
"Pengorbanan ini wajar aku lakukan untukmu yang telah melindungi dunia."
_Peri cinta_
Nafas Seno tidak beraturan, perlahan pedang di tangannya menghilang seiring datangnya cahaya yang menyilaukan.
"Adya!" Seno berlari menghampiri Adya yang terbaring di pangkuan Usagi. Tubuh Adya menghitam perlahan.
"Apa masih bisa?" ujar Seno yang secara tidak langsung bertanya pada Peri cinta.
"Aku tidak tahu," jawab peri cinta memelas.
"Dia masih bisa selamat!" Suara itu menggema membuat semua orang mengalihkan pandangannya ke arah cahaya terang. Dari cahaya itu muncul seorang wanita cantik yang anggun.
"Yang mulia Ratu." Seno dan peri cinta tertunduk di hadapan wanita itu. Sudah jelas jika dia adalah pemimpin, Leon dan Gerren saling menatap dan memberi kode. Pandangan mata mereka berbicara.
"Kita harus buat gitu juga?"
Leon mengangguk lalu ikut menundukkan kepala di susul oleh Gerren yang juga melakukan hal yang sama.
"Bangunlah. Gadis ini bisa di selamatkan, tapi dia akan selamat dengan inti kekuatan peri," ujar Ratu peri.
Seno dan peri cinta tanpa tertegun dengan solusi ini. Sudah jelas hanya mereka yang bisa melakukan itu. Seno sebagai kakak sudah berjalan menuju tempat terbaringnya sang adik.
"Kalau begitu biarkan aku yang mengorbankan ini," ujar Seno. Pria itu bersimpuh menatap sang adik yang sekarat.
"Tidak! Ini ... Ini kesalahanku karena telah menyeret Adya masuk ke dalam masalah ini jadi biarkan aku saja. Dunia peri tidak boleh kehilangan peri terbaiknya," ujar Peri Cinta seraya mengulum senyum tulus ke arah Seno.
"Lidya? Apa kamu yakin?" tanya Ratu peri.
'Itu nama asli peri cinta?' batin Usagi.
"Saya yakin yang mulia, ini lebih baik. Saya hanya beban untuk dunia peri," ujar peri cinta.
Peri cinta berjalan mendekati Adya. Peri cinta mengakhiri penyamarannya, sayap indahnya muncul, namun perlahan memudar seiring membesarnya gumpalan cahaya dalam genggaman peri cinta.
Peri cinta mengulum senyum membelai kepala Adya. "Jangan kecewakan aku yang sudah berkorban untukmu. Jadilah gadis tangguh dan maafin Gerren, ok?" bisik Peri Cinta, senyuman di bibirnya tampak pucat.
Sayap peri cinta hilang sepenuhnya, cahaya yang selama ini menyelimutinya juga hilang. Hanya ada kilau cahaya dari gumpalan cahaya di tangannya. Peri cinta meletakkan gumpalan itu tepat di dada Adya, dan perlahan terserap oleh tubuh Adya. Racun itu perlahan hilang, kulit Adya yang menghitam dan suram kini kembali seperti semula.
Bruk!
Peri cinta jatuh pingsan tepat di samping Adya yang belum sadarkan diri. "Peri cinta!" Pekik Leon yang segera menghampiri tubuh lemah peri cinta.
__ADS_1
"Dia baik-baik saja. Hanya saja, keadaannya masih lemah. Mungkin akan bangun sebentar lagi," Ujar Ratu peri. "Keadaan Adya memang membaik, racun itu telah hilang, namun lukanya tidak akan sembuh begitu saja." Usagi tersadar dengan kalimat itu. Yang artinya mereka harus membawa Adya ke rumah sakit. Bagaimana bisa itu tidak terpikir? Ini pasti karena kesenangannya karena Adya telah terbebas dari racun mematikan itu.
"Kita harus bawa Adya ke rumah sakit!" ujar Seno dan Usagi bersamaan.
Gerakan dengan sigap mengambil ponselnya dan menelfon supirnya. "Saya akan kembali, Seno sekarang Lidya hanyalah manusia biasa, tolong jaga dia," ujar Ratu peri sebelum hilang bersama dengan kilau cahaya.
***
Perlahan Adya membuka matanya, ia dapat merasakan sakit yang luar biasa pada bagian perutnya.
"Aissh," ringis Adya seraya memegangi perutnya.
