Kucing Dan Tikus

Kucing Dan Tikus
Operasi


__ADS_3

Dita mengerjapkan matanya perlahan melihat sekelilingnya. Dita tampak asing dengan tempat itu. Nuansa putih dan abu-abu serta bau obat semerbak menyesakkan hidung Dita.Terlihat juga infus di tangan kirinya. Dita pun akhirnya menyadari kini dirinya berada di rumah sakit. Namun apa sebab yang membuatnya terbaring lemah diranjang rumah sakit belum Dita ingat.


"Auuuwww," Dita merasa pusing dikepalanya saat ia ingin bangkit.


"Ade sudah sadar...? Alhamduillah." Ucap Dika.


"Kaka kenapa Dita disini...?Apa yang sebenarnya terjadi..?" Tanya Dita ingin tau.Dan ingin kembali merubah posisinya menjadi duduk namun dihentikan oleh Dika.


"Gak usah banyak gerak dulu de kamu harus banyak istirahat.Kamu lupa apa yang terjadi dinihari tadi?" Tanya Dika.


Dita memejamkan matanya mencoba mengigat yang terjadi beberapa jam lalu.Kemudian Dita teringat bahwa ia terpeleset di kamar mandi.


"Dita tadi terpeleset dikamar mandi saat hendak mandi." ucap Dita.


"Kamu sih gak ati-ati makanya jatohkan akhirnya."


"Kok kaka nyalahin aku sih, lagian siapa juga yang mau jatoh terus berakhir di rumah sakit seperti ini." Dita merasa kesal dengan kakanya.


"Kaka gak nyalahin, cuman ngingetin."Namun Dita yang masih kesal pada kakanya enggan merespon ucapan kakanya dan memilih tidur kembali.


Dika menghembuskan nafas kasar karena adiknya itu masih seperti anak kecil suka ngambek.


Sebenarnya Dita bukan orang yang suka ngambekan hanya saja ia masih terbawa perasaan kecewany terhadap Dimas sang kekasih.


1 Jam berlalu.


Dita terbangun kembali dari tidurnya namun tak menemukan kakanya apalagi mama papanya. Dita memilih menunggu berfikir kakanya lagi nyari makan.


Ditempat lain Dika dan kedua orang tuanya juga orang tua Dimas berdiri di ruang UGD menunggu dokter keluar dan berharap membawa kabar baik.Tak lama dokter keluar dengan wajah datar nya namun terlihat bergegas.


"Anggota keluarga Dimas Hadi Kusuma."Dokter memanggil pihak keluarga karena ada hal penting yang harus segera dibicarakan.


"Kami orang tuanya dok." Papa Dimas berdiri mendekati dokter diikuti sang istri dan yang lainnya.


"Bagaimana keadaan anak kami dok..?" Tanya papanya Dimas lagi.


"Begini pak... " Jawab dokter yang terlihat mengatur nafasnya.


"Bagaimana dok..?" Tanya pak Damar papanya Dita yang ikut khawatir sekaligus penasaran karena ucapan dokter itu menggantung.


"Saudara Dimas mengalami benturan yang sangat keras hingga mengakibatkan pembekuan di otaknya dan retak bagian kaki karena terjepit. Jadi saudara Dimas harus segera dioperasi dikepala dan memakaikan gips di kakinya." Jelas Dokter.


Mendengar penjelasan dokter semua syok semua orang dan ibunya Dimas terus menangis dipelukan mama Dewi.

__ADS_1


"Lakukan apapun yang terbaik untuk anak saya dok soal biaya dokter tidak usah khawatir kami akan bayar semuanya."


"Baik pak kalau begitu mari ikut saya untuk menandatangani surat persetujuannya dulu."Ajak seorang perawat yang baru saja tiba.


Semua orang nampak bersedih dan cemas melihat keadaan Dimas. Namun mereka juga tak henti-hentinya berdoa meminta kesembuhan bagi Dimas kepada-Nya.


Setelah menyelesaikn formalitasnya ayah Dimas kembali. Dan dokter segera memindahkan Dimas ke ruang operasi. Semua mengikuti langkah kaki dokter dan beberpa perawat yang mendorong berangkar Dimas.


"Selamatkan anak kami dok." Ucap papa Dimas berharap pada dokter.


"Bapak dan ibu tenang saja saya akan melakukan tugas saya sebaik mungkin.Jangan berhenti berdoa pak." Ucap dokter itu sebelum ia masuk kedalam ruang operasi dan menutup pintunya.


Ruang Operasi menyala merah menandakan dokter sedang melakukan tindakan.


