Kutukan Kucing Putih

Kutukan Kucing Putih
Kutukan Kucing Putih (part 1)


__ADS_3

"Kita putus." Seorang pria mengucapkan kalimat itu pada gadis yang berada di hadapannya.


"Apa? Kita baru jadian tiga hari, loh. Masa kamu mau putusin aku?" tolak gadis anggun bergaun merah itu.


"Maaf, tapi kita putus," ucap pria itu sekali lagi. Setelahnya pria itu pergi meninggalkan gadis yang mulai menangis.


"Dasar playboy! Demennya gonta-ganti cewek mulu! Liat aja, suatu hari gue jamin lo bakalan rasain hal yang sama kayak gue! Dasar Leon bang**t!" teriak gadis itu dari kejauhan.


****


"Catet, sekarang mantan gue udah seratus dua puluh." Leon pria yang baru saja memutuskan pacarnya itu menghampiri seorang pria yang bersandar pada mobil berwarna merah.


"Sampe kapan, sih, lo bakalan kayak gini? Sampe karma dateng?" ucap pria berwajah dingin yang bersandar pada mobil merah. Pria itu mulai menghampiri Leon yang tak peduli dangan kalimatnya.


"Sekarang gue tinggal mutusin tiga dari empat pacar gue. Biar gue jomblo lagi," ucap Leon.


Leon melangkah pergi memasuki mobilnya, disusul dengan pria tadi.


"Lebih baik, lo nurut sama gue aja, Ren," ucap Leon.


"Serah lo!"


~~


"Kita putus."


"Sayang, kamu kok jahat sama aku? Kamu kok putusin aku?"


~~


"Kita putus."


"Oh ok."


~~


"Kita putus."


"Sayang, kamu kok gitu? Terus ini gimana? Kita udah makan di restoran mahal loh. Siapa yang mau bayar kalo kamu bukan lagi pacar aku?"


****


"Sekarang udah beres semua. Gue jomblo! Mantan gue seratus dua puluh tiga. Keren nggak, tuh?"


"Biasa aja. Yaudah ayok pulang."


Perjalanan mereka di mulai, hari semakin petang, langit malam mulai datang. Kedua pria tampan itu melajukan mobilnya pada kecepatan stabil.


"Ren, asal lo tahu banyak untungnya kalo jadi gue," ucap Leon dengan bangga.


"Ngga."


"Iss jutek amat!"


Cieeet!


Mobil berhenti mendadak.


"Gerren! Kenapa lo rem mendadak!?" ucap Leon yang kaget bukan main.


"I ... Itu." Gerren menunjuk sesosok wanita bergaun putih yang berdiri membelakangi mobil merahnya.


Gerren segera menutup kedua matanya. Sementara Leon masih penasaran akan sosok wanita itu. Perlahan wanita itu berbalik dan menunjukkan wajahnya.


"Buset! Cantik bener! Heh Ren, liat cantik banget!" seru Leon seraya menggoyangkan tubuh Gerren.


"Cantik dari mana? Mata lo rabun kali!"


"Cantik banget! Rugi lo nggak liat."

__ADS_1


Ceklek ....


Mendadak pintu mobil terbuka sendiri. Membuat Gerren semakin ketakutan, Leon sedikit kaget, namun setelahnya ia keluar dari mobil tanpa ragu. Gerren dengan terpaksa juga ikut turun mengikuti Leon.


"Kalian hari ini telah menyakiti banyak wanita," ucap wanita bergaun putih itu.


"Kita? Gue enggak, tuh!" bantah Gerren.


"Aku peri cinta akan menghukum kalian! Hukuman ini akan hilang hingga kalian menemukan cinta sejati!" ucap wanita itu.


Meong!


Seekor kucing melompat lalu mencakar tangan Gerren dan Leon. Seketika pandangan menghitam, tak terlihat apapun.


Sesak. Itulah yang dirasakan Gerren dan Leon.


