
"KAKAKKKKKKKKKKK" jerit Dita. Karena merasa dikerjai kakaknya itu.
Dika tersenyum bangga karna berhasil mengerjai adik kesayangannya itu.
"Ciee yang abis nangisin abangnya, padahal sih abangnya sehat-sehat aja." Dika kembali tertawa.
"Tapi sih adik gue ini tipe penyayang, liat aja tu sampai segitunya khawatirin abangnya. Gimana kalo yang kenapa-kenapa itu pacarnya ya?? gue rasa sih dia gak nangis lagi tapi pingsan" jelas Dika yang melirik ke arah Dimas.
"Diam lo kak, gue masih kesel sama lo" sungut Dita.
Sejurus mata Dita beralih memandangi kedua orang tuanya lalu beralih kepada sahabat-sahabatnya. Dita menatap dengan tatapan membunuh sepertinya amarahnya sudah diubun-ubun.
"Jadi kalian semua sekongkol buat ngerjain gue, hah?" tanya Dita kepada sahabat-sahabatnya dengan terus menatap tajam.
Dela, Meri, Regi, Tirta, dan Surya bergidik ngeri melihat tatapan Dita dan mereka meminta maaf dengan mengangkat dua jari ke udara. Namun lain halnya dengan Dimas ia malah tertawa terbahak.
"Puas lo ngetawain gue?? bukannya minta maaf malah makin ngetawain gue lo" kata Dita sambil menunjuk Dimas.
"Iya iya gue minta maaf tapi.... " ucap Dimas menggantung.
"Tapi apa??"
" Tapi gue sangat bahagia bisa menyaksikan lo nangis sepanjang jalan, disitu lo jelekkkk banget sumpah" lanjut Dimas.
Seketika tawa meledak dari semua orang yang ada disana.
"Sudah cukup-cukup. Lebih baik kita siap-siap buat acara puncaknya jam 8 nanti." ucap mama Dita.
"Mama sama papa ikut ngerjain aku juga kan?" Dita nenyipitkan matanya menyelidik. Kedua orang tuanya pun hanya tersenyum.
"Tu kan benar, ih kalian semua tega ya udah bikin aku nangis, malu tau di ejek teaman-teman"
"Punya malu juga lo Ta? gue kira engga" celetuk Dela. Kembali mengundang tawa semua orang dan Dita makin kesal.
Mereka semua meninggalkan tempat kejutan itu dan akan kembali ke pestanya nanti malam pukul tujuh.
***RUMAH DITA***
__ADS_1
Dita berdiri di depan cermin yang memantulkan dirinya dari kaki sampai kepala. Senyum merekah di sudut bibirnya. Dita merasa bahagia karna hari ini ulang tahunnya dan diberi kejutan indah oleh keluarga dan para sahabat meskipun dengan cara memalukan karna ada adegan nangis disana.
"Oh iya ibu-ibu sama bapak-bapak yang tadi siapa ya kok mereka ikut juga sih..? tapi kok rasanya aku kenal wajah mereka, tapi siapa? " banyak pertanyaan dibenak Dita yang ingin dia tanyakan pada orang tuanya.
"Ada pak Zul juga ya tadi... ya pak Zul kan sahabat kakak ya pasti dia diajak kakak ikut andil ngerjain gue. Huh awas aja nanti lo kak pas ultah gue kerjain balik yang lebih parah dari ini" gumam Dita yang sudah berjalan menuruni anak tangga.
Dibawah sudah ada kedua orang tuanya dan kakaknya yang jahil tapi Dita sangat menyayanginya, begitu juga sebaliknya.
Sekitar lima belas menit perjalanan dengan mobil Dita yang didamping keluarga tiba. di taman, tempat acara ulang tahunnya.
Dita nampak cantik dengan polesan make up sederhana dan balutan gaun panjang semata kaki dipadupadankan dengan heels 7cm.Dita berjalan anggun menuju meja tempat kue ultah yang berukuran besar itu di gandeng sang kakak.Semua tamu yang tak lain teman-teman kampus dan sahabatnyamenyambut dengan tepuk tangan.
" Wah keren banget kak indah,kok gue berasa lo anterin gue ke panggung resepsi ya?" ucap Dita dengan wajah berbinar.
"Yey, maunya. Emang lo udah siap kalo gue anterin lo ke panggung resepsi?" tanya Dika. Dita hanya menggeleng sambil nyengir.
" Kali aja lo mau sekarang, gue sih gak apa-apa lo langkahin"seru Dika.
"Gak ah gue gak mau, kak Delia aj belum nikah kan dia anak pertama masa gue yang anak bungsu ngeduluin" kata Dita. Mereka hanya tertawa saat mereka telah tiba di depan kue tart itu.
Tiba-tiba Dita merindukan kaka perempuannya. Dita ingin sekali kakanya itu ada disini namun sayang kakanya masih belum berani pulang.
Kemudian Dita bertanya kepada sang mama tentang sepasang paruh baya itu.
"Mah siapa mereka? teman mama dan papa? sejak tadi mereka tersenyum kepadaku, bukankan tadi siang juga ikut memberiku kejutan? " tanya Dita beruntun.
" Oh iya dong mereka teman mama dan papa, tapi apa kamu tidak mengenali mereka? " tanya mama. Dita hanya menggeleng.
"Ya udah yuk kita samperin mereka..!" kata mama.
"Ya udah ayuk." jawab ku antusias.
" Hai sayang kamu cantik sekali malam ini, malah lebih cantik daripada waktu kecil" kata tante itu.
" Makasih tante. Tapi kok tau aku waktu kecil? memangnya kita pernah bertemu sebelumnya?" jawab ku sekaligus dengan tanya kembali.
" Kamu lupa sama tante? padahal dulu kamu sering loh main kerumah tante, bahkan kamu bersahabat dengan anak tante. Kamu sudah tante anggap anak sendiri loh." jelasnya.
__ADS_1
" Maaf tante aku lupa" sambil nyengir. Namun kemudia Dita kelihatan tengan berfikir.
" Maklum Yu, mereka kan dulu masih anak-anak. " kata mama yang kemudian diangguki tante itu.
" Ohhhh tante Marisa dan om Riki ya? " Dita mengingatnya.
"Iya, sayang ini tante Marisa sama om Riki" kata mama menimpali.
"Pantesan aku merasa tak asing lagi dengan wajah om dan tante siang tadi." ucap Dita.
"Alhamdulillah kamu ingat sayang" kata. tante Marisa tersenyum.
" Terus mmmm " Dita celingukan mencari seseorang.
"Kamu cari sahabat kecilmu ya?" tanya tante Marisa.
"Iya, kok gak keliatan ya tan?" Dita dengan sedikit malu.
"Ada kok kamunya aja yang gak sadar akan kehadiranku" saut seorang laki-laki dibelakang Dita. Dita merasa kenal dengan suara itu.Seketika Dita membalik badannya mulutnya menganga.
.
.
.
.
.
Maaf ya up nya lama. Makasih sudah mau nunggu cerita selanjutnya. ❤❤❤❤❤
Makasih banyak buat yang mau baca ceritaku, semoga suka ya....!
Doain ya biar ideku ada terus buat bikin cerita ini lebih bagus lagi.
Jangan lupa like, komen dan jadikan favorit ya para readers ku sayang. 😙😙😙
__ADS_1
Terimakasih.