
"Panji kau hebat sekali", puji Oni si kepala botak. Mereka berempat pun mengelilingi Panji.
"Bagaimana caranya Batu Cahaya itu pecah" tanya Cayya penasaran dan langsung dijawab Panji, "Aku tidak tau aku hanya meletakkan tangannku di atas Batu dan menyalurkan tenaga dalam"
Panji kemudian melihat tangan kanannya dan memikirkan beberapa hal. 'Sial, apa itu tadi kenapa Batu bisa berubah berwarna hitam, bukankah energi Ilmu Kanuragan biasanya berwarna putih aku tidak pernah mendengar ada yang berwarna hitam'
Sakya yang melihat Panji menatap tangannya dengan lama, kemudian menarik tangan Panji hingga Panji sadar dari lamunannya.
"Apa yang kau lihat dari tanganmu ini" Sakya kemudian menatap tangan Panji kemudian menatap wajah Panji berulang-ulang, tanpa dia sadari telinga nya bersemu merah.
Sakya lalu melemparkan tangan Panji, selain itu mereka bertatapan terlalu dekat sehingga orang disekitarnya melihat Panji dan Sakya dengan tatapan aneh.
"Ya kau memang hebat, tapi masih ada babak kedua dan ketiga, aku tidak akan kalah," Sakya menutup mulutnya dengan kipas yang selalu di bawanya kemudian berjalan menjauh.
"Sudahlah Panji dia memang malu-malu sebenarnya dia ingin berteman denganmu" Galih disebelah kirinya langsung merangkul Panji.
"Iya itu benar lihat telinganya bersemu merah, mungkin dia belum pernah berteman dengan orang seperti mu, atau dia tidak tau cara berteman dengan orang hebat sepertimu" Oni sibotak sebelah kanan langsung merangkul Panji.
"Sebaiknya kita pergi menyusul Sakya, dia bilang akan melihat lapangan panahan " Cayya kemudian berjalan mendahului mereka bertiga.
"Baiklah ayo kita pergi", kata Galih dan Oni serempak. Mereka pun menyeret Panji bersama mereka.
Peserta yang lain mulai menebak-nebak asal mereka. "Aku yakin orang yang meledakan Batu Cahaya bernama Panji tadi pasti dari keluarga terpandang"
"Tidak hanya Panji, keempat temannya juga seperti bukanorang biasa, lihat saja betapa mewah pakaian si pembawa kipas tadi"
"Iya benar juga ya"
Ribuan orang pun melanjutkan untuk mengetes Ilmu Kanuragannya, sedangkan yang lolos, mereka langsung di arahkan ke lapangan panahan.
Saat tes Ilmu Kanuragan berlangsung tak sedikit peserta yang harus pulang dengan wajah sedih karena Ilmu Kanuragannya tidak cukup untuk menyalakan Batu Cahaya atau bahkan mereka tidak memiliki Ilmu Kanuragan sama sekali yang berarti mereka tidak bisa menjadi pendekar.
Sementara itu diatas Arena
"Tuan anda menmangil saya kemari untuk.... "Tuan Dinata naik sebentar di atas Arena untuk membicarakan energi Abu kehitaman yang telah dibuat Panji.
"Rahasiakan ini, nanti di kediaman akan aku bicarakan" masih dengan ekspresi dingin dan serius di wajahnya.
"Baik, Patriak kalau begitu saya akan melanjutkan seleksi" Tuan Dianata menangkupkan tangannya tanda penghormatan kepada Patriak.
Kemudian dia turun kembali ke Arena.
"Apa itu energi gelap?" tanya Rendra di sampingnya dengan menggunakan telepati. Pembicaraan rahasia yang hanya diketahui oleh Rendra dan Satria.
"Iya energi gelap" Satria tetap berekspresi dengan wajah datar dan tetap menetap lurus ke Arena seolah-olah tengah memperhatikan Para peserta.
"Itu tidak mungkin, semua orang yang memiliki energi gelap sudah dimusnahkan oleh seluruh kerajaan dan dan juga seluruh Perguruan Nusantara"
Satri tidak menjawab tapi kemudian dia berkata pada dirinya sendiri, "Apa mungkin itu Patriak pembantai Iblis bangkit dari kematian?"
"Tenanglah, jangan beritahu siapapun sebelum aku menjelaskan, tunggu kita tiba di kediaman baru aku akan menjelaskannya"
Wakil Patriak dan Sastria pun terdiam,
entah apa yang mereka pikirkan atau spekulasi apa lagi yang ada di otaknya.
