
" Umm wangi sekaki......." ucap bibi Eni yang secara tiba- tiba muncul didapur.
" Ahhhh bibi.....bikin aku kaget saja" timpal Anna dengan ekpresi kaget. Beruntung jantung kecilnya tidak sampai melompat kebawah, kan bisa repot .
" Kalau boleh tahu bibi kesini ada perlu apa?, ada yang bisa Anna bantu bi?. lanjutnya ketika jantungnya sudah kembali normal.
Bibi Eni mengabaikan pertanyaan Anna, fokusnya saat ini hanya pada hidangan yang mengepul tersebut. Aromanya sampai membuat bibi Eni hilang fokus dan nyaris saja liurnya keluar.
" Wahhh harus sekali aroma makanan ini, pasti rasanya pun lezat!. Tak disangka, ternyata gadis cantik ini bukannya hanya cantik. Namun keahlian memasaknya juga bagus. Baguslah kalau begitu, ternyata yang kupikirkan tadi salah". katanya dalam hati, tak lupa raut wajah senang dan bangga terukir diwajahnya.
Karena bibi Eni tak kunjung merespon Anna untuk sekian kalinya ia panggil. Anna tak punya jalan lain, ia jadi merinding dengan perubahan ekpresi bibi Eni bak kesurupan khuyang. Jadi Anna segera mengambil inisiatif menggoyangkan badan bibi Eni dengan pelan.
" Ehhh ehhhh....maaf maaf ya, bibi Eni hilaf tadi. Habisnya masakan kamu sangat wangi, jadinya bibi tergoda. Wahhh kalau kamu buka resto atau warung makan pun pasti akan laris manis. Kamu setuju kan kak Devi? ( panggilan eni kepada Deni, karena bibi Devi memang lebih tua dari bibi Eni).
" Yahh kamu benar, Anna memang pandai memasak. Udah gitu masakannya terlihat sangat menggoda, wanginya saja begitu mengundang selera. Kamu hebat lo cahayu, meski dari keluarga berada kamu masih mau repot begini". Puji bibi Devi seraya melayangkan senyum ramah terhadap Anna.
__ADS_1
" Ahhh bibi - bibi sekalian bisa aja, kan Anna jadi malu". Jawab Anna, wajahnya tampak senang dan bahagia. Mereka tidak tahu saja bagaimana kejamnya kehidupan Anna selama ini dikeluarga Novanto. Jangankan bisa hidul bahagia dan serba berkecukuoan. Bisa mengisi perutnya saja Anna sudah sangat bersyukur.
" Ohhh iya bi, bibi Eni ada perlu apa kemari, berjalan begitu cepat seperti dikejar orang gitu?. Tanya Anna untuk mengalihkan topik pembicaraan. Anna tak mau menbahas masalah kehidupannya itu, karena hanya akan membuat Anna sedih. Ia tak mau membuat bibi - bibi yang baik hati ini ikut sedih.
" Aduhhhh.....lihatlah otakku yang tua ini!. Tuan muda memberi perintah agar hidangannya kemeja makan. Jadi kalau kamu sudah selesai, mari segera kita antarkan makanan ini. Tidak baik kalau membuat tuan muda menunggu terlalu lama. Nanti kita semua yang ada dirumah ini bisa repot". Timpal bibi Eni sambil menepuk pelan dahinya yang telah keriput itu.
Sebenarnya, saat Anna tengah berbincang - bincang dengan bibi Devi. Galen sang tuan rumah telah sampai kekediaman. Dia pun segera disambut oleh bibi Eni yang kebetulan sedang mengerjakan tugasnya.
Saat lelaki jangkung itu tiba dirumah, keadaan sekitar memang sudah gelap gulita. Galen oun sudah merasa lapar, sebab dia tak makan apa - apa sejak pagi tadi. Di perusahaan ia juga tak mengentuh makanan sama sekali saat jam makan siang berlangsung. Entah kenapa dirinya sangat gundah hari ini, dan tak semangat melakukan apapun. Jadi lelaki bak model itu memang sudah sangat kelaparan.
