Kutukan Kucing Putih

Kutukan Kucing Putih
Kutukan kucing putih (part 14)


__ADS_3

Suasana sekolah tampak sangat ramai, koridor dipadati oleh para siswa yang saling berbincang dengan senangnya. Hah, Adya sangat merindukan suasana seperti ini, sudah hampir dua minggu Adya terbaring di rumah sakit dengan aroma obat-obatan.


"Adya, lo udah sehat? Gimana lukanya?" Seorang siswa mendatangi Adya dengan senyuman lembutnya dan tatapan yang tulus.


"Udah lumayan, walau masih agak sakit." Adya membalas senyuman siswa bertubuh tegap itu.


"Ini, gue bawa coklat pasti lo suka," ujar siswa itu seraya memberikan sebatang coklat kepada Adya.


"Wah, Rean, makasih banget, ya. Udah lama gue nggak makan ini," ucap Adya dengan perasaan gembira yang tidak bisa disembunyikan.


"Ehem." Suara dehem itu mengalihkan pandangan Rean dan Adya. Ternyata itu adalah Gerren.


"Adya, lo ini baru aja pulang dari rumah sakit, keadaan lo belum stabil. Nggak bisa makan yang kayak gini." Gerren mengambil coklat itu dari tangan Adya.


"Iih, Gerren kok gitu, sih. Gue juga sehat!" Kesal Adya.


"Sebenarnya nggak papa, karena itu coklat memang khusus untuk Adya, udah aman kok," jelas Rean, sedikit ada gambaran kesal dari wajahnya. Bagaimana tidak Gerren  selalu saja menjadi orang ketiga saat ia mendekati Adya.


"Nah, berarti boleh, 'kan." Adya mengambil coklat itu dari tangannya.


"Nggak boleh! Nggak aman!" Gerren mengambil coklat itu dari tangan Adya lagi. Lalu ia mengembalikannya kepada Rean. "Nih, gue balikin, Adya kita pergi," ujar Gerren yang menarik tangan Adya pergi.


Adya meronta, ia berusaha untuk tetap berada di sana, "coklatnya," kata Adya dengan nada memelas.


"Gue beliin nanti," ujar Gerren yang terus menarik Adya pergi dari hadapan Rean.


Rean terus menatapi kepergian Adya yang semakin jauh, hingga sosok Adya hilang ditelan jarak.


"Gerren, lo kok gitu, sih! Kasian si Rean," keluh Adya.


"Selama ini dia itu beda sikap sama lo. Dia ngasih lo coklat, hadiah, karena ada maksud, dan gue cuma mau ngelindungin elo." Gerren menatap Adya serius. Pandangan ini sama saat dulu Gerren menjanjikan "akan selalu ada untuk melindungi Adya".


"Gue  udah gede, udah mau tujuh belas tahun, gue juga bisa lindungi diri. Gue bukan anak perempuan cengeng kayak dulu!" Sinis Adya.


"Iya, gue tahu tapi___"


"Eh, kak Gerren ... Kak ini ada coklat buat kakak." Seorang siswi mendatangi Gerren dan menyerahkan sebuah coklat. Gerren sangat kaget, sebelum ini tidak pernah ada yang memberikannya coklat atau apapun itu.


Setelah itu beberapa murid juga menghampiri Gerren dan memberikan coklat juga hadiah kepada Gerren. Mengerumuni Gerren seperti lalat yang hinggap di sebuah makanan. Gerren sibuk dengan para siswi itu hingga membuat Adya terabaikan.


Adya benar-benar sangat kesal, bagaimana Gerren bisa berbuat seperti ini? Saat Rean mendekatinya dan memberikan coklat Gerren memarahinya. Tapi sekarang? Dia sendiri juga apa bedanya?! Adya kesal, sangat kesal. Tapi kesal yang ini beda dirasa.


Adya berjalan meninggalkan Gerren yang sibuk dengan situasi itu. 'Gawat! Gue nggak bisa liat Adya. Pasti dia marah,' batin Gerren. Gerren merasakan sesuatu pada dirinya. Rasa ini sepertinya ... Oh gawat! Ia akan berubah menjadi kucing. Bagaimana ini? Gerren berusaha lolos dari kerumunan itu dengan cara lembut. Namun, ia tidak berhasil, Gerren menghela nafas. 'Tampaknya harus menggunakan cara kedua' pikir Gerren.


Gerren menatap sinis ke arah semua siswi itu. Tidak membentak atau berkata kasar, namun tatapan itu memang sangat menyayat hati, tatapan tajam yang penuh kekesalan. Semua gadis itu menyingkir memberi jalan kepada Gerren.

__ADS_1


Gerren segera berlari ke toilet dengan sangat cepat. Ia takut, sangat takut jika harus berubah di hadapan semua orang, apa tanggapan mereka? Gerren tak habis pikir bagaimana tiba-tiba ada banyak siswi yang mendekatinya? Sebelum ini tidak pernah ada yang berani.


Brak!


Gerren segera menutup kencang pintu toilet, sebelum akhirnya ia berubah menjadi seekor kucing.


"Meong." Gerren yang kini bertubuh kucing, sedang sibuk mengeluarkan diri dari seragamnya yang mengurung tubuh kecilnya. "Ehh! Gimana sih keluar dari sini! Pengap!" Kesal Gerren yang tak kunjung keluar.


