
Mendengar penjelasan dari orang tuanya dan orang tua Dimas, Dita merasa lega. Namun ia juga merasa bersalah karena telah salah faham akan Dimas dan merajuk tanpa memberi tau Dimas masalahnya.
Dita menganggap keadaan Dimas saat ini karenanya. Dita terus meminta maaf pada Dimas.
"Maafin aku Dim, harusnya aku tidak bersikap kekanakan. Dan harusnya aku percaya padamu dan tidak termakan omongan Rere."Ucapnya sambil memegang sebelah tangan Dimas yang bebas dari infus.
"Cepat lah bangun, jangan buat aku menunggu dan merasa bersalah. Jika kau ingin menghukumku maka hukumlah aku dengan cara apapun asal jangan terus diam seperti ini."Dita terus bicara dengan menundukkan kepala.
"Benarkah...?"
"Tentu saja, kau boleh lakukan apa saja asal kau membuka matamu."Dita masih menunduk.
Tiba-tiba Dita tersadar akan suara itu lalu ia menegakkan kepalanya. Dan dilihatnya senyum merekah dari seseorang yang sejak tadi ia ajak bicara. Seseorang yang dirindukannya kini telah kembali.
"Dimas,,"
Dita tersenyum dan menyapu air matanya yang menetes karena sedih dan kini tengah berubah menjadi air mata bahagia. Lalu Dita memeluk tubuh Dimas dengan erat hingga Dimas meringis karena luka di tubuhnya belum kering.
"Au.. "
"Maaf kan aku, aku tidak sengaja."
"Iya, hapus air matamu itu. Kau sudah jelek jadi tambah jelek jika menangis seperti itu." Ucap Dimas menggoda Dita dengan terus tersenyum.
"Aku menangis kan karenamu."
"Aku tidak papa, sudah ya jangan menangis lagi.Jika kau masih saja menangis aku bawakan kucing liar kemari."
"Silahkan aku tidak takut..!"
"Masa..? "
"Iya benar aku tidak takut dengan ancamanmu. Tapi aku juga akan bawa tikus kemari. Ku letakan di tubuhmu lalu tikus-tikus itu menggerogoti tubuhmu hingga menyusakan tulang belulang".
"Memang nya kau tega melihatku dikeroyok tikus..? Aku terluka sedikit saja kau menangis tersedu-sedu, bagaimana kalau aku digigitin tikus...?"
"Pasti kau histeris karena takut kehilanganku."Lanjut Dimas.
"Hei kalian ini asyik mengobrol saja, aku tau kalian itu saling melepas rindu tapi jangan abaikan kami disini." Ucap Dika. Membuat dua sejoli itu tertunduk malu.
"Maafin ka... hehehe." Ucap Dita sambil nyengir.
"Udah deh gak usah godain mereka berdua, bilang aja lo iri kan Dik..? Udahlah gue tau kok."Ucap Zul Diikuti tawa semua orang.
"Ah elo Zul kaya lo punya aja." Mereka semua kembali tertawa.
"Ok entar gue bawa kehadapan kalian semua seklian dikenalin ke mama sama papa calon mantu mereka."Ucap Zul bangga.
"Memangnya benar bang, abang sudah punya calon....?"Tanya sang mama.
"Iya mah beneran ada kok dan insyaallah dia nanti kan jadi istri abang." Ucap Zul meyakinkan.
"Alhamdulillah kalau begitu." Ucap sang mama.
"Lalu kapan kamu akan ngenalin calonmu ke mama papa dan adik kamu..?"
__ADS_1
"Nunggu Dimas pulang aja mah, biar semua ngumpul."Orang tuanya pun mengiyakan.
Orang tua Dita dan orang tua Dimas berpelukan.Orang tua Dita mengucapkan selamat kepada orang tua Dimas.
"Mama juga pengen punya mantu pah." Ucap Dewi kepada suaminya.
"Nih dah ada calon mantu tante." Saut Dimas.
"Iya sih tapi kan kalian lama lagi baru menikah."
"Gak perlu nunggu lama sekarang pun Dimas siap tante."Ucap Dimas yang mendapat pelototan dari Dita.
"Ya gak bisa gitu dong, masa Dita langkahin kaka nya sih."
"Ya gak apa-apa toh ngelangkahin kakanya toh Dika juga cowok."
"Bukan Dika.Tapi Lia. Kamu lupa kalo aku punya anak cewek satu lagi..?" Tanya mama Dita pada mama Dimas.
"Oh iya aku baru ingat.Tapi ngomong-ngomong kok gak pernah keliatan lagi. Sekarang juga gak nengok Dita."