"Mulai saat ini, kalian adalah manusia setengah kucing. Kalian akan kembali menjadi manusia seutuhnya saat kalian menemukan cinta sejati, saat kalian  menyakiti, dan menggoda wanita kalian akan berubah menjadi kucing. Saat kalian melihat wanita yang memiliki aura jahat makan kalian akan benci kehadirannya layaknya kucing membenci air." Suara itu menggema di telinga Leon dan Gerren. Sebuah cahaya datang dan kembali terlihat sosok peri cinta itu.


"Selamat menjalankan hukuman!" ucap peri cinta sebelum pergi.


"Woi tunggu!" pekik kedua pria itu.


~~


"Tunggu!" Leon terpelonjak dari posisinya. Napasnya terengah-engah. Ia menatapi sekitarnya yang tak asing di lihat.


Ini kamarnya? Bagaimana mungkin ia berada di kamarnya? Sementara Leon dan Gerren tadi malam ... Apakah itu hanya mimpi?


"Leon?" Suara itu membuat Leon yang berusaha mengingat apa yang terjadi, tersentak begitu mendengar suara sang Mama.


"Kamu kenapa teriak-teriak? Kamu nggak papa 'kan, sayang?" tanya Mama Leon memastikan.


Leon segera bangkit dan mendatangi pintu kamarnya. Membuka lalu menatap sang Mama. Leon menarik Mamanya masuk ke kamar. Mendudukkan Mamanya dengan paksa. Leon duduk bersimpuh dihadapan Mamanya---Hilda.


"Leon, kamu kenapa? Lebaran masih lama, kok," ucap Hilda.


"Leon kenapa tadi malem, Ma? Bukannya Leon lagi jalan sama Gerren, ya?" tanya Leon. Hilda menatap putranya serius. Lalu menempelkan tangannya ke dahi putranya.


"Leon kecelakaan?"


"Kamu nggak inget? Padahal yang luka itu kaki kamu. Kok yang eror kepala kamu, ya?"


"Mama ngomong apa, sih? Kenapa Gerren bisa kecelakaan?"


"Ya, mana Mama tahu. Tapi mungkin Gerren tahu. Lagian malem itu Mama di kabari lewat handphone kamu."


"Siapa yang ngabari?" tanya Leon penuh rasa penasaran. Baginya semua ini begitu rumit. Kutukan itu terasa nyata. Dan sangat mustahil jika itu sekedar mimpi belaka.


"Yang nelepon  cewek," ucap Hilda jujur.


"Dia nggak ngasih tahu Mama, dia siapa?"


Sang Mama hanya menggeleng. "Aish. Ya udah Leon mau mandi. Mau ke rumah Gerren." Leon berjalan lunglai menuju kamar mandinya. Sementara Hilda keluar dari kamar putranya, dan menyiapkan masakan untuk sarapan.


***


Leon mulai bercermin, mengambil odol dan sikat gigi. Namun, ada keanehan, tangannya ... Di tangannya terdapat cakar kucing. Apa kutukan itu nyata? Tapi ... Leon segera melakukan semua ritual mandinya. Lalu keluar dengan kaos putih berbalut jaket berwarna biru.


Leon menuruni tangga dengan cepat. Mengambil kunci sepeda motornya, lalu ia melajukan motornya dalam  kecepatan tinggi menuju rumah Gerren.


***


Leon menghentikan motornya. Memarkirkan seadanya, lalu mulai menekan bel.


"Ren! Gerren! Gur mau ngomong sama lo! Buka, woy!" jerit Leon.


Tak ada sahutan. Leon kembali mengulang hal sama, hingga muncul seorang pria yang tak adalah Gerren, berdiri di ambang pintu.


"Mau ngomong soal kutukan?" tanya Gerren santai.

__ADS_1


Leon mengangguk layaknya anak kecil. Leon menggulung lengan jaketnya dan menunjukkan luka di tangannya. Gerren tersenyum miring. "Masuk." pinta Gerren.


