Kutukan Kucing Putih

Kutukan Kucing Putih
Kutukan Kucing Putih(Part 8)


__ADS_3

"Yeay, gue menang!" sorak Leon. Pemuda itu tak habis-habisnya berteriak gembira karena kemenangannya.


"Biasa aja, kalee!" kesal Usagi.


"Sekarang lo harus nurutin kemauan gue," ujar Leon dengan penuh semangat.


"Ogah! Lo curang!" ketus Usagi.


"Curang? Gue jujur, lo aja yang nggak mau nerima kekalahan."


"Udah-udah! Jangan berantem! Kalo kakak-kakak berantem ujungnya putus, mau?" ucap Rio.


"Mau!" teriak Usagi.


"Nggak!" teriak Leon.


"Mana yang bener?" tanya Rio kesal.


"Gue!" ucap Usagi dan Leon bersamaan lagi.


"Tau deh! Kayak anak-anak!" Rio berjalan meninggalkan Leon dan Usagi yang terus bertengkar.


"Sebenarnya yang bocah kita apa adek lo?" tanya Usagi melihat kepergian Rio dengan wajah kikuk.


***


Gerren berjalan mendekati Adya yang sedang memilih buku. "Ay, gue mau ngomong," ucap Gerren saat telah sampai di sisi kanan Adya.


"Heem ngomong apa?" tanya Adya dengan fokus yang masih tertuju pada buku yang ada di rak. Adya mengacuhkan keberadaan Gerren dengan terus memilih buku yang ada.


"Gue mau ngomong serius!" Kesal Gerren. Ia mengambil buku itu dari tangan Adya. Adya mendecak kesal, karena Gerren mengambil bukunya.


"Mau ngomong apa, sih?!" kesal Adya. Gadis itu mengambil kembali buku yang ada di tangan Gerren.


"Gue ... Gue mau ... Minta maaf," ucap Gerren terbata-bata.


"Buat apa?"


"Kesalahan gue, kesalahan sebelas tahun yang lalu," ucap Gerren.


Adya dapat merasakan detak jantungnya yang memompa lebih cepat. Apa yang terjadi. "Kejadian apa?" ucap Adya datar.


"Lo nggak usah sok lupa. Gue tau lo inget, gue juga tau ini alasan lo benci dan pura-pura lupa sama gue. Iya, kan?"


"Nggak kok."


"Gue butuh lo. Ay, lo sahabat gue. Maaf lo mungkin akan mengurangi kutukan gue, mungkin parahnya nggak akan kayak sekarang, kutukan gue ini karena lo masih benci sama gue. Plis maafin gue dan kita jalani lagi persahabatan kita," ucap Gerren.


"Jadi lo nyalahin gue atas kutukan lo?" kesal Adya.


"Engga, bukan gitu maksud gue, Ay." Gerren mulai frustasi. Ia bukan ahlinya untuk hal ini.


"Plis, kita sahabatan lagi," ujar Gerren, pemuda itu menjulurkan jari kelingkingnya berharap akan di balas oleh Adya.


"Apaan, sih! Kayak anak kecil!" kesal Adya.


"Maafin gue."


"Iya, gue maafin, gue juga minta maaf udah dendam sama, lo. Jujur gue nggak bisa marah terlalu lama," ucap Adya.


"Ok, makasih. Sekarang Adya gue udah balik," ujar Gerren seraya mengelus kepala Adya.


"Mau gue bantu buat nyari jodoh?"

__ADS_1


"Boleh juga, tuh. Bantu gue, ya," ujar Gerren dengan cengiran.


~~


"Itu dia, manusia setengah kucing yang dikutuk oleh peri cinta." Dari kejauhan seorang wanita dengan pakaian serba hitam mengawasi Gerren dan Adya.


"Satu lagi ada di sana!" Wanita dengan pakaian hitam lain menunjuk ke arah Leon.


"Kita harus mendapatkan mereka. Agar nantinya kita bisa menyerap kekuatan mereka dan menguasai dunia manusia dan dunia peri. Hahahahaha." Wanita yang menguntit Gerren yang tampak bersembunyi di balik toko emas tertawa jahat.


"Eh, mbak. Kenapa kentawa-ketawa sendiri?" tegur pengunjung mall. Pengunjung mall menatap wanita itu dari ujung ke ujung. "Ada karnaval ya, mbak?" kekehnya.


"Sakit kali mbaknya," sahut pengunjung lain.


"Pasien rumah sakit jiwa kayaknya."


"Cari mati kalian ini, pergi!" Kesal wanita itu. Mendengar gertakan itu semua pengunjung pun menjauhi Wanita berbaju hitam itu.


***


Ruang latihan taekwondo telah dipadati oleh anggota eskul taekwondo SMA Arce. Semua orang berbaris dengan pakaian taekwondo yang rapi.


"Gerren." Seorang pria setengah baya menghampiri Gerren yang masih memakai sabuk.


"Ada apa guru?"


"Hari ini aku ingin kamu memperkenalkan anggota baru kita."


"Anggota baru?" ucap Gerren membeo.


"Ayo masuk," perintah pria itu.


"Adya?" tanya Gerren.


***


Seperti yang di perintahkan Gerren memperkenalkan Adya kepada semua anggota. "Adya," ucap Guru taekwondo pak Andi.