__ADS_1
"Aku akan menjadikan si pembawa kipas itu sebagai muridku" kata tetua Safa yang paling tampan di antara mereka.
"Kalu begitu aku akan membawa anak yang paling berwibawa dan dewasa itu menjadi muridku" tetua tertampan no 2 yang dipanggil Dana pun tidak mau kalah.
"Apa boleh buat aku akan si anak yang wajahnya pas-pasan itu untuk menjadi muridku" tetua yang bernama Sanu kemudian menunjuk ke arah Galih.
"Kalau begitu aku akan membawa anak yang bernama Panji itu yang barusan memecahkan Batu Cahaya menjadi muridku"
Semua tetua menoleh ke arah tetua Dalu yang baru aja bicara. "Kenapa kalian melihatku?", tanya Tetua Dalu yang heran.
"Kenapa aku harus bersama orang bodoh ini?"
"Ya dia benar-benar tidak melihat keadaan"
"Haahh, semoga kau tidak dapat hukuman ya"
"Ckckckc sebenarnya kalian bicara apa aku tidak mengerti, tapi aku ikut saja".
Kata tetua Dalu yang paling gendut diantara mereka.
Wakil Patriak bahkan melototi Dalu, tapi Dalu bahkan tidak mengerti. Patriak Satria hanya meliriknya sekilas lalu berbicara, "Tetua Dalu hari ini terlihat tidak lelah begitu tiba di kediaman salinkan Legenda Bunga Pheony Merah 100x bersama Wakil Patriak"
Tetua Dalu kaget bagaikan di sambar petir, dia bertanya kepada tetua disekitarnya apa kesalahan yang dia lakukan.
"Jika belum cukup kau bisa menyalinnya 300x". Lanjut Patriak.
"Ti tidak Patriak 100x sudah cukup, terimakasih atas kebaikannya Patriak" Mendengar hukumannya akan ditambah tetua Dalu langsung berdiri, menangkupkan tangan dan berterima kasih pada Patriak.
Tetua pun berbisik diantara mereka mengatakan betapa bodohnya dia untuk mengambil Panji sebagai murid didepan Patriak, apa dia sudah bosan hidup.
"Yang tersisa hanya bocah gendut itu, tidak apa dia terlihat cukup kuat," ujar Tetua Danu.
Wakil Patriak pun tidak mau ketinggalan dan ikut nimbrung bersama 5 tetua lainnya.
"Hei bukankah kalian memilih murid yang sama dengan kalian". Mereka pun baru sadar dan tertawa terbahak-bahak dan yang kelihatan sedih hanyalah Tetua Dalu.
Dia begitu sedih karena harus menyalin 100x Legenda Bunga Pheony merah. Entah berapa waktu yang ia habiskan untuk menulis.
Arena Panahan
"Baiklah sebelum memulai Tes yang kedua Aku akan memperkenalkan diri, Aku adalah Akarsana, murid inti dari Perguruan Harimau Putih, Aku akan dibantu dengan beberapa murid yang lain untuk mengawasi kalian dalam tes kedua ini"
"Tes kedua terbagi menjadi 3 babak yang pertama memanah, yang kedua Pedang, yang ketiga tombak"
"Dari 10 ribu orang yang menjadi peserta sekarang tersisa 7 ribu orang. Jumlahnya masih terlalu banyak, jadi pada babak kedua ini biasanya 40-50% peserta akan gugur"
"Jadi gunakan kesempatan kalian sebaik-baiknya, tidak lagi berlama-lama di depan kalian. Kalian masing-masing memiliki kesempatan 3x untuk mengenai garis kuning/tengah pada sasaran. Pastikan kaki kalian di belakang garis. Ini berjarak 100 meter. Jika 3x meleset kalian akan langsung di nyatakan gugur sebagai peserta"
"Apa kalian mengerti" Tanya Akarsana
"Kami mengerti" Jawab seluruh peserta yang lolos pada babak kedua ini.
Untuk mempersingkat waktu penyeleksian, 200 Sasaran panahan pun di siapkan.
Mereka yang telah lolos Panahan akan langsung di arahkan ke Tempat pelatihan pedang.
__ADS_1
Sesuai dugaan dari setiap 200 orang yang mencoba dari 70-100 orang yang gagal dan terpaksa harus pulang kerumah dan mengulang lagi tahun depan.
Setelah ribuan orang mencoba, kini 5 bintang yang sedang bersinar di babak sebelumnya pun tampil kedepan bersama 95 peserta lainnya.
