
Gerren perlahan membuka matanya, ada yang aneh. Gerren menatap sekitar, tempat kecil yang temaram, dan kondisi Gerren saat ini sangat tidak manusiawi, tangannya terikat oleh tambang, dan sakit di kepalanya belum sepenuhnya hilang. Apa yang terjadi? Bagaimana bisa ia berakhir di tempat seperti ini? Bersama dengan Leon.
Gerren menatap Leon yang masih pingsan, kepala pemuda itu tampak mengeluarkan darah. Gerren menatap ke arah pintu yang cukup jauh jaraknya.
"Lo udah sadar?" Suara itu membuat Gerren mengalihkan pandangannya dari pintu ke sebuah jendela kecil di sebelah kiri.
"Adya?" Kaget Gerren melihat Adya yang berdiri di depan jendela. "Tolong gue! Gue diiket," ucap Gerren seraya terus meronta-ronta agar terlepas dari ikatan. Namun, Adya hanya menatapnya.
Adya tersenyum miring, lalu pergi dari tempat itu. "Adya!" pekik Gerren.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Gerren pada dirinya sendiri.
***
"Ternyata tidak salah aku bekerja sama denganmu, Adya," ucap seorang wanita dengan gaun merah yang mendatangi Adya.
"Senang bekerja sama denganmu, beruntung kamu memberi tau terlebih dahulu. Jika tidak, mungkin mereka akan mencelakai Gerren dan Leon." Adya menyunggingkan sebuah senyuman manis kepada wanita di hadapannya.
"Seharusnya kamu bisa bebaskan Gerren dan Leon," ucap wanita itu.
"Peri cinta, biarlah Gerren tau ketegangan yang sangat sensasional." Ya, orang bergaun merah itu adalah peri cinta.
"Gue lepasin mereka, deh," ucap Usagi yang baru saja datang.
"Gimana Helena sama Valeria?" tanya Peri cinta pada Usagi.
"Mereka aman di tempatnya." Usagi tersenyum licik ala mafia.
"Kalau begitu kita harus bebaskan ikatan Gerren dan Leon, Adya, tetaplah di sini untuk berjaga-jaga. Aku memilih kamu karena kamu bisa bela diri," ucap Peri Cinta sesaat sebelum pergi meninggalkan Adya.
"Baik." Adya kini sendirian, di depan pintu gudang penyimpanan kafe. Ah, Adya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika Peri cinta tidak datang menemuinya saat di sekolah, mungkin ia tidak akan bertemu dengan dua pemuda yang selalu menyulitkannya.
Prang!
Kesadaran Adya terkumpul saat mendengar suara pecahan kaca dari dalam gudang. Tidak mungkin mereka melarikan diri, tempat ini telah dilindungi oleh sihir Peri cinta. Adya tak berani beranjak, ia terus menatapi pintu gudang dengan penuh kewaspadaan.
Adya berjalan mendekati pintu gudang mengintip lewat sela pintu, dan ia dapat melihat samar-samar jika Helena dan Valeria masih terikat dan dalam segel peri yang dibuat oleh peri cinta. Segel itu yang perlahan akan menghilangkan ingatan mereka dan melemahkan kekuatan mereka.
"Huft ... Mereka masih ada di sana dengan segel itu, tapi kenapa ada suara tadi?" tanya Adya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Cruk ....
"Aah!" pekik Adya.
Sebuah pedang tertancap dalam hingga menembus tubuh Adya, setelah itu seseorang yang menghubungkan pedang itu mencabut paksa. Kaki Adya melemaskan dan terduduk di lantai seraya memegang perutnya yang serasa terbakar dan perih.
"Tampaknya peri bodoh itu melupakan jika Valeria dan Helena masih punya aku." Suara penuh dendam itu berbisik tetap di telinga Adya. Adya tak tahu siapa dan dia juga tak ingin tahu, karena ia tidak sanggup lagi menggerakkan segala tubuhnya.
***
"Kalian sudah sadar?" ucap Peri cinta saat membuka pintu ruang peralatan yang berada dekat kafe.
"Peri cinta? Kenapa kami diikat?" tanya Gerren.
"Karena jika kalian tidak diikat, kalian hanya akan merusak rencana kami," ucap Peri cinta, seraya mengedipkan mata ke arah Usagi. Keduanya berjalan mendekat dan membuka ikatan tangan Leon dan Gerren.
"Kepala gue sakit banget," keluh Leon seraya memegangi kepalanya. Peri cinta menatap tajam ke arah Usagi yang tersenyum canggung.
"Ya maaf, kalo terlalu kuat," ucap Usagi seraya menyengir kuda.
"Jadi elo yang mukul pala gue?!" tanya Leon.
"Sebenarnya ini kenapa, sih?" tanya Gerren.
