Kumohon Beri Kesempatan

Kumohon Beri Kesempatan
Jadi Babu


__ADS_3

" Kak! Kak Anna, kamu ada dimana sekarang? Kakak baik - baik saja kan! Mengapa kakak ngak bawa aku sekalian?." ucapnya bocah 8 tahun itu lirih.


Entah mengapa tubuhnya amat lemas, tak lama kemudian bocah itu terkapar lemas dilantai.


Di sisi lain


Anna sedang mencuci peralatan makan yang dipakai sang tuan rumah. Hatinya terasa gundah, rasa sesak didada menjadi- jadi. Tak tahu mengapa sejak tadi pikiran dan hatinya hanya tertuju kepada adik kecilnya.


Perasaannya tak karuan, kristal bening mengalir dengan sendiri, gadis kecil itu merasa bahwa telah terjadi sesuatu kepada adik tercintanya.


: Varo! kamu baik- baik saja kan sayang?, Anna sayang banget sama Alvaro, semoga kita bisa cepat bertemu lagi. Maafkan aku ya karena pergi tanpa pamit sama kamu." Ungkapnya dalam hati, air matanya tiada hentinya mengalir.


Sementara di dalam kantor, Galen duduk di depan komputer menatap layar persegi panjang itu.


" Sebenarnya Alvaro itu siapanya dia sih? Kok sampek segitunya banget. Pakek acara nangis segala lagi, dasar gadis tengik, awas saja kamu!"


Ekpresinya amat menyeramkan, posisinya sekarang ibarat seorang pria yang mendapati wanitanya sedang memadu kasih dengan pria lain. Wajahnya pun berubah jadi merah karena amarahnya yang amat sangat.


Padahal pria yang terkenal akan kekejian dan kebengisannya itu. Awalnya hanya ingin menyaksikan kesusahan yang dialami oleh Anna. Sebab ketika Galen menyuruhnya mencuci peralatan bekas makannya, suasana hari itu sudah gelap. Suhu pun begitu dingin membuat seluruh tubuh bergetar hebat.

__ADS_1


Namun Galen memaksa Anna untuk menuruti titahnya tanpa belas kasih sama sekali. Padahal Kondisi tubuhnya belum stabil akibat demam pagi tadi.


Melihat Gadis cantik itu kedinginan saat bersentuhan dengan air. Membuat pria tak berperasaan itu merasa iba, bahkan ketika Anna menangis hebat. Senyum dibibir tipis seksi itu begitu indah nan memawan, namun ada kekejaman terselip disana.


Naasnya ketika nama ' Alvaro" terucap dari bibir Anna, suasana hatinya seketika jadi buruk. Ditambah lagi dengan embel- embel sayang, membuat Galen seperti kebakaran jenggot. Apalagi saat Anna mengucapkan nama tersebut dibarengi oleh tetesan air mata. Beh....rasanya seluruh dunia seakan runtuh sekejap.


Galen si pria sombong nan arogan lantas mematikan layar komputernya secara kasar. Sepertinya ia tak tahan mendengar Anna menyebut nama lelaki lain. Padahal ia tak tahu bahwa lelaki yang ia cemburui itu hanyalah bocah kecil saja.


Di sisi lain


" Kak devi, bagaimana ya nasib gadis itu ke depannya?. Masa iya dia harus ikut menangggu kesalahan yang tidak dia perbuat?. Apakah hati nurani tuan sudah mati?. Jujur aku ngak mempermasalahkan klo ia mau membalaskan dendam papa mamanya. Sebab tuan berhak atas itu, karena kejadian naas tersebut telah merenggut kedua orang terkasihnya." Kata bibi Eni terhadap bibi Devi sambil bersimbah air mata. Perempuan tua itu tahu bahwa Anna adalah gadis yang lembut dan baik hati. Matanya begitu jernih menandakan gadis malang itu adalah sosok yang tulus.


" Kau benar Eni, kau sangat benar dalam hal ini. Tapi apa yang bisa kulakukan, apa? Walaupun aku sangat dekat dengan tuan,serta diperlakukan baik olehnya. Tetap saja aku hanya seorang pembantu, hanya seorang pelayan. Aku juga sangat kasihan terhadap gadis malang itu, tapi aku harus tetap tunduk kepada majikanku, yaitu Galen Atmadja." Sahut bibi Devi yang sebenarnya turut merasa prihatin kepada Anna. Namun apa boleh buat, Galen tak akan pernah merubah sesuatu ketika ia sudah memutuskan.


" Tapi aku tetap tidak terima, bagaimana gadis itu nantinya?. Bagaimana ia bisa berdiri tegak, apakah ia tetap mampu bertahan dengan siksaan dan penghinaan ini. Kalau ia begitu membenci Fahri, kenapa tak langsung menghadapinya. Kenapa harus melibatkan orang yang tidak bersalah?. Aku berharap semoga tuan tidak akan menyesal dikemudian hari." Bibi Eni menyela perkataan bibi Devi. Dalam batinnya, ia sangat kesal akan tindakan sang majikan yang tak berperasaan. Coba tadi bibi Eni tak masuk ke kamar sang tuan, mungkin Anna akan segera mati karena kelelahan dan kedinginan.


