
"Berapa lama dia baru akan sadar Tetua?," tanya Galih dengan ekpresi wajah yang menunjukkan kecemasan.
"Jika di suntikan tenaga dalam terus menerus, mungkin dia akan sadar seminggu ke depan," ujar Tetua Dinata. Dia menggelengkan kepalanya, sembari mendesah pasrah.
"Apa tidak ada cara lain,?" tanya Panji yang berjalan mendekati mereka.
"Cara paling cepat membuat dia sadar adalah memberikan Pil pemelihara tubuh," ucap Wakil Patriak yang mendekati mereka juga.
Mereka berfikir lama. Tetua Danu berkata dalam hati, "aku tidak mungkin bisa memberikan Pil pemelihara tubuh lagi pula aku hanya membawanya 1 biji, Pil Pemelihara Tubuh juga termasuk Pil yang mahal, kami pun belum tentu menjadi Guru dan Murid, mana mungkin aku memberikan sumber daya ke sembarang orang."
Beberapa Tetua pun berfikiran sama. "Jika kau ingin mendapatkan Pil pemelihara tubuh, kau harus segera bertarung dengan Roben," suara memasuki pikiran panji. "Ini suara Patriak," ungkap Panji dalam pikirannya.
"Jika kau menang, kau akan mendapatkan Pil pemelihara tubuh dan bisa kau berikan pada temanmu, apa kau bersedia?."
"Aku bersedia Patriak," ucap Panji dalam pikirannya menjawab pertanyaan Patriak.
Sementara itu pertandingan di Arena Bertarung bebas tetap berlanjut. Panji pun bertanya pada Tetua Dinata, "Tetua bukankah pertandingan ini dari 750 orang hanya 375 orang yang akan menjadi murid dalam, lalu sisa 125 orangnya bagaimana, bukankah penerimaan murid kali ini ada 500 orang," pertanyaan panji pun membuat teman-temannya berfikir yang sama.
"Untuk 375 orang yang kalah mereka akan bertarung lagi untuk memperebutkan posisi 125 orang teratas," jawab Tetua Dinata.
"Bukankah itu berarti Oni memiliki kesempatan menjadi murid dalam?" tanya Panji lagi.
"Iya jika dia sadar, masalahnya dia sekarang pingsan dan tidak bisa bangun kecuali makan Pil obat pemelihara tubuh," ujar Wakil Patriak di sisi kanan Panji.
Panji memikirkan sesuatu, "Tetua Dinata bisa kah kau membantuku mengatur ini…….," Panji pun menyampaikan permintaannya dan kemudian di sanggupi oleh Tetua Dinata.
Pertandingan terus berlanjut kelompok Kstaria Panji seperti Sakya, Damar, dan Cayya pun menang telak dari lawan mereka. Lawan mereka tidak kuat seperti Roben tentu saja akan mudah mengalahkan mereka.
Tapi tidak dengan Galih, lawan yang di dapatnya cukup tangguh, meski butuh waktu yang cukup lama untuk mengalahkan lawannya, Dia tetap menang walau memiliki beberapa luka robek di tubuhnya.
Oni yang terbaring di sebuah ranjang dan tengah di suntikan dengan tenaga dalam oleh beberapa Tetua masih belum menunjukkan tanda dia akan sadar.
Sepertinya hanya Pil pemelihara tubuh yang bisa membuat Dia cepat Sadar dan melanjutkan pertarungan.
"Oni ini sangat keras kepala, bukankah sudah di bilang untuk menyerah, apa dia tidak melihat kondisi dirinya sendiri?," omel Sakya. Dia mengipasi wajah Oni beberapa kali dengan kipas yang di pegangnya.
Galih yang baru saja tiba dengan beberapa luka di tubuhnya mengatakan, "Dia memang keras kepala, dia tipe orang yang berjuang sampai akhir."
"Aku cukup Kagum dengan Karakter Oni yang pantang menyerah, tidak seperti….," Damar berkata sembari melirik Sakya di dekatnya membuat Sakya memelototi dia.
"ehm, tidak seperti orang yang selalu menangis jika di berikan sedikit tekanan," ungkap Damar sambil Cekikikan melihat Sakya.
Sakya pun bangkit seolah akan menyerang Damar, tapi ternyata tidak. Dia hanya melewati Damar dan pergi menjauh sedikit.
'Ahh sial aku pikir mereka akan bertengkar lagi syukurlah Sakya masih punya otak untuk tidak bertengkar di depan orang yang tidak sadarkan diri,' batin Cayya.
"Selamat untuk 375 orang yang telah terpilih menjadi murid dalam Perguruan Harimau Putih. Untuk kalian 375 orang yang lain kalian akan bertarung kembali untuk mendapatkan Posisi 125 teratas agar di terima sebagai murid dalam Perguruan Harimau Putih, " jelas Akarsana.
"Tapi sebelum itu, kita akan melihat pertandingan antara Panji dan Roben. Panji dan Roben silahkan naik ke Panggung Arena Tarung Bebas," Kata Akarsana.
