
"Masa lalu bersamamu, sangat ingin kulupakan. Namun, sulit rasanya melupakan kamu yang telah mengukir sejarah di dalam hati."
Akhir pekan di kota besar yang penuh dengan hiruk-pikuk keramaian kota, membuat perasaan bosan menjalar. Adya menghela napas kasar, sudah cukup lama ia menatapi rak buku yang berada di gramedia. Tapi ia tidak tertarik dengan satu pun buku di sana.
Tatapan Adya teralihkan pada seorang gadis berkacamata juga, "mbak, boleh rekomendasi novel bagus, nggak?" Adya tersenyum ramah berharap mendapatkan bantuan dari gadis ini.
Gadis itu membalas senyumnya dan berjalan mendekati Adya. "Yang ini, kak." Gadis itu menunjuk sebuah novel bersampul putih dan hijau yang mendominasi, dengan gambaran seorang gadis berhijab yang menatap danau. Itu adalah sebuah novel islami, dengan judul "Munajat Cinta".
"Makasih," ujar Adya pada gadis itu.
"Nama saya, Lira." Gadis bernama Lira itu menyodorkan tangannya yang pucat.
Adya membalas uluran tangannya. "Adya Kirani," ucapnya. Adya memang begini, ia tidak suka memakai nama "Nugraha". Ia tidak suka memamerkan kekuasaan.
"Sekali lagi makasih, ya, Lira." Adya segera berjalan pergi dari toko. Ia memasuki mobilnya menyandarkan tubuhnya. "Pak, kita pulang."
Mobil mulai berjalan menuju arah ke rumah keluarga Nugraha. Keramaian kota membuat Adya bosan. Andai saja Usagi mau diajak pergi, mungkin ia tidak akan sebosan ini.
Adya menatap ke luar jendela mobil, melihat beberapa orang pinggir jalan, ah? Adya terkesiap begitu melihat sebuah taman yang tidak asing di matanya.
"Pak berhenti!" pinta Adya. Adya segera turun dari mobil mendatangi taman kecil yang berada di pusat kota.
Adya mengelilingi pandangannya, menikmati indahnya taman itu. Sudah sebelas tahun ia tidak datang dan tempat ini masih indah saja.
"Ren! Kamun di mana?" Adya kecil berlari ke sana\-kemari mencari sosok Gerren yang bersembunyi.
Saat itu umurnya masih lima tahun, mereka hanyalah anak polos yang selalu menghabiskan waktu bermain di taman ini.
"Ren! Ih, udah, aku nyerah. Udah capek nyarinya." Adya mengeluh, gadis kecil itu menghentakkan kakinya kesal.
"Wuaaa!" Gerren tiba\-tiba saja muncul dari tumbuhan hias membuat Adya yang terduduk di rumput taman terkejut.
__ADS_1
"Ih! Nyebelin!" Adya memukul punggung Gerren terus menerus tanpa memberi ampun.
"Duh, sakit. Iya, maaf, aku tadi iseng aja." Gerren mengelus rambut Adya, membuat gadis kecil itu tersenyum bahagia.
"Heem, kamu ngumpet di mana, sih? Susah banget tahu nemuin kamu." Adya merengut tidak terima, karena ia selalu kalah dalam bermain.
"Di sana," ucap Gerren menunjuk ke arah semak.
"Hih!"
"Udah jangan kesel lagi, gimana kalau kita beli es krim?" tawaran Gerren berhasil membuat Adya tertawa bahagia dan menganggukkan kepalanya tanpa ragu.
Adya terkekeh mengingat saat-saat itu. Ia sangat polos dan manja, tapi seiring berjalannya waktu Adya juga tidak tahu, entah kapan ia sadar jika semua perasaan sayangnya ini adalah cinta.
"Ternyata lo masih inget." Suara serak itu mengagetkan Adya, menghilangkan senyuman di wajahnya. Gadis itu menoleh menatap Gerren yang berdiri di belakangnya.
"Lo ngapain, di sini?" sinis Adya. Gadis itu mendelik tidak terima karena kehadiran Gerren.
"Gue nggak sengaja lewat, dan ngeliat, lo ada di sini. Jadi gue sekalian turun." Gerren tersenyum, menunjukkan rentetan giginya. Perdana! Ini pertama kalinya Gerren versi remaja tersenyum ke arah Adya. Sejenak Adya mematung tidak percaya. Bagaimana bisa?
"Ay?" Gerren melambaikan tangannya di depan wajah Adya, mencoba menyadarkan gadis itu dari lamunannya.
"Iss, apaan, sih!" Adya menepis tangan Gerren dari hadapannya. "Jangan panggil gue, 'Ay'! Cuma orang khusus yang boleh manggil!" tegas Adya.
