
Setelah sekian lama kita menjadi orang asing. Dan akhirnya aku bisa menemukan kamu lagi.
_Gerren_
Setelah cukup lama menunggu akhirnya Gerren datang dengan sebotol minyak urut. Adya menaikan alisnya heran melihat apa yang Gerren bawa.
"Buat apa itu?" tanya Adya, menatap heran netra Gerren.
Gerren tak menjawab, ia terus berjalan dan berjongkok di hadapan Gerren, Gerren menarik kaki Adya perlahan dan meletakkan kaki Adya di atas pahanya. Entah kenapa, tapi perasaan aneh menjalar ke seluruh tubuh Adya, pipinya memanas karena sikap manis Gerren. Dengan cepat Adya ingin menarik kakinya, namun ....
"Awww." Adya memegangi kakinya yang terasa sakit.
"Kaki lo terkilir," ucap Gerren. Perlahan Gerren membuka sepatu sekolah Adya. "Eh?" gumam Adya.
Plak!
Gerren memukul kaki Adya yang terkilir, membuat gadis itu mengaduh. "Diem aja!" Kesal Gerren.
Adya menurut dan hanya diam, membiarkan Gerren memijat kakinya. "Tahan, ini agak sakit," ucap Gerren.
Krak!
"Aaaaa!" Adya berteriak meluapkan rasa sakitnya membuat semua orang yang ada di toko buku menatap heran. "Maaf, semua. Pacar saya lagi latihan vokal," ucap Gerren dengan cengiran kuda.
"Latihan vokal jangan di sini!" ucap pengunjung lain.
"Iya maaf, mbak," kata Gerren.
Gerren menatap Adya nyalang. "Pake sepatu lo!" ketus Gerren.
"Iya."
Adya segera memakai sepatunya kembali. "Kalo mau bilang makasih, nggak perlu," kata Gerren.
"Eh? Sok lo!"
Gerren segera pergi meninggalkan Adya. "Eh, Ren!" pekik Adya. Langkah Gerren terhenti. Gerren berbalik menatap Adya. Dengan wajah datar Adya mendatangi Gerren yang mematung. "Btw lo cocok jadi tukang urut," canda Adya.
"Garing!"
"Setidaknya gue usaha." Adya benar-benar merasa kesal. Dan meninggalkan Gerren.
"bukannya minta maaf, Kau semakin membuat dia kesal." Suara itu membuat Gerren menatap ke samping kanannya yang sudah berdiri sosok wanita asing dengan pakaian hitam, topi, dan kacamata hitam.
Gerren mengerutkan keningnya. "Siapa, lo?" tanya Gerren.
Wanita itu membuka kacamatanya. Dan tersenyum miring ke arah Gerren. Bukannya mengenali Gerren semakin heran. "Siapa, sih?"
"Peri cinta," ucap wanita itu.
"Peri cinta?" Gerren memperhatikan wajah wanita itu dengan benar. Tapi seharusnya wajah peri cinta sangat mirip dengan Adya. Kenapa sekarang berbeda?
"Ini muka asliku!" kesal peri cinta.
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Jadi selama ini aku berubah wujud menyerupai Adya, agar kau mengenali, dan mengetahui kesalahanmu! Ternyata sama aja, kau baru tau kesalahan itu saat aku cerita, dasar lemah!" Kesal peri cinta.
"Ah, iya. Aku lupa minta maaf," ucap Gerren seraya menepuk jidatnya. Gerren segera berlari mengejar Adya yang sudah jauh.
"Jadi, dari tadi baru ngerti?" Peri cinta menggeleng pasrah melihat Gerren yang kurang peka akan keadaan. Peri cinta kembali memakai kacamatanya dan pergi dari toko buku itu.
***
"Kak Leon ayo main," rengek Rio seraya menarik tangan Leon. Pandangan Rio segera tertuju pada Usagi yang berdiri di samping Leon.
"Kak, apa kakak rambut panjang ini pacar baru kak Leon?" tanya Rio.
"Eh?" ucap Usagi dan Leon bersamaan.
"Ayo kakak cantik main sama aku." Rio menarik tangan Usagi dan membawanya ke arena bermain. "Kakak, bisa main ini?" tanya Rio menunjuk permainan vidio.
"Kakak jagonya soal ini," ucap Usagi dengan bangganya.
"Oh, ya? Kalo kayak gitu kita tanding." Leon tiba-tiba saja datang ke sisi lain dan mengejutkan Usagi.
"Wah pasti seru. Kakak cantik jangan mau kalah sama Kak Leon, ya," ucap Rio memberi semangat.
"Yang kalah, harus nurutin apa yang diinginkan si pemenang," bisik Leon. Usagi segera menjauhkan wajahnya dari wajah Leon. Dan menatap Leon penuh rasa kesal. "Gue bakalan menang!" tegas Usagi.
