
**Hanya kamu, hanya kamu yang dapat menghilangkan kutukan ini
\_Leon**\_
"Sayang, ini gaun kamu." Astri masuk membawa gaun biru muda yang tampak indah. Adya menatap gaun itu lekat.
"Adya memang harus pergi ya, Bun?" tanya Adya dengan wajah murung.
"Hei, kita baru balik dari Jepang. Kamu harus kenalan sama mereka lagi pula besok udah mulai sekolah, 'kan?" tanya Astri. Adya mengangguk lemah. "Kamu tahu, Gerren bakalan ada di acara malam ini. Kamu inget Gerren 'kan?"
Deg!
Jantung Adya mulai memompa sangat kencang, kegiatannya terhenti sesaat, Adya menatap sang Bunda yang juga menatapnya.
"Adya nggak kenal. Siapa emangnya?" tanya Adya pura-pura. Sejujurnya ia selalu saja ingat dengan sosok itu.
"Dia itu temen kecil kamu 'kan? Waktu di sini dia selalu ada buat Adya. Masa lupa," ucap Astri.
"Nggak inget!" Adya mengambil gaun biru muda itu dan memasuki kamar mandi. Lalu mengenakan gaun itu.
***
"Duh anak Bunda cantik banget." Astri menghampiri Adya yang telah rapi. "Ayah sama Bunda udah ngatur semua. Malam ini kamu bakalan ketemu sama Gerren." Astri membelai rambut putrinya.
"Adya pergi dulu, Bun."
"Sayang, senyum, dong. Jangan cemberut!" teriak Astri memperingati.
Adya berjalan keluar dan memulai langkah menuju rumah Usagi yang tak jauh dari rumahnya. Semua supirnya menawarkan untuk mengantar Adya ke rumah Usagi. Namun, Adya menolak. Sejak lama, ia tak pernah mau di manjakan.
~~
'Ren, besok aku mau ke Jepang.' Seorang gadis kecil berambut sebahu duduk di samping seorang anak laki-laki.
'Terus?'
'Besok sebelum pergi, kita ketemu di sini, ya." Gadis kecil itu menatap penuh harap.
'Mau apa? Nanti Dya di tinggal.'
'Ayah sama Bunda nggak mungkin ninggalin Dya, lagian cuma sebentar aja kok. Ren mau dateng, 'kan?'
'Ok.'
'Janji?' Gadis kecil itu mengulurkan jari kelingkingnya.
'Janji.' ucap anak laki-laki itu seraya menautkan jarinya.
~~
Adya tersenyum miris saat ingatan itu kembali di benaknya. Saat itu, ia telah menunggu lama. Sangat lama, dengan kotak hadiah berisi kenang-kenangan yang selalu ia genggam. Namun, Gerren tak datang. Padahal itu adalah hadiah untuk Gerren.
"Ren berengsek!" teriak Adya.
Tak terasa langkah Adya membawanya sampai di depan rumah mewah keluarga Reksa. Keluarga Usagi sahabatnya.
"Eh Nona Nugraha. Silahkan masuk," ucap seorang penjaga gerbang.
Adya mulai memasuki rumah keluarga Reksa.
"Mama, Usagi nggak mau pakai gaun norak itu!" Suara teriakan itu membuat Adya mengetahui apa yang telah terjadi.
__ADS_1
Dengan segera Adya menaiki tangga dan masuk ke kamar Usagi, benar saja. Usagi lagi berdebat dengan Mamanya Ami. Adya dapat melihat Ami yang memegang gaun yang agak norak. Dan Usagi yang terus menolak perkataan Ami.
"Hei, sayang. Apa Usagi tahu gaun ini adalah gaun yang dipakai oleh sailormoon waktu ada di pesta dansa. Usagi adalah Usagi dan Usagi wajib pakai gaun ini. Ini gaun mahal sayang. Bahkan keluarga Nugraha aja nggak sanggup membeli ini." Ami terus saja mengucapkan hal aneh. Seakan sailormoon sudah mendarah daging. Karena sailormoon pula ia menamai anaknya 'Usagi'.
