Kutukan Kucing Putih

Kutukan Kucing Putih
Masa Lalu II


__ADS_3

"Kenapa harus menutupi masa lalu? Jika kebahagiaanmu tersimpan di sana? "


Adya dan Raka kini telah sampai di depan toko coklat yang selalu menjadi tempat favorit Adya saat berbelanja coklat. Senyuman merekah di wajah manisnya begitu memasuki toko sederhana itu.


"Nggak  nyangka, semuanya masih keliatan sama." Adya mengelilingi pandangannya menatap setiap sudut toko.


"Selamat datang." Seorang wanita paruh baya yang tampak muda menyapa Raka dan Adya.


"Bu Salamah!" seru Adya. Gadis itu tertawa bahagia dan memeluk wanita paruh baya itu.


"Kamu ...." Gadis itu menunjuk wajah Adya berusaha untuk mengingat sesuatu. "Adya? Adya yang dulu suka beli coklat kacang, 'kan?" tanya bu Salamah, wanita itu mengatupkan tangannya pada wajah Adya, mencium keningnya. Air matanya juga jatuh menunjukkan begitu rindunya ia pada sosok Adya.


"Ih, ibu, kok nangis, sih." Adya menghapus air mata di pualam pipi bu Salamah.


"Adya makin cantik, cocok banget sama Gerren, iya 'kan, Gerren?" Entah dari mana datangnya Gerren, tapi pemuda itu datang disaat yang bisa dibilang sangat tepat.


Adya menatap tajam Gerren yang baru datang. "Bu, Adya mau cepetan pulang, maaf nggak bisa lama-lama. Oh, iya, Adya pesen coklat kacangnya ya, Bu. Bentuk kelinci," ucap Adya diiringi senyum manis.


"Ok, Gerren ambilkan coklatnya ada di sana!" Bu Salamah mengarahkan Gerren menunjuk ke arah etalase sebelah kanan. Adya terbelalak, kenapa harus Gerren yang mengambilnya?


"Adya." Gadis itu terhenyak dari lamunannya, menatap Gerren yang menyodorkan sekotak coklat kacang berbentuk kelinci di hadapannya, kotak berwarna biru dengan pita merah muda, sangat indah. Tanpa sadar sebuah ulasan senyum terlihat pada wajah Adya. Senyuman itu bertahan sampai akhirnya Raka membangunkan Adya dari rasa senangnya.


"Kita pulang, ya, Bu. Assalamu'alaikum," pamit Adya dan Raka.


"Adya makin cantik ya, Ren. Padahal dulu itu, loh. Giginya ompong, rambutnya pendek kayak anak cowok, hahaha." Gerren terkekeh bersama dengan bu Salamah. Tidak bisa dipungkiri, memang begitulah Adya yang dulu. Sosok gadis polos yang pemberani.


Gerren berjalan ke depan toko. Melihat Raka dan Adya yang berpisah karena arah yang berbeda. Di sana, di dalam mobil Adya membuka kotak coklat itu. Matanya membulat sempurna, wajahnya tersenyum bahagia begitu melihat isi dari kotak itu.



"Bu, Adya mau coklatnya ada nama Adya sama Gerren." Adya merengek kepada bu Salamah yang sedang mencetak coklat kelinci milik Adya.



"Nggak cukup tempatnya, 'kan coklatnya kecil." Bu Salamah berjongkok di hadapan Adya dan membelai rambut gadis kecil itu. Sejak dulu kedatangan Adya dan Gerren adalah hal yang paling dinanti oleh bu Salamah. Baginya kedua anak ini sangat berbeda dan sering mengundang tawa.



"Kenapa nggak di buat inisial nama Adya, aja, pasti bisa." Dan inilah Gerren, si kecil yang memiliki pemikiran dewasa, cerdas dan tidak pernah kehabisan akal. Bu Salamah tersenyum manis dan mengiyakan keinginan kedua anak itu.