"Jadi kutukan itu beneran nyata?!" kata Leon spontan.


"Luka di tangan kita nyata. Kutukannya juga nyata." Gerren meletakkan air minum di hadapan Leon.


"Tapi, semuanya kayak mimpi, Ren." Leon menyangkal dan berdiri menghampiri Gerren yang sibuk di dapur.


"Udah seminggu, kita ngejalanin kutukan ini. Masa iya lo nggak sadar? Mungkin aja mimpi itu cuma bunga tidur yang ngingetin elo sama kutukannya." Gerren berjalan melewati Leon dan membawa sepiring cemilan.


Leon mengikuti langkah Gerren dan duduk di hadapan Gerren. "Lo juga kena kutukan?"


"Heem, semua karena elo." Gerren menatap Leon nyalang. Sementara Leon hanya cengengesan tanpa dosa.


Tiba-tiba wajah Leon menjadi panik, "Jadi gue nggak bisa deketin cewek, dong?" tanya Leon panik.


Gerren merotasi bola matanya. "Kutukan ini datang karena elo yang selalu mainin hati cewek! Nggak ada pilihan lain, untuk mengakhiri semua ini. Kita harus cari cinta sejati kita." Gerren mengambil cemilan dan memakannya.


"Iya, lo bener. Tapi gimana?"


"Nanti malem, acara ulang tahun kantor Renandra. Kantor keluarga gue." Gerren mengambil sebuah undangan dan menunjukkannya kepada Leon.


"Berarti banyak cewek?"


"Jangan seneng dulu. Lo harus inget kutukan kita, lo nggak mau 'kan berubah jadi kucing di hadapan banyak orang? Lo harus jaga itu. Jangan godain cewek mana pun! Malam ini kesempatan kita." Gerren merebut undangan itu dari tangan Leon.


"Jadi gue harus jadi dingin plus cuek sama kayak elo?"


"Terserah!" ucap Gerren datar. "Sekarang, lo keluar dan siap-siap!" Gerren menuntun Leon keluar dari rumahnya.


"Lo ngusir gue?" tanya Leon tak terima. Namun, Gerren begitu saja menutup pintu rumahnya. "Gerren kampret!"


Kriing ....


Dering ponsel Gerren mengagetkannya yang sebelumnya hanyut dalam pikirannya.


"Halo, Assalamu'alaikum, Bunda?"


"Wa'alaikumussalam sayang. Ren, nanti malam kamu dateng 'kan, sayang?" ucap Astri Ibunda Gerren.


"Iya, Bun. Nanti Gerren dateng sama Leon," ucap Gerren.


"Kalian memang harus dateng, yaudah Bunda tunggu kamu, ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam, Bun."


Tut ....


'Gur harap bisa ketemu sama jodoh gue,' batin Gerren.


***


"Sayang, nanti malem kamu harus dateng ke acara keluarga Renandra."  Seorang wanita paruh baya menghampiri gadis berkacamata yang sedang fokus membaca buku.


"Bun, Adya lagi nggak enak badan." Gadis itu menutup bukunya dan memijat pelipisnya.


"Nggak usah bohong! Nggak cocok!"


"Heem tapi , Bun--"


"Adya sayang. Kamu itu--"


"Anak perempuan satu-satunya." Adya mengangkat kedua tangannya dan menunjukkan dua jarinya. Adya menghela napas kasar dan berdiri menghadap sang Bunda. "Ok, Adya bakalan dateng."


"Bunda udah siapin gaun kamu."


"Ok. Bunda, Usagi ikut, 'kan?" tanya Adya pada Bundanya.


"Kayaknya iya. Bunda juga udah bilang sama Ami, kalo kalian  bakalan pergi bareng."

__ADS_1


"Ok. Adya siap-siap," ucap Adya seraya mengecup pipi Astri.


__ADS_2