
" Cahayu... ini silakan diminum! ujar bibi Eni, membuat lamunan Anna buyar seketika.
Anna menatap wanita tua tersebut seraya menerima gelas berisi air itu. " Ohhh iya, bolehkah saya bertanya kepada ibu. Kalau boleh tahu, ini dengan ibu siapa ya ( maksudnya nama atau panggilan)?. Ucapnya Anna dengan lembut, ya tujuannya untuk membuka obrolan supaya ngak kikuk. Sembari Anna sigadis cantik jelita menenggak kasar air tersebut. Ya harap dimaklumi saja, namanya klo orang ngak minum seharian kan gitu.
" Nama bibi Eni....Eni wati, cahayu boleh panggil bibi Eni saja". Jawab wanita hampir setengah baya itu ramah kepada Anna. Dalam hatinya terus kagum pada Anna, karena menurutnya Anna adalah gadis cantik luar dalam.
" Aahhhh salam kenal ya bi, nama saya Anna Novanto. Bibi panggil saja Anna saja ya!, ohh ya ...terimakasih ya bibi buat minumnya. " Ucap Anna lemah lembut, tak lupa ia membentuk senyum indah dibibirnya. Membuat siapa saja yang melihatnya terpana.
" Ya sama - sama, senang bisa membantu, tapi...." bibi Eni ingin mengatakan sesuatu, tapi ia merasa ragu serta tak enak. hati kepada Anna.
Anna yang peka dengan raut wajah yang bersemi di muka wanita tua itu. Membuat sadar bahwa, ada sesuatu yang tidak beres. Anna menatap bibi Eni lekat - lekat seraya berkata..
" Ngak usah sungkan bi, kasi tahu saja, bibi tak perlu ragu begitu. Saya tahu pasti ini berkaitan kan dengan tuan rumah?. Sudah tak perlu bingung begitu, katakan saja!. Saya ngak akan menyalah bibi, bibi hanya menjalankan titah saja." Anna membujuk bibi Eni berkata sejujur- jujurnya. Melihat mimik wajah bibi yang ragu-ragu dan tidak tegaan itu, membuat Anna jadi ngak enak hati. Anna sadar bahwa ini pasti berkaitan erat dengan sipemilik rumah. Siapa lagi kalau bukan Galen Atmadja. Anna yakin benar akan hal itu, sebab Galen sudah beberapa kali mengancam Anna bahwa hidupnya tidak akan pernah tenang.
" Begini nona Anna, sebelum meninggalkan kediaman ini. Tuan sempat berpesan agar nona Anna ikut bekerja beberes rumah bersama dengan pelayan lain. Lalu tuan muda juga memerintahkan agar nonalah yang menyiapkan hidangan makan malam untuknya. Tapi melihat kondisi tubuh kamu yang lemah begini, bibi merasa ngak tega." Ucap bibi Eni dengan raut wajah kasihan kepada gadis malang itu.
__ADS_1
Anna menatap bibi Eni dengan ramah sambil melayang senyum manisnya. Kemudian ia berkata " Ngak masalah bi, bibi ngak perlu merasa bersalah begitu padaku. Bibi Eni hanya menyampaikan titah majikan bibi saja, dan itu hal yang wajar. Karena sudah menjadi kewajiban bahawan untuk tunduk akan perintah atasan. Oleh sebab itu, bibi ngak usah merasa bersalah ya. Tapi Anna tetap.-berterimakasih kepada bibi atas kepedulan bibi kepadaku, terimakasih banyak." Jawab Anna sambil tersenyum manis terhadap wanita tua tersebut.
" Begini saja nona, kamu memasak saja, karena pekerjaan itu tak menguras banyak tenaga". Ucap bibi Eni kepada Anna dengan penuh kasih dimatanya.
" Tapi bi, nanti....." belum sempat Anna mengutarakan maksudnya. Bibi Eni dengan cepat memotong, lalu....
" Kamu ngak usah khawatir, masalah dengan tuan biar bibi yang selesaikan. Kamu nurut ya cahayu, badan kamu aja sudah begitu memprihatinkan gini. Mana sanggup kamu melakukan pekerjaan beberes rumah. Udah nurut aja" Kata wanita itu sedikit meninggi. ia tak mau di tentang.
