
**KAMPUS**
Seminggu semenjak Dita mengetahui alasan kaka perempuannya pergi. Dita berusaha menemui kakanya ingin mengajaknya bicara dengan baik - baik lalu tinggal lagi bersama keluarga di rumah. Namun selama seminggu itu pula usahanya sia - sia. Sekeras apapun Dita berusaha kaka nya itu tetap tidak mau membicarakan hal itu.
Entah apa yang membyat Delia enggan membicarakan kembali masalah dengan keluarganya yang membuatnya belajar mandiri dan jadi seperti sekarang ini. Mungkin Delia takut luka lama berdarah kembali.
" DORRR... "
" Ih apaan sih kalian ngagetin aja" ucap Dita.
" Lagian melamun aja kerjaan lo hari ini, lo kenapa cerita lah sama kita kalo ada masalah siapa tau kita bisa bantu" ucap Dela. Dita hanya menggeleng tak lupa dengan senyuman guna menutupi perasaannya.
" Kita kan sahabatan sudah lama masa lo gak mau sih cerita sama kita, apa lo engga nganggap kita ada ,huh? " Meri menimpali dengan wajah sedih yabg dibuat - buat.
"Gue gak apa - apa kok, kalian tenang aja. Gue masih anggap kalian ada kok, gue juga akan cerita kok kalo gue ada masalah tapi nanti engga sekarang. Tapi beneran kali ini gue memang gak ada masalah yang berarti"jelas Dita.
" Biar gak seberapa itu juga masalah Dita, please kasih tau kita" Meri memelas.
" Udah deh Mer kalo Dita belum mau cerita ya gak usah dipaksa juga kali " saut Dela menghentikan rengekan Meri kepada Dita.
"Iya deh iya gue gak maksa lagi, tapi lo janji kan kalo ada apa - apa nanti cerita" Meri menjulurkan kelingkinnya. Dita pun tersenyum dan megaitkan kelingkingnya dengan Meri tanda ia berjanji pada sahabatnya yang cerewet itu.
Mereka melanjutkan makan hidangan yang sudah dipesan sejak tadi. Sambil cekikikan mereka menyantap bakso yang terlihat sangat menggiurkan.
" Hai kita boleh gabung gak..? " tanya Regi kepada tiga cewek dihadapannya memberikan senyuman termanisnya agar diizinkan.
" Duduk aja sih, biasa nya juga kan kalian gak pernah izin sama kita " celetuk Dita.
" iya juga sih" jawab Regi seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.
Geng Dimas bergabung dengan gengnya Dita. Ya mereka memang sering bersama bahkan setiap hari. Meskipun mereka berbeda jurusan namun selalu ada waktu untuk mereka kumpul.
Semakin sering intensitas pertemuan Dita dan Dimas. Maka semakin sering juga mereka berantem bukan malah baikan.
" Apa lo liat - liat..? " ketus Dimas.
" Engga apa - apa" jawab Dita dengan senyum penuh arti.
"Tapi kok senyum - senyum, gue curiga nih" kata Dimas menyelidik.
__ADS_1
" yey, emangnya gue gak boleh senyum ha? terserah gue dong bukan urusan lo mau gue senyum ke engga kek. Lo nya aja kali yang selalu berfikiran buruk tentang gue " ucap Dita tak kalah ketus.
" emang bener kan lo biasanya usil " jawab Dimas
Sebenarnya apa yang dikatakan Dimas itu memang benar. Dita memang merencanakan kejutan tak terduga untuk Dimas.
"Satu......, dua......., tiga.... " Dita berhitung dalam hati.
"aaaaaaaaaa TIKUSSSS TIKUSSS" pekik dimas yang sudah naik ke atas meja membuat beberapa orang dikantin berhamburan karna geli melihat lima ekor tikus yang berjalan di lantai. Tidak seditit jugayang menertawakan Dimas.
Hmmm Dimas menggeram tangannya sudah mengepal dan raut mukanya sudah memerah menahan amarah mungkin juga karna malu. Pasalnya rahasia ketakutannya akan tikus tak pernah ada yang tau selama ini kecuali ketiga sahabatnya yang ikut menertawakan juga.
"Ganteng - ganteng takut tikus ".
" Percuma bro keren tapi sama tikus gak berani".
" Ternyata salah satu most wantet kampus kita yang terkenal pintar, keren dan disegani malah ciut sama tikus"
Kira - kira seperti itu komentar yang ditujukan kepada Dimas dari beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang ada dikantin saat ini.
Sedang Dita sejak tadi tidak berhenti menertawakan Dimas. Rasanya Dita bahagia banget dan menang sudah berhasil mempermalukan Dimas. Dimas yang tau itu pasti perbuatan Dita marah bukan kepalang.
" Berani banget si Dita ngerjain elo Dim " gumam Tirta.
" Iya bener, biasanya cewek bertekuk lutut sama lo Dim.Tpi kok Dita enggak ya gue bingung Deh" saut Surya.
