
"Jika ditanya kapan aku merasakan keanehan ini, aku juga tidak tahu."
Hening. Tidak ada suara apa pun dari dalam ruang latihan. Leon dan Usagi saling menatap dan menduga-duga sesuatu di kepala mereka.
"Kok ngga ada suara?" tanya Usagi, ia masih menatap lorong menuju ruang latihan yang sunyi, tidak ada suara teriakan Adya atau apa pun.
"Apa jangan-jangan mereka ngelakuin hal aneh di tengah gelapnya ruangan?" Leon mendramatisir kalimatnya membuat Usagi mulai berpikir aneh.
Tunggu! Apa kata Leon tadi di tengah gelap? Usagi menatap tajam Leon, pemuda yang merasa tidak bersalah itu menyipitkan matanya. "Lo matiin lampunya?" sinis Usagi.
Leon tersenyum licik dan menganggukkan kepalanya. "****!" geram Usagi. Gadis itu berlari menuju tempat pengaturan listrik dan kembali menyambungkan aliran listrik ke ruang latihan.
"Salah gue apa? Gue cuma ngelakuin apa yang bisa buat mereka makin deket." Usagi mendelik tidak senang.
"Adya takut gelap! Di dalem sana Adya pasti ketakutan banget, lo sadar nggak, sih, yang lo lakuin malah memperburuk keadaan!"
Usagi berlari menuju ruang latihan untuk membuka pintu. Melihat kelakuan gegabah Usagi, Leon berlari menyusul agar gadis itu tidak melakukan kesalahan. "Lo mau ngapain?" Leon menarik tangan Usagi mencegahnya membuka pintu.
"Gue mau buka pintunya! Rencananya dibatalkan!" Usagi menepis tangan Leon, ia memasukkan kunci dan membukakan pintu untuk Adya dan Gerren.
"Tunggu!" Leon kembali mencegah gerakan Usagi untuk membuka pintu. "Lo mau mereka bahagia, 'kan? Tunggu sebentar, aja, tunggu mereka baikan." Leon menatap manik mata Usagi, memberikan kepercayaan penuh pada gadis di hadapannya.
Ceklek....
Pintu terbuka tanpa mereka sadari, dari dalam sana Adya dan Gerren berdiri menatap kedua orang itu nyalang. "Eh, Adya sama Gerren," ucap Leon dan Usagi, keduanya cengengesan seolah tidak ada salah.
"Jadi kalian yang ngunci kita?" sungut Gerren. "Ide siapa?" Sambungnya.
"Ide dia!" ucap Leon dan Usagi bersamaan, keduanya saling menunjuk satu sama lain.
Adya mengernyitkan alisnya menatap sepasang manusia aneh di hadapannya. "Ide kalian, 'kan?" pancing Adya.
"Iya. Tapi yang matiin lampu bukan gue, beneran!" Usagi tampak gelagapan ia menaikan dua jarinya tanda ia berkata jujur.
"Btw, dalam gelap tadi, kalian nggak ngapa-ngapain, 'kan?" Leon menyipitkan matanya, seolah mencurigai kedua orang di hadapannya.
__ADS_1
Adya dan Gerren saling menatap, wajah mereka bersemu karena malu, sudah jelas sesuatu terjadi di antara mereka, Leon dan Usagi semakin curiga.
"Kalian...."
"Nggak!" Belum sempat lagi Usagi menyelesaikan kalimatnya, Gerren dan Adya sudah memotong kalimatnya itu.
"Udah gue mau pulang, aja!" Adya dengan wajah memerahnya segera pergi, ia tidak peduli lagi dengan apa pun. Yang ia rasakan hanya malu.
"Sebenarnya kenapa?" Leon yang melihat tingkah aneh Adya semakin curiga.
"Terima kasih, kalian udah bikin salah paham di antara kita ilang," ucap Gerren seraya menepuk pundak Leon.
"Iyalah namanya juga ide gue."
Usagi melotot tidak senang, giliran mendapat pujian ia mengakui rencana ini, giliran mendapat amukan Adya, pemuda ini menuduhnya, dasar licik.
Gerren terkekeh karena mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya. Gerren menghampiri Leon dan berbisik padanya. "Hati-hati, sailormoon lo marah."
Leon terbelalak mendengar peringatan Gerren, ia segera memandang Usagi yang telah menunjukkan tanduk amarahnya. '****** gue!' pekik Leon dalam hati.
"SINGA LICIK!" pekik Usagi.
***
"Jadi sebenarnya Gerren terlambat karena dia beliin lo kenang-kenangan?" Usagi yang baru saja mendengar cerita Adya saat berada dalam ruang latihan sedikit terkejut dengan kenyataan itu.