"Kita liat aja nanti," kata Leon dengan senyuman miring di wajahnya.
"Jangan curang!" ucap Usagi seraya menatap awas ke arah Leon.
"Yeay, gue menang!" sorak Leon. Pemuda itu tak habis-habisnya berteriak gembira karena kemenangannya.
"Biasa aja, kalee!" kesal Usagi.
"Sekarang lo harus nurutin kemauan gue," ujar Leon dengan penuh semangat.
"Ogah! Lo curang!" ketus Usagi.
"Curang? Gue jujur, lo aja yang nggak mau nerima kekalahan."
"Udah-udah! Jangan berantem! Kalo kakak-kakak berantem ujungnya putus, mau?" ucap Rio.
"Mau!" teriak Usagi.
"Nggak!" teriak Leon.
"Mana yang bener?" tanya Rio kesal.
"Gue!" ucap Usagi dan Leon bersamaan lagi.
"Tau deh! Kayak anak-anak!" Rio berjalan meninggalkan Leon dan Usagi yang terus bertengkar.
"Sebenarnya yang bocah kita apa adek lo?" tanya Usagi melihat kepergian Rio dengan wajah kikuk.
__ADS_1
***
Gerren berjalan mendekati Adya yang sedang memilih buku. "Ay, gue mau ngomong," ucap Gerren saat telah sampai di sisi kanan Adya.
"Heem ngomong apa?" tanya Adya dengan fokus yang masih tertuju pada buku yang ada di rak. Adya mengacuhkan keberadaan Gerren dengan terus memilih buku yang ada.
"Gue mau ngomong serius!" Kesal Gerren. Ia mengambil buku itu dari tangan Adya. Adya mendecak kesal, karena Gerren mengambil bukunya.
"Mau ngomong apa, sih?!" kesal Adya. Gadis itu mengambil kembali buku yang ada di tangan Gerren.
"Gue ... Gue mau ... Minta maaf," ucap Gerren terbata-bata.
"Buat apa?"
"Kesalahan gue, kesalahan sebelas tahun yang lalu," ucap Gerren.
Adya dapat merasakan detak jantungnya yang memompa lebih cepat. Apa yang terjadi. "Kejadian apa?" ucap Adya datar.
"Lo nggak usah sok lupa. Gue tau lo inget, gue juga tau ini alasan lo benci dan pura-pura lupa sama gue. Iya, kan?"
"Nggak kok."
"Gue butuh lo. Ay, lo sahabat gue. Maaf lo mungkin akan mengurangi kutukan gue, mungkin parahnya nggak akan kayak sekarang, kutukan gue ini karena lo masih benci sama gue. Plis maafin gue dan kita jalani lagi persahabatan kita," ucap Gerren.
"Jadi lo nyalahin gue atas kutukan lo?" kesal Adya.
"Engga, bukan gitu maksud gue, Ay." Gerren mulai frustasi. Ia bukan ahlinya untuk hal ini.
"Plis, kita sahabatan lagi," ujar Gerren, pemuda itu menjulurkan jari kelingkingnya berharap akan di balas oleh Adya.
"Apaan, sih! Kayak anak kecil!" kesal Adya.
"Maafin gue."
"Iya, gue maafin, gue juga minta maaf udah dendam sama, lo. Jujur gue nggak bisa marah terlalu lama," ucap Adya.
"Ok, makasih. Sekarang Adya gue udah balik," ujar Gerren seraya mengelus kepala Adya.
"Mau gue bantu buat nyari jodoh?"
"Boleh juga, tuh. Bantu gue, ya," ujar Gerren dengan cengiran.
~~
"Itu dia, manusia setengah kucing yang dikutuk oleh peri cinta." Dari kejauhan seorang wanita dengan pakaian serba hitam mengawasi Gerren dan Adya.
"Satu lagi ada di sana!" Wanita dengan pakaian hitam lain menunjuk ke arah Leon.
"Kita harus mendapatkan mereka. Agar nantinya kita bisa menyerap kekuatan mereka dan menguasai dunia manusia dan dunia peri. Hahahahaha." Wanita yang menguntit Gerren yang tampak bersembunyi di balik toko emas tertawa jahat.
"Eh, mbak. Kenapa kentawa-ketawa sendiri?" tegur pengunjung mall. Pengunjung mall menatap wanita itu dari ujung ke ujung. "Ada karnaval ya, mbak?" kekehnya.
"Sakit kali mbaknya," sahut pengunjung lain.
__ADS_1
"Pasien rumah sakit jiwa kayaknya."
"Cari mati kalian ini, pergi!" Kesal wanita itu. Mendengar gertakan itu semua pengunjung pun menjauhi Wanita berbaju hitam itu.