Ia berdiri kembali, dan mencetak inisial 'A' dan 'G' pada coklat kelinci itu.



"Selesai." Bu Salamah menunjukkan rentetan coklat kelinci dalam kotak yang telah diberi inisial nama Gerren dan Adya. Kedua anak kecil itu tersenyum bahagia, "nanti kalo Adya udah besar Adya mau bikin coklat!" seru Adya penuh semangat.


__ADS_1


"Jangan entar kena tangan sakit loh."



Mendengar kalimat itu seketika wajah ceria Adya berubah mendung. "Kalo udah besar, Adya udah pinter. Jadi nggak akan kena tangan, iyakan, Bu?"



Bu Salamah mengangguk senang. "Iya nanti ibu ajarin," ujarnya.



"Udah, kita harus ke taman sekarang, buruan!" Gerren menarik tangan Adya hingga gadis itu terseret kecil.



Adya tertawa bahagia saat kenangan masa lalunya kembali teringat, baginya saat-saat itu sangatlah indah.


"Pak, besok kita ke sini lagi, ya."


"Baik, non," sahut pak sopir.


Adya yang seperti ini jauh lebih baik dari pada harus menutupi kenyataan dan lebih memilih penderitaan dari pada kebahagiaan sendiri.


***


Kring!


"Bu Salamah." Sekali lagi Adya memanggilnya dan tidak ada jawaban.


"Eh, Adya!" Adya langsung menjengit kaget mendengar teguran itu. Ia berbalik menatap bu Salamah yang berdiri di belakangnya.


"Eh, ibu ngagetin, aja." Adya mencium punggung tangan bu Salamah. Lalu ia duduk di salah satu kursi di toko itu.


"Kemarin kamu pulangnya cepet banget. Ibu belum sempet nanya-nanya," keluh bu Salamah.


"Eh, iya bu, ini ada oleh-oleh dari Jepang." Adya memberikan sebuah paper bag kepada bu Salamah.


"Makasih," ujar bu Salamah yang langsung meletakkan bingkisan itu di atas meja. "Oh, iya. Adya tahu sejak Adya pergi ke Jepang Gerren sering dateng ke sini. Bantuin ibu buat coklat, bahkan Gerren bantuin ibu buat nganterin coklat ke pelanggan." Adya menjengitkan alisnya, cerita ini ... Apakah bisa dipercaya? Pikirnya.


"Gerren selalu aja sendiri, banyak juga ibu kenalin dia sama cewek, tapi nggak ada yang disukai sama Gerren. Ibu cuma nyuruh temenan tapi dia tetep kekeh, ibu sadar kalau dia cuma akan bahagia kalau sama kamu. Untuk Gerren Adya itu segalanya. Ibu tahu dulu Adya masih kecil belum ngerti soal ini, tapi sekarang Adya udah dewasa, pasti paham untuk soal perasaan."


Kalimat ini, memang benar, Adya tertunduk dalam, entah apa yang membuatnya diam, tapi ia tidak bisa mengatakan apa pun sekarang, kalimat itu mampu membuatnya diam seribu bahasa.


"Bu, Adya kemari mau belajar buat coklat, boleh?" Bu Salamah tersenyum, Adya tidak berubah, sejak dulu ia selalu saja payah dalam urusan mengalihkan pembicaraan.


Wanita paruh baya itu membelai Adya. "Gerren, ajarin Adya buat coklat."


Apa? Gerren? Adya terbelalak tidak percaya saat mengetahui pemuda itu ada di sini. Apa dia mendengar semuanya? Atau dia yang menyuruh bu Salamah mengatakan semuanya?

__ADS_1


Adya berbalik menatap Gerren yang berdiri di ambang pintu masuk. Tidak! Bukan dia yang merencanakan ini semua, Adya ingat benar tadi Gerren harus mengikuti rapat OSIS untuk acara pentas seni. Bahkan pemuda itu masih menggunakan seragam lengkap.


