Kucing Dan Tikus

Kucing Dan Tikus
Alasan Delia Pergi


__ADS_3

** RUMAH DITA**


Pagi ini seperti biasa Dita, ka Dika, mama dan papa sarapan dimeja makan. Mereka berbincang - bincang hangat sesekali tawa terdengar dan terpancar rona bahagia diwajah mereka. Menggambarkan keluarga harmonis dan bahagia.


Namun beberapa saat kemudian Dita terlihat melamun. Terbesit dikepala Dita beberapa lertanyaan yang membuatnya penasaran.Dita bingung kok kelihatannya keluarganya bahagia aja meskipun anak mereka tidak utuh, dua disini dan yang satu lagi di apartement.Mengapa bisa kok kaka perempuannya tinggal di apartement sendirian??. Apa papa dan mama tidak merindukan kakanya itu??. Dan masih banyak lagi pertanyaan tentang kaka perempuannya itu ada di benak Dita. Tiba j tiba lamunannya buyar tatkala Dika yang duduk disampingnya menyenggol lengan kirinya.


" Kamu kenapa dek, kok melamun..? " tanya Dika lembut.


" Mmm engga apa - apa kok kak " jawab Dita menyunggingkan senyum.


" Bener nih gak ada apa - apa..? Jangan - jangan lagi mikirin cowok ? " goda Dika.


" Ih apaan sih kak, gak ada cowok dalam hidup Dita selain papa dan kaka " jawab Dita.


" Bukannya waktu SMA ada ya dek..? " papa Damar ikut menggoda anak bungsunya itu dengan senyum tersungging di bibirnya.


" Ah itu, gak usah dibahas lagi pa cuman cinta monyet "jawab Dita yang diangguki sang papa.


"Tapi pa, apa Dita boleh tanya sesuatu? Tapi papa harus jawab jujur dan janji gak akan marah" dengan ekspresi takut terlihat di wajahnya.


" Kok tanyanya gitu, emang apa sih yang kamu mau tau? " papa Damar balik bertanya.


"Janji dulu tapi " ucap Dita dengan ekspresi memelas.


" Iya - iya papa janji gak bakal marah dan jawab jujur " janji papa Damar pada putrinya.


" Kenapa ka Delia tidak tinggal dirumah ini....? Kenapa harus ke apartement...? Apa yang membuat ka Delia selalu menolak setiap aku ajak pulang? Padahal dulu aku rasa baik - baik aja, tapi kenapa sekarang seperti ini? Apa kalian tidak merindukannya? " Dita bertanya menatap sang papa,rentetan pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Dita. Entah ia punya keberanian darimana hingga mampu mengeluarkan uneg - uneg yang bersarang difikirannya selama ini.


Papa Damar dan mama Dewi saling tatap. Benar saja dugaan mereka pertanyaan itu pasti akan keluar dari mulut Dita.Papa Damar menarik napas panjang dan menghembuskannya berat.


" Papa tau kamu pasti akan mempertanyakan perihal kakak perempuanmu itu " Papa Damar membuka suara setelah cukup lama diam.


" Bukan kami tidak merindukan kakak mu, malah kami sangat rindu dan juga sayang kepadanya. Tapi sesuatu telah terjadi pada kakakmu Delia". ucap papa Damar.


"Kamu tidak tau, karna waktu itu kamu lagi sibuk menghadapi ujian saat SMP, papa dan mama tidak ingin menceritakan padamu. Lagi pula menurut mama papa kamu tidak perlu tau juga, karna kamu masih kecil tidak mengerti masalah orang dewasa" mama Dewi ikut menjelaskan.


" Tapi sekarang Dita sudah dewasa kok. Dita berhak tau karna kak Delia itu saudara Dita, Dita ingin bantu kak Delia sebisa Dita " ucap Dita dengan emosi yang mulai naik. Tidak ingin anak bungsunya itu semakin menerka - nerka tentang anak sulungnya pria paruh baya itu pun menjelaskan secara rinci.

__ADS_1


##flashback


Delia yang hari ini menerima hasil kelulusan dari SMA Tunggal Ika merasa sangat gembira. Delia ingin segera pulang kerumah guna memberi tau Dika dan Dita karna dirinya berhasil lulus. Delia pulang bersama kedua orang tuanya. Sesampainya dirumah Delia tidak menemukan Dika dan Dita karna dua kaka beradik itu belum pulang dari sekolah.


" Dita turun " tiba - tiba sebuah suara memanggilnya dengan sedikit keras,terdengar suara itu berasal dari ruang keluarga.


" Iya pa " tunggu sebentar jwab Dita yang juga seperti berteriak. Dita beranjak menggalkan kasur berjalan menuju pintu membukanya lau keluar kamar tak lupa ia menutup pintu kembali.Delia menuruni anak tangga dengan santai. Tak lama Delia pun sampai ke ruang tengah. Delia disambut senyum hangat kedua orang tuanya.


" Sini nak duduk samping papa, papa mau bicara " seru papa Damar menepuk sofa di sampingnya. Delia pun menghampiri sang papa.


" Iya pa ada apa" tanya Delia yang sufdah berada di samping papanya.


" Kamu kan anak pertama keluarga Wijaya, berarti kamu yang akan membantu papa dikantor nantinya" ucap papa Damar.


" Iya Delia tau, terus?? " tanya Delia mengerutkan kening.


" Jadi kamu harus kuliah jurusan bisnis ke luar negri" perintah papa Damar.


" Apa..? luar negri...? " pekik Delia kaget.


