Kumohon Beri Kesempatan

Kumohon Beri Kesempatan
Boros Sekali


__ADS_3

Anna keluar kamar dengan sejuta hal dalam benaknya. Ia masih saja takjud dengan semua kemegahan yang terlihat matanya. Tiba - tiba ....


" teninott...teninot...." terdengar nada dering dari salah satu saku celananya. Ya gadis itu tak lupa memasukkan benda persegi panjang itu kedalam sakunya.


Dilayar benda berlogo apel digigit bertahtakan 3 camera terpampang nama sintia. Anna sigap menggeser tombol hijau dan segera mengarahkannya ketelinganya. Belum sempat Anna mengucap sepata kata, dia sudah dibanjiri dengan sederet pertanyaan.


"Ha....."


"Anna dada rataku sayang....masih hidupkan kamu?, masih hidupkan kamu sayangku peri dafa rata?. Udah hebat ya kamu, berani sekali kamu ngak balas pesan sahabat karibmu yang imut,cantik nan cetarrr mempesona ini!. Habis ngapain aja sih kamu hah??, asal kamu tahu ya palaku hampir meledak gegara kamu". Sintian menyerang Anna dengan seabrek pertayaan.


"Sinti...." ucapan Anna kembali disela oleh sintian.


" Gua khawatir banget sama lo, tahu ngak?. Gara- gara lo ngak balas telpon sama chat, gue jadi kepikiran banget. Soalnya kan lo kagak pernah gitu.Gue jadi parno abis, terus gua tanyain ke orang rumah, yaitu bokap ma nyokap lo udah gua tanyain, tapi mereka ngak tahu. Lo lagi kena musibah apa lagi sihh?, kok ngak bilang sama gue. Gua ngak mau tahu, sekarang detik ini juga, share lock lokasi lo." Celotehnya kepada Anna seperti emak - emak lagi memberi wejangan kepada anaknya.


Anna begitu terharu atas perhatian dari sahabatnya itu. Semenjak orangtuanya tidak mempedulikannga, dihina oleh teman - teman sekolahnya. Hanya sintialah satu - satunya yang mau membela dan menerima Anna dengan tulus.Sintia adalah satu- satunya sosok manusia dibumi ini yang dapat dijadikan Anna sebagai tempat untuk mengutarakan seluruh keluk kesahnya.Baik dalam suka maupun duka, hanya sintia yang bersedia melewati itu bersamanya. Jauh didalam lubuk hatinya, sintia sudah dianggapnya sebagai saudari kandungnya sendiri.


" Aku baik - baik aja kok sin, maafin aku ya baru bisa kabarin lu sekarang, sorry banget. Maafin aku juga ya, bukannya ngak mau ngasih tahu keberadaan gua sekarang. Tapi memang ngak bisa sin, maaf ya. Nanti klo urusan gua da kelar, baru deh gua kabarin lu ya?." Ucap Anna berharap sintia tidak marah dan mau ngertiin Anna.


" Pain sihhh lo, sok rahasia-rahasiaan gitu. Jangan buat gue jadi makin penasaran nih, lo ngak lagi baik - baik aja kan?. Udah ahh ngaku aja sama gua, suara da kek nenek - nenek gitu masih mau ngeless lagi. Jujur aja deh sama gue, kek sama siapa aja. Gua paling hafal sama lo, udahh ahhh jangan buat gue jadi kepikiran gini ahhh. Sebenarnya lo kenapa?, diapain lagi sama setanawan dan setani yang bersarang dirumah lo itu. Bilangin sama gue, biar aku kasi paham mereka." katanya dengan suara sedikit meninggi karena khawatir ketika mendengar suara Anna yang serak serta kurang bertenaga.

__ADS_1


Anna tak kuasa menahan haru akan perhatian sahabatnya satu- satunya itu. Meski terkadang mulutnya bikin Anna naik jantung, Tapi sintia selalu memberi perhatian kepada Anna tanpa pamrih. Mendengar perkataan sahabatnya. Anna kembali menitihkan cristal beningnya, namun kali ini adalah air mata kebahagiaan bukan kesedihan.


" Gua baik - baik aja kok, lu ngak usah khawatir ya!. Makasih banyak ya, cuman lu satu - satunya yang bisa menerima gua dan perhatian sama gua. Lu pokoknya tenang aja, memang masih ada sedikit urusan disini. Entar kalau sudah selesai gua akan ceritain ke lu ya" Jawab Anna dengan suara yang lembut.