Begitulah sifat bibi Eni, walau dikuar terlihat kasar dan garang bak singa betina. Namun dalam hati selembut sutra. Hal itulah yang membuat dirinya disenangi oleh penghuni kediaman ini, tak terkecuali majikannya sendiri.
Anna merasa sangat hangat dalam hatinya, ia berpikir masih ada saja orang yang baik padanya. Anna mengulas senyum diwajahnya seraya berkata, .." baiklah bi, saya akan kerjakan dengan baik, percayakan saja kepada saya. Bibi Eni sibuk saja dengan kerjaan bibi dan terimakasih banyak" Anna menimpalinya dengan ramah dan tersenyum kepada wanita tua itu.
Bibi Eni pun tanpa banyak omong kosong, melangkah dengan mantap meninggalkan Anna sendiri di dapur. Setelah beberapa saat ia tiba - tiba menghentikan langkah kakinya. Raut wajahnya penuh dengan keraguan dan tanda tanya dalam benaknya.
" Memangnya gadis cantik itu tahu memasak?, apa ngak salah tuan muda meminta Anna memasak?. Meskipun kekayaan keluarga Anna tidak sebanding dengan kekayaan tuan muda. Akan tetapi keluarga kaya tetap keluarga kaya. Apa mungkin gadis dari keluarga kaya bisa memasak. Bukannya mereka selalu dimanja?" gumam bibi Eni dalam hati sambik menyergitkan dahinya yang telah keriput.
__ADS_1
" Ahhh yasudahlah...lagian gadis itu tadi hanya menggangguk saja. sepertinya gadis cantik jelita itu memang paham. Mukanya aja percaya diri begitu, yasudahlah......" timpalnya dalam hati sambil menyakini batinnya, bahwa semuanya akan baik - baik saja.
Sementara didapur**************************
Tak membuang banyak waktu, Anna langsung bergegas melakukan tugasnya hari ini, yaitu memasak makan malam. Bagi Anna memasak adalah hal yang sangat mudah. Berkat sarah yang kejam itu, tak sengaja membentuk Anna menjadi gadis mandiri yang serba bisa.
Ia membuka kulkas besar dan mewah tersebut, matanya membulat sempurna. Bagaimana tidak, bahan makanan di dalam kulkas penuh, namun tertata rapi. Matanya terfokus dengan deretan daging yang terbungkus rapi dengan plastik. Ia memengang benda tersebut, seketika matanya terperanjat melihat yang tertera pada plastik yang membungkus daging itu. Wagyu A5 yang harganya nyaris 7 juta, padahal beratnya hanya 600 gram saja.
" Wahhh gila....sungguh gila, pemilik rumah ini. Memang pemboros, untuk bahan makanannya pun fantastis begini harganya" katanya sambil mengeleng - geleng kepalanya.
Meskipun Anna sekarang sudah punya uang yang terbilang bangak. Anna tak pernah menghambur - hamburkan uang, ia tetap hidup sederhana seperti hidupnya dikala ia susah. Sebab Uang yang didapatnya tersebut sebagai jaminanya kelak untuk menopangnya agar tetap hidup.
Melihat semua bahan makanan itu, Anna jadi bingung mau memasak apa. Sebab ia tak mengetahui makanan yang sering dimakan oleh Galen. Meskipun dirinya pernah ikut kontes memasak, tapi tetap saja makanan rumahan dan beberapa hidangan khas daerah saja yang ia kuasai. Untuk masakan luar, dirinya tak mampu membuatnya.
Dengan berat Anna telah memutuskan makanan apa yang akan dia masak setelah berpikir panjang. Anna kemudia mengambil bahan yang ia perlukan, mulai dari daging, sayuran dan buah- buahan.
__ADS_1
Anna mencuci bersih semuanya itu dan mulai bekerja..." tak tuk tak tuk tak....prang prang ...srekk srekk srekkk... prang...pepeoeot pepeot ppepepepeot..tuing tuing tuing" begitulah suaranya, Anna berperang didapur.