Ksatria Panji

Ksatria Panji
BERJUANG MELAWAN MAUT BAGIAN II


__ADS_3

"Sial, Cakaran hewan tadi terasa cukup sakit" Panji memegang dadanya yang tersayat oleh Cakar Harimau Belang Bertaring tajam yang telah di musnahkannya.


"Apa lagi sekarang?" Panji mengenggam erat Tombaknya. Perlahan dari balik kabut asap yang menebal muncul Mayat Hidup, Sebagian dengan mata yang melotot dan terlepas. Ada pula Pria yang badannya di penuhi darah, nanah, serta belatung.


Ada pula Pria yang mulutnya hancur dan keluar banyak kecoak dari mulutnya. Beberapa ada yang Tidak memiliki kulit. Sungguh pemandangan yang mengerikan. Cukup membuat seseorang bergidik ngeri.


Apalagi bau bangkai dari tubuh mereka tercium oleh Panji. Mungkin seperti inilah neraka, pikir Panji. Tapi dia tak mau membuang waktu dan kesempatan. Dia pun langsung menyerang Mayat Hidup ini.


Setiap dia memusnahkan 1 maka semakin banyak yang muncul. Panji tak membiarkan dirinya di sentuh sedikit pun oleh Mayat mayat hidup itu. Dia menusuk mereka, melibas mereka sekaligus tapi semakin banyak yang muncul.


Jika dia terus-terusan menggunakan terlalu banyak Tenaga dalam, dia akan kehabisan Energi dan tidak bisa menggunakan Ilmu Kanuragan nya lagi di tempat ini.


"Setelah Membasmi mayat hidup ini aku akan keluar, lagi pula 10 jam sudah terlewati berarti di luar sudah 10 menit" Pikir Panji.


Dia pun kembali mengerahkan Tenaga Dalam sedikit lebih banyak dan langsung membasmi Mayat Hidup yang tersisa.


Panji kemudian menyeka keringat di dahinya dan langsung menekan tombol merah yang ada di bawah Tombak. Berulang Kali dia menekan tapi tidak ada reaksi, dia membalik-balik Tombak barangkali dia menekan tombol yang salah.


Wajah Panji berubah Panik Apalagi dia mendengar Auman yang begitu mengerikan. "Ahh ini akan merepotkan, Ayolah tombol bekerja, aku tidak mungkin mempertaruhkan hidup dan matiku di sini" kata Panji dengan tergesa-gesa. Keringat terus mengalir dari dahi dan seluruh tubuhnya.


ROAAAAAAAR ROAAAAAR


Auaman suara binatang buas semakin mendekat. Langkah kakinya berat memggetarkan Lantai yang dibpijak Satria, Satria kemudian melihat Kaki Bintang buas itu yang di tutupi Bulu berwarna hitam, Perutnya yang menggembung dan juga di tutupi bulu.


Dan semakin ke atas melihat wajahnya seperti beruang ganas hanya lebih menyeramkan. Makhluk itu pun memiliki sepasang tanduk dan gigi yang tajam.


Air liurnya menetes sangat banyak di lantai. Dia memamerkan giginya dan mengaum lagi. Binatang itu maju dan mulai menyerang Panji.


Panji yang sedikit panik mulai mengatur nafasnya dan fokus pada lawan, serta menggenggam tombaknya.


Mereka pun bertarung, Saat Panji menusukkan Tombak ke perut Beruang yang memiliki 2x lipat ukuran tubub manusia normal itu, Beruang itu menghindar dengan cermat Lalu menunjukkan Cakarnya ke tubuh Panji. Segera Panji mudur ke belakang menghindari serangannya.


Panji kemudian mengecohnya seakan akan dia mau memukul Kaki Beruang itu, padahal dia akan menusuk Salah Satu Mata Beruang.


Terbukti Strateginya berhasil, tapi membuat Beruang itu menyerangnya secara membabi buta. Dia mengerang tanda merasakan sakit pada matanya sebelah kiri.


Panji memegang tombak dan akan menusuk perutnya tapi tombak itu kemudian di pegang Oleh Beruang dan di lemparkan Jauh, saat itulah kesempatan Beruang membalas dendam. Saat itulah Cakaran beserta dorongan kuat mendarat di dada Panji menyebabkan dia terlempar jauh dan berguling.


Dia menahan sakit yang amat sangat di dadanya, Panji tidak memperhatikan darah yang keluar dari hidung dan mulutnya.  Dia Perlahan Bangkit dan meraih Tombak yang tadi di lemparkan Beruang. Beruntungnya dia mendarat di dekat tombak. Jika tidak apa yang akan dia gunakan untuk melawan Beruang Ganas itu.