Adya menatap ke arah pintu yang sudah berdiri Usagi yang diam seperti patung. Apa yang terjadi? "Adya! Lo udah sadar?! Ya ampun, gue bahagia banget! Lo udah tiga hari nggak bangun, gue kira lo bakalan ninggalin gue. Gue takut banget tau nggak. Apa lagi waktu peri cinta bilang kalo lo udah terinfeksi racun mematikan. Untung lo masih bisa diselametin." Baru saja bangun, Adya sudah dihujani oleh ocehan Usagi.
"Kenapa gue bisa selamat?" tanya Adya.
"Semua ini berkat peri cinta! Dia udah___"
"Berhentilah mengoceh! Adya masih butuh istirahat!" Tiba-tiba saja seorang wanita datang memotong kalimat Usagi.
"Peri cin__"
"Panggil aku Kak Lidya. Panggilan peri cinta udah nggak layak lagi," ujarnya.
"Karena kak Lidya udah bukan peri lagi!" Belum saja Lidya menjawab Usagi sudah menyambar kesempatannya.
"Kenapa?"
"Jangan banyak tanya, lebih baik kamu istirahat. Ini obatnya, kamu minum lalu istirahat, ya." Lidya menyerahkan banyak obat kepada Adya.
"Terima kasih, tapi aku masih belum bisa menyerna semua ini," ujar Adya.
"Jangan banyak pikiran, itu nggak baik buat kamu," kata Lidya seraya membelai rambut Adya.
Kring ....
Dering ponsel milik Lidya membuat suasana buyar, Lidya meraih ponselnya dan menatap layar ponsel dengan alis berkerut.
"Saya pergi dulu, Usagi tolong jaga Adya, ya." Lidya lalu pergi meninggalkan Usagi dan Adya. Sedikit aneh, namun sejak kejadian itu ia memang aneh.
"Usagi, gue mau lo cerita semuanya ke gue!" kata Adya dengan nada penuh kekesalan.
"Minum obat dulu, ya," bujuk Usagi. Adya menurut dan meminum obat itu.
__ADS_1
"Cerita."
"Iya-iya. Jadi gini, waktu tragedi itu banyak yang terjadi, pertama racun itu, kedua pengorbanan peri cinta, dan rahasia kak Seno. Nah, jadi__"
"Bisa langsung to the point nggak?!" Kesal Adya.
"Ok, peri cinta alias kak Lidya ngorbanin inti kekuatan peri-nya buat lo. Karena penawar racun itu cuma inti kekuatan peri itu. Dan karena udah ngasih inti kekuatan, peri cinta berubah jadi manusia biasa," Jelas Usagi.
"Maaf agak lama, tadi ada ... Eh? Adya kenapa nangis?" Lidya sedikit heran. Lidya menghampiri Adya yang masih menangis.
Lidya datang ke sisi Adya dan membelainya. "Kenapa harus ngorbanin semua ini?" tanya Adya pada Lidya yang memeluknya seraya mempelainya.
"Tenanglah, ini udah seharusnya, lagian kamu masuk ke dalam bahaya ini juga karena aku."
"Tapi kamu jadi manusia biasa sekarang, karena aku," keluh Adya.
"Adya, kalau aku nggak bertindak kamu meninggal, lebih baik gini, 'kan?" ujar Lidya.
"Terima kasih."
"Halo semua!" Sapa Leon yang baru saja datang.
"Adya kamu udah sadar? " ucap Gerren yang datang bersama Leon.
"Heem," gumam Adya.
"Sailormoon, jadi lo buru-buru karena ini?" tanya Leon seraya menghampiri Usagi.
"Setiap hari juga gue pulang cepet!" ketus Usagi.
"Kok lo jadi jutek, sih? Ketularan Adya, nih!" kesal Leon.
"Kok jadi gue?"
"Selama dia sama gue, nggak ada elo, dia baik tuh. Jadi cewek normal," ujar Leon.
"Eh singa! Jadi selama ini gue nggak normalnya?!" geram Usagi.
"Yang ada lo yang nggak normal!" cibir Adya.
"Kalian ini apa-apaan?! Adya baru aja bangun udah ribut-ribut! Mau kena tebas?!" kesal Lidya seraya mengangkat tangannya dengan tatapan tajam.
"Maaf-maaf!" Leon dan Usagi langsung lari terbirit-birit keluar dari ruangan Adya.
__ADS_1
"Pfftt! Mereka ini pasangan teraneh yang pernah aku jumpai, hahaha!" Tawa Lidya sesaat setelah kepergian Leon dan Usagi. "Sekarang, aku mau pergi lagi. Ada yang mau aku bicarakan dengan Seno. Gerren jaga Adya, ya," sambung Lidya.