Jadi sewaktu ia melihat bibi Eni, dia langsung menanyakan apa gadis itu sudah menyelesaikan tugas yang diperintahnya tadi. Bibi Eni pun mengangguk, namun ada keraguan didalam hatinya. Tapi ia tak enak hati menunjukkan hal itu kepada tuannya. Karena bibi Eni merasa bahwa suasana hati tuannya sedang tidak baik.
Nah oleh karena itulah bibi Eni tergesa- gesa menuju arah dapur. Wanita yang nyaris setengah abad ini sangat khawatir tentang Anna . Dia pun menyalahkan dirinya yang ceroboh membiarkan Anna mengambil tanggung jawab tersebut. Karena ia mengira Anna sama dengan gadis dari keluarga kaya lainnya yang tidak tahu memasak.
" Semuanya sudah jadi bi, ruang makannya dimana ya bi. Boleh antarin Anna ngak?, soalnya Anna belum tahu seluk beluk rumah ini.
__ADS_1
Bibi Eni sangat lega dengan menyaksikan semua ini. Kecemasannya tadi ternyata sia - sia saja. sebab ternyata Anna begitu terampil dalam hal ini.
" Baguslah kalau begitu....mari kita antar hidangan ini kepada tuan muda. Sebaiknya kita bergegas sedikit, kalau kelamaan tuan muda bisa marah. Tadi bibi perhatikan, sepertinya suasana hatinya sedang buruk". Timpal bibi Eni dengan cepat. Bibirnya bergerak sangat cepat, secepat laju roller coster.
" Benarkah, kanapa bisa begitu?. Apa tuan muda ada kasi tahu kamu kenapa bisa begitu?" tanya bibi Devi dengan raut wajah cemat dimatanya.
Bibi Devi merasa khawatir setelah mendengar penuturan bibi Eni. Wanita itu sangat gelisah memikirkan apa yang membuat majikannya begitu. Wanita setengah abad itu merasa khawatir, sebab baginya Galen sudah seperti anaknya sendiri. Anak yang dikandung dan lahir dari rahimnya sendiri. Itulah mengapa bibi Devi tak senang mendengar hal tersebut.
" Kalau begitu ...ayo kita bawa semuanya hidangan ini kepada tuan muda. Siapa tahu dengan ini suasana hatinya kembali membaik". perintah bibi Devi dengan tegas, mengingatkan mereka agar bergegas.
" Ehh Anna masih ada sisa kan makanan ini?. Bibi Eni sangat ingin mencoba masakan kamu".Tanya bibi Eni kepada Anna sedikit memelas. Ya begitulah bibi Eni, selain pemuja sang tuan muda, dia juga pemuja makanan - makanan enak. Makanya badanya dan pipinya agak tembem.
" Bibi tenang saja, porsi yang aku masak tadi bisa Untuk 4 orang. Makanan yang aku sajikan ini pas untuk satu orang saja per jenisnya. Jadi yang lebih sudah aku simpan ke lemari makanan. Ya memang itu aku sengaja menyisikannya untuk bibi. Anggap saja tanda terimakasih aku kepada bibi Eni dan bibi devi." Ujar Anna sambil tersebut kepada dua wanita tua itu.
Melihat tingkah bibi Eni membuat bibi Devi geleng- geleng kepala. Ia tak habis pikir dengan bibi Eni.
__ADS_1
" Dasar tukang makan....hati - hati kamu nanti tubuhmu mengembang seperti balon!. Ucap bibi Devi sambil geleng- geleng kepala dan menatap pasrah kepada bibi Eni.
Bibi Eni tampak kesal dengan apa yang dikatakan bibi Devi. Dengan menaikan alisnya ia pun membalas " buarin ....aku memang tukang makan. Memangnya itu jadi masalah sama kakak Devi?. Lagipula kan yang gendut aku bukan kak Devi." Jawabnya dengan kesal, tapi tak ada benci didalam hatinya. Karena bagaimana pun bibi Eni tahu bahwa yang dikatakan bibi Devi demi kesehatannya juga.