
Cowok memang gitu! Gampang banget ngelupain janji!
_Adya_
Peri cinta menyerahkan sebuah cahaya berbentuk bundar ke arah Gerren, seketika semua pandangan Gerren mulai menggelap, dan perlahan kembali terlihat cahaya.
Gerren berada di tempat yang bukan sekolahnya. Tapi dimana?
"Janji?" Gerren dapat melihat seorang gadis kecil yang sedang duduk bersama anak laki-laki yang tak lain adalah dirinya.
"Janji." Gerren kecil menautkan jari kelingkingnya pada jari gadis itu.
Setelahnya gadis kecil dan Gerren kecil pergi dari sana. Gerren menatap tempat yang dulu menjadi favoritnya saat bermain dengan Adya. Gerren benar-benar kalut, ia mengelilingi taman yang di buat oleh kedua orang tua Adya dan Gerren.
Matahari telah terbit, sangat cepat. Tentu saja, ini hanya memori yang sama seperti penampilan drama. Gerren dapat melihat Adya kecil telah sampai di tempat ini, meskipun waktu masih sangat pagi. Gadis itu datang dengan kotak biru muda, warna kesukaannya. Cukup lama Gerren menyaksikan Adya yang menunggu dengan bosan di tempat itu. Bermain sendiri sambil menunggunya.
Cukup lama, tapi Gerren tidak datang. Gerren dewasa terus saja mondar-mandir mencari dirinya saat kecil. "Di mana sih bocah ingusan itu!" kesal Gerren.
Cukup lama Adya menunggu, Seno datang menghampiri Adya, dan mengajaknya untuk pergi dari taman itu. Selanjutnya pandangan Gerren kembali menggelap, dan menunjukkan pemandangan yang tak pernah disangka, yaitu saat pesta keluarganya, saat Adya ada di toilet dan menangis, karena dirinya?
Pandangan Gerren menggelap kembali, dan ia kembali di rooftop sekolah, dengan Peri cinta yang berdiri di hadapannya. "Udah tau jawabannya?" tanya peri cinta.
Gerren mengangguk lemas, "jadi selama ini gue nyakitin Adya?" tanya Gerren. Peri cinta menganggukan kepalanya. "Karena gue ngelupain janji?" Lagi, peri cinta mengangguk.
"Gue bener-bener berengsek, ya," ucap Gerren pada dirinya. "Jadi ... Apa Adya cinta sejati aku?" Peri cinta tersenyum manis. Lalu ia menggedik bahu. "Semangat! Jangan menyerah! Ayo cari cinta sejatimu," ucap peti cinta sebelum menghilang.
"Gue harus minta maaf!"
****
"Mau makan apa?" tanya Leon pada Usagi. Namun, Usagi hanya diam saja.
"Mau baso?" Usagi menggeleng.
"Mie ayam?"
"Nggak mau!"
"Nasi goreng?"
"Nggak mau!"
"Cilok?"
"Nggak mau!"
"Cinta sama gue?"
"Mau!" ucap Usagi membuat Leon langsung bersemangat. Namun, ada yang aneh, pandangan Usagi buka ke arahnya, namun ke arah lain.
"Mau dia!" Usagi langsung beranjak dari kursinya meninggalkan Leon yang masih terperangah dengan kejadian di luar dugaan.
"Kak Seno!" pekik Usagi.
"Usagi? Adya mana?" tanya Seno.
"Di kelas."
"Kirain di sini," keluh Seno.
"Liat itu ganteng banget, TNI angkatan laut, masih muda kayaknya," bisik gadis di sekitar Seno.
Usagi dengan cepat merangkul tangan Seno, "yah udah punya pacar," bisik para siswi yang kecewa.
"Cocok sih mereka, pantes pak tentaranya dateng kemari," bisik gadis lain.
"Kamu kenapa megang tanganku?" tanya Seno berusaha melepaskan tangan Usagi.
"Liat kebelakang," bisik Usagi.
Seno menoleh dan melihat segerombolan gadis yang melihatnya. "Banyak banget!" ucap Seno panik. "Salah kakak, kenapa jadi orang ganteng nan sukses?" ucap Usagi.
