
Leon dan Usagi berjalan menyusuri koridor yang sunyi. Hanya ada beberapa orang yang datang dan pergi.
"Hei, sailormoon. Sejauh ini apa lo udah suka sama gue." Leon memulai perbincangan setelah hening yang cukup lama.
"Suka? Sama playboy kayak lo? Mikir dua kali gue sebelum suka," cibir Usagi, gadis itu berjalan mendahului Leon yang merasa tertolak.
'Udah kesekian kali ditolak. Kenapa yang ini nyesek, ya,' batin Leon yang menatapi kepergian Usagi.
"Woi! Buruan jalannya! Mau pulang nggak?!" pekik Usagi.
"Eh iya bentar." Leon berlari mengejar Usagi dan jalan berdampingan dengannya.
'Gue harus dapetin hati Usagi. Karena gue yakin, Usagi itu yang bisa bebasin gue dari kutukan,' batin Leon.
"Sailormoon, besok pulang sekolah lo ada waktu nggak?" tanya Leon, kini ia yakin untuk tidak lagi ada rasa jaim. Tapi, bukankah sejak awal bertemu dengan Usagi telah tidak ada lagi image yang bagus? Ah, entahlah, memang cuma gadis ini yang hanya bisa merubah Leon, membebaskannya dari kutukan.
"Besok mau jenguk Adya, lagi. Kenapa?" tanya Usagi.
"Gue mau ngajak lo nonton, mau nggak?" tanya Leon, sedikit ada rasa canggung, dan kelegaan yang luar biasa.
"Besok? Emmm, nggak bisa," tolak Usagi.
"Ya ampun, Sagi. Sekali aja lo itu nggak nolak gue. Sekali aja lo itu ngomong 'iya' apa salahnya?" geram Leon.
Usagi menatap Leon dengan tatapan yang biasa saja, datar tanpa ekspresi. "Serah gue dong mau ngomong apa, mau nolak apa nerima. Itu urusan gue, kok lo yang sewot!" balas Usagi dengan mengatakan kalimat dengan sangat cepat.
"Lo bisa nggak sedikit jaga perasaan gue, baik-baik sama gue, jangan gini. Ini pasti akibat lo sering jenguk Adya, makanya jadi jutek kayak Adya," ujar Leon.
"Jangan bawa nama Adya, gue memang gini." Usagi tersenyum sinis ke arah Leon. "Lagian lo suruh gue mikirin perasaan lo. Lo seharusnya mikir gimana nasib perasaan cewek-cewek yang dulunya lo mainin hatinya, kalo kata cak lontong, mikir!" Usagi menunjuk sambil berjalan mundur hingga tak lagi terlihat Leon.
"Mikir!" Leon membeo dengan perasaan kesal. "Dasar cewek! Liat aja ntar kalo udah jatuh cinta, pasti lo ngejar-ngejar gue!" Kesal Leon.
***
Suasana ruang rawat Adya terlihat mencekam seperti film horor. Gerren dan Adya hanya diam saja, tanpa ada pembicaraan sedikitpun setelah kepergian peri cinta yang bernama asli Lidya itu.
"Gue, mau ngomong sesuatu," ujar Gerren yang memecah keheningan.
"Apa?!" ketus Adya.
"Gue minta maaf karena gue udah nyakitin elo. Gue ngelupain janji gue, tapi lo harus tahu, hari itu kakek gue sakit, dia lagi butuh gue. Dan sebenarnya emang gue lupa sih, sama janji itu. Tapi hari itu kakek gue beneran sakit, maaf banget," ujar Gerren tanpa henti. Ia terus saja menuturkan kalimat permintaan maaf.
"Gue maafin," jawab Adya.
"Serius?" tanya Gerren tak percaya, bola matanya berbinar menunjukkan kebahagiaan yang luar biasa.
"Sebenarnya, kamu menganggap aku ini apa?" tanya Adya dengan nada yang sangat pelan, hanya ia dan Tuhan yang tahu.
__ADS_1
"Lo kenapa sedih?" tanya Gerren dengan wajah khawatir. "Apa masih sakit?"
"Nggak kok, gue baik, aja. Lo nggak pulang?" tanya Adya. Entah mengapa, sejak permintaan maaf Gerren beberapa saat lalu membuat sikapnya juga berubah, tidak lagi ketus dan jutek.
"Lo ngusir gue ceritanya?"
"Nggak. Gue cuma nyuruh lo pulang."
