Kutukan Kucing Putih

Kutukan Kucing Putih
Kutukan kucing putih (part10)


__ADS_3

Malam yang sangat gelap, Usagi masih duduk di depan laptopnya bersama dengan Adya yang juga sibuk dengan berbagai kertas putih.


"Sekarang apa?" tanya Adya yang mulai lelah dengan semua kertas yang ada di hadapannya.


"Huftt, udah beres. Tinggal tunggu aja," ucap Usagi dengan semangat.


"Jangan lama-lama, cukup setengah jam aja. Biar keluarga kita sama keluarga mereka nggak tau," ucap Adya memperingati.


"Iya, tenang aja. Mereka ini lumayan, pasti banyak yang bakalan daftar," ucap Usagi dengan yakin.


Tapi setelah beberapa saat tetap tidak ada yang mendaftar kecuali dua nama. Valeria dan Helena.  Sudah satu jam pendaftaran di tutup dan hanya mereka yang mendaftar.


"Nggak usah seleksi, dong. Soalnya cuma dua, udah pas buat Gerren sama Leon," ucap Adya. Usagi menganggukkan kepalanya.


"Selesai juga!" ucap Usagi seraya meregangkan semua jemarinya.


"Ya udah kita tidur, capek banget!" seru Adya dengan semangat. Adya segera meloncat ke atas kasur dan menarik selimut yang lembut.


"Iya. Lega banget!" Usagi juga ikut berbaring di sisi lain tempat tidurnya.


***


"Bagus, sesuai rencana. Kita akan kencan dengan mereka dan kita akan menculik juga menghabisi Adya! Parasit utama!" ucap Valeria yang berada di sebuah ruangan yang temaram dan menyeramkan.


"Adya adalah bagian ku," ucap Helena.


"Baiklah." Valeria tersenyum miring, menunjukkan kelicikan dirinya yang tersembunyi dari balik wajah cantiknya.


***


Semua murid tampak memenuhi seluruh area sekolah, baik lapangan, koridor, kantin, taman, dan tempat lain yang nyaman untuk menghilangkan kejenuhan saat belajar.


"Usagi!" Leon dan Gerren mendatangi gadis berambut panjang yang tampak sedang sibuk di taman sekolah dengan sahabat baiknya Adya.


"Ya, kemarilah!" pekik Usagi seraya melambaikan tangannya. Entah sejak kapan mereka menjafi seakrab ini. Padahal sebelumnya mereka terus saja bertengkar jika saling bertatap.


Leon dan Gerren mendatangi dia gadis yang sibuk mengotak-ngatik laptop. "Udah ketemu belum pasangan kita?" tanya Leon begitu sampai di hadapan Usagi.


"Ketemu, cuma dua orang. Kayaknya popularitas kalian menurun," ucap Usagi dengan tawa kecil di dalamnya.


"Masa cuma dua? Nggak ada pilihan?" kaget Leon.


"Sayangnya nggak ada." Adya menyahuti ucapan Leon.

__ADS_1


"Ya udah nggak papa. Yang penting ada," ucap Gerren.


"Nanti malem selesai Isya kalian ke kafe keluarga gue, ya," ucap Usagi.


"Ok."


Keadaan kembali hening, diam-diam Gerren menatapi Adya yang masih dengan wajah kesalnya. "Usagi, kita di perpus aja nyiapin datanya," ucap Adya yang langsung menarik tangan Usagi dan membawanya pergi dari hadapan Leon dan Gerren.


"Woi! Gue masih mau cerita!" pekik Leon saat Usagi pergi dari hadapannya. Namun, kedua gadis itu hanya terus berjalan tanpa menatap kebelakang.


"Gue nggak tau sebenarnya Adya kenapa? Kenapa dia selalu kesel liat gue? Gue padahal udah minta maaf," keluh Gerren.


"Udah dimaafin?" tanya Leon, seraya menaikan sebelah alisnya.


"Udah, tapi kenapa masih cuek?"


"Lo yakin?"


"Yakin."


"Kemaren, gue sama Usagi ketemu dua sama Adya," tutur Leon.


"Yang bener, lo?"


"Serius, kemaren Adya kesel gara-gara elo. Dia pulang duluan, nah, jadi si Usagi sendirian. Kesempatan gue dong, ya. Makanya gue deketin dia, tapi malah tiba-tiba gue jadi kucing, tiba-tiba Adya ada di sekolah. Dan mau nolong gue, bahasa Adya beda, biasanya lo-gue waktu itu jadi aku-kamu. Aneh, nggak, tuh?" Leon menceritakan pengalaman anehnya kemarin, dan berhasil membuat Gerren tercengang.


