
"Ade tenang aja, jika memang benar Dimas seperti itu kaka sendiri yang akan menghukumnya. Tetapi kaka harus dengar pengakuan dari mulut Dimas langsung." Ucap Dika berusaha tenang.
Sekarang perasaan Dita telah membaik karena sudah mencurahkan segala isi hatinya pada kakanya. Kini tinggal menunggu kepulangan Dimas untuk meminta penjelasan langsung darinya.
"Udah gak usah terlalu kamu fikirkan de. Sekarang tidur lah sudah malam kaka juga mau istirahat. Besok setelah Dimas sampai dirumahnya kaka langsung meminta penjelasan darinya karena membuat air mata kesayangan kaka berderai." Ucap Dika berharap adiknya bisa tenang dan tidur dengan nyenyak.
"Tapi ka perasaan Dita gak enak. Rasanya ada hal lain yang akan membuat hati ini terluka bukan soal wanita itu melainkan soal Dimas. Dita takut terjadi sesuatu pada Dimas."
"Tenang lah de, berfikir fositif aja dan doakan semoga Dimas baik-baik aja." Dita pun mengangguk.
"Atau kalau adek masih cemas telpon aja." Seru Dika.
"Gak mau lah, gengsi dong ka. Aku loh lagi ngambek masa nelpon dia."
"Makanya jangan terlalu difikirkan. Tidur ya kaka temani dulu biar adik kesayangan kaka ini tidur dengan nyenyak."
Dita menuruti perintah kakanya. Dita memejamkan matanya. Tak lama Dita terlelap. Dimas menyelimuti adiknya dan mencium keningnya lalu beranjak pergi kekamarnya yang berada disebelah kamar Dita.
Dika pun langsung menaiki ranjang dan merebahkan diri pada kasur empuknya, menarik selimut hingga hanya menyisakan kepalanya Dika pun terlelap.
"Aaaaaaaaaaaa" teriak Dita begitu kencang hingga terdengar jelas ditelinga Dika.
"Aduh siapa sih yang teriak-teriak jam segini gangguin orang tidur aja. Rasanya baru aja gue memejamkan mata sudah ada yang teriak aja." Gerutu Dika yang belum menyadari suara siapa itu. Matanya pun masih setengah terbuka.
"Astaga" Dika menepuk jidatnya dengan tangan kanannya.
Menyadari itu teriakan adiknya Dika langsung lari keluar kamar dan membuka pintu kamar adiknya. Rasa kantuk tadi pun seketika hilang.
Dika langsung masuk kekamar adiknya namun Dika tak menemukan adiknya. Dika memanggil nama adiknya beberapa kali sambil berjalan mencari kesekitar siapa tau adik nya sedang mengerjainya dan sembunyi.
Alangkah terkejutnya Dika tatkala melihat adiknya tersungkur di lantai kamar mandi dengan masih menggunakan piama doraemon.
"Ditaaa, de bangun." Dika mengguncang tubuh adiknya namun Dita tak kunjung membuka matanya. Dika melihat ada darah dipelipis adiknya maka Dika pun langsung menggendong adiknya sambil berteriak memanggil kedua orang tuanya.
"Mah, pah tolong." Teriak Dika
Berhubung sudah subuh mamanya berkutat didapur seperti biasa dibantu ARTnya. Saat tengah asyik memasak didapur mamanya segera mematikan kompor dan langsung berlari ke ruang tengah karena mendengar teriakan Dika berasal dari ruang tengh.
__ADS_1
Papanya yang masih dikamarpun segera ke sumber suara karena mendengar teriakan Dika.
Setelah sampai diruang tengah kedua orang tua mereka kaget dan panik karena melihat Dika menggendong putri kesayangan mereka yang terkulai lemas dengan sedikit luka dipelipisnya.
"Ada apa ini ka, kenapa adikmu....? Mama bertanya dengan air mata yang mulai luruh.
"Dika juga gak tau mah mungkin jatoh di kamar mandi karena saat Dika menemukannya keadaannya sudah seperti ini dikamar mandi." jawab Dika yang menyembunyikan kekhawatirannya dari orang tuanya.
Tiba-tiba mang Sapto datang mengatakan bhwa mobil sudah siap. Mereka pun bergegas membawa Dita kerumah sakit. Sekitar tiga puluh menit mereka telah tiba di RS terdekat.
Dita langsung di pindahkan ke pembaringan oleh Dika dibantu perawat. Kini Dita tengah ditangani tim dokter. Sang mama yang khawatir terus menangis dipelukn sang suami.
