
" Mama...papa jawab dulu pertanyaanku!, dimana kalian sembunyikan kakakku?. Mama papa sangat kejam, tidak cukup dengan menyiksa kakak selama ini. Bahkan dengan entengnya kalian juga sanggup menjual putri kalian. Kalian memang bukan manusia, aku benar- benar muak melihat wajah iblis kalian." Omel Alvaro dengan teriakan keras disetiap kata - katanya.
" Mama aku benar - benar malu dan terhina bisa lahir dari rahimmu. Aku juga malu punya papa seperti dirimu" seraya menunjuk terhadap sarah dan Fahri.
" Kalaulah aku bisa memilih, aku takkan sudi menjadi putra kalian. Lepaskan aku, lepaskan aku mau mencari kakakku, lepaskan" teriaknya sambil memberontak, bocah itu berusaha sekuat tenaga membebaskan diri. Namun apa daya tenaganya itu tak sebanding dengan tenaga orang dewasa.
" Plakkk plakkk.....berani sekali kamu meneriaki papamu dengan kata- kata seperti itu. Apakah karena selama ini aku lunak padamu jadi kamu bisa mengatakan apapun kepadaku." ucap Fahri seusai menampar pipi kecil anaknya.
Sebenarnya Fahri amat sayang kepada putra satu - satunya ini. Tangannya sempat gemetaran melihat putranya menitihkan air mata. Hatinya merasa luka ketika bekas tamparannya mulai membengkak. Tapi apa boleh buat, hubungan mereka kini telah merenggang sejak ia dekat dengan Anna. Varo makin sering membantah dan memarahinya. Awalnya Fahri berpikir dengan tidak membayar uang sekolah, tidak memberi uang jajan serta keperluannya yang lain. Anaknya akan luluh dan kembali padanya sedia kala. Namun makin kesini, ia semakin memberontak dan mulutnya makin kasar saat berbicara kepadanya.
Jujur Fahri sempat berpikir bahwa istrinyalah yang secara diam - diam mengatur keperluan putranya. Tapi kenyataan tidak demikian, Anna lah yang mengeluarkan semua biaya untuk putranya, dan itu pun sudah berlangsung lama.
Tentu saja dia tak merasa heran darimana Anna mendapatkan uang untuk keperluan Alvaro. Fahri tahu betul seberapa banyak dana yang disimpan Anna selama ini.
Dengan kemarahan yang makin memuncak, Fahri kemudian berseru " cepat bawa tuan muda kedalam kamarnya!. Kunci pintunya dan jangan pernah biarkan ia keluar sebelum ada perintah dariku!. Satu hal lagi, jangan beri dia makan sebelum dia bersedia mengaku salah dan mohon ampun padaku, paham!.
" Baiklah tuan ....kami akan melaksanakan apa perintah tuan. Kami mohon undur diri..." ucap para pelayan sambil menarik lengan kecil itu dengan paksa.
Melihat keadaan putranya, tidak membuat sarah bergeming sedikitpun. Bahkan tak ada rasa kasihan dimatanya terhadap putranya. Memang dasar wanita iblis orang yang satu ini.
Dikediaman Galen.......
__ADS_1
Anna berdiri disamping sang ceo dingin sambil melihat pria dingin itu tengah asik menyantap makanannya. Muka tampak heran dengan tingkah laku Galen.
" hehh kenapa ya orang modelan begini bisa ada didunia ini. Tadi bilangnya ngak enak, bentuknya aneh, tidak menarik. Bilang inilah, itulah, tapi nyatanya dimakan juga. Mana lahap banget lagi, macam orang ngak makan lima hari saja." Omel Anna dalam hati seraya menggeleng - geleng kepala kecilnya.
" Hahhh.. .hahhhhh" nafas Anna tiba - tiba berat. Entah kenapa yang ada dalam benaknya sekarang hanya tertuju pada Alvaro.Perasaannya tak nyaman sekarang, seperti terjadi sesuatu yang buruk kepada Adiknya Alvaro.
Galen yang manyadari hal itu berkata" kenapa kamu, apa yang kamu pikirkan?. Kamu ngak lagi mengutukikun kan gadis sialan?." Tuduh Galen sebab dari tadi dia merasa tak nyaman, seperti ada yang memakinya.