" Delia gak mau pa, ga mau pisah sama papa ,mama, dan adik - adik juga sahabat Delia. Delia mau kuliah di Indonesia aja" jawabnya.


" Memangnya Dosen di Indonesia tidak ahli pa? " tanya Delia.


" Bukan tidak ahli, cuman masih kurang. Pokoknya papa tidak mau tau kamu harus keluar negri" papa Damar menekankan.


" Delia gak mau, Delia pengen di Indonesia aja " bantah Delia dan beranjak dari kursi meninggalkan kedua orang tuanya.


"Papa tau kenapa kamu tidak mau kuliah di luar negri. Itu karena laki - laki berengek itu kan, yang kamu bilang pacar kamu " ucap pak Damar marah. Dita yang baru berjalan beberapa langkah langsung berhenti laku berbalik menghadap papanya.


" Cukup pa, Delia sudah bosan dengar papa yang selalu saja menganggap Soni laki - laki kurang ajar, kasar, inilah itulah " Delia sudah tak tahan dengan perkataan ayahnya matanya mulai terasa panas dadanya terasa sesak. Namun masih bisa menahan air matanya.


"Memang benar apa yang papa katakan, papa juga tau asal usul keluarga Soni itu seperti apa. Bukan hanya sekali papa melihatnya bersama perempuan lain bukan hanya sekali juga papa liat Soni memukul anak gadis orang. Bahkan yang lebih dari itu dia juga " ucapan papa Damar terhenti disitu. Mungkin papa Damar tidak ingin anaknya tau kelakuan Soni yang lebih buruk lagi.


" Dia juga apa pa...? hamilin anak orang? Delia tau pa papa pasti ingin mengatakan itu kan? Delia tau siapa Soni pa Delia pacarnya jadi Soni tidak mungkin seperti itu. Selama Delia jadi pacarnya gak pernah Soni nyakitin hati maupun fisik Delia bahkan Soni tak berani menyentuh Delia. Soni selalu baik sama Delia, selalu nolong Delia dia juga menghormati Delia sebagai perempuan. Jadi Delia percaya sama Soni " ucap Delia dengan emosi yang sudah memuncak hingga butiran beningpun menetes dimata remaja tujuh belas tahun itu.


Plak...

__ADS_1


Satu tamparan mendarat di pipi mulus Delia. Delia memegang pipinya yang merah dengan air mata yang semakin deras mengalir.


" Sudah pa cukup jangan sakiti Delia pa " mama Dewi akhirnya ikut bicara dengan air mata yang juga mulai luruh karena kasihan melihat anak gadisnya. Delia terus menangis dipelukab ibunya.


" Mama jangan belain anak yang tidak nurut perkataan orang tuanya. Delia sudah tidak menganggap kita orabg tuanya lagi ma, putri yang kita banggakan lebih percaya pada orang lain daripada orang tuanya sendiri " ucap papa Damar dan berlalu pergi meninggalkan ibu dan anak itu.


" Sudah ya nak berhenti menangis, nanti mama akan bantu bicara sama papa kalo kamu mau kuliah disini aja " mama Dewi berusaha menenangkan anaknya. Delia pun mengusap air mata yang masih ada dipipi.


"Tapi nak, apa yang papa kamu katakan tentang Soni itu benar. Jadi mama mohon sama kamu mengertilah nak. Mama sama papa hanya tidak ingin kamu tersakiti nantinya " tutur mama Dewi lembut berharap putri sulungnya akan mengerti. Namun ternyata Delia tetap keukeuh pada kepercayaannya pada Soni. Delia dibutakan oleh cinta. Delia melepas pelukan sang mama berniat meninggalkan ruang tengah.


Namun belum sempat ia berdiri papanya sudah kembaki keruang tengah dengan membawa serta koper besar lalu melemparnya dihadapan Delia.


"Pokok nya papa mau kamu kuliah di Australia dan tinggalkan laki - laki itu. papa tidak mau dibantah" tukas papa Damar seraya menyodorkan tiket pesawat yang sudah dibelinya kemaren malam.


" Baik, mungkin kalian sudah tidak menginginkan aku tinggal di rumah ini lagi. Aku akan pergi selamanya dari rumah ini. Jangan harap aku akan kembali lagi dan terimakasih tiket pesawatnya aku tidak mermerlukannya aku juga tidak butuh uang kalian " ucap Delia menatap tajam laki - laki paruh baya dihadapannya. Delia meraih koper yang ada di lantai dan melenggang pergi menuju pintu tanpa menoleh kebelakang.


" Kamu akan menysal kemudian hari. Papa dan mama hanya ingin yang terbaik tapi kamu sia-siakan malah memilih laki - laki itu" teriak papa Damar dari tempatnya berdiri tadi namun masih bisa didengar oleh Delia yang baru selangkah kakinya. keluar dari pintu utama. Tetapi ia enggan menghiraukan perkataan papanya ia terus saja berjalan keluar gerbang masuk kedalam taxi online yang sudah menunggunya. Sedangkan mama Dewi hanya bisa menangis menatap kepergian putri sulungnya.


##flashbackoff


"Oh jadi itu alasan kaka meninggalkan rumah" gumam Dita dalam hati. Tak terasa air mata Dita telah menetes mendengar cerita papanya. Dita merasa kasihan terhadap kakanya namun ia juga tidak membenarkan tindakan kakanya itu.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah membaca karyaku sampai disini. Semoga kalian suka ya sama ceritanya. Jangan lupa berikan masukannya untukku agar bisa memperbaiki kesalahan. Jangan lupa likenya juga ya.. 😊😊😊


❤❤❤❤❤

__ADS_1


Lanjut


__ADS_2