
" Apalagi yang kau tunggu ****** busuk, cepat minum obat didalam mangkuk itu!. Teriak galen kepada anna sontak membuat gadis itu terkejut.
Obat yang berada dimangkuk itu adalah obat untuk mencegah kehamilan. Lelaki tampan nan keji tersebut disiapkan oleh bibi devi, atas perintah galen.
Bibi devi merasa tak tega memberikan obat tersebut. Wanita paruh baya itu tahu bahwa itu merupakan obat keras. Bibi devi sempat memohon kepada majikannya supaya tak memberikan obat itu. Karena dapat membuat wanita yang mengonsumsinya berakibat fatal pada tuhuh.
Perdebatan bibi devi dan galen.............
" Tuan muda, apa tuan tidak terlalu keji kepada gadis itu tuan?. Obat penunda kehamilan yang suruh saya siapkan itu adalah obat keras tuan muda. Ia dapat merusak tubuhnya, bahkan akan memicu penyakit mematikan.
" Sudahlah bibi, kamu hanya perlu melakukan semua hal yang aku perintahkan padamu. Mengenai hal yang lain, bibi tidak usah pedulikan. Ucap galen dengan nada suara yang senang. " Lagi pula aku tidak perduli apapun mengenai gadis busuk itu. Mau dia sakit kek, muntah darah kek, atau mati sekali pun. Aku Galen Atmadja tidak perduli". Timpal pria gagah itu kepada bibi devi.
" Mohon maaf tuan...maafkanlah saya jika berbicara membuat anda tersinggung. Begini tuan, saya tahu anda sangat benci kepada fahri novanto yang telah melenyapkan tuan dan nyonya ( ayah ibu Galen). Benci yang teramat memdalam, hingga ingin melenyapkan orang tersebut, saya memakluminya tuan. Jika hal tersebut kepada orang terkasih saya. Saya akan membalas dendam, menghacurkan dia berkeping -keping. Bahkan nyawa akan saya pertaruhkan demi tujuan saya terwujud" Ucap bibi vera dengan nada suara lembut namun ada ketegasan disetiap kata- katanya.
Bibi devi menatap tuannya dan berseru" Akan tetapi tuan muda, sasaran anda itu salah. Orang yang membuat anda kehilangan tuan dan nyonya bukanlah gadis kecil itu, tetapi ayahnya. Fahrilah yang telah melenyapkan kedua orang tua tuan muda, bukan gadis malang itu. Gadis itu tak bersalah tuan, dia tidak tahu apa- apa. Tuan.....
__ADS_1
" diamlah bibi, cukup!" sela Galen dibarengi nada suaranya yang cukup meninggi. Lelaki berparas indah itu murka mendengar perkataan bibi devi. Ia tak senang salah seorang yang ia kasihi menaruh simpati pada Anna. Jika saja bibi devi bukan sosok yang telah lama disisinya. Sosok yang sudah merawat dan menjaga Galen di fase terburuknya. Wanita yang menyanyanyinya seperti anak sendiri. Wanita yang sudah dianggap ibu olehnya. Jika bukan karena itu, Galen mungkin sudah meninju bibi devi.
" Ya dia memang tidak berbuat apa - apa, memang dia juga tak bersalah. Aku tahu bi, aku mengakuinya. Tapi bibi, memangnya aku punya dosa apa pada fahri novanto. Mengapa ia juga menginginkan nyawaku. Waktu kecil ia sudah berulang kali merencanakan pembunuhan terhadapku. Jika bukan karena bibi dan kakak yang menyelamatkanku dulu, mungkin aku sudah tiada. Jadi beri tahu aku bi, apa dosaku , kesalahan seperti apa yang aku perbuat?.Sejak hari itu aku suda membulatkan tekatku, membuaf hidupnya hancur dan sengsara melalui orang tersayangnya". Tegas lelaki bak lukisan itu.