"Ok, bu." Gerren melangkah pergi ke arah dapur tanpa menatap Adya yang sudah berdiri di dekatnya.


Adya menghela kasar dan mengikuti Gerren yang berjalan ke dapur.


Hening, keduanya hanya fokus dalam mengerjakan tugas masing-masing. Adya, yang sedang mengaduk coklat, Dan Gerren yang menyiapkan cetakan.


"Udah, gitu aja, ntar coklatnya gosong," ujar Gerren. Adya langsung mematikan kompor dan menuangkan coklatnya ke dalam pelastik segitiga.


"Langsung dicetak?" tanya Adya.


"Kalau tangan lo kuat nahan panas, ya udah langsung, aja," sinis Gerren. Adya mendengus kesal melihat respon Gerren.


Setelah beberapa saat, barulah coklat bisa di cetak, Adya menuangkan coklat pada cetakan, secara perlahan. "Kalau lo kayak gitu, sampe besok juga kagak akan kelar." Adya mendesis tidak terima.


"Ajarin gue makanya." Adya menyodorkan coklat cair ke arah Gerren. Pemuda itu meraihnya dan mempraktikkan cara penuangan yang benar.


"Udah ngerti?" Gerren mengembalikan adonan kepada Adya, gadis itu mengangguk dan kembali mencoba.


"Kalau gini gimana?" tanya Adya seraya mengusap hidungnya, hingga membuat adonan tercoret di wajahnya.


"Hahahaha!" Gerren yang menatap wajah Adya tidak bisa menahan tawanya, ia tertawa kencang membuat Adya keheranan.


"Kenapa?" Adya mengerutkan alisnya, matanya menyipit menilik sosok Gerren yang aneh baginya.


"Sini." Gerren mendekatkan wajahnya dan menghapus coklat yang ada di wajah Adya. Adya mendelik tidak terima, gadis itu mendorong Gerren dan mengucapkan coklat ke wajah pemuda itu.


"Modus, lo!" sengit Adya, setelahnya gadis itu tertawa melihat coklat yang tercoret di wajah Gerren.


"Oh, lo bales dendam?!" Gerren yang tidak senang kembali menyoretkan coklat ke wajah Adya. Adya tidak mau kalah, sekarang ia membiarkan seluruh tangan kirinya terkena coklat dan ingin membalas Gerren berkali-kali lipat.


"Eits!" Gerren mengelak membuat Adya semakin geram.


"Ihh! Sini nggak! Sini!" Adya terus mengejar Gerren tanpa memberi ampun. Keduanya tertawa lepas, untuk sesaat semua halangan hilang begitu saja.


"Udah capek!" Gerren berhenti kembali di posisinya. Napasnya terengah-engah.


"Iya capek!" Tanpa sadar Adya mengucapkan tangan kirinya yang berlumur coklat ke wajahnya sendiri.


Gerren yang melihat kekonyolan itu tidak bisa menahan tawanya lagi. "Ihh!" geram Adya yang langsung mengelapkan sisa coklat ke wajah Gerren membuat wajahnya penuh dengan coklat.


"Hahahaha!" Kini giliran Adya yang tertawa bahagia melihat wajah Gerren.  Untuk pertama kalinya setelah pertemuan mereka keduanya kembali merasakan bahagia.


Adya yang tersadar atas apa yang ia lakukan langsung berdeham dan mengalihkan pandangannya. "Gue-gue rasa, hari ini udah cukup." Adya berjalan dengan cepat meninggalkan dapur.


"Dua tunggu!" Gerren dengan segera mengejar Adya yang hendak keluar dari dapur.


"Sebenarnya lo inget gue, 'kan? Lon inget semua, terus kenapa lo harus pura-pura lupa?" tanya Gerren.

__ADS_1


Adya tidak berniat menjawabnya, kedatangannya hari ini bukan untuk mendapatkan pertanyaan sulit ini. Adya menepis tangan Gerren dan kembali melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan toko. 


__ADS_2