"Sorry, Dya."
Deg!
__ADS_1
Jantung Adya, sontak memompa sangat kencang. Panggilan ini, ini adalah panggilan yang Gerren buat untuknya.
"Lo bahkan masih inget sama nama panggilan, lo. Lo nggak bisa ngejak lagi, lo sebenarnya inget semua tentang kita di masa lalu, 'kan?" Sekali lagi. Kenapa Gerren terus bertanya!? Adya sudah tidak bisa mengelak lagi. Ia merutuki keputusannya karena telah singgah di taman ini.
"Gue nggak inget apa pun! Kenapa lo maksa gue buat inget, sih? Aneh!" Dari pada terus berdebat dengan Gerren Adya lebih memutuskan untuk pergi. Tetapi Gerren menahan langkahnya, Adya lelah bersandiwara, ia berusaha menepis tangan Gerren tapi dengan cepat pemuda itu menahan tangan Adya hingga gadis itu tidak bisa menggerakkan kedua tangannya.
"Pak Kirman!" pekik Adya. Seorang supir yang bersama Adya tadi langsung berlari terbirit-birit menuju tempat Adya.
Gerren tersenyum sinis. "Rio, Anto!" Dua orang bodyguard datang mencegah langkah pak Kirman.
Gerren mendekatkan wajahnya ke wajah Adya. "Lo mungkin bisa pura-pura lupa di depan orang lain, tapi nggak untuk gue. Terserah setelah ini lo nganggep gue gimana, tapi gue cuma mau lo sadar, dan berhenti ngebohongin perasaan, lo."
Adya mengeratkan rahangnya, ia tidak bisa lagi menahan emosi. Adya memalingkan wajahnya, ia enggan menatap mata Gerren yang penuh ambisi. Tunggu, bagaimana Adya lupa. Mungkin sekarang tangannya tertahan, tapi kakinya terbebas, Adya mengangkat kakinya, mengerahkan seluruh kekuatan pada kaki, lalu menginjak keras kaki Gerren hingga pemuda itu mengaduh kesakitan.
Kedua bodyguard yang menahan pak Kirman terlihat gelagapan dan langsung mendekati Gerren. Pak Kirman dan Adya memanfaatkan kesempatan untuk kabur sesegera mungkin.
"Haha, kita berhasil!" Sorak Adya dari dalam mobil.
Gerren yang berdiri kesakitan di taman tersenyum geli mendengar sorakan Adya, entah kenapa ia merasa Adya yang bakal dan polos telah kembali.
***
SMA Arce, seperti biasa di Pagi hari tampak ramai oleh siswa-siswi yang memasuki lingkungan sekolah.
Adya yang tengah duduk sendiri di kursi panjang dekat koridor tampak fokus membaca novel yang baru saja ia beli.
"Halo Adya." Adya tersentak mendengar suara sapaan itu. Ia mendongak menatap Raka yang tersenyum ke arahnya.
"Raka?" Adya tersenyum sumringah menatap sosok Raka. Rasanya sebuah kebahagiaan langsung ia dapatkan begitu melihatnya.
"Nih, buat, lo." Raka menyodorkan sebuah coklat ke arah Adya. Sebuah coklat dengan bentuk kelinci kecil. Adya dapat mengingat saat dulu Raka pernah berjanji akan membelikan coklat ini saat Adya kembali.
"Gue nepatin janji, 'kan?" ujarnya. Adya menerima coklat itu dan mengangguk bahagia.
"Makasih banget, ya, Ka."
Dari kejauhan Gerren memperhatikan Adya dan Raka yang saling bercanda. "Lo nggak bisa ngelak, lagi, Dya. Lo inget sama gue, aneh aja rasanya kalau lo inget sama Raka tapi lo nggak inget sama gue," ucap Gerren dari balik tembok.
"Oh, gue nggak nyangka ternyata toko yang ngejual coklat ini masih buka." Adya membuka kotak coklat itu dan mengambil satu coklat berbentuk kelinci.
"Haha, lo mau ke sana?" Adya tertegun mendengar tawaran Raka. Tapi dengan segera Adya mengangguk bahagia.
__ADS_1
"Ya udah nanti setelah pulang sekolah kita ke sana." Sekali lagi Adya mengangguk. Ia memakan coklat itu dengan lahap.
Melihat kebersamaan Raka dan Adya hati Gerren semakin memanas rasanya. Gerren ingat benar saat itu ia benar-benar merasa menyesal karena telah menolak coklat pemberian Adya. Dan karena itu juga, Adya dekat dengan Raka.