"Lia terlalu sibuk bekerja makanya dia tidak bisa jenguk kemari tapi dia tau kok adiknya masuk rumah sakit kemarin diberi tau lewat telpon.Dan Lia juga sudah lama tidak tinggal dirumah, Lia memilih tinggal di apartmen karena sebuah kesalah pahaman Lia dengan ayahnya."Cerita Dewi saat mereka hanya tinggal berdua di ruangan itu sedang suami mereka memilih mengobrol diluar. Zul pamit lebih dulu karna ingin bertemu kekasihnya. Kalau Dika mengurus kepulangan Dita.
"Terus bagaimana hubungan kalian saat ini..? " Tanya mama Dimas.
"Alhamdulillah sekarang keadaan sudah membaik. Kami sudah menemuinya di apartmennya dan beberapa minggu lalu Lia pulang kerumah tetapi hanya untuk berkunjung Lia tetap memilih tinggal di apartmentnya."
"Syukurlah kalau begitu. Kalau nanti Lia pulang sampaikan salamku padanya."
"Ooo itu pasti."
Hari ini Dimas diperbolehkan pulang oleh dokter karena kondisinya sudah baik-baik aja.
Dimas pulang ditemani Dita dan kedua orang tua Dita sedang orang tua Dimas sendiri dirumah mempersiapkan penyambutan untuk Dimas.
Selama perjalanan pulang Dimas enggan melepaskan tangan Dita dari genggamannya seolah takut kehilangan.
Tak butuh waktu lama mobil orang tua Dita sudah memasuki halaman rumah keluarga Dimas.
Mereka semua turun dari mobil dan menuju pintu utama.Dimas membuka pintu lalu masuk diiringi Dita juga orang tua Dita. Dilihatnya papa mamanya berjalan menuju kearah ia dan Dita.Orang tua Dimas tersenyum bahagia menyambut kepulangan anaknya yang telah seminggu ini berada di rumah sakit.
Mereka semua meminta Dimas beristirahat di kamarnya namun Dimas menolak karena Dimas merasa bosan jika harus berbaring di kamar. Dimas memilih tetap berkumpul di ruang tengah bersama keluarganya juga Dita.
"Oh iya ada berita bagus."
"Apa mah..?" Tanya Dimas penasaran.
"Katanya abangmu itu mau memperkenalkan calonnya hari ini."
"Beneran mah..?"
"Iya, tapi kok sampai sekarang belum datang juga ya...?"
"Mungkin terjebak macet mah." Saut papa Dimas.
"Ah mama jangan mudah percaya omongan abang paling dia bohongi mama."
__ADS_1
"Ya gak mungkin lah gue bohongin mama." Ucap Zul yng bari tiba di ruang tengah.
"Abang."
"Iya mah abang tepati janji abang.Mama tenang aja abang sudah bawa calon mantu mama."
"Kalo bawa mana, kok sendirian?" Tanya Dimas.
"Itu dia masih di depan tadi ngambil hp nya ketinggalan di mobil." Ucap Zul membuat semua mengangguk paham.
"Nah itu dia."
"Terlihat seorang perempuan tengah berjalan kearah mereka namun wajahnya tidak terlihat dengan jelas karena gadis itu menunduk."
"Tidak usah sungkan, keluargaku welcome kok." Kata Zul kepada gadis itu. Kini gadisitu tengah berdiri disamping Zul.
"Kok kaya kenal." Ucap Dita.
"Ah masa...?"Tanya Zul.
Dita pun mendekat kearah perempuan itu. Perempuan itu pun menegakkan kepalanya setelah mendengar suara Dita.
"Kaka/Dita" ucap kedua gadis itu bersamaan.
Zul beserta keluarganya menatap. bingung dan penuh tanya.
"Delia" ucap papa Dita tak kalah kaget
"Delia" ucap mama Dita juga yag baru saja datang dari kamar mandi.
Suasana jadi hening sejenak karena keterkejutan mereka.
Akhirnya mereka semua duduk kembali. Dan mama Dita menjelaskan kepada keluarga Dimas dan Zul bahwa Delia itu kakanya Dita.
Perbincangan mereka sampai pada tahap menentukan tanggal pernikahan Zul dan Delia bulan Depan. Dang tiga bulan kemudian Dimas dan Dita menyusul. Sedang acara pertunangan diadakan secara bersama dua minggu lagi.
TAMAT
.
.
.
.
Terimakasih atas partisipasi kalian telah membaca isi fikiranku yang tidak seberapa ini. Mohon maaf jika alurnya tidak nyambung maklum baru belajar. Tapi aku kan terus belajar menjadi lebih baik lagi.
Insyaallah tahun 2020 aku akan meluncurkan novel terbaru dengan cerita yang berbeda. Semoga nanti lebih baik dari ini.
Jadi jangan buang dulu dari daftar favorit ya.
Sekali lagi terimakasih.
SELAMAT TAHUN BARU 2020
__ADS_1