Di Aula Tombak ini Sukmanya tidak bisa memanggil pedang atau yang lainnya. Dia hanya bisa menggunakan Tombak yang ada di tangannya sekarang.


Kali ini pertarungan cukup sengit, beberapa kali masing masing dari Beruang atau Panji akan terlempar. Tapi tak menyurutkan semangat mereka untuk membunuh satu sama lain.


Panji menusuk mata Beruang yang masih terbuka, kembali Teriakan Beruang terdengar malah lebih kencang dari sebelumnya.

__ADS_1


Buta kedua matanya menyebabkan serangan dari Beruang jadi Kacau.


Itu mempermudah Panji melumpuhkannya dan membunuhnya.


Beruang pun menghilang. Panji mencoba menekan kembali Tombol merah di Tombak tapi Tetap tidak berfungsi.


"Bagaimana ini bisa terjadi dan bagaimana aku bisa keluar dari sini?"


Keluh Panji. Dia terduduk di lantai dia menyeka darah di hidung dan bibirnya yang baru dia sadari.


"Lawan aku" panji kemudian melihat sosok Pria berbaju hitam merah sama seperti dirinya. Tidak. Itu sama persis. Itu adalah dia.


"Kau… siapa kau" Tanya Panji yang kaget dia pun segera berdiri dan memegang tombak dengan erat, matanya terbuka lebar, beberapa kali dia mengerjapkan mata meyakinkan dirinya bahwa dia salah lihat.


Tapi di depannya memang sama persis, wajahnya, postur tubuhnya bahkan pakaiannya.


"Aku adalah Kau". Mereka saling menyerang. Setiap serangan dan tangkisan sama persis membuat Panji takjub sehingga dia lengah dan terhempas kembali. Kali ini dia batuk mengeluarkan cukup banyak darah.


Dadanya terasa tak sanggup lagi untuk bernafas.


Pertarung sebelumnya dengan Beruang Ganas membuat Tenaga dalamnya terkuras habis. Sehingga sulit bagi Panji menyeimbangkan Gerakan Si Panji Palsu di depannya.


Panji berulang kali terkena serangan, konsentrasinya mulai hilang, kepalanya mulai terasa berputar dan dia jatuh pingsan. Samar samar dia melihat Panji Palsu akan menyerangnya dengan Tombak. "Aku Mohon tubuhku bergerak lah"


Punggung Panji Bergetar lalu keluar asap hitam dari sana membentuk pedang dan menembus Perut Panji Palsu. "Kikikikikikikiki" Suara tertawa menyeramkan berasal dari Asap tadi, kemudian dia masuk kembali ketubuh Panji.


 Panji Perlahan bangun dan duduk, dia berusaha menggapai-gapai punggungnya. Tapi tidak merasakan apa-apa lagi.


"Aku Kesulitan mengalahkannya dan kau muncul di saat terakhir seolah menjadi Pahlawan, betapa liciknya Asap kecil ini"


"Kau telah masuk ke pertarungan terakhir" Suara menggema terdengar di sekitar Panji, Asap putih berkumpul dan membentuk Sosok Manusia.


Panji memapah tubuhnya untuk berdiri menggunakan tombak. Dia memegangi perutnya yang sakit karena terbentur sewaktu bertarung tadi. Penampilannya benar-benar berantakan. Luka-luka memenuhi hampir seluruh tubuhnya.


"Sial bagaimana aku bisa bertarung lagi" lirih panji. Dia berulang kali memuntahkan darah dan terbatuk.


Punggung Panji kemudian bergetar. Asap hitam itu bergerak ke sekujur nadi di tubuhnya kemudian berenti di inti yang ada di tengah dadanya.


"Tunggu dulu sejak kapan ada inti di dadaku, dan kenapa ini berwarna hitam?" Tanya panji pada dirinya sendiri.


Inti adalah tempat atau wadah dari Energi Tenaga dalam yang kemudian di salurkan ke tubuh dan ke senjata. Inti umumnya terletak di bagian pusar. Tidak pernah Inti terletak di bagian selain pusar. Itulah yang membuat Panji bingung.


Asap Hitam memenuhi Seluruh tubuh Panji berputar-putar di sekitar tubuhnya. Menyembuhkan luka-luka di sekujur tubuhnya. Panji pun merasa energinya seperti terisi ulang.


Manik mata hitam Panji pun meluas. Kini seluruh matanya berwarna hitam. Seperti Mata Iblis. Warna kulitnya menjadi lebih pucat. Rambut hitam panjangnya bergerak mengikuti alunan tiupan angin.

__ADS_1


"Aku siap" ujar panji dengan semangat untuk bertarung. Tombak yang di peganginya pun tidak lagi bercahaya. Asap hitam pun menari di sekeliling tombak membuat tombak terlihat gelap dan suram.


