
Pedang berat itu keluar untuk kedua kalinya, tapi masih membuat Penonton yang melihatnya dengan Takjub. Pedang yang begitu berat , Gagangnya yang penuh ukiran, dan besarnya bilah pedang tersebut.
"Untuk kedua kalinya aku melihat pedang ini, dan itu masih membuatku takjub," ujar Damar sambil menggosok-gosok dagunya.
"Kenapa begitu?," tanya Galih.
"Bukankah itu hanya pedang biasa?," sahut Sakya. Dia melirik Damar yang tersenyum padanya. Membuat Sakya memalingkan wajahnya dan berkata, "sial."
"Ini bukan pedang biasa, lihatlah aura abu kehitaman yang keluar dari pedang itu, sebagai Pendekar Pedang aku bisa merasakan Aura Kuno dari Pedang itu," Jelas Damar.
"Ya kau benar, aku juga bisa merasakan Aura kuno yang keluar dari Pedang itu," timpal Galih yang juga merupakan Pendekar Pedang.
"Apa nama Pedang itu?, tanya panji. Roben pun menjawab, "Ini adalah Pedang Kuno Membelah bumi." Kebanggaan jelas terpampang di wajah Roben saat menyebut Pedang yang bagi dia tak ada tandingannya.
"Hah, Namanya cukup Panjang aku tidak bisa menghapalnya karena ingatanku sedikit buruk."
"Jangan banyak bicara keluarkan senjatamu sekarang juga." Teriak Roben tidak sabar.
"Baiklah, baiklah tunggu sebentar," Panji kemudian mengeluarkan Sebuah Pedang. Sekilas itu tampak seperti pedang biasa, sarung pedangnya bermotif uliran kayu serta beberapa garis hitam melingkarinya. Gagang kayunya sangat biasa bermotif yang sama. Pedang itu lepas dari sarungnya dan memperlihatkan bilahnya yang panjang dan tipis.
"Pedang itu tampak terlihat biasa saja."
"Iya bukankah itu pedang biasa, tidakkah dia akan langsung patag begitu bersinggungan dengan pedang berat itu?."
"Jangan banyak bicara dan saksikan saja pertarungannya."
Beberapa Peserta mulai berbisik-bisik tentang pedang Panji. Pedang itu begitu terlihat biasa dan tampak lemah, tidak ada yang spesial atau sesuatu yang luar biasa seperti pedang berat milik Roben.
"Apa nama pedangmu itu," tanya Roben. Dia menyipitkan matanya, walau pun pedang itu terlihat biasa tapi dia tidak mau meremehkannya.
"Tanpa nama."
"Apa? Kenapa pedangmu tidak di beri nama?."
"Pedangku Tanpa nama," Panji meninggikan suaranya.
"Pedangmu terlihat biasa dan juga tanpa nama, apa apaan kau, kau serius tidak bertarung denganku?," Ujar pria di depannya dengan marah dan terlihat cukup kesal.
Panji menepuk kepalanya, dia lalu menunjukkan tulisan di gagang pedangnya. Tertulis dengan jelas "Tanpa Nama"
Sakya yang mendengar nama pedang panji pun menahan tawanya. Begitu pula beberapa murid, peserta, bahkan Tetua di belakang pun melakukan hal yang sama.
'Apa-apaan nama itu, bukankah banyak nama yang bagus, seperti Harimau membelah hutan, atau Naga membelah langit, atau Api Bumi, apapun nama bagus yang lain, kenapa dia memberi nama pedang itu dengan "Tanpa Nama" membuat orang-orang menjadi bingung.
Hanya 1 orang yang tidak menahan tawa tapi malah mengingat masa lalu.
"Apa nama pedangmu?," tanya Pria yang dingin itu dengan pedang Perak di tangan kanan yang mengacung ke pemuda di depannya.
"Tak tau," ujar Pria ceria di depannya. Nampak pemuda bertampang dingin di depannya berwajah kesal, matanya menyipit, dan dia berkata lagi, "Jangan permainkan aku, tidak mungkin kau tidak tau nama pedangmu sendiri."
