Ksatria Panji

Ksatria Panji
PERTARUNGAN 5 PENDEKAR


__ADS_3

     "No urut 485 Turun ke Arena Tarung Bebas" Teriak Tetua Dinata untuk ke 2 kali nya memanggil para pemilik nomor.


    "Hei itu mereka" Teriak Peserta yang ada di dekat arena menunjuk 5 teman panji yang baru turun dari Arena. 


     Beberapa murid inti bahkan berbisik di antara mereka "Lihat lah Panji dan teman-temannya itu begitu di hormati Patriak dan Para Tetua"


     "Tidak heran Patriak turun langsung kemari, mungkinkah patriak sudah tau kedatangan mereka?"


     "Tentu saja Patriak Tau, lihatlah Pria yang duduk di sebelah Kanan Patriak bukankah dia panji, Dia beruntung sekali Patriak memperhatikan dia"


     "Siapa yang tidak akan memperhatikan bakat yang mengejutkan seperti dia, bisa melewati Ujian Tombak dengan sempurna dan menyelesaikan semua pertarungan di dalam?"


     "Bahkan Kak Sailendra tidak bisa menyelesaikan Ujian Tombak bukan? Tanya murid inti lain di sebelahnya. 


    "Hei apa yang kalian gosip kan, tidak bisakah kalian diam?" ujar salah satu murid inti lainnya.


    "Ahh, Kak bagas kami tidak bergosip apa-apa" ucapnya kemudian dia berbisik pada temannya untuk cepat pergi. "Hei cepat cepat kita pergi dari sini" mereka pun berlalu dari Pria yang bernama Bagas itu. 


     "Cih, Panji dan teman-temannya itu benar-benar merusak pemandangan. Lihat saja nanti di Perguruan Aku akan melaporkan ini pada Kak Sailendra agar dia mendapat pelajaran" Ujar bagas dia kemudian mengibaskan lengan bajunya yang panjang dan berlalu. 


     "Masing-masing keluarkan senjata kalian" mereka yang ada di Arena Tarung Bebas pun mengeluarkan senjata masing-masing. 


     Cayya mengeluarkan senjata berupa Selendang berwarna kuning. Terlihat lembut dan lemah, Dammar mengeluarkan Pedang Peraknya. Galih mengeluarkan Cambuk besi bersinar kekuningan. Oni mengeluarkan Rantai berduri dengan 2 bola berduri. 


     "Hei gendut, Senjata apa yang kau keluarkan ini" Teriak Sakya yang meloncat ketakutan melihat senjata Oni yang mengerikan, sepintas 2 bola bulat itu persis bulat seperti kepala Oni. 


     "Hei istri mana senjatamu ini saja membuatmu takut" Ejek Oni kembali. "Siapa yang takut?" Teriak Sakya kembali. 


     "Hei pria yang memakai kipas cepat perlihatkan senjatamu" ujar lawan mereka di seberang. 


     "Apa kalian semua buta, aku sudah mengeluarkan senjataku" Dia pun memperlihatkan Kipas yang selama ini di pegangnya. Kini Kipas itu bercahaya Kekuningan. 


     Sedangkan lawan mereka pun memakai senjata yang beragam, Ada 2 orang yang memakai Pedang, sebuah Cambuk, sebuah Tombak, dan yang lainnya double stik. 


     "Wah aku tidak menyangka jika kipas itu adalah sebuah senjata" ujar Panji dari atas Arena dengan Antusias. 

__ADS_1


     Satria pun bertanya padanya, "Lalu apa senjatamu?"


Dan panji menjawab sambil melihat ke arah Satria, "Saya memakai 2 senjata Patriak Pedang dan Seruling"


     "Seruling bisa di jadikan senjata, bagaimana itu bereaksi?" Tanya Satria kembali. "Seruling ini bisa menganggu pendengaran lawan, mengacaukan energi tenaga dalam mereka sehingga mereka kesulitan menggunakan Ilmu Kanuragan, sehingga senjata mereka hanya menjadi Senjata biasa" Jelas Panji bersemangat. 


     "Ah jadi begitu" ujar Satria sambil memperhatikan ekspresi Panji, ada sedikit senyum yang tersungging di bibirnya sedikit sekali. 


     "Hei hei lihat Patriak,  aku baru kali ini mendengar dia bicara sebanyak itu" Bisik Tetua Dalu pada Tetua di sekitarnya. Mereka tidak sadar jika Wakil Patriak membesarkan telinganya alias menguping pembicaraan mereka. 


     Mereka kemudian di kejutkan oleh Suara dari Tetua Dinata di Arena Tarung Bebas. "Pertandingan di mulai"


     10 pendekar pun saling bertarung satu sama lain. Sakya menghadapi seorang pendekar pedang yang juga memiliki tampilan lumayan tampan dengan hidung yang mancung dan mata yang tajam.


     Pria di depannya tidak banyak bicara dia langsung menusuk perut Sakya, sakya dengan sigap menghindar di samping, sementara itu pemuda tadi berputar kesamping dan akan menusuk paha Sakya. Sakya tak tinggal diam, dia kemudian mengibaskan Kipasnya ke arah pemuda itu.


     Sinar dan hembusan yang keluar dari Kipas Sakya sangat kuat hingga Pria tadi terlempar cukup jauh dan memuntahkan seteguk darah.


"Kau tidak akan bisa mengalahkan senjataku, ini mungkin terlihat lembut tapi ketika bertarung dia akan sangat kasar" Sakya tersenyum manis sembari mengelus lembut kipasnya.


