
Kau berubah tapi jadi makin unik
_Gerren_
Deg!
Jantung Gerren kini memompa sangat kencang begitu mulai berdansa dengan pasangan terakhirnya. Gerren menatap manik mata yang indah milik gadis di hadapannya. Sangat indah hingga jantung Gerren semakin tak karuan.
"Lo sakit jantung, ya?"
"Ha?" tanya Gerren kaget mendengar pertanyaan gadis di hadapannya.
"Abisnya jantung lo nggak karuan. Gue takut aja kalo lo sakit jantung, kumat di sini. Gue yang repot!" ucap gadis itu.
Gerren melupakan satu hal. Matanya memang indah, namun menyorot sifat yang dingin dan cuek. Mata itu juga menyiratkan sesuatu lain yang tak Gerren pahami.
***
Dag! Dig! Dug!
Jantung Leon berdegup kencang sangat kencang saat berdansa dengan pasangan terakhirnya. Bukan karena kagum, jatuh cinta, atau lainnya. Tapi karena takut.
Gadis dengan gaun merah dan berambut panjang, membuat Leon ketakutan.
"Ekhemm." Leon berdehem menetralisir rasa takut dan meyakinkan hati jika itu benar-benar seorang gadis.
"Mbak," ucap Leon memastikan.
"Ya."
"Mbak ini bukan si manis jembatan Ancol, 'kan?"
"Apa maksud lo!" ucap gadis itu tak terima.
Tak!
Habislah sudah nasib kaki Leon yang terianjak oleh high heels milik gadis misterius di hadapannya ini.
"Arghhh!" pekik Leon sesaat setelah menerima rasa sakit di kakinya.
"Kurang ajar banget lo!" kata Leon tak terima. Leon mengeratkan genggamannya. Lalu kembali mengeluarkan jati dirinya yang playboy.
Plak!
Sebuah tamparan berhasil meluncur ke pipi Leon. "Dasar mesum!" pekik gadis itu.
Beruntung lagu mengalun cukup keras membuat teriakan gadis aneh itu tak terdengar jelas. Sesaat kemudian lampu menyala dengan terang, musik berhenti, dan semua orang berhenti berdansa. Gadis bergaun merah itu mulai beranjak pergi. Namun, dengan cepat Leon menarik tangannya dan menahan kepergian gadis itu.
"Baiklah kalian semua boleh membuka topeng!" ucap MC.
'Gimana mau buka topeng kalo tangan gue diginiin!' batin gadis bergaun merah itu. Leon pun membuka topeng gadis di hadapannya. Dan betapa kagetnya ia saat menatap wajah gadis di hadapannya.
'Kayak pernah liat, tapi di mana?' batin Leon. Leon pun juga membuka topengnya dan membuat gadis di hadapannya terkejut bukan main.
"Waaaah kalo jodoh emang nggak akan kemana!" pekik gadis itu. Semua orang segera menatap ke sumber suara dan mendapati Leon yang sedang membekap mulut gadis itu. Tatapan nyalang langsung menghakimi.
"Maaf nih cewek mabuk," ucap Leon beralasan.
Tak!
Lagi. Gadis itu kembali menginjak kaki Leon. Leon hanya bisa meringis kesakitan.
"Enak aja lo! Asal ngomong! Gue sambelin juga tuh mulut!" ucap gadis itu tak terima.
"Bisa nggak kalo ngomong itu santai, volume dikecilin dikit gitu!" kesal Leon.
"Iya!"
***
"Baiklah kalian semua boleh membuka topeng!" ucap MC.
Gerren mulai membuka topengnya begitu juga gadis di hadapannya. Gerren terbelalak kaget saat mengetahui wajah asli di balik topeng putih itu.
"Peri cinta?" ucap Gerren tak percaya.
Gadis di hadapannya hanya melongok kaget mendengar ucapan Gerren.
"Peri cinta?"
"Lo peri cinta, 'kan? Hayo ngaku!" tuduh Gerren.
"Kebanyakan nonton kartun lo!" ketus gadis itu.
"Gue ... Aih lo peri cinta ngaku!"
"Masih aja stres! Gue ini manusia! Ma ... Nu ... Sia, Manusia! Jelas?!"
"Tapi---"
"Sesuai perintah CEO makan kami akan panggilkan tuan muda keluarga Rendra untuk menaiki panggung bersama dengan pasangan terakhirnya. Dan juga tuan muda Dinaksa untuk menaiki panggung bersama dengan pasangan akhirnya," ucap MC.
"Ayo ikut gue!" Gerren menarik tangan gadis bergaun biru muda di hadapannya.
"Mau kemana? Yang di panggil itu tu--"
"Gue Gerren Rendra!" ucap Gerren.
'What!' batin gadis itu.
Gerren segera menarik tangan gadis yang masih mematung, yang sedang sibuk dengan pikirannya. Gerren juga tak tahu apa yang ia pikirkan, tampaknya dia sangat terkejut atau kagum. Gerren mulai narsis!
__ADS_1
***
"Kuylah!" ajak Leon.