"Mungkin pamor lo udah turun Dim " seru Regi.
Namun orang yang diajak bicara tidak menggubris sama sekali malah tersenyum licik. " Liat aja pembalasan gue entar " kata Dimas dalam hati
" Gue juga bingung sejak insiden keserempet mobil Dimas dipuncak tempo hari Dita dan lo gak pernah akur. Apa ada masalah lain?"ucap Meri menatap je arah Dimas.
" Tau " ketus Dimas.
" Kenapa sih lo gak coba minta maaf aja gitu sama Dita siapa tau dimaafin biar kita juga tentram saat kumpul kaya gini. Enggak nontonin tom and jery mulu " Dela ikut bersuara.
" Ngapain gue minta maaf sedang gue gak salah " Dimas mendengus lalu pergi meniggalkan lima orang yang menatapnya bingung.
**RUMAH DIMAS**
__ADS_1
" Assalamualaikum " Dimas membuka pintu rumah dan melangkah masuk kedalam.
" Eh anak mama sudah pulang, gimana kuliahnya lancar " Dimas di sambut manis oleh mamanya. Dimas lalu menyalami tercintanya itu.
" Alhamdulillah lancar mah " jawab Dimas dengan senyum manisnya yang mamou meluluhlantakkan kaum hawa. Tapi kok Dita enggak ya???
" Ya sudah kamu makan dulu sana mama sudah masakin makanan kesukaan kamu " ujar mama Risa. Yang hanya diangguki oleh putranya itu.
" Oh iya mama hampir lupa, malam ini akan ada acara makan malam dengan teman lama mama"
"Oh.. "
" Kok oh doang? Kamu gak ada acara kan? bisa ikut kan? " tanya mama Risa
" Iya mama Dimas akan ikut ". Sebenarnya ia malas karna pasti mamanya akan ngenalin anak teman mamanya itu, tapi karna Dimas menghormati mamanya ia pun mau meski agak terpaksa.
Selesai makan siang Dimas beristirahat di kamarnya. Sedang mama Risa berkutat di dapur dibantu kedua asisten rumah tangganya memasak beberapa menu untuk hidangan nanti malam. Tak ketinggalan puding coklat dan cup cake brownis. Enak banget sih kayanya author jadi mau.
Selesai masak langsung mama Risa menata makanan di atas meja. Karna jam sudah menunjukkan pukul enam. Itu berarti satu jam lagi tamunya akan datang. Tidak ingin repot menjelang waktu makan malam mama Risa meminta asistennya menata terlebih dulu masakan yang mereka masak tadi.
Sementara asistennya menata makanan mama Risa memutuskan untuk membersihkan badannya. Sekitar dua puluh menit wanita paruh baya itu keluar dari kamar mandi dan memakai pakaian bersih untuk menyambut tamunya. Namun sebelum itu ia sekeluarga melakukan kewajiban seorang muslim yaitu sholat berjamaah karna azan magrib sudah berkumandang.
Tak lama setelah mereka selesan sholat terdengar klakson mobil di luar. Riki dan Risa beranjak dari duduknya diikuti Dimas berjalan menuju pintu untuk menyambut kedatangan keluarga Amar sekeluarga sahabat mama dan papa Dimas.
Tuan Amar datang beserta Hely istrinya dan anak semata wayang mereka Naomi. Keluarga Dimas mempersilahkan semua tamu masuk. Langsung mengajak keruang makan yang berada di belakang tidak jauh dari dapur tempat memasak.
Sambil makan mereka para orang tua bernostalgia. Sedangkan Dimas terpaksa menemani Naomi.
" Hai, Dimas. Aku Naomi " ucap Naomi seraya mengulurkan tangan.
" Hmmmm " Dimas hanya berdehem tanpa berfikir menjabat tangan gadis cantik yang terlihat menggelikan di mata Dimas.
" Oh iya ka, aku dengar kamu kuliah dikampus milik keluargamu juga ya? Dan nantinya akan menjadi milikmu, beruntung banget kamu" cerocos Naomi namun Dimas tetap fokus dengan ponselnya mengotak atik yang sebenarnya tidak ada pesan.
" Kamu iru sudah punya pacar belum kak?? " tanya Naomi lagi.
" Bukan urusanmu " kali ini Dimas menjawab namun tak berniat melihat lawan bicaranya. Dari cara cewek itu bicara yang sejak tadi membicarakan kekayaan dan status sudah cukup jelas bagi Dimas bahwa ia cewek matre. Dimas tidak suka orang seperti itu.
Maka dari itu Dimas kekampus menggunakan mobil yang standar aja juga menutupi nama belakangnya.Menutupi siapa ia sebenarnya. Karna ia bosan selalu di kerubuti cewek - cewek yang terkesan kurang kasih sayang dan kurang uang.
__ADS_1
Meski sampai saat ini Dimas masih digandrungi cewek - cewek karena paras rupawannya. Setidaknya berkurang karna tidak tau jati dirinya yang sesungguhnya.