'Ahh sial aku sangat gugup karena aku tidak terlalu tangkas dalam panahan' ungkap Oni dalam hati.
Sementara Panji, Galih, Cayya dan Sakya memanah, Oni pun mengikuti mereka menarik busur panah berharap ia akan tepat sasaran.
Tapi sungguh di sayangkan, pada babak kedua ini Galih dan Oni tidak memanah tepat Sasaran pada percobaan pertama.
Sedangkan Panji, Sakya dan Cayya memanah dengan tepat sasaran dan di minta mundur untuk memberi kesempatan peserta yang sebelumnya untuk lebih berkonsentrasi.
"Maaf Kak Akarsana saya ingin bertanya sesuatu" Panji membuka suara dan menarik perhatian di sekitarnya.
"Silahkan bertanya"
"Jika kami memberi arahan kepada Teman kami yang belum lolos apakah itu termasuk pelanggaran?"
"Tidak asalkan tidak menyentuh panah dan busur, jika hanya di ucapkan itu tidak menjadi masalah," jawab Akarsana dengan lantang agar di dengar oleh seluruh Peserta di Arena.
"Baiklah, terima kasih Kak Akarsana" Panji kemudian menangkupkan tangannya dan sedikit membungkuk tanda berterima kasih.
"Hei bocah, Lain kali panggil Dia Senior, seorang junior harus memanggil Kakak Seperguruannya dengan Senior ingat itu" Kata Seorang murid Inti yang juga muncul entah dari mana.
"Baik Senior," Ucap Panji tanpa nada marah/kesal sekalipun.
Panji kemudian menghampiri Galih dan Oni yang sebentar lagi akan memanah, Panji kemudian memberikan mereka arahan.
"Galih, tegakkan tulang belakangmu, miringkan sedikit tanganmu, kemudian pegang dengan baik panahmu, arahkan ketitik tengah berwarna kuning itu"
"Oni Tarik busurmu lebih kencang, ya seperti itu benar, fokus ke titik tengah, tanganmu jangan bergetar, tarik nafas buang kemudian lepaskan panahnya"
Oni dan Galih kemudian mengikuti Arahan dari Panji. Galih mengenai tepat di tengah titik kuning dan dia begitu gembira tapi senyumnya hilang saat melihat Oni masih di garis merah hampir menyebrangi garis kuning.
Cayya dan Sakya memandang satu sama lain dan berdecak kagum. Mereka berfikir dari mana Panji ini datang, mereka tidak percaya jika dia Hanya anak desa, setidaknya dia mungkin Anak Keluarga Bangsawan.
"Oni satu kali lagi kau pasti bisa yakin kau bisa jangan menyerah kau tidak boleh gagal di sini, " Ucap Galih menyemangati Oni.
Wajah oni melemas dia hampir tidak percaya diri, tapi kemudian pundaknya di tepuk oleh Panji.
"Kau harus semangat Oni, Kau tidak boleh berhenti di sini, ingat kita tinggal beberapa langkah lagi menjadi murid Perguruan Harimau putih. Fokus lah dan Yakinlah kalau kau bisa, aku akan mengarahkanmu lagi"
Semangat Oni pun terkumpul kembali, dia mulai menarik busurnya perlahan, mencondongkan tubuhnya sesuai arahan dari Panji. Panah pun lepas dan….
Tepat sasaran!!!!
Oni bersorak dan memeluk Panji serta Galih " Terimakasih kalian telah membantuku," Rasa Haru membuncah di hati Oni memiliki sahabat yang sangat setia, terutama panji yang baru saja di kenalnya.
"Oke oke hentikan rasa bahagiamu Oni sekarang kita akan pergi ke tempat pelatihan pedang siapkan mentalmu lebih kuat, " Kata Sakya sambil menunjuknya menggunakan kipas.
Mereka pun berjalan keluar dari kerumunan menuju tempat pelatihan pedang tapi sebelum itu Panji, Galih dan terutama Onu mengucapkan terima kasih kepada Senior Akarsana karena telah memperbolehkan Panji memberi arahan kepada mereka.
Panji kemudian melihat kembali Pria tampan berjubah putih keemasan nauh di atas Arena yang juga tengah memperhatikannya.
Entah kenapa dia merasa sakit di hatinya, seperti kesedihan yang benar-benar tak tertahankan, kini matanya merah memendung air mata, rasa sakitnya sama seperti dia di tinggalkan oleh Nenek Sekar ke alam Lain.
__ADS_1
*******