"Sama aja. Apa bedanya."
"Bedalah, beda jauh malah,"
"Kalo gue pulang lo sama siapa di sini?"
"Sendiri."
"Nah itu, emang lo berani?"
Adya terkekeh mendengar pertanyaan konyol Gerren. "Iya kali takut, gue juga udah biasa," ujar Adya dengan yakin.
"Yakin berani?"
"Berani. Lagian kak Seno udah mau dateng sama Kak Lidya," jawab Adya dengan yakin.
"Sejak kapan Adya yang penakut, ceroboh, dan cengeng jadi cewek yang berani?"
"Sejak gue pindah ke Jepang! Udah pulang aja sana!" usir Adya. Entah kenapa semakin ke sini ia tidak lagi bisa bersikap biasa kepada Gerren.
"Belum tentu juga. Kalo elo godain cewek, lo bakalan berubah," ucap Adya dengan nada sewotnya.
"Gue nggak pernah deket sama cewek lain selain elo," ujar Gerren. Entah mengapa jantung Adya berdegup sangat kencang, pipinya memanas, Wajahnya tersenyum sendirinya.
"Ih udah pulang sana!" Kesal Adya.
"Gue kenapa, sih?" tanya Adya pada dirinya sendiri saat Gerren telah pergi.
***
"Ada yang ingin kamu bicarakan?" tanya Lidya pada Seno. Kini mereka duduk berhadapan di sebuah kafe. Seno tampak serius menatap Lidya, membuatnya menjadi canggung.
"Ada apa?" tanya Lidya sekali lagi.
"Kau ini memang peri peringkat bawah, ya."
"Jadi kamu manggil aku cuma mau ngehina?!" sinis Lidya.
"Bukan."
__ADS_1
"Terus?"
"Lo yang ngasih kutukan ke Gerren sama Leon?"
"Iya." Lidya mulai serius dengan awal perbincangan ini.
"Lo sekarang manusia biasa, 'kan?"
"Iya. Terus?"
"Lo belum paham?"
Lidya mengernyit berusaha mencerna maksud Seno.
"Haduuuh! Kutukan, yang lo kasih ke mereka, cuma bisa dipatahi sama lo sendiri. Sementara sekarang lo udah manusia biasa, terus gimana caranya lo bebasin mereka dari kutukan?" papar Seno. Seketika Lidya terperangah. Bagaimana bisa ia lupa akan hal ini? Astaga.
"Terus nasib mereka gimana dong? Kalau pun mereka udah nemuin cinta sejati tapi aku nggak bisa matahin kutukannya ... Aduh! Sekarang gimana?!!"
Seno menaikan bahunya tanda tidak tahu jawaban dari masalah ini. Lidya semakin pusing karena kondisi ini. Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan? Apakah Gerren dan Leon harus menghabiskan waktu seumur hidup dengan kutukan itu?
"Aku ingat sesuatu!" Wajah Lidya seketika tampak bahagia.
"Apa?"
"Kita akan mengubah kutukan itu menjadi anugrah, bagaimana?"
Seno menaikan alisnya sedikit tidak mengerti dengan maksud Lidya.
"Ah! Kamu nggak akan ngerti, kamu itu cuma ditempeli roh Ares, nggak akan tau apa-apa."
"Eh! Lo ngeremehin gue?!"
"Ha? Nggak, aku cuma ngomong fakta," ujar Lidya.
"Gimana caranya bikin kutukan jadi anugrah?"
"Dulu aku sering denger tentang Dunia ilusi, yang dijaga sama seorang tetua yang hidup ratusan tahun. Aku yakin dia pasti tahu caranya gimana," kata Lidya.
"Gimana kalau dia nggak tau?"
"Dia tau, karena dulu ada yang berhasil mengubah kutukan menjadi anugrah atas bantuan dia, tapi untuk kesana nggak mudah. Ada mantra kunci ke dunia ilusi yang sudah lama hilang," ujar Lidya.
"Jadi kita harus cari mantra dulu?"
"Iya. Setelah itu kita pergi mencari gerbang dunia nyata dan ilusi terus baca mantra, dan kita bisa masuk ke sana," jelas Lidya. "Tapi ini belum saatnya, biarin aja dulu Leon sama Gerren tobat, baru kita cari gerbangnya," sambung Lidya.
"Ya, bener juga."
__ADS_1
"Mbak, Mas, ini minumannya," ujar seorang pelayanan, menyajikan minuman.
"Terima kasih, Mbak."