
" Apa ad....adik!! Jadi nama pria yang gadis ini sebit sampai menangis untuk adiknya, benarkah?. Katanya dalam hati, entah kenapa setelah mendengar jawaban Anna hatinya terasa lega.
" ehhh kok aneh ya, ngapain juga aku emosi saat gadis ini menangis untuk seorang bernama Alvaro itu. Ngapain juga aku senang setelah tahu bahwa orang yang dimaksud wanita ini ternyata adiknya sendiri?. Omelnya sambil garuk - garuk kepala.
" Heh berani sekali kamu meninggikan nada suaramu saat berbicara kepadaku. Gadis sialan, kamu sudah bosan hidup ya? Mau aku potong lidah kecilmu itu hah?". Teriak Galen dalam hati, walau jauh dilubuk hati sangat senang bahwa Anna tak punya kekasih. Ya tapi pria yang satu ini enggan mengakuinya.
Anna diam mematung, sekujur tubuhnya amat gemetar. Entah itu karena ia belum makan malam atau karena ketakutan saat Galen mengatakan bahwa ia akan memotong lidahnya.
" Kejam sekali pria ini! Lihat mukanya yang rupawan itu ternyata hanya topengnya saja. Dia seperti monster gurita yang bisa melahap mangsanya kapan saja. Kuat Anna, kamu harus kuat dan berani, jangan mau kalah dengan pria monster itu!". Ucapnya dalam hati, meski sebenarnya ketakutan sedang menjalar disekujur tubuhnya.
" Heh gadis sialan! Ada apa dengan wajahmu yang menyebalkan itu?. Jangan bilang kamu sedang mengutuk aku dalam hati".
" ngak, ngal ada tuan, sumpah!. Saya mana berani mengutuk tuan, diberi keberanian pun saya tidak akan mau"
" Kok orang ini bisa tahu ya? " ujar Anna dalam hati.
" Baguslah kalau memang begitu, tapi jika kamu ketahuan berbohong, heh siap- siap aja kamu dapat hadiah dariku" jawab Galen penuh curiga pada Anna.
Anna hanya terdiam seribu bahasa sambil menundukkan kepala. Ia tahu bahwa ancaman Galen tak pernah sekedar dimulut saja, namun ia akan benar- benar melakukannya.
Melihat Anna yang menunduk ketakutan membuat Galen semakin senang. " Memang begitulah seharusnya, akan aku buat sikap kerasmu itu menghilang. Akan aku tunjukkan padamu apa balasan bagi orang yang berani kepadaku".
Tak lama kemudian, galen merogoh sesuatu dari laci meja kerja. Ternyata ooo ternyata benda itu adalah buku nikah.
" Nih, kamu simpan itu baik - baik dan jangan sampai hilang, paham kamu" ucap Galen seraya melemparkan buku kecil itu kemuka Anna.
" Statusmu diluar adalah istriku, istri dari Galen pemilik Group Atmadja. Tapi dirumah ini kamu hanya pelayanku saja, hanya sebatas penghangat ranjangku saja" Lanjutnya.
Anna mengambil buku tersebut dari lantai dan betapa terkejutnya ia dengan isinya. Terpampang dengan sangat jelas disana foto dirinya bersama pria bengis itu.
__ADS_1
" Hah apa ini? bagimana hal ini bisa terjadi, kapan aku dan dia ke biro sipil untuk mendapatkan buku nikah. Gila, ini benar - benar gila! Bagaimana cara monster gurita itu melakukan tindakan ilegal seperti ini?".
" Tu..tu..tuan! Saya mau tanya, saya tidak ingat kalau kita pernah pergi ke biro catatan sipil untuk mengurus akta nikah. Bagaimana anda bisa melakukan hal ini, bukankah ini tindakan ilegal, tuan ngak takut .....
Belum juga Anna selesai mengucapkan kata - katanya sudah dipotong oleh Galen.
" Memangnya kenapa kalau ilegal? Bisa apa mereka, bahkan jika aku membunuh orang pun mereka akan tetap bisa kubungkam mulutnya. Lagian hanya akta nikah saja, sekali aku berseru saja sudah beres" jawab Galen dengan enteng.
Setelah itu Galen mengatakan kepada Anna akan memberinya izin pulang. Tentunya hal itu tidak gratis, karena.....
" Ngomong - ngomong kamu sangat ingin pulang kan ****** kecil?. Sebenarnya sih bisa, tapi ada syaratnya...
" Benarkah itu tuan, benarkah? " Ucap Anna dengan antusias
" Hehhh ****** kecil, kamu lupa ya apa yang aku bilang. Jangan sekali - kali kamu menyela ketika aku sedang bicara. Atau kamu sudah bosan ya punya lidah, mau aku potong?" Galen begitu kesal terhadap Anna.
" Hehh tahu diri juga kamu, ya kamu benar kamu itu hanyalah manusia rendahan. Baiklah kali ini aku ampuni kesalahanmu". Jawab Galen dengan seringainya kepada Anna.