"Jadi gini ... Sebenarnya Valeria dan Helena adalah musuh dunia peri, mereka awalnya adalah peri yang paling hebat, namun, mereka berubah karena ambisi yang membawa mereka ke jalan yang tidak benar. Selain itu mereka berubah juga karena black shadow, yang merupakan tuan mereka. Selama ini Helena menyamar menjadi Adya, dan menipu kalian. Emmm langsung ke inti, sebenarnya mereka melakukan semua ini karena ingin mengambil inti dari kalian berdua dan menggunakan itu untuk mengendalikan dunia manusia dan peri."
Akhirnya kedua korban itu paham tentang perubahan Adya, dan keanehan selama ini. Jadi yang menyamar bukan hantu bunian tapi Helena, si peri jahat.
"Lebih baik kita kembali, Adya sendirian menjaga gudang. Gue khawatir," ujar Usagi.
Semua orang meninggalkan gudang penyimpanan itu dan berjalan menuju gudang lainnya untuk menjumpai Adya.
***
"Adya!" teriak semua orang begitu melihat Adya yang tergeletak meringkuk dengan darah yang menggenang di sekitar Adya. Anehnya darah yang keluar berwarna hitam.
Usagi berlari dan memangku kepala Adya. Barulah terlihat luka dalam yang menghitam.
"Apa yang terjadi?" tanya Gerren panik. Gerren memegang tangan pucat Adya.
__ADS_1
"Ini ...."
Peri cinta tampak pucat pasi tak dapat berkata-kata lagi saat melihat luka Adya. "Ada apa? Peri cinta kenapa lukanya berwarna hitam?" tanya Usagi dengan wajah paniknya.
"Ini racun mematikan dunia peri," ucap peri cinta dengan suara yang gemetar ketakutan. Tampak jelas jika ia sangat ketakutan dengan hanya melihat luka itu.
"Apa ada obatnya?" tanya Leon yang tak kalah panik.
"Tidak. Dan racun ini menyebar sangat cepat. Tidak ada yang pernah bisa selamat," ucap peri cinta.
"APAA?!" teriak Usagi, Gerren, dan Leon.
"Dia bisa selamat, jika peri cinta kalian menyerahkan inti perinya." Suara penuh dendam itu kembali teriang dan menunjukkan sosok pria tinggi dengan aura hitam yang mengitarinya.
"Kalian lupa jika Helena dan Valeria masih punya aku. Walau ratu perimu itu menyegel kekuatanku tapi dengan pedang ini saja sudah cukup untuk menghancurkan dunia." Pria itu mengangkat pedang besar yang sangat mengerikan.
"Bersiaplah untuk mati!" Pria itu berlari dan hendak menebaskan pedang besar itu ke arah Gerren, Leon, Usagi, dan peri cinta.
Tapi kekuatan tebasan itu terhempas dan tidak mengenai keempatnya. Tampak dengan jelas seorang peria bertubuh tinggi dengan jubah putih berdiri di hadapan mereka.
"Yo, kita bertemu lagi, aku tidak menyangka ternyata dua peru bodoh itu kembali membangkitkan tuannya yang lemah!" ucap pria berjubah putih itu.
"Kak Seno?!" pekik Usagi yang kaget dengan kemunculan Seno.
"Kau tampaknya lupa jika peri terhebat dunia peri telah mempercayakan kekuatannya kepada manusia biasa ini!" ujar Seno lagi seraya menghempaskan pedang perak dengan corak emas itu.
"Aaaa!" Black shadow terjatuh dan beberapa bagian tubuhnya terkoyak hingga menunjukkan tulang putih dengan darah hitam yang busuk.
"Kau telah menyakiti adikku! Dan tidak ada ampun untuk itu." Lagi, Seno kembali menebaskan pedang itu. Hanya sebuah angin dan cahaya, namun cukup kuat untuk mengalahkan dan melumpuhkan sosok black shadow.
Kilatan marah terlihat jelas di mata Seno. Nafasnya memburu penuh dengan emosi yang menggebu-gebu.
"Aku tidak akan memaafkanmu lagi!!" Dengan kekuatan anti gravitasi Seno melayang dan menghunuskan pedangnya ke tubuh black shadow hingga menembus tubuhnya yang sudah rapuh karena serangan Seno.
"Matilah kau!" geram Seno. Seperti jet yang melaju cepat, Seno dengan lincah menancapkan pedangnya ke tubuh Black shadow.
"Ahk!" pekik Black shadow seraya memegangi jantungnya yang selama ini menjadi kunci kehidupannya.
"Tidak ada yang kekal di dunia ini, apalagi monster sepertimu!" ucap Seno tepat di telinga Black shadow.
__ADS_1
Lalu tubuh gelap Black shadow mengeluarkan cahaya terang melalui Tanyalah pedang yang jatuh ke jantungnya. cahaya dari setiap luka di tubuhnya membuat kekuatan kegelapannya melemah. Ia perlahan lenyap menjadi abu. Tapi, mungkin tidak akan semudah itu.