     "Iya kau benar lihat senyum manisnya, tidak apa apa dia laki-laki aku tetap bisa menjadikan dia istri asal….. " Tiba tiba kepalanya di geplak oleh teman di sebelahnya.


     " Sadarlah, sadarlah aku tidak mau punya teman yang suka sesama jenis cepat kembali seperti semula" Temannya yang menggeplak kepalanya tadi kini menarik-narik kerah lehernya berusaha menyadarkan temannya bahwa yang ada di atas Arena adalah Seorang Pria, meski memiliki penampilan yang memukau.


     Sementara Damar melawan Pendekar Pedang. Dia sangat bersemangat Akhirnya bisa mengeluarkan pedangnya dan bertarung, saat ini adalah yang dia tunggu tunggu. "Mari bertarung" ujar lawan di depannya. Damar pun mengangguk tanda persetujuan. 


     "Klang, Klang, Klang" Bunyi Pedang Saling bertubrukan menambah semangat Peserta dan semua yang melihat pertarungan. Mereka berusaha menyerang dan menghindar, di antara mereka belum ada satu pun yang di rugikan.


     Hingga Damar Menusuk Lengan Kiri Atas pemuda itu, saat pemuda itu akan menghindar ke kanan secepatnya Damar menusuk lengan kanan Pemuda tersebut, sehingga pemuda tersebut memiliki luka di tangan kiri dan kanan atas, membuat pegangannya pada senjata tidak stabil. 


     Tidak menyia-nyiakan kesempatan Damar menusuk Paha kanan Atas Pria tersebut hingga dia pun terjatuh. Damar tersenyum puas. Pria tadi berusaha bangkit tapi tetap terjatuh, dia melihat wajah Damar yang tersenyum dengan Amarah di wajahnya.


     Cayya pun tidak mau Kalah,  dengan Selendang Kuning keemasan yang di milikinya dia menghadapi Pendekar pemegang tombak di depannya.


     Dengan suara mengejek Si pendekar Tombak bertanya, "heh, senjata apa selendang yang kau pakai itu, terlihat begitu lembut seperti yang di pakai seorang wanita, hahaahahha"

__ADS_1


      


    "Maafkan aku, tapi lihatlah aku tidak akan mengecewakanmu" Selendang yang awalnya lembut dan rapuh itu tiba-tiba mengeras dan menjadi sebuah Tombak.


     "Wah hebat Ternyata Selendang itu bisa berubah wujud menjadi Tombak"


Ujar seorang Peserta. Tetua yang memilih Cayya sebagai muridnya pun tersenyum bangga. 


     "Kita tidak akan tau jika belum mencoba, apa itu akan menjadi Sekuat Tombakku" Ujar Pendekar tombak itu dengan Sombong. 


     Mereka pun bertarung dengan gesit. Beberapa kali Cayya melompat menghindari lawannya. Lawannya pun berputar kebelakang dan menyerang kembali, Cayya kemudian mengibaskan tombaknya hingga keluar cahya keemasan. Pendekar tombak di depannya pun tidak mau kalah dia mengeluarkan tenaga dalam dari Tombaknya dan berusaha mempertahankan pijakannya.


     Dia meletakkan Tombak di depan dadanya menahan Cahaya keemasan dengan tombaknya yang bersinar kemerahan, tapi itu tidak berlangsung lama. Sinar kemerahan mulai terdorong dan banyak retakan, tidak mampu menahannya lagi, sinar keemasan pun menyerangnya.


     Dia tersungkur jatuh Puluhan meter dengan penampilan yang berantakan dan mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya. 


     "Apa yang sedang kau lihat" Teriak Galih yang sedang bertarung dengan lawannya. Sebagai Sesama Pendekar Cambuk mereka hingga kini masih seimbang. Hingga pendekar itu lengah saat melihat temannya satu persatu roboh. Galih pun langsung melingkarkan cambuknya. 


     Pemuda di depannya berusaha melepaskan diri dari Cambuk tapi tidak bisa, semakin dia berusaha melepaskan diri semakin erat. 


    "Menyerahlah, jika tidak cambukku akan terus mengikatmu hinggau kau kehabisan nafas", ujarnya


    Pria itu menggertakkan giginya dengan amarah yang meluap-lupa. Dia melihat sekelilingnya Teman-temannya sudah roboh dan berdarah-darah di sekujur tubuhnya. Dengan berat hati dia pun menyatakan untuk menyerah. "Baiklah aku menyerah".


     "Hei aku bilang aku menyerah" Teriaknya kepada Oni. Oni awalnya tidak mendengar dan terus menyerang Pendekar yang menggunakan Double Stick, Tentu bukan lawan yang sepadan dengan Oni yang memakai Rantai berat dan 2 bola berduri. 


     Lawan Oni pun langsung terlempar jauh dan lebih parahnya lagi ada banyak lubang di tubuhnya akibat Bola berduri itu. 


     "Ahh, maafkan aku, aku tidak mendengar perkataanmu barusan" Kata Oni sambil nyengir dan menghentikan pertarungannya. Begitu pula ke 4 yang lainnya mereka berhenti.


     Tetua Dinata pun mengumumkan pemenangnya. "Hei siapa nama kelompok kalian" Tanya Tetua Dinata pada Cayya. 


     "Ahh sebentar Tetua, kami berembuk dulu" Cayya, Sakya, Oni Damar, dan Galih pun berkumpul dan Berunding nama yang tepat untuk kelompok mereka.


     Sesaat kemudian mereka membisikkan nama kelompoknya pada Tetua Dinata. "Selamat untuk Regu Kstaria Panji atas kemenangan kalian, kalian berhak masuk ke babak selanjutnya"

__ADS_1


*******


__ADS_2