" Yaudah kalau itu mau lo, gue hargain. Asal lo baik- baik aja gue udah senang banget. Jangan lupa ya putri dada rataku, langsung hubungi gue kalau uruhan lo udah kelar, ya!" timpalnya dengan nada menuntut.


" Yasudah ya Anna, gua juga mau keluar bentar, ya!. Gue tutup ya, bye.


" tutt tuttt tuttt" telepon diakhiri


" Terimakasih ya sin, kamu memang orang yang sangat baik. Terimakasih sudah mau menjadi temanku dengan tulus, untuk semua perhatian kamu sama aku selama ini." Gumamnya dalam hati.


Anna melihat seorang pelayan lain, usianya muda dari bibi devi. Anna maju kedepan hendak menyapa bibi tersebut.


" Halo bu, selamat sore!. Bolehkah saya meminta air, saya sangat haus". sapanya dengab sopan serta suara yang lembut.


bibi pelayan sontak membalikkan punggung kearah seseorang yang memanggilnya. " slurrrrrr........" Ia membalikkan badanya dengan cepat, lalu terdiam beberapa saat menatap Anna lekat- lekat.


pelayanan wanita yang hampir seumuran bibi devi tersebut juga salah seorang kepercayaan Galen. Dia adakah bibi eni, berbeda dari bibi devi yang lembut, bibi eni malah sebaliknya. Nada suaranya ketika berbicara sedikit kuat kepada setiap orang dikediaman ini. Banyak bicara dan paling cerewet lah pokoknya. Kepada tuannya pun begitu, ia tak segan - segan berceloteh kepada tuannya. Akan tetapi Galen tidak pernah sekali marah dan merasa risih dengan kelakuan bibi eni. Karena ia berbuat demikian hanya demi kebaikannya Galen.

__ADS_1


Bibi Eni menatap Anna dari ujung kaki sampai ujung kepada. Ia menatap Anna lekat - lekat, matanya berbinar seakan melihat sesuatu yang indah. Cukup lama wanita itu menatap Anna dengan kekaguman dimatanya.


" Cantik sekali gadis ini, lihatlah fitur wajahnya yang amat menakjubkan ini. Dengan wajah luar biasa begini, tak memakai riasan pun sudah amat memikat. Selain wajahnya, watakmya juga bagus."Katanya penuh kekaguman di dalam hati.


Akan tetapi, disela mengagumi kecantikan paras dari gadis yang berdiri dijadapannya. Wanita yang berumur 45 tahun itu murung diberengi nafasnya yang berat.


" Haisss ......kasihan sekali kamu cahayu. Sungguh malang kamu memiliki orang tua seperti Fahri Novanto. Seperti mulai dari sekarang hidupmu akan sangat menderita." gumam wanita tua itu didalam hati penuh rasa iba pada gadis itu. Tapi apa daya dia tak bisa berbuat apa- apa. Ia sangat tahu bagaimana sifat Galen, tuan mudanya.


" Ohh kamu mau minum?, yasudah mari ikut bibi kedapur!" jawabnya kepada Anna.


Namun tujuan bibi Eni semata - mata untuk melaksanakan titah tuannya yang disampaikan pelayan lain padanya. Sebenarnya perintah tiannya bukan hanya menyuruh Anna menyiapkan makan malam. Tetapi ia juga harus ikut membersihkan rumah bersama pelayan- pelayan lain. Karena melihat kondisi Anna yang masih lemas, bibi Eni merasa tak tega. Jadi wanita ini hanya menyuruh Anna untuk memasak saja, karena dirasanya tidak terlalu menyuras tenaga.


Keduanya pun sampai ke dapur, bibi Eni segera mengambilkan air minum pesana Anna. Namun Anna diam mematung menatap dapur tersebut. lihatlah semua perlengkapan didapur ini, sangat mewah dan berkelas, juga sangat luas.


" Tempat memasak pun bisa semewah ini ya,? apa tidak terlalu berlebihan. lihatlah semuanya ini. Bahkan cangkir tehnya saja seperti barang antik. Peralatan makan dari piring, sendok dan mangkoknya saja terbuat dari emas murni.


" Boros sekali" hanya itulah yang dapat keluar dari mulut setelah meyaksikan ini.


Bersambung****

__ADS_1


__ADS_2