" ngak tuan ...anda salah paham, aku hanya memikirkan seseorang yang berharga bagiku saja. Aku memikirkan apakah dia baik- baik saja sekarang." Jawab Anna sambil menundukkan kepala.
Lagian kalau memaki dan mengutuki itu manjur, sudah aku kutuk kamu jadi batu atau kadi kodok. Pekiknya dalam hati, namun tidak mengurangi kekhawarannya terhadap Alvaro.
" Siapa orang itu, laki - lakikah?" tanya Galen dengan singkat kepada Anna. Namun muka juteknya masih melekat erat diwajah tampannya.
" Wahh tuan tahu dari mana, memang yang aku khawatirkan saat ini adalah seorang lelaki
Dia adalah......
" Stop stop kamu berhenti bicara, aku ngak mau dengar" teriak galen makin murka setelah mengetahui bahwa tebakannya ternyata benar. Raut wajahnya amat masam serta tatapannya matanya pun berubah jadi tajam, setajam silet.
" Kamu bawa piring - piring ini ke dapur, juga cuci mereka sampai bersih. Jangan ada setitik noda pun disana, paham kamu!" bentaknya kepada Anna .
__ADS_1
" Begitu selesai kamu mencucinya, segera antarakan kopi ke ruang kerjaku." pekik lelaki jangkung itu.
Anna terdiam sejenak, ia merasa aneh dengan sikap Galen.
" Bukannya manusia yang satu ini baik - baik saja tadi. Kenapa sekarang malah marah - marah, aku kan ngak berbuat sesuatu yang salah. Dasar manusia ngak jelas, seenaknya saja memarahi aku." Omel Anna dalam hari sembari menundukkan kapalanya sejenak. Ia tak ini ekpresinya kini ketahuan oleh Galen.
" Tunggu sebentar tuan" kata Anna yang melihat sang tuan muda beranjak pergi.
" Ada apa lagi, kamu mau aku mendengarkan keluh kesahmu yang tidak penting, jangan harap" jawabnya.
"Ehh bukan tuan, bukan...saya hanya mau tahu. Ruang kerja tuan dimana ya?, rumah ini begitu luas. Kan ngak lucu kalau saya mengecek kamar di rumah ini satu persatu" Tanya Anna sedikit tak senang hati.
" Ya itu urusanmu...kau pikirkan saja bagaimana mengurusnya. Otakmu itu masih berguna kan?, jangan ganggu aku." Ucap dengan keras dan terdengar begitu kasar. Seakan - akan Anna telah merampas sesuatu yang berharga darinya.
" Dasar aneh.....kan yang kutanyakan bukan pertanyaan yang sulit. Kenapa reaksinya berlebihan begitu?, aku kan baru disini, mana aku tahu dimana letak ruang kerjanya. Dasar monter gurita pemarah," Gumam Anna dalam hati, ia sangat kesal sekarang.
Sementara ditempat lain, seorang bocah lelaki tengah berteriak di dalam sebuah kamar.
"Papa mama buka pintunya, cepat buka pintunya. Cepat lepaskan aku dari sini, aku ingin mencari kakakku. Varo mau mencari kakak, kasihan kakak pa. Kenapa kalian begitu tega kepada kakakku, dia tak pernah melakukan kesalahan dan selalu patuh sama kalian." Teriak bocah usia 8 tahun itu, sambil menabrakkan tubuh kecilnya ke pintu.
" Kakak...kakak dimana?, kakak baik - baik saja kan?. Kakak ngak dijahatin pria jahat itu kan?. Maafin Varo ya kak, varo ngak bisa jagain kakak. Kumohon ya tuhan, jangan sampai kejadian buruk terjadi kepada kakakku ya tuhan. Kakakku orang yang baik ya tuhan, dia selalu baik kepada semua orang. Katanya engkau selalu melindungi orang - oramg baik. Kakakku juga orang baik tuhan, kau pasti akan melindunginya juga kan tuhan." Ucap bocah lelaki itu seraya kristal bening jatuh kelantai.
__ADS_1