mengelilingi dirinya. Usahanya tidak sia-sia. Harimau Belang pun mati semua, tapi dia merasa sanggup lagi melanjutkan dan menekan Tombol merah. 39.786 Buruan, Dia cukup puas dengan hasil yang di dapatnya.
Waktu telah melewati menit ke 8. Sakya dan Panji masih belum tersadar. Gelombang 4 pun berdatangan, Kali ini Mayat hidup yang keluar dan mengelilingi mereka, tercium bau busuk dari tubuh Mayat hidup tersebut.
Biji mata mereka keluar dan berjatuhan, ada Pula yang mengeluarkan darah dan Nanah dari mulutnya. Beberapa pria mayat hidup tidak memakai Pakaian dan terlihat dagingnya yang terkelupas merah berisi belatung, darah dan nanah yang berjatuhan.
Sungguh mengerikan, membuat orang akan muntah berkali-kali melihatnya. Sakya yang mencintai penampilannya bergidik ngeri saat Mayat hidup itu mulai menyerangnya.
Sedikit pun dia tidak ingin di sentuh oleh mereka, Tenaga dalam yang di keluarkan Sakya tidak main-main sehingga membuat dia terengah-engah keletihan.
Dia melihat Papan Layar dan melihat namanya di paling atas dengan 53.648 Buruan. Tapi begitu dia menoleh kesebelah kiri Aula dia melihat Panji masih terpejam dan hanya sedikit mengerutkan kening.
"Sudah menit keberapa?"
"Ini menit ke 9" jawab salah satu murid inti atas pertanyaan Sakya.
Menit ke 10
Menit ke 11
Menit ke 12
Menit ke 13
Menit ke 14
Menit ke 15
"Apa yang terjadi" Sagra salah satu murid inti bertanya tanya berharap ada yang bisa menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
Mereka melihat mulai banyak bulir bulir keringat yang berjatuhan dan ekspresi rasa sakit dari Panji.
"Apa dia terlalu memaksakan diri? Padahal jika dia berhenti, dia tetap akan ada di peringkat teratas kan?"
"Iya benar-benar"
Begitulah anggapan semua orang, terkecuali Satria, dia merasa ada yang tidak beres.
Menit ke 16
Menit ke 17
Menit ke 18
Menit ke 19
Menit ke 20
"Sial apa yang terjadi" Tanpa memperhatikan sekitarnya Satria Melompat ke Aula Tombak dan melihat Satria. Dia mulai mengalami pendarahan di hidungnya.
Satria begitu Khawatir dia langsung Memegang denyut nadi Panji. "Patriak apa yang terjadi?"
Satria kemudian memegang Tombak dan menekan tombol merah tapi tidak ada reaksi pada Panji.
"Owh tidak Apakah tombolnya rusak?" Tanya Tetua Dinata.
Wakil Patriak dan semua Tetua pun turut ikut memeriksa Tombak dan menyakinkan bahwa Tombak memang rusak.
Tampak wajah marah dan Kesal yang tidak dapat di sembunyikan Patriak.
"Siapa yang membuat Tombak ini patah" Teriak Patriak membuat beberapa murid inti terhuyung dan mengeluarkan darah dari hidung dan mulut mereka.
Beberapa Tetua Kemudian mengeluarkan Tenaga dalam dan membentuk Pelindung untuk murid-murid yang lain akibat teriakan Patriak.
Setelah itu Patriak mengingat Pria pucat terakhir yang memberikan Tombak pada Panji dia mencari sosok itu dan kemudian menunjuk Pria pucat yang gemetaran itu.
"Apa yang kau lakukan pada tombaknya?" Tanya Satria dengan suara yang sangat mengerikan.
"Apa yang kau lakukan" Teriaknya kembali membuat Pria Pucat itu jatuh berlutut ketanah dengan hidung, telinga dan mulut yang berdarah.
"Bukan aku, bukan aku yang melakukannya" Katanya dengan tubuh yang gemetaran dan hampir pingsan.
*******
__ADS_1