"Kemana?"
"Ke panggung."
"Emang lo--"
"Gue Leon Dinaksa!"
"Oh ya?"
Tanpa memnajawab lagi Leon segera menarik tangan gadis di hadapannya.
"Baiklah kedua tuan muda keluarga besar sudah ada di hadapan kita!" Suara sorakan dan tepuk tangan membuat riuh ruang pesta.
"Wah lihat, Leon ganteng banget!" teriak gadis\-gadis yang ada di sana.
"Lebih keren Gerren dong," ucap gadis lainnya.
"Tapi pasangan Gerren dingin banget mukanya," sahut gadis lain.
"Kalo pasangan Leon kayak si manis jembatan Ancol, cantik tapi nyeremin."
"Halo nona\-nona yang beruntung. Kenalkan diri kalian sebelum berdansa di atas panggung." MC memberikan mikrofon kepada gadis di samping Gerren.
'Dansa lagi?' batin gadis yang sedang memegang mikrofon.
"Perkenalkan nama saya Adya kirani Nugraha," ucap gadis di samping Gerren.
Gerren terkejut bukan main dan segera menatap Adya tak percaya. 'Dya?' batin Gerren.
"Iya saya nggak nyangka," ucap Hilda dengan senyum yang sama bahagianya.
"Tanpa harus di pertemukan, ternyata mereka udah bertemu duluan," ucap Rai Rendra Ayah Gerren.
"Ya, semoga rencana kita bisa berhasil," sahut Eza Nugraha Ayah Adya yang berdampingan dengan sang istri dan Rai.
Kedua pasangan yang berada di atas panggung mulai berdansa diiringi lagu yang merdu.
"Hah, aku bosan terus berdansa," keluh Usagi.
"Gue apalagi," sahut Leon.
"Kamu udah pulang dari Jepang, kenapa nggak ngabarin?" ucap Gerren pada Adya.
Adya menatap penuh tanya. "Buat apa ngabarin elo?"
Gerren terkejut dengan respon Adya. "Karena aku temen kamu," jawab Gerren.
"Temen? Ah maaf mungkin gue lupa," ucap Adya.
Alunan musik terhenti kedua pasangan itu turun bersamaan. Adya memisahkan diri dari Gerren yang masih bingung dengan sosok Adya. Dan Leon masih sama dengan jati dirinya sebagai playboy sejati. Tampaknya Leon lupa dengan kutukannya. Leon berjalan mendekati seorang gadis yang menarik perhatiannya dari tadi.
__ADS_1
Usagi yang menyaksikan itu hanya bisa melongos kesal. Ia kesal karena Leon mengabaikannya.
\*\*\*
Adya memasuki toilet, menatap cermin yang terpantulkan sosok dirinya. Tak terasa air mata mulai membasahi pualam pipinya. "Gerren b\*r\*ngs\*k! Gue benci sama lo!" teriak Adya. Di dalam sana Adya menangis meluapkan kesedihannya, sejujurnya baru kali ini ia merasa benar\-benar sakit.
\*\*\*
"Hai Gerren apa kabar kamu?" ucap Eza menjabat tangan Gerren.
"Saya ba\-\-" Gerren merasa ada yang aneh pada dirinya. Apakah ia akan berubah?
"Kamu kenapa sayang?" tanya Ibunda Gerren.
"Bun, Gerren permisi, ya. Mau ke toilet." Dengan langkah secepat mungkin Gerren berjalan menuju ujung toilet.
Namun, belum sampai Gerren merasakan perubahan pada dirinya. Ia merasakan sebuah kuping muncul di atas kepalanya, ekor, dan cakar perubahan itu terlalu cepat sampai ....
Buuum!
Gerren berubah menjadi seekor kucing putih yang imut. "Ya ampun, meong," ucap kucing jelmaan Gerren.
"Gerren! Gerren! Gawat gue udah mau jadi ku\-\-\-"
Buuum!
"Cing, meong," ucap kucing jelmaan Leon.
Kucing jelmaan Gerren yang tak jauh dari lokasi berubahnya Leon. Kucing itu menghampiri jelmaan Leon yang tertutup baju formal yang ia kenakan tadi.
"Meong! Tolong! Gelap, oy! Gimana bisa keluar ini!" teriak kucing jelmaan Leon.
"Lo maju aja, ntar juga keluar," ucap Gerren santai.
"Susah, Gerren! Bantuin! Meong!"
"Yaelah!"
Kucing jelmaan Gerren menggigit pakain yang menutupi kucing jelmaan Leon. Setelahnya barulah ia bisa keluar.
Cit cit cit
"Itu tikus! Meong!" ucap Leon.
"Terus?"
"Gue mau makan tikus, meong," ucap Leon.
"Sadar! Kita cuma jelmaan, bukan kucing," ucap Gerren menginginkan.
"Gue nggak peduli! Gue mau makan tikus, meong!" Leon meloncat dan terus berlarian mengejar tikus kecil itu.
__ADS_1
"Berasa liat Tom and Jerry secara live," ucap Gerren