"Setelahnya, Usagi ngerebut gue dari Adya. Terus bawa baju gue dan kita pergi. Tapi nggak lama, kita ketemu sama Adya yang udah pake baju rumah dan bawa mobil biru muda dia. Aneh nggak tuh? Padahal kita baru keluar dari sekolah sekitar tiga puluh menit gitu. Masa iya Adya secepat itu sampe rumah, sementara rumah dia dari sekolah itu jauh banget," jelas Leon. Gerren tampak berpikir, dan tampaknya ucapan Leon ada benarnya.


"Terus apa hubungannya sama permintaan maaf?" tanya Gerren.


"Lo kok jadi lemot gini, sih?" Kesal Leon melihat si jenius Gerren berubah jadi orang bodoh karena cinta.


"Itu berarti yang di sekolah itu bukan Adya. Kesimpulannya, ada yang nyamar jadi Adya. Dan katanya itu hantu bunian," ucap Leon seraya menunjukkan wajah horornya. Namun, Gerren hanya menatapnya datar. "Sekolah kita angker, Ren," ucap Leon lagi.


"Nggak usah ngawur! Ayo ke kelas aja." Gerren berjalan meninggalkan Leon yang tampak kesal.


***


Malam hari di kafe milik keluarga Usagi. Suasana yang sangat mewah, dan sangat romantis. Ini kafe baru, baru di buka tiga hari setelah keluarga Usagi sampai di Jakarta.


Untuk pertama kalinya Leon dan Gerren datang ke tempat ini. Kafe unik yang menjadi topik panas akhir-akhir ini.


"Kalian udah dateng?" Suara itu mengagetkan Leon dan Gerren yang sedang mengagumi kafe itu. Leon dapat melihat Usagi dengan gaun biru dongker selutut, dan rambut yang ikal, Cantik, seperti biasa. Kagum Leon.

__ADS_1


Leon mendatangi Usagi yang tampak sendirian berdiri di dekat sebuah meja khusus. "Lo nyiapin ini semua?" tanya Leon.


Usagi mengangguk senang bak anak kecil. "Gimana keren nggak? Tapi kafenya memang keren dari sononya," ucap Usagi.


Usagi menatap Gerren yang terus menatap ke kanan dan ke kiri mencari sosok Adya. "Nyariin Adya?" tanya Usagi, membuat Gerren mengalihkan pandangannya segera.


"Dia dimana?" tanya Gerren.


"Belum dateng, katanya nanti bareng sama dua cewek yang bakalan kencan sama kalian," ucap Usagi.


"Kalian bosan duduk," tawar Usagi.


Cukup lama mereka diam dalam hening, tak ada yang membuka pembicaraan, Leon terus menatapi isi kafe yang memukau, sedangkan Gerren hanya diam seraya memainkan setangkai mawar di tangannya.


"Ren," panggil Usagi.


Gerren terperanjat kaget dan segera menatap Usagi yang duduk bersebrangan dengannya. "Ya."


"Lo sama Adya memang temenan waktu kecil?" tanya Usagi.


"Iya, tapi kayaknya dia lupa." Gerren tersenyum miris mengingat setiap penolakan Adya.


"Adya inget kok. Dia gitu karena elo yang lupa sama janji, lo," Ucap Usagi.


"Gue tau. Gue udah minta maaf, tapi ... Ya gitu," keluh Gerren.


"Lo suka, ya, sama Adya?"


Gerren terkejut mendengar pertanyaan Usagi yang sedikit membuatnya merasa ada perih di hati. Sebenarnya ini pertanyaan yang bahkan Gerren sendiri belum yakin. Baginya Adya adalah sahabat, dan ia meminta maaf karena rasa bersalah.


"Kok diem? Jawab!" ucap Leon uang ternyata juga mendengarkan pembicaraan mereka.


"Maaf agak lama." Suara itu berasal dari arah pintu masuk. Ketiganya segera menatap pintu masuk dan melihat Adya dengan gaun yang mirip dengan Usagi, hanya saja lebih panjang, gaun milik Adya panjang hingga mata kaki.


Dan juga ada dua gadis lain dengan gaun merah yang tampak elegan.


"Buset! Cantik bener," puji Leon.


"Langsung aja, ijo matanya!" ketus Usagi.


"Usagi!" Adya melambaikan tangannya seakan mengisyaratkan agar Usagi mendatangi Adya. Usagi mengerti dan segera berjalan mendekati Adya.


"Kami pergi keluar, kalian  nikmati, deh, kencannya." Adya segera menarik tangan Usagi dan membawanya pergi.

__ADS_1


'Ini bahkan jauh lebih mudah dari yang aku pikirkan,' batin Valeria.


Tiba-tiba asap yang tebal memenuhi ruang kafe dan membuat suasana menjadi ricuh dalam waktu singkat, Gerren dan Leon berusaha kabur, namun kaki mereka seolah tertahan dan setelahnya seseorang memukul kepala mereka.


__ADS_2