" Bagaimana teh dan kudapannya tuan? Apakah sudah sesuai dengan selera tuan?." Tanya Anna masih menjaga kesopanan walau dalam hati tak senang melihat pemuda dihadapannya. Apalagi untuk menemukan ruang kerja lelaki tampan itu butuh sedikit usaha. Mengapa?, karena Anna sampai bertanya - tanya kepada para pelayan lain dimana letak ruangan sang majikan.


" Biasa - biasa saja, tak ada yang istimewa. Ya meski rasanya ngak sesuai ekspektasiku, tapi masih layak dimakan." Jawabnya ketus, namun dalam hati begitu senang karena kudapan dan teh yang Anna sajikan sangat sesuai dengan seleranya.

__ADS_1


" wanita kecil ini memasukkan bahan apa ke dalam kudapan dan teh ini. Kenapa rasanya sangat enak ya. Cihh tapi aku ngak boleh bilang enak, nanti wanita sialan ini gede rasa lagi" celetuknya dalam hati.


Anna merasa kesal, ingin sekali ia mengangkat kursi dan melemparkannya kewajah Galen. Bisa - bisa ia mencaci roti buatanya sendiri. Padahal adik dan sahabatnya begitu memuji kemampuannya dalam membuat roti.


" Oh begitu ya tuan, mohon maafkan saya dan saya janji akan meningkatkan kemampuan saya dalam memasak. Supaya dalam memenuhi selera anda". Jawab anna sopan serta membungkukkan kepala.


" Tuan bolehkah saya meminta izin, soalnya saya ada janji dengan Alvaro. Saya merasa tidak enak hati, dan saya juga harus membelikannya hadiah karena besok adalah hari ulang tahunnya. Saya mohon kepada anda dengan sangat, saya jamin saya ngak akan kabur, saya....


" Diam! diam kamu!. Berani sekali kamu, siapa yang memberimu keberanian. Kamu pikir dirimu siapa hah?, aku memang bilang pada ayahmu sibajingan laknat itu. Tapi itu hanya dalih saja, memangnya perempuan murahan sepertimu pantas bersamaku?. Di sini kamu hanya seorang kacungku, hanya sebagai budak saja. Beraninya seorang budak mengajukan permintaan kepada majikannya." Kuping Galen panas mendengar ocehan Anna yang hanya membahas Alvaro.


" Lagian siapa itu Alvaro, mengapa kamu begitu antusias saat membahas dia?" tanya Galen kesal.


" .........."


Anna hanya menunduk diam, hatinya begitu perih, sakit sekali kata-kata pria kejam itu. Air mata Anna nyaris membasahi pipinya lagi, namun ia mencoba bertahan dan tetap tenang.


" Kenapa kau sulit sekali menjawabnya, kenapa kau mengigaukan namanya?. Apakah ia itu kekasihmu?, ayo jawab jangan menunduk dan diam saja seperti orang bodoh!". Tanya Galen semakin kesal, entah mengapa ada perasaan tidak rela di dalam dirinya kalau Anna telah memiliki kekasih.


" Tuan anda tak perlu mengingatkan saya akan kedudukan saya saat ini. Saya memang hanya pesuruh anda sekarang, namun itu bukanlah dalih bagi anda untuk merendahkan saya. Saya sudah menerima keadaan saya sekarang walau saya tidak seharusnya mendapat perlakuan kejam ini, saya iklas. Mungkin ini memang takdir hidup saya dicaci makin dan direndahkan. Tapi anda tak perlu berbuat demikian..." ucap Anna, suaranya agak serak karena terlalu sering menangis 2 hari ini.

__ADS_1


" Lagi pula yang akan saya temui adalah adik saya, adik dari istri kedua papa saya. Saya sangat menyanyangi dan mencintainya seperti adik kandung sendiri. Hari dimana saya dibawa kesini adalah hari dimana saya akan menjemputnya dari sekolah, karena sebelumnya ia pergi kemping diluar kota. Namun naasnya saya malah dibawa kesini dan sialnya lagi saya tak sempat mengabarinya. Besok tanggal 12 mei adikku akan berulang tahun, jadi aku berencana membelikannya hadiah sebagai permintaan maaf. Selain itu, saya juga harus membayarkan iuran sekolah, uang saku dan kebutuhan lainnya. Saya sudah bersumpah kepada tuan bahwa saya tak akan lari, anda tak perlu khawatir. Saya adalah orang yang menepati janji, bahkan jika saya lari pun adalah hal yang tidak mungkin mengingat besarnya pengaruh dan koneksi anda" kata Anna sambil terbata- bata.


__ADS_2