Dia pun bertarung dengan gumpalan asap putih yang membentuk Sosok manusia memegang tombak. Pertarungan cukup sengit. Terlihat asap putih dan hitam saling beradu. Kilatan sinar hitam dan putih keluar dari tombak mereka.


Asap putih tidak memberikan Panji bahkan istirahat sejenak, dia terus menyerang titik vital di tubuh Panji.


Entah mendapat inspirasi dari mana dia membentuk gumpalan asap hitam menjadi Senjata. Panji membentuk asap hitam menjadi pedang yang cukup besar. Pedang itu melayang-layang dan kemudian dengan perintah panji pedang itu melesat ke jantung Asap putih.


Asap putih kemudian hancur, Kabut di sekitar Panji pun menghilang. "Selamat Kau adalah orang pertama yang menyelesaikan Pertarungan di Aula Tombak, Terima hadiah ini"


Sebuah Meja kecil muncul dan di atasnya muncul sebuah Kotak hitam yang terlilit Akar berwarna perak. Akar perak itu menyusut perlahan.


"Aku tidak pernah mendengar Aula Tombak memberikan hadiah, tapi ya sudahlah kita lihat apa hadiahnya" Panji membuka kotak, dan melihat Batu putih bersinar. Dia mengambil batu tersebut dengan tangannya yang masih berlumuran darahnya sendiri.


Batu tadi menyerap darah panji kemudian menghilang masuk ke dalam tubuhnya. "A apa"


"Kemana batu ini akan pergi" Kemudian panji memeriksa tubuhnya untuk melihat pergerakan batu putih. Batu putih bergerak mengikuti Aliran darah kemudian berhenti di inti pada pusar panji dan menyatu kedalamnya.


"Setelah menyelesaikan Pertarungan kau secara otomatis akan meninggalkan Alam Aula Tombak, persiapkan dirimu"


Sukma Panji pun menghilang dan kembali ke Aula Tombak. Perlahan dia membuka matanya.


Awalnya semua buram, tapi kemudian dia melihat sosok wajah yang di kenalinya. Pria rupawan dengan Jubah putih emas, Rambut hitam panjang yang di hiasi mahkota perak.


"Pa… Patriak" lirih panji. Dia baru tersadar dengan posisi badannya yang berada di pelukan Satria. Dia melihat sekelilingnya, Aula Tombak yang tertutup Kubah Perak. Panji tidak bisa melihat keluar begitu pula sebaliknya.


"Apa yang terjadi Patriak" Tanya panji sambil membenarkan posisi duduknya. Patriak Satria mendesah, seolah melepaskan beban berat di dadanya.


"Kau benar-benar membuatku khawatir, ku pikir aku tidak akan melihatmu lagi" Satria nampak lega.


Dia pun menceritakan hal yang telah terjadi Panji telah berada di Aula Tombak selama 20 menit, kemudian dia mengalami pendarahan di hidung mulut, mata, bahkan telinganya.


Satria dan tetua lain mencoba berbagai cara untuk membuat Sukma Panji kembali tapi tidak bisa kecuali Panji menyelesaikan Seluruh pertarungan di Alam Aula Tombak. Tapi itu tidak mungkin, karena tidak seorang pun yang mampu bahkan Patriak sendiri tidak pernah mampu melewati Seluruh Pertarungan.


Setelah melewati 30 menit, Asap hitam mulai keluar dari lubang-lubang di tubuh Panji, Satria takut jika ada yang tahu bahwa panji memiliki Energi Gelap. Dia meminta semua orang menjauh dari Aula Tombak, dan meminta beberapa Tetua Membangun Kubah Perak agar orang-orang tidak bisa melihat tubuh Panji.


"Terima kasih Patriak"


"Tidak perlu sungkan" ucap Patriak.


"Karena kegigihanmu dan prestasimu menyelesaikan pertarungan di Aula Tombak, Kau akan langsung di terima sebagai murid dan tidak perlu mengikuti Babak Tarung"


"Benarkah, Terima kasih sekali lagi Patriak atas kesempatan yang Patriak berikan, Panji sebagai murid pasti akan memberi kontribusi yang lebih untuk Perguruan Harimau Putih" ucap Satria dengan tegas. Dia juga menangkupkan tangannya tanda penghormatan, serta akan menunduk tapi kemudian di cegah oleh Satria.


Panji pun menatap Satria, tanda tanya terlukis di wajahnya. "Tidak perlu, ayo kita keluar, teman-temanmu sudah menunggu" Satria kemudian membantu Panji untuk berdiri dan mereka pun melangkah Keluar dari Kubah Perak.

__ADS_1


*******


__ADS_2