"Yaudah pertemuan kita sampai di sini, soalnya ada urusan," ucap Seno meninggalkan Usagi.
Usagi tersenyum manis dan melepaskan genggamannya. "Siapa tuh?" tanya Leon yang menghampiri Usagi.
"Calon imam," ucap Usagi yang masih menatapi kepergian Seno.
"Nggak usah halu!" ketus Leon.
"Ciee cemburu," ejek Usagi.
"Nggak! Mana ada gue cemburu, lagian gantengan juga gue kemana-mana," ucap Leon seraya merapihkan kerah bajunya.
__ADS_1
"Najis!"
"Ini kenyataan."
"Kenyataan tapi lo yang halu!" ketus Usagi seraya meninggalkan Leon yang merasa usahanya untuk PDKT gagal.
"PDKT tarik ulur bakalan gagal kayaknya," ucap Leon. "Broken heart gue!"
***
Dengan izin pihak sekolah, dan beberapa petunjuk akhirnya Seno sampai di kelas Adya. Seno mendapati Adya yang sedang menangis. Seno menghampiri Adya dan duduk di sampingnya.
"Orang cantik, nggak cocok nangis," ucap Seno. Adya mendongak menatap Seno yang berdiri dengan seragam lengkapnya. Adya kaget dan segera berdiri. "Kak Seno ngapain di sini? Bukannya kakak tugas?" tanya Adya.
Seno mengacak rambut Adya, "adek kakak baru balik dari Jepang, kakak harus luangin waktu untuk bikin adek kakak bahagia, dong," ucap Seno seraya mencubit pipi Adya.
"Kakak udah lama nggak ketemuan sama kamu, sejak kakak tamat SMA, dan di sibukkan dengan tugas ini," ucap Seno lagi.
"Jadi?" tanya Adya dengan senyuman menggoda, lengannya menyenggol lengan Seno.
Seno tertawa geli melihat adiknya. "Pulang sekolah kita jalan-jalan."
"Usagi gimana?" tanya Adya. Seno tersenyum lembut, "Usagi ikut. Kakak balik dulu, ya," ucap Seno.
"Jadi kakak kemari cuma karena itu?" tanya Adya. Dan di jawab acungan jempol oleh Seno.
***
"Kita beneran jalan sama kakak, lo?" tanya Usagi. Adya merotasi matanya, sungguh Usagi tak bosan-bosannya menanyakan hal itu kepadanya.
"Lo diem atau gue sumpel!" ketus Adya.
Adya tak habis pikir dengan Usagi yang selalu mengulang pertanyaan yang sama selama perjalanan, bahkan sekarang, saat mereka telah sampai di mall Usagi masih saja bertanya. Jika kalian punya teman atau sahabat kayak Usagi mungkin udah di gantung di pohon toge.
Pandangan Usagi teralihkan dengan sosok Leon yang berada di area bermain anak. "Tuh si singa ngapain?" tanya Usagi pada dirinya sendiri. Usagi menghentikan langkahnya membuat Seno dan Adya heran.
"Ada apa?" tanya Seno.
"Emmm aku mau ke sana bentar, ya." Usagi segera pergi dari hadapan Seno dan Adya. Membuat Adya heran dengan sikap aneh Usagi. "Ada apa?" tanya Adya menatapi kepergian Usagi yang terburu-buru.
"Kak Adya mau ke toko buku, ya," ucap Adya.
"Sendiri?"
"Yaudah, hati-hati. Jangan sampe nyasar!"
"Adya bukan bocah lagi, kak," kesal Adya.
Seno terkekeh pelan seraya membelai rambut Adya. "Udah, gih beli buku," ucap Seno.
Adya segera pergi menuju toko buku, tempat paling indah dalam hidupnya.
***
Usagi berjalan menuju dekati Leon yang diam melamun. "Woy singa!" teriak Usagi membuat Leon terkejut.
"Sailormoon? Ngapain kemari?" tanya Leon.
"Jalan-jalan lah. Masa mau ngamen!" ketus Usagi.
"Ya, mana tau sailormoon berubah jadi ngamen rider."
"Enak aja! Lagian yang ada itu kamen Rider bukan ngamen rider." Kesal Usagi. "Lo ngapain di sini?" tanya Usagi.