Adya mengangguk. "Gue ngerasa jahat banget sama dia, udah salah paham selama ini, ngebenci dia, dan ngejauhin dia." Adya menghela napas kasar, menenggelamkan wajahnya di balik bantal BT12 miliknya.
"Bukan salah lo sepenuhnya juga, sih. Gerren juga salah, karena dia 'kan juga ngejauhin, lo. Terus lo selama ini juga nggak ngebenci dia sepenuhnya, 'kan? Lo benci dia tapi juga cinta sama dia."
Adya tertegun mendengar ucapan Usagi. Entah terkejut atas kebijaksanaan sahabatnya atau memang mengakui kebenaran kalimat itu?
"Setelah ini malah gue bingung harus apa." Adya mengusap wajahnya gusar.
"Lo aneh, deh." Usagi meringis melihat sahabatnya ini. Tapi tidak heran ini cinta pertamanya, dan untuk pertama kali mereka masuk kedalam romantisnya cinta.
__ADS_1
"Seharusnya kalian udah bisa bahagia, cinta lo sama Gerren udah di depan mata."
"Gue nggak ada ngomong Gerren suka sama gue, gue cuma ngomong kalau kita udah maafan, itu yang bikin gue masih ragu. Ditambah lagi kutukan dia, gue masih heran kenapa tuh anak bisa dapet kutukan itu, sementara dia bukan playboy."
Benar juga, Gerren adalah pemuda yang dingin, dan selalu mengacuhkan gadis yang ingin dekat dengannya, dia bukan Leon yang suka mempermainkan hati perempuan. Ah? Tunggu! "Gerren selama ini dingin ke semua cewek, nggak peduli sama cewek mana pun, apa jangan-jangan kutukan ini dateng karena dia bikin sakit hati cewek-cewek itu?" Usagi tersentak mendengar kesimpulan Adya, benar juga apa katanya.
Kedua gadis itu saling menatap seolah memiliki pikiran yang sama.
***
"Sayang!"
Leon datang ke perpustakaan, lagi!? Usagi hanya bisa mendengus kesal, meluapkan amarahnya dalam hati dan memasang senyum palsu yang menjengkelkan.
"Bisa nggak kalau dateng jangan bikin gue jadi pusat perhatian!" bisik Usagi, ia mengeratkan giginya, bibirnya ingin sekali berteriak kencang, namun itu tidak mungkin, ia hanya bisa menahannya dengan cara ini.
"Nggak! Karena aku sayang kamu!" Lagi dan lagi Leon berteriak layaknya anak kecil dan memeluk Usagi sembarangan. Sudah cukup! Usagi tidak bisa lagi menahan emosinya. Gadis itu menarik Leon keluar dari perpustakaan, membawa pemuda itu ke tempat yang paling sepi untuk memarahinya, meluapkan semua rasa kesal dibhatinya.
"Sayang kita mau ke mana?" rengek Leon.
"Sayang-sayang bullshit, lo! Ini udah sepi nggak perlu lagi harus akting! Dan gue ingetin lo kesekian kalinya, jangan bikin onar! Jangan bertingkah kek bocah! Gue nggak suka tahu nggak!?" Usagi telah meluapkan segalanya sekarang, hatinya sedikit tenang, namun melihat ekspresi Leon membuatnya tidak bisa menahan emosinya yang siap meledak.
"Lo harusnya merasa beruntung," ujar Leon, pemuda itu tersenyum sinis ke arah Usagi, jujur Usagi sangat benci ekspresi ini.
Apa kata dia? Beruntung? What!? Nggak salah denger? Pertanyaannya apa beruntung jika kita memiliki pacar playboy? Apa beruntung memiliki pacar yang selalu menganggu? Sudah satu bulan dan rasanya Usagi tidak bisa menahannya, rasanya jika ini bertahan lebih lama lagi Usagi bisa mati muda.
"Letak keberuntungan gue apa? Gue kasih tahu sama lo! Nggak ada cewek yang mau punya cowok playboy kayak lo!"
"Gue playboy, itu dulu. Sekarang gue setia sama lo, gue yang nggak pernah tahan pacaran selama satu bulan bisa tahan sama, lo. Seharusnya lo bersyukur, lo punya pacar kayak gue."
Tolong! Siapa pun hilangkan sifat kenarsisan orang ini. Usagi sangat tidak sabar lagi.
"Kayaknya lo belom minum obat!"
"Gue nggak sakit, tapi tumben lo perhatian." Leon tersenyum penuh kemenangan tapi tampaknya ia tidak mengerti arti kalimat "belum minum obat" itu.
__ADS_1
"Lo belum minum obat, pantes aja, kumat narsisnya, kumat stressnya! Lain kali sebelum ke sekolah di MINUM!" Usagi yang telah mengeluarkan sumpah serapahnya segera pergi meninggalkan Leon.