"Ya."


"Kami memiliki tradisi, sebagai hari pertama. Kamu akan menunjukkan kebolehan dengan melawan salah satu dari anggota taekwondo." Pak Andi merentangkan tangannya menunjuk ke seluruh anggota.


Tatapan tajam Adya langsung menuju ke arah Gerren. "Saya akan melawan Gerren ... Ups maaf, maksud saya Senior Gerren." Adya menunjuk ke arah Gerren. Membuat semua orang kaget bukan kepalang dengan keputusan Adya.


"Kamu yakin?" tanya Pak Andi.


"Yakin!" Adya mempererat sabunnya dan berjalan menuju arena.


'Gue ngelawan Adya? Yang bener aja!' batin Gerren.


"Gerren!" tegur Pak Andi.


Gerren berjalan menuju arena, menghadap ke Adya yang sudah siap. "Adya, sebenernya kenapa?" tanya Gerren sebelum memulai pertandingan.


"Gue cuma mau ngelawan, lo!" tegas Adya.


"Lo yakin? Gue----"


"Lo yang nggak yakin! Bukan gue! Lawan gue, serang, gue mau lawan yang sepadan!"


"Lo masih baru." Entah apa yang Adya inginkan, tapi kenapa tempramennya berubah dalam semalam? Kemarin Adya sangat lembut, kenapa sekarang Adya seolah kembali membencinya?


"Hyaa!" Adya menendang Gerren hingga membuatnya terjatuh. "Inget! Gue mau lawan yang sepadan! Fokus!" ucap Adya.

__ADS_1


Gerren bangkit kembali, ia meringis menahan sakit karena tendangan Adya. "Gue nggak akan ngelawan sahabat gue!" tegas Gerren.


"Jangan banyak omong! Lawan gue!" Adya kembali memberi serangan, namun Gerren hanya mengelak.


Begitu terus hinggap babak demi babak terlewati dan permainan terhenti dengan nilai seri. Adya mengecam kesal, gadis itu kembali menuju barisannya dengan wajah masam.


Sementara Gerren, pemuda itu masih heran dengan apa yang terjadi. "Untuk latihan hari ini kita akhiri, karena waktu telah menunjukan pukul 17. 30," ucap Pak Andi.


Semua orang pergi kecuali Gerren, pemuda itu masih berpikir tentang kebingungannya. "Gerren, saya ingin bicara sama kamu," ucap Pak Andi. Gerren kaget karena mengetahui Pak Andi masih ada di tempatnya.


Gerren berjalan mendekati Pak Andi yang masih duduk di tempatnya. "Jangan lepaskan Adya."


"Maksud bapak apa?" Gerren mengerutkan keningnya heran.


"Dia murid emas. Di Jepang dia adalah murid di perguruan taekwondo terkenal. Adya telah mencapai sabuk hitam. Kalian setara, namun tradisi membuat Adya mengulang dari awal tingkatan sabuk. Namun, ilmu bela dirinya sebanding denganmu. Adya telah mendapatkan 40 medaliemas, 20 medali perak, dan 15 medali perunggu, prestasi ini dia dapatkan dalam kurun waktu 5 tahun," jelas Pak Andi.


Gerren terbelalak kaget mendengar ucapan gurunya itu. Ia benar-benar tak menyangka akan prestasi luar biasa dari Adya.


***


Pagi yang cerah, seperti biasa Adya ke sekolah bersama dengan Usagi. Bercanda tawa sepanjang jalan.


"Adya!" pekik Gerren. Bukannya merespon Adya malah mengacuhkan dan terus berjalan.


"Gerren manggil elo!" bisikan Usagi.


"Nggak usah peduliin dia," ketua Adya.


"Ay." Gerren datang dan menarik tangan Adya. Dengan kesal Adya menepis tangan Gerren. "Lo kenapa, sih?" tanya Gerren.


"Apanya?" Bukannya menjawab Adya malah memberi pertanyaan kembali.


"Waktu itu elo udah maafin gue, kenapa kemaren lo dendam banget sama gue. Kenapa sekarang lo ketus gini?"


"Maafin? Lo salah apa?" Adya tersenyum miring mendengar pernyataan Gerren.


"Tentang janji gue. Janji sebelas tahun yang lalu."


"Sebelas tahun yang lalu? Lo kenal gue?" tanya Adya. Setelahnya Adya tersenyum miring. "Gue aja nggak kenal siapa elo!" ketus Adya.


"Lo kenapa, sih?" tanya Gerren tak paham dengan situasi yang ia hadapi.


"Elo yang kenapa!" Adya segera meninggalkan Gerren dengan langkah cepat.


"Sagi, lo tau Adya kenapa?" tanya Gerren.


"Gue nggak tau apa-apa, sorry. Gue nyusul dia dulu," ucap Usagi.


"Sebenarnya kenapa?" tanya Gerren pada dirinya sendiri.




Dari kejauhan, wanita bergaun hitam memantau dengan senyuman licik yang menghiasi wajah jahatnya. "Rencanaku berhasil, tuan," ucap wanita itu.



"Bagus sekali, Valeria. Secepatnya, kita akan menguasai dunia." Suara itu muncul begitu saja, tanpa wujud.



Setelahnya wanita bergaun hitam pergi dari SMA Arce.

__ADS_1


__ADS_2