"Pesugihan!"
"Cius?"
"Ya, nggaklah!"
"Terus?"
"Nemenin adek gue, noh," ucap Leon seraya menunjuk seorang anak laki-laki yang sedang bermain dengan baju sekolahnya.
"Bukannya lo anak tunggal?" tanya Usagi.
"Iya emang anak tunggal, tapi dia adek gue."
"Gimana ceritanya? Kan lo anak tunggal, terus---"
"Dengerin gue cerita!" ucap Leon memotong ucapan Usagi.
"Jadi Rio itu pengamen, anak gelandangan, orang tuanya meninggal karena angin duduk---"
__ADS_1
"Angin berdiri ada nggak?" tanya Usagi memotong cerita Leon.
"Dengerin gue!"
"Iya-iya."
"Jadi gue nolongin dia, gue bawa ke rumah, dan jadi anak angkat keluarga Dinaksa," jelas Leon.
"Cerita panjang lebar. Padahal kesimpulannya dia itu anak angkat. Tinggal bilang gitu aja ribet!" ketus Usagi.
"Ya, gue lakuin ini biar lo terkesan sama gue."
"Salahnya tameng hati gue kuat! Nggak mempan yang beginian!" ketus Usagi.
"Kak Leon! Main, yuk," teriak Rio dari jauh.
"Iya sebentar!" balas Leon.
***
Adya menelusuri setiap rak yang bersusunkan buku yang penuh dengan cerita menarik di dalamnya.
"Lo di sini juga?" Suara itu mengalihkan pandangan Adya. Adya mendecak kesal melihat Gerren yang ada di sampingnya.
"Ngapain lo?!" kesal Adya.
"Nyari mobil-mobilan! Ya, nyari buku!"
Adya mengacuhkan itu dan menilik buku yang berada di rak paling atas. "Butuh bantuan?" tawar Gerren.
"Nggak perlu!" Adya masih berusaha untuk menggapainya. Ia menjinjitkan kakinya untuk dapat mencapainya.
Tek ... Tek ... Tek ....
Sebuah kelereng menggelinding dan berhenti tepat di bawah kaki Adya. "Kakak kacamata! Tolong ambilin kelereng aku, dong!" pekik seorang anak kecil.
Adya menoleh dan menurunkan kakinya, namun ia tergelincir karena kelereng itu dan jatuh.
"Aduh!" Adya mengaduh seraya mengelus bokongnya yang sakit.
Gerren seolah tanpa dosa hanya menatap Adya yang terduduk di lantai.
"Lo kok nggak nangkep gue?!" Kesel Adya.
"Mana gue tau lo bakalan jatoh!"
"Seharusnya tau, dong!" balas Adya.
"Gimana mau tau lo nggak ngode gue kalo mau jatoh!"
"Gue nggak tau kalo mau jatoh. Kalo gue tau gue bakal jatoh, gue juga bakalan kasih tau!"
"Lo aja nggak tau lo bakal jatuh apa lagi gue?!"
"Iss seharusnya lo tangkep biar kayak drama Korea!"
"Korban Drakor lo."
"Kak! Nggak papa?" tanya anak kecil yang meneriaki Adya.
'Badan gue remuk, lo tanya lagi,' batin Adya. "Nggak papa dek," ucap Adya.
"Kakak ini gimana, sih? Pacarnya jatoh bukannya di tolongin malah dimarahin!" kesal anak kecil itu pada Gerren.
"Heh?" gumam Adya dan Gerren bersamaan.
"Sekarang kakak tolongin kakak kacamata ini," ucap anak kecil itu lagi.
"Iya, ini kakak tolongin," ucap Gerren seraya berjongkok.
"Kakak kacamata, maafin aku, ya," ucapnya.
"Iya."
"Kakak kacamata suka panda atau beruang?" tanya anak kecil itu.
"Panda, kenapa?"
"Ok." Bukannya menjawab anak kecil itu malah pergi meninggalkan Gerren dan Adya.
"Sini gue bantu!" Gerren memapah Adya yang masih terduduk. Gerren membimbing Adya untuk duduk di sebuah kursi yang ada.
"Tunggu di sini."
__ADS_1