Pria yang ceria memakai pakaian Putih Kehijauan di depannya mendesah panjang, kemudian dia menunjukkan bilah pedangnya yang terukir nama "Tak tau"
__ADS_1
Perlahan pedang peraknya turun dan dia memasukkan pedang perak itu kedalam Sarungnya. "Bagaimana bisa kau menamakan pedang dengan nama yang sembarangan seperti itu?."
Pria ceria itu pun ikut memasukkan Pedang ke gagangnya , "Hah saat itu Ayahku memberiku pedang ini dia menanyakan kepadaku berkali-kali nama apa yang bagus aku menjawabnya tak tahu, aku fikir lebih baik dia yang memberikan nama yang bagus. Tapi saat aku melihat pedang itu malah terukir di bilahnya nama Tak Tahu."
"Cih, Dasar aneh," pria dingin itu kemudian melompat dan pergi dari hadapan Pria ceria tadi. Pria itu tak tinggal diam dia pun mengejar pemilik pedang perak tadi.
Suara pekikan penonton membuyarkan lamunan Satria. "Lihat pedang Panji mengeluarkan Cahaya Putih, hijau, biru, hitam, dan kuning, wah indah sekali."
"Kenapa begitu banyak warna, Ini mengingatkan ku pada salah satu legenda di Perguruan Seribu Bintang, Pendekar Pedang 1000 Warna. Di katakan Dia memiliki Ilmu pedang 1000 warna, saat pedangnya keluar dari Sarung, maka akan membuat lawannya kesulitan melihat karena bilahnya di tutupi Beribu-ribu warna." Wakil Patriak Rendra melihat Patriak dan melihat sedikit ekspresi terkejut dari Patriak.
"Pendekar Pedang 1000 Warna, Benar bukankah setelah kejadian 100 Tahun lalu, Dia tiba-tiba menghilang dari Dunia Beladiri," batin Satria. "Apakah itu ada kaitannya dengan Panji?," lanjutnya sembari menatap Panji.
Pedang Panji kemudian menebas udara di depannya, menghamburkan Cahaya berwarna-warni itu ke arah Roben.
Roben mengayunkan pedangnya kedepan hingga menyentuh Lantai dan cahaya berwarna-warni itu hancur lebur. Lantai besi Arena Tarung Bebas nampak retak kembali.
Tidak berdiam diri Roben kemudian berlari ke arah Panji melompat tinggi dan mengayunkan pedang beratnya ke kepala Panji. Panji tidak tinggal diam dia mundur kebelakang, hingga salah satu lututnya menyentuh Lantai dia terseret kebelakang beberapa meter.
'Kuat Sekali Pedang itu, Bahkan Auranya saja menekanku' Ada desakan dari tenggorokannya ingin keluar tapi Panji menelannya. Panji memegang Dadanya.
Tidak jauh berbeda dari Panji, Roben pun terengah-engah dan pegangannya pada Pedang Berat mulai goyah. Namanya Pedang Berat, tentu itu memiliki bobot yang tidak ringan, selain itu Roben pun harus menahan Tekanan dari Aura Pedang itu.
"Bukankah sangat sulit mengendalikan pedang itu," ucap Panji setelah dia berdiri.
"Tapi itu cukup untuk mengalahkanmu," ujar Roben yang terengah-engah membawa Pedang Berat di tangannya.
Mereka bertarung kembali. Panji dengan hanya pedangnya yang tipis cukup hebat menandingi Pedang Berat milik Roben.
Roben dari belakang tiba-tiba muncul dan menyerang Panji dengan pedangnya, beruntung panji merasakan bahaya dari belakangnya. Dia berusaha menghindar ke samping tapi Aura Pedang mengetuknya kembali ke belakang, dia terlempar cukup jauh. Pakaiannya pun berantakan.
Panji kemudian Bangkit dengan pedangnya yang tegak menancap ke bawah. "Sial aku sebenarnya bisa menahan ini lebih lama tapi pedang berat itu auranya begitu berat, bisa saja aku menunggu Roben lelah terlebih dahulu, tapi sampai kapan aku tidak tau berapa banyak lagi luka yang akan di buat oleh Pedang ini aku hanya bisa mengacaukan Aura dan tenaga dalam dari Roben" Batin Panji.
"Jika begini terus energi tenaga dalamku akan habis dan aku akan kalah, aku akan mengeluarkan kekuatan Penuh," Batin Roben.