Setelah sibuk cukup lama mencari jalan akhirnya ia berhasil keluar. Bel sebentar lagi akan berbunyi, sementara tubuhnya belum berubah,setelah diingat kembali guru yang masuk adalah guru fisika yang super galak. Sial! Kali ini tampaknya ia harus mengalami masalah besar.


***


"Sailormoon!" pekik Leon dari kejauhan, tangannya melambai menyapa Usagi.


"Apa?!" ketus Usagi.


"Eh, lo sekarang kok jadi gampang marah, sih!? Ntar cepet keriput!"


"Bulshit!" Usagi segera pergi dari hadapan Leon meninggalkan Leon yang sibuk menceramahi dibelakang. Entah apa yang terjadi, tapi image Leon sebagai "playboy keren" berubah drastis begitu ia bertemu dengan Usagi.


"Woi! Lo denger nggak?!" kesal Leon yang sedari tadi terus diabaikan.


"Apaan sih Singa playboy?! Gue mau ke kelas," kata Usagi. Usagi akhirnya menghentikan langkahnya dan menatap Leon.


"Jadi lo nggak denger gue ngomong apa?" tanya Leon seraya menghela nafas.


"Adek gue pengen ketemu sama elo. Jadi pulang sekolah nanti bisa nggak lo ikut gue, nemenin adek gue main," papar Leon.


"Adek lo?"


"Iya."


"Mau ketemu gue?"


"Iya."


"Modus! Bilang aja lo mau ngajak gue jalan-jalan, susah amat," ketus Usagi.


"Ini beneran permintaan adek gue," jelas Leon.


"Udah deh, nggak usah ngelak. Gue udah tau eko gimana, satu bulan udah cukup untuk gue kenal cowok kayak elo." Usagi tersenyum miring seolah meremehkan Leon.


"Huuft, serah lo. Intinya mau apa nggak?"


"Demi adek lo. Gue terima." Usagi kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas.

__ADS_1


"Meong."


Leon terkejut dengan suara kucing itu. Bagaimana mungkin disekolah terbaik ada kucing berkeliaran. Leon menatap sekitar dan menemukan seekor kucing putih dengan tanda titik hitam di dahinya. "Oh, ternyata Gerren," ujar Leon santai. Tampaknya ia belum menyadari sesuatu.


"Apa?! Gerren?" Kaget Leon, sekarang baru dia sadar. Gerren yang menjelma sebagai kucing ingin sekali mencakar mulut Leon yang asal bicara. Beruntung tidak ada orang di koridor dekat toilet.


Leon mendekati Gerren dan menggendongnya. "Lo kok bisa berubah?"


"Gue bikin Adya marah."


Leon menatap sekitar, memastikan keadaan aman, tapi tidak baik jika ia berbicara dengan Gerren di koridor. Bagaimana jika ada yang melihat dan menyangka ia gila? Oh, tidak. Leon memasuki toilet dan segera menguncinya.


"Baju lo di mana?"


"Di toilet nomor empat." Leon segera pergi mengambil seragam Gerren.


Setelah merapikan semuanya, Leon kembali kepada Gerren yang duduk dilantai toilet.


"Kenapa bisa gini? Bukannya Adya udah maafin elo? Bukannya kalian udah jadi sahabat kayak dulu?"


"Adya marah karena ...." Gerren menjelaskan semuanya kejadian kepada Leon. Leon manggut-manggut paham dengan cerita Gerren.


"Sekarang gimana?" tanya Gerren.


"Gue juga nggak tahu. Lima menit lagi bel, dan lo masih butuh banyak waktu untuk menstabilkan keadaan. Gimana?"


"Gue bingung. Ahhhh! Kapan gue bisa lepas dari kutukan?!" kesal Gerren.


"Ssst! Diem, ntar ketauan."


Cukup lama Leon dan Gerren diam di toilet hingga Gerren kembali seperti semula.


***


"Baiklah kita mulai pelajaran hari ini." Seorang pria dengan tubuh tegap mulai membuka buku paket lembar demi lembar.


"Eits! Dimana Gerren sama Leon?!" tanya pria itu.


"Pak Hen, sebagai ketua kelas, saya minta maaf. Tapi saya juga sudah mencari dan tidak menemukan mereka," jelas Radit ketua kelas.


"Kalau mereka kembali suruh ke kantor guru. Saya mau bereskan mereka. Walau Gerren anak yang cerdas saya tetap akan memberikan pelajaran tanpa terkecuali. Ini adalah contoh bagi kalian. Jangan buat masalah dengan saya! Paham?" jelas Pak Hen kepada para muridnya.


"Paham pak." Seluruh siswa menyahuti Pak Hen.


***

__ADS_1


Leon dan Gerren kembali ke kelas, perubahan Gerren semakin melambat, sekarang sudah memasuki jam istirahat dan pasti Pak Hen tidak akan  melepaskan mereka begitu saja.


"Ren, Leon, kalian di suruh Pak Hen ke kantor," ujar Radit. Nah, 'kan benar apa yang mereka kira, Pak Hen tidak akan melepaskan mereka. Perdana sosok Gerren dihukum. Tapi buat Leon sudah biasa.


__ADS_2