
"Bagaimana suami saya dokter?"
"kami sudah berusaha bu ,namun tuhan berkehendak lain ibu yang kuat ya!"
sambil memegang pundak erin"
erin lunglai dalam pelukan sahabatnya
pandangannya gelap dan tak ingat apa apa lagi.
kepulangan jenazah wanto sudah di urus oleh pihak penabrak rencananya akan di kuburkan di tempat pemakaman umum terdekat.
setelah di doakan jenazah di bawa ke peristirahatan terahir.erin menyeka air matanya kini dia harus sendiri tiada lagi orang yang menemani hari harinya waktu begitu cepat. gundukan tanah yang basah dan harumnya minyak wangi menambah sakit dan sesak di dada.
"kita pulang erin"sambil berdiri memapah erin"
"aku pulang ya mas,kamu tenang di sini!"
erin dan rani pulang ke rumah
****
Sudah seminggu wanto pergi rasa duka masih bergelayut di hati erin dalam kesendiriannya erin di kejutkan suara ketukan pintu
"tok tok tok permisi"
erin membuka pintu dua orang laki laki berpakaian rapi menyalaminya yang satu membawa map dan yang satunya lagi adalah paman si penabrak wanto.
"bapak bapak ini siapa?"
"saya gunadi paman dari amin orang yang menabrak suami mbak"
__ADS_1
"oh jadi kalian keluarga pembunuh suami saya?"
"maaf mbak ,ini kecelakaan kejadian yang sama sama tidak kita inginkan"
"sudahlah pak pergi saya benci kalian!!!!"
erin menutup pintu air matanya kembali menetes ,dari luar pak gunadi mengetuk pintu tapi erin tak perduli
"mbak kami ingin berdamai secara kekeluargaan tolonglah mbak cabut tuntutan mbak agar amin tidak di penjara!"
enak saja kamu ngomong biar saja keponakanya membusuk di penjara bisik dia dalam hati.
"mbak tolonglah jika mbak ada permintaan katakan saja kami akan turuti asalkan amin tidak di penjara, mbak begini saja ini kartu nama saya kapanpun mbak berubah pikiran telepon saya .
Gunadi menyelipkan kartu namanya pada celah pintu dan pergi.
****
"mbak mau nasi uduk satu ya sama teh hangat"
"ya mas sebentar"
erin mengambil nasi dalam termos dan menambahkan lauk lalu menuangkan teh hangat ke dalam gelas
"ini nasi dan tehnya!"
"terimakasih mbak , di bungkus 2 ya mbak"
"ya mas, mas ini baru pulang kerja apa?"
"ya mbak sekalian yang di bungkus untuk istri sama ibu soalnya lagi sakit nggak masak
__ADS_1
"oh gitu"
sambil menunggu pembeli yang sedang makan erin membereskan meja dan mengambil sampah bekas bungkus kopi dan plastik matanya tertuju pada kartu nama yang tercecer dekat celah pintu tertulis Ir gunadi permana di bawah nama tertulis nama bengkel mobil terkenal dan juga show room
apakah gunadi paman si penabrak suaminya itu pemiliknya erin menaruh kartu itu.
****
Malam makin larut erin belum bisa memejamkan matanya terbayang kisah hidupnya bersama wanto pernikahannya yang terpaksa ,kehidupannya yang sulit sehingga memberikan bayinya pada orang lain dan motor yang dia peroleh dari menjual bayinya telah membawa wanto meninggal
oh ..tuhan apakah ini karma pikirnya ,hingga kini erin juga tak tahu sudah sebesar apa anaknya . erin di kejutkan suara ponselnya ternyata rani menelponnya
(halo ran ada apa nelpon)
(erin tadi pak gunadi meneleponku katanya amin stres di penjara)
(ya biarin aja memang sudah sepantasnya dia menanggung perbuatannya)
(erin jangan sejahat itu,coba kalau kita yang jadi amin tidak sengaja nabrak orang mati lalu harus di penjara setidaknya mengurangi tahun hukumannya sebelum ketok palu.ingat erin dengan amin di penjara seumur hidup pun tak akan mengembalikan wanto' kan)erin berpikir sejenak ,jauh di dalam hatinya sebenarnya ia kasian tapi...entahlah.
(erin pak gunadi ingin mengobrol denganmu bolehkah?")
(untuk apa ran?)
(sudahlah dia mau bersilaturahmi besok sore)
(aku masih berduka)
(aku temani kamu erin oke?)
(baiklah)
__ADS_1
telefon di tutup erin merebahkan dirinya ke tempat tidur dan terlelap.