Pedang Berat mulai mengeluarkan cahaya abu kehitaman lebih banyak. Energi Tenaga Dalam berwarna merah Tua mengalir deras ke Pedang Berat.
Pedang berat itu bersiul tanda kesenangan mendapat Energi yang besar. Pegangan Roben pada Pedang Berat pun bergetar di karenakan Bobot Pedang Berat semakin bertambah seiring masuknya Tenaga dalam.
Panji pun melakukan hal yang sama dia mengarahkan banyak Tenaga dalam ke Pedangnya sehingga pedang tersebut semakin memiliki banyak warna. Auranya semakin menebal dan bercahaya berbanding terbalik dengan Aura Pedang Berat yang semakin gelap dan suram.
"Ahhhhhhhhhhhhh" Teriak Roben menyerang Panji. Panji pun maju dan berlari ke arah Roben. Pedang Mereka berbenturan, Pedang Tanpa Nama Panji bertahan terhadap serangan dari Pedang Berat milik Roben.
Roben menekan pedangnya lebih kuat berusaha mematahkan Pedang Tanpa Nama. Panji merasakan tekanan yang lebih besar, Angin menerbangkan rambutnya, Rona kemerahan dan urat-urat menyembul di dahi dan wajahnya menyiratkan betapa besar tekanan yang dia terima.
Melodi siulan tertiup dari bibir Panji, beberapa lama Roben merasakan Aliran Tenaga Dalam di tubuhnya tidak terkendali, Pedang Berat yang menyerang Panji pun bergetar.
Roben merasa tidak hanya tenaga dalamnya yang tidak terkendali, Pedang Berat pun semakin sulit dia kendalikan. Melihat kesempatan itu Panji yang sebelumnya telah mengumpulkan banyak tenaga Dalam di tangan kirinya langsung menyerang Dada Roben.
"Aaaaakhhhhhhh" Roben terjungkal ke belakang, berguling beberapa kali, Pedang yang ada di tangannya terlepas dari Genggamannya. Sinar Cahaya Pedang pun meredup begitu pun Sinar Tenaga Dalam Merah Tua di tubuh Roben telah sepenuhnya hilang.
Perlahan Roben mulai bangkit meski terjatuh berkali-kali. "Kau sudah Kalah," ujar Panji sambil mengacungkan Pedang miliknya ke leher Roben.
Roben memiliki penampilan berantakan, beberapa luka ringan di tubuhnya tidak seberat luka dalam yang dia rasakan. "Kau mengacaukan Energi Tenaga dalamku," Kata Pria itu.
Panji hanya tersenyum. Akarsana kemudian Naik ke atas Panggung Arena Tarung Bebas. Sementara Panji menyarungi kembali Pedang "Tanpa nama" nya.
Semua Penonton memberi tepuk tangan dan bersorai untuk mereka berdua. Penonton sangat puas dengan Pertarungan Mereka.
__ADS_1
Roben pun mengambil pedang beratnya dan memasukkan kembali pedang itu ke kantong hartanya.
"Pertarungan yang sangat hebat dari Panji dan Roben sangat menghibur kita semua, sesuai perjanjian. Siapapun yang menang akan mendapatkan hadiah Taruhan," Akarsana pun memberikan Hadiah Taruhan mereka berupa Seruling dan Pil pemelihara tubuh.
Panji kemudian menerimanya. Roben berkata, "suatu saat aku tidak akan kalah lagi darimu, aku akan menantikan pertandingan kita yang selanjutnya," ujar Roben setelah itu dia menyeret tubuhnya turun dari Arena Tarung Bebas.
"Sesuai Perjanjian, Patriak akan memberikan hadiah kepada pemenang berupa Bunga Peony merah berusia 50 Tahun," Wakil Patriak Pun memberikan Hadiah yang di pegangnya pada Panji.
Panji tersenyum dan menatap Patriak Satria, Dia mengucapkan Terima kasih dalam hatinya pada Patriak.
*******
Senjata
Patriak Satria \= Pedang (namanya blm di ketahui)
Panji \= Pedang Tanpa Nama & Pedang Tak Tahu
Sakya \= Kipas
Cayya \= Selendang Keemasan
Damar \= Pedang
Galih \= Cambuk Besi
Oni \= Rantai Bola Berduri
__ADS_1