Mendengar hal tersebut, bibi devi merasa sedih. Ia merindukan sosok majikannya dulu. Periang, mudah tertawa dan baik hati serta penyanyang. Sejak kematian orangtuanya, galen berubah 180 derajat. Tatapan matanya begitu dingin, bengis dan kejam. Wanita paruh baya itu mematung sejenak, menatap majikannya yang kini benar- benar seorang yang sadis tanpa belas kasih.
" Baiklah tuan, terserah kamu saja. Apapun yang kamu lakukan, wanita tua ini akan selalu mendukungmu. Bahkan jika nyawa ini taruhannya. Tapi bibi memohon, jangan karena dendam ini membuat tuan yang dulu hilang. Bibi merindukan tuan muda yang dulu. Kalau begitu saya akan segera siapkan yang tuan minta, bibi pamit undur diri". ucap wanita tua itu dengan wajah murung dan sedih. Ia meninggalkan majikannya begitu saja tanpa menunggu reaksinya.
Lanjut*****************************************
Lamunan itu seketika terhenti ketika galen melangkah kehadapan Anna. Dengan tatapan bengisnya ia berkata" jangan berpura- pura tuli, cepat kau minum obat itu!" bentaknya sambil menyodorkan mangkuk itu kemuka Anna.
Anna terkejut melihat galen yang kini berada tepat didepangnya. Menyodorkan mangkuk berisi obat tersebut sambil menatap Galen.
" i..itu obat apa tuan? tanya Anna dengan suara sedikit gemetar. Mungkin karena tubuhnya masih lemah juga karena ia berteriak kesakitan dalam waktu lama. Akibat perlakuan kasar Galen atas tubuhnya.
__ADS_1
" Cihh ngak usah pura- pura oon gitu. Tentu saja ini obat pencegah kehamilan. Aku ngak mau dan tidak akan pernah sudi memiliki anak dari wanita kotor sepertimu. Kenapa kau diam saja, atau kau memang berharap punya anak dariku?. Celoteknya begitu percaya diri.
Mendengar itu Anna sangat marah karena selalu di cap murahan. Padahal lelaki tersebut tahu bahwa ia tak pernah melakukan hubungan dewasa dengan siapun. Kecuali dengan dirinya, dan saat itu juga adalah kali pertamanya.
Anna menenggap habis cairan didalam mangkuk tersebut. Ia menatap tagas kepada pria tampan yang kini tepat berada didepannya.
Anna berkata" aku juga tak sudi memiliki anak dari manusia seperti dirimu. Kamu tenang saja, hal itu takkan pernah kubiarkan. Lebih baik diriku mandul sekalian, jika nanti aku punya anak berhati iblis". ungkap gadis itu dengan begitu tegas.
Entah kenapa Galen si pria tampan namun kejam itu merasa tidak senang. Lelaki tegap itu seakan tersambar petir serta ada rasa yang aneh pada dirinya. Tapi Galen tetap tidak tahu apa dan darimana perasaan itu datang.
Galen segera menghempaskan semua hal yang ada dibenaknya. Ia menatap Anna dengan tajam setajam pisau. Kemudian berkata " Kau bilang apa hah,? aku seperti iblis. Kalau aku iblis, maka ayahmu itu lebih busuk lagi". Ucapnya sambil mengertakkan gigi serta tangan kanannya meraih rambut Anna kasar.
" Segera kau bersihkan tubuhmu itu, jangan bermalas - malasan. Jangan pasang wajahmu seperti itu, karena aku ngak kasihan padamu. Aku sudah bilang banyak penderitaan yang akan kamu alami mulai hari ini. Akan kubuat kau bertekuk lutut serta memohon - mohon kepadaku, hahahaha.!
Dengan segenap kekuatan Anna turun dari peraduan, meninggalkan Galen tanpa berkata apa-apa. Gadis malang itu berjalan tertatih- tatik, air matanya mengalir menahan sakit ditubuhnya. Bahkan sempat terjatuh beberapa kali, hingga ia terpaksa merangkak kekamar mandi. Seperti hal yang ia lakukan semalam, benar- benar sakit.
__ADS_1
Galen yang merasa diabaikan, mukanya menjadi begitu masam. Dengan marah ia keluar kamar, membanting pintu berlapis emas itu.