__ADS_1
Beberapa Peserta berbicara di antara temannya. "Hei bukankah jika 375+125 \= 500 orang. Berarti Panji tidak termasuk 500 orang atau memang dia mendapat jalur khusus,?" tanya peserta itu pada teman di sebelahnya
"Ahh, kau tidak tau ya, jadi menurut murid inti dan beberapa Tetua. Panji akan menjadi murid Langsung Patriak, jadi dia tidak akan di hitung ke 500 murid dalam, aku dengar dia akan di ajar langsung oleh Patriak."
"Wah, bukankah itu hebat."
"Yah, sangat hebat."
"Hei, kita bahkan tidak pernah melihat panji menggunakan senjatanya, aku sangat penasaran apa yang akan di gunakan? Pedang, Cambuk, Tombak? ."
"Yah benar kita bahkan tidak pernah melihat dia bertarung sebenarnya."
Panji pun perlahan menuruni Atas Arena melalui tangga yang ada disisi Atas Arena. Perlahan dia melangkah dengan pasti, ketika di depan Arena Tarung Bebas, dia kemudian meloncat dan mendarat mulus di tepi Arena.
"Karena kalian masing-masing bertaruh, keluarkan taruhan kalian," Ujar Akarsana yang berdiri tepat di antara Panji dan Roben.
Panji pun mengeluarkan Seruling bambu dan memberikannya pada Akarsana begitu pula Roben meletakkan Kotak berisi Pil pemulihan tubuh. Akarsana memeriksa kedua barang tersebut, setelah yakin keaslian masing-masing barang. Akarsana pun menyingkir dari Arena dan pertarungan antara Panji dan Roben pun mulai berlangsung.
"Aku tidak pernah meremehkan lawan, apalagi lawan sepertimu, aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku," tunjuk Roben pada Panji.
Dengan menyunggingkan senyum manisnya sementara kedua tangan di letakkan di belakang tubuhnya Panji pun mengatakan, "Aku juga, kalau begitu mari bertarung."
Roben mengalirkan energi Tenaga Dalam keluar dari tubuhnya. Cahaya merah tua terlihat memenuhi tubuhnya begitu pula Panji Cahaya Putih Kehitaman sedikit aura hijau memenuhi tubuhnya.
"Energi tenaga dalam Panji unik sekali ya, lihatlah ketiga warna itu berputar-putar di tubuhnya," ungkap penonton yang duduk di kursi Arena. Dia adalah salah satu Peserta yang tidak lolos.
Teman di sebelahnya menjawab, "iya sangat unik, biasanya aku hanya melihat aura energi dalam seseorang itu 1 atau 2 warna paling banyak, tapi Dia memiliki 3."
"Ini sangat menarik, tidak sia-sia perjalanan jauhku menuju tanah java ini," timpal seorang di antara mereka
Sementara itu di Arena Tarung Bebas mereka sudah mulai bergerak.
Roben menyerang Panji dengan tinjunya, Panji mengelak kekiri, Roben menyerang dengan tinju kanannya, Panji mengelak lagi.
Roben kemudian menendang kaki bagian bawah Panji membuat Panji melompat lebih tinggi untuk mengindarinya, mengambil kesempatan melompat itu, Panji kemudian menyerang wajah Roben dengan Kakinya, namun Roben mundur secepat kilat untuk menghindar.
"Ehm kau lumayan hebat, " ujar Roben
"Kau juga," jawab panji.
Mereka terus bertarung, Cahaya Energi Tenaga dalam mereka pun mengikuti setiap gerakan yang mereka lakukan. Tampak seperti Tarian yang indah. Beberapa murid inti dan Tetua pun cukup puas mendapat tontonan yang spektakuler dari mereka.
Panji dan Roben terus beradu hingga sulit melihat siapa di antara mereka yang akan menang. Roben masih terus menyerang dan Panji pun tidak mau kalah dia menghindar dan menyerang lagi.
Gerakan mereka pun semakin cepat. Ketika Panji di serang dari belakang Oleh Roben. Dia melompat ke atas dan mendarat di belakang Roben. Dia memberikan Roben pukulan yang cukup Keras di Punggung Roben. Roben pun tersungkur, ketika dia membalikkan badan Panji telah ada di depannya melayangkan Pukulan di ulu hatinya.
Roben pun merasakan sakit dan sedikit mengeluarkan darah dari sudut bibirnya, dia kemudian menyeka darah itu dan tersenyum dingin. "Kau benar-benar hebat, aku tidak akan main-main lagi"
__ADS_1
Roben kemudian mengeluarkan Senjata dari Tangan Kanannya, Pedang Berat yang berwarna hitam ke abu-abuan memancarkan cahaya yang sama dengan warna pedangnya.
Saat pedang itu menyentuh lantai, Lantai itu bergetar dan banyak retakan muncul di lantai Arena Tarung Bebas.
*******
Nama Pemeran :
Patriak \= Satria / Kstaria Pendekar pedang
Panji \= Panji semirang / Pendekar pedang
Sakya \= ganteng parah, rmbut hitam panjang suka bawa kipas
Cayya \= ganteng ke 2, bersahaja,
Damar \= Ganteng jugalah, Lebih maskulin
Galih \= tampang biasa
Oni \= botak, gendut, pendek
__ADS_1