Entah sudah berapa kali kata - kata menyakitkan itu dilontarkan Galen kepada Anna. Meskipun Anna sakit hati, ia tetap tegar walaupun memang sangat menyakitkan.
" Terimakasih Atas kemurahan tuan" ucap Anna meski hatinya tercabik - cabik.
" Lantas syarat apa yang akan tuan ajukan kepada saya, supaya anda memperbolehkan saya pulang". Lanjut Anna menatap pria di depannya dengan tatapan sayu.
" Aku sedang malas pergi ke klub malam ini untuk bersenang - senang. Jadi malam ini kamu harus melayani aku dengan baik. Jika kamu bisa memuaskan hasratku, maka aku akan izinkan kau pulang selama 3 hari, bagaimana?"
" Dia ingin aku menjadi pelayan pemuas nafsu birahinya malam ini?. Bagaimana ini, apa yang harus kuperbuat. Apa sebaiknya kutolak saja ya?, ngak ...ngak mana sudi bajingan ini dengan penolakan. Mau aku setuju atau tidak itu ngak ada gunanya. Sebab kalau ia ingin menyetubuhiku, dia bisa dengan mudah melakukannya". Anna gelisah, itu terlihat jelas dari sorot matanya.
Sementara Galen sedang mengulas senyum merendahkan kearah Anna. Ia senang bisa menghancurkan Anna dan membuatnya seolah tak punya harga diri dihadapannya.
__ADS_1
" Baiklah tuan! Betapa keras pun usahaku saat ini, tetap saja tak akan merubah apapun. Tapi saya harap tuan tidak menarik semua kata - kata tuan". Sahut Anna menatap wajah sang tuan rumah.
" Sabar Anna, kamu harus kuat...kamu pasti bisa Anna!. Semuanya ada jalan keluarnya, demi adikmu Anna. Kamu ngak boleh membuat bocah kecil itu terseret dalam masalah ini. Kamu harus bisa melindungi dan menjauhkannya dari mara bahaya". Kata Anna di dalam hati
Galen pria tanpa belas kasih itu tertawa gembira atas kemenangannya. Memperlakukan Anna bagai gadis yang tidak punya harga diri. Itulah yang diinginkannya, beginilah nasib bagi seseorang yang cari masalah dengannya.
Galen menatap tajam kepada Anna dan berkata...
" Kamu tenang saja, aku Galen Atmadja adalah seorang yang pantang menjlat ludahnya sendiri. Jadi, kamu persiapkan saja diri kamu untuk menyenangkan aku malam ini. Hahahahaha.....sudah pergi sana, aku bosan melijat wajahmu lama - lama!" Ucap Galen penuh hinaan pada Anna, membuat gadis malang itu kembali menundukkan kepala, nyaris saja air matanya menetes. Kalau saja tidak ada Galen di depan, mungkin Anna akan beneran menangis.
" Baik tuan! Untuk saat ini saya memang tidak berdaya. Kalau bukan untuk adik saya yang tidak berdosa dan tak tahu apa - apa. Aku ngak akan pernah mengambil jalan ini, tidak akan pernah sama sekali".Ucap Anna, rasanya batinnya terkoyak - koyak, air matanya pun tidak terbendung lagi.
" Saya sebagai orang yang tidak tahu apa - apa ini, akan menerima segala hinaan dan siksaan yang akan tuan berikan padaku kelak. Mungkin ini memang sudah jadi suratan takdirku dari sang pencipta. Tapi aku percaya di dalam kesedian, keterpurukan dan derita yang kualami ini, akan menuai hal indah kedepannya. Karena tuhan itu maha adil ...." Katanya hingga terisak -isak
" Semoga anda tidak menyesal dikemudian hari tuan. Ingatlah karma itu ada dan itu adalah hal yang nyata". Lanjut Anna sambil meninggalkan Galen seorang diri.
Tanpa mereka sadari, bibi Eni ternyata mendengar percakapan antara Anna dan tuannya.Ketika Anna membuka pintu, dia tak menyadari kehadiran bibi Eni. Bibi Eni sudah tak tahan lagi, karena perilaku tuannya itu sudah sangat kelewatan.
" Maaf tuan muda, bolehkah saya mengatakan beberapa kata pada anda?. Ohh maafkan saya karena masuk keruangan anda sembarangan". Ucap wanita tua dengan tegas namun tak melupakan sopan santunnya terhadap majikannya.
" Ohhh tentang apa" jawabnya singkat.
" Ini berhubungan dengan Anna, saya...."
Bekum juga bibi Eni selesai mengutarakan isi hatinya, sudah disela oleh Galen. Ia tahu bahwa bawahannya ini pasti akan membela Anna.
" Sudahlah bi, saya ngak mau bibi ikut campur dalam hal ini. Aku akan membalaskam dendamku kepada keluarga Novanto atas kematuan ayah dan ibuku. Aku tak peduli bagaimana orang beranggapan tentangku, pergilah bibi!" ucapnya sedikit marah.
Bersambung.......
__ADS_1