"Kenapa dengan Dimas..? Mengapa ia harus masuk ruang operasi..? Terlalu parah kah keadaannya..?" Gumam Zul dalam hati. Terlihat Zul sangat mengkhawtirkan keadaan adiknya. Meskipun mereka sering bertengkar tetapi Zul sangat menyayangi Dimas.


Zul yang baru saja tiba mendekat ke mamanya.


"Ma," ucap Zul lembut.


"Dimas, Zul." Ucap sang ibu yang masih terisak dipelukan putra sulungnya tersebut.


"Tenanglah ma, kita doakan yang terbaik untuk Dimas." Ucap Zul menenangkan ibunya.


Semua nampak masih harap-harap cemas di depan ruang operasi. Dua jam sudah berlalu namun lampu ruang operasi itu masih juga merah.


Getar HP Dika ada yang menelpon tetapi nomernya tidak terdaftar di kontaknya.Namun Dika tetap menjawab telponnya takutnya penting.


"Halo,maaf ini siapa ya?" Tanya Dika.


"Kaka dimana? sejak Dita bangun kaka gak ada. Apa kaka lagi makan? tapi kok lama banget sudah hampir lebih dari dua jam Dita sendirian.Mama sama papa juga kemana..?"Cerocos Dita.


"Astaga kaka lupa kalau adik kaka lagi sendirian.Maaf ya kaka keasyikan ngobrol sama teman kaka dikantin.Mama sama papa sebentar lagi juga akan tiba." Jawab Dika berbohong.


"Ya sudah cepetan. Dita bosan disini."


"Iya, ini kaka jalan kesana." Dika menutup sambungan telponnya.


Sebelum menemui Dita, Dika terlebih dulu pamit kepada orang tuanya, orang tua Dimas dan juga Zul.


"Jangan bilang apa-apa dulu ya soal Dimas pada Dita." Pinta mama.


"Iya mah Dika gak akan bilang." Kata Dika

__ADS_1


"Ya sudah gih sana temui adikmu, bilang juga sama Dita mama sama papa lagi ada urusan dan secepatnya akan temui Dita." Kata mama.


"Iya mah, kalo begitu semuanya aku permisi dulu."Pamit Dika.


Tak lupa Dika mampir dikantin sebentar untuk meyakinkan Dita bahwa ia memang dari kantin.


"Nih kaka bawain cemilan dan air mineral buat kamu." Seraya menyerahkan kantong kresek berisi roti dan air mineral.


"Kok roti...?" Ucap Dita setelah membuka kresek yang diberikan Dika.


"Emang roti, siapa yang bilang martabak."Kata Dika.


"Lah katanya cemilan, masa roti...? Aku tu maunya yang gurih gak kaya makanan rumah sakit yang hambar ini." Perotes Dita seraya menunjuk bekas makanan yang telah ia habiskan.


"Udah deh lagi sakit juga malah minta ini itu. Namanya juga rumah sakit ya pasti makanannya seperti itu. Toh kamu habisin juga kan." Kata Dika.


"Terpaksa, karena ditungguin suster." Gerutu Dita tak terima.


Dika terkekeh mendengar penuturan adiknya itu.


"Kalau kenyang simpan aja dulu rotinya..!" Seru Dika.


"Iya" Jawab Dita.


"Mama papa masih lama..?" Tanya Dita.


"Engga kok paling bentar lagi juga kemari."


"Tapi perasaan Dita gak enak ya kak, kaya ada sesuatu gitu." Ucap Dita menatap kakanya yang tengah duduk di sofa sudut ruangan itu.


"Apaan sih de, udah deh jangan mikir yang engga-engga.Mama sama papa baik-baik aja kok barusan telponan sama kaka diluar tadi" Dika berbohong lagi.


"Bukan kah hari ini Dimas pulang. Apa dia sudah sampai...? Tapi kok gak jenguk aku..? Apa kaka tau kabar Dimas..?" Tanya Dita beruntun.


Mendengar pertanyaan adiknya itu sontak membuat Dika yang tengah meneguk minuman kopi kemasan botol itu kaget hingga tesedak.


"Uhukk."


"Kau kenapa?" Tanya Dita.


"Emmm gak papa kok emang tenggorokan kaka lagi gatal aja mungkin mau batuk."Ucap Dika berkilah.


"Ooh." Kata Dita

__ADS_1


"Engga papa kok muka kak Dika kelihatan kaget dan tegang gitu pas aku tanya soal Dimas.Apa terjadi sesuatu pada Dimas..?" Gumam Dita dalam hati.


"Maafkan kaka de kaka harus menutupi keadaan Dimas karena kaka gak mau kamu panik." Gumam Dika dalam hati.


__ADS_2