"Dita akan baik-baik saja mah tenanglah." ucap Dika menenangkan mamanya.
Tak lama kedua orang tua Dimas datang karena sebelumnya sudah dikabari ketika perjalanan ke RS tadi. Hanya orang tua Dimas yang hadir tak nampak batang hidung Dimas. Dika yang penaaran menanyakan keberadaan Dimas pada kedua orang tua Dimas.
"Maaf tante apa Dimas belum pulang." Tanya Dika.
"Iya nak Dika, mungkin hari ini Dimas akan tiba karena kemaren dia bilang hari ini akan pulang. Tapi Dimas belum tau soal Dita, saat tante menelponnya HP nya tidak aktif. Bahkan sejak kemaren malam, tante khawatir terjadi apa-apa pada Dimas."
"Tante tidak usah risau kita berdoa aja ya biar Dimas selamat sampai rumah." Dika tersenyum dan tak ingin membuat ibu Dimas makin khawatir jadi Dika tak mengatakan perasaan khawatir Dita tadi malam.
Tiba-tiba dokter keluar dan menghentikan perbincangan mereka berlima. Semua orang kini mendekat ke dokter cantik yang seragamnya bertuliskan Dr. Amara.
"Bagaimana keadaan anak saya dok..?" Tanya Damar.
"Kalian tidak usah khawatir pasien baik-baik aja cuman luka luar di pelipisnya dan sudah diobati.Hanya perlu istirahat. Tapi biarkan dia tidur di sini dulu sampai keadaannya sehat kembali.Kalian bisa menemuinya di ruang rawat nanti. Kalian tenang aja sebentar lagi ia akan siuman."
Mendengar perkataan dokter Amara semua bernafas lega. Semua menuju ruang perawatan Vip untuk menemui Dita kecuali Dika. Dika memilih menuju kantin dulu untuk membeli makan sarapan guna mengisi perut mreka yang mulai demo.
"Papa sama yang lainnya duluan aja nanti kaka nyusul. Kaka beli makan dulu dikantin." Ucap Dika yang hanya dijawab anggukan oleh Damar.
Tak lama Dika selesai belanja ia pun kembali kedalam ingin langsung ke kamar Dita. Namun saat Dika melewati perawat yang tengah membawa berangkar Dika merasa mengenali orang yang berbaring diatasnya.Dika pun menghentikan perawat itu lalu mendekat untuk memastikan kebenarannya.
"Astaga Dimas." ucap Dika kaget.
"Mas mengenalnya?" Tanya salah satu perawat.
__ADS_1
"Iya sus, dia keluarga saya lebih tepatnya kekasih adik saya." Jawab Dika.
"Apa yang terjadi dengannya sus..?"
"Kecelakaan lalu lintas mas kata orang yang membawanya kemari." kata perawat itu.
"Ya sudah mas pasien harus segera ditangani." Perawat itu berlalu pergi dari hadapan Dika dan membawa Dimas ke UGD.
Dika masih mematung ditempatnya. Dika bingung bagaimana cara memberi tau orang tua Dimas tentang keadaan Dimas. Apalagi jika Dita tau pasti akan merasa sangat terpukul. Tapi bagaimanapun orang tua Dimas harus tau.
Dika meninggalkan tempat itu menuju ruang rawat Dita. Dimas masuk dan melihat adiknya masih belum sadar Dika merasa sedikt lega. Kini Dika meminta orang tua Dimas juga orang tuanya sendiri keluar karena ia ingin bicara.
"Ada apa Dik..?" Tanya Damar papanya.
"Begini pah, mah, om, tante. Khususnya buat om sama tante tolong jangan panik saat mendengar kabar yang akan Dika sampaikan." Ucap Dika lembut.
"Iya nak insyaallah." Jawab ibunya Dimas.
"Dimas kecelakaan dan kini ada dirumah sakit ini juga. Tadi perawat membawanya ke UGD."
Mereka semua kaget mendengar penuturan Dika apalagi kedua orang tua Dimas.Ibunya pun sudah menangis.
"Kamu gak lagi becanda kan ka..?" Tanya mamanya.
"Untuk apa kaka bercanda dengan hal seperti ini." saut Dika.
Kedua pasang orang tua itupun langsung pergi ke ruangan dimana Dimas berada dan menitipkan Dita pada Dimas.Serta melupakan rasa lapar mereka.
.
.
.
.
Makasih sudah mau membaca dan menunggu episode selanjutnya.
__ADS_1
Semoga suka ya kalian semua. Jangan lupa like dan komennya semua serta jadikan favorit jika tak ingin ketinggalan episode.
❤❤❤❤❤