Bahkan Usagi juga tidak boleh memotong rambutnya. Agar mirip dengan Usagi. "Keluarga Nugraha nggak akan menghabiskan uangnya untuk hal aneh kayak gini," gumam Adya yang hanya dapat di dengar olehnya.
"Iya-iya Usagi bakalan pake gaun ini." Usagi mengambil gaun itu dan masuk ke dalam kamar mandi. Setelahnya Usagi keluar dengan gaun khas sailormoon yang dibeli Mamanya.
"Adya, ayo kita pergi. Ini udah malem." Usagi menarik tangan Adya dan membawanya keluar.
"Sayang semoga kamu bertemu sama taksido bertopeng yang ganteng!" pekik Ami dari kejauhan.
Usagi mengabaikan itu dan memasuki mobil bersama dengan Adya. "Ke butik sekarang," ucap Usagi.
Setelah beberapa lama mereka sampai di butik dengan segera Usagi memilih baju yang cocok dan menggantinya.
Mereka keluarga dari butik, dengan Usagi dengan gaun merah yang cantik, "Pak, ini gaunnya bawa pulang. Kami naik taksi aja. Jangan sampe rusak ntar Mama marah besar," jelas Usagi pada supir itu.
Di dalam taksi Usagi terus saja mengeluh tentang Ami yang fanatik dengan sailormoon.
"Gue nggak tahu kapan Mama bakalan tobat," keluh Usagi.
"Udah yang penting malem ini lo nggak malu," ucap Adya.
"Kenapa muka lo sedih?" tanya Usagi.
"Gue ngerasa pestanya bakalan ngebosenin." Adya memalingkan wajahnya.
"Gue ngerasa ada yang aneh. Lo kenapa?" tanya Usagi dengan wajah jahil yang menggoda sahabatnya. Seperti biasa.
"Ntar lo juga tau," ucap Adya seraya melempar pandangannya ke jendela mobil.
"Lo kenapa? Jujur aja. Gue udah ke alamat lo selama sebelas tahun lamanya. Lo nggak pernah kayak gini sebelumnya," kata Usagi.
Keduanya keluar dari taksi. Usagi dan Adya berjalan menuju lokasi. Seorang penjaga menghadang mereka. Adya menyerahkan undangannya begitu juga Usagi. Setelah penjaga memberi mereka topeng.
"Pakai yang ini, Nona," ucap penjaga itu.
"Kita udah punya." Usagi menujukan topeng miliknya.
"Kalian tamu istimewa, wajib pakai yang ini," jelas penjaga.
***
"Halo semua selamat datang di acara keluarga Renandra! Malam ini acara akan di mulai dengan dansa! Pilih pasangan kalian, peraturan dalam dansa malam ini adalah setiap dua menit sekali kalian harus bertukar pasangan," ucap MC yang berdiri di atas panggung.
"Silahkan cari pasangan kalian dan kita akan mulai."
"Hadir banget, ya?" ucap Leon pada Gerren.
"Harus, lo jangan godain cewek kalo nggak mau malu." Gerren melangkah meninggalkan Leon dan mengajak seorang gadis untuk menari.
"Ok, gue bakalan balik kayak dulu. Jadi Leon yang dingin, cuma itu satu-satunya cara biar nggak berubah jadi kucing," ucap Leon pada dirinya sendiri.
"Musik akan terus berbunyi sampai sepuluh menit lamanya. Setiap dua menit sekali kalian akan bertukar pasangan, baiklah Mari kita mulai!"
Usagi mulai menggerakkan kakinya ia menatap pasangannya yang bertubuh tegap. "Neng," ucap pria itu.
"Ya?"
"Eneng suka warna merah, ya?"
__ADS_1
"Enggak," jawab Usagi.
"Eh, kayaknya kita pernah ketemu," ucap pria itu lagi.
"Kapan?" tanya Usagi.
"Sebulan yang lalu mungkin," ucap pria itu canggung.
"Saya baru aja pulang dari Jepang satu minggu yang lalu, gimana ceritanya kita pernah ketemu satu bulan yang lalu?"
Gagal sudah PDKT pria itu terhadap Usagi. Seketika pria itu bungkam saat semua tebakannya salah.
"Dua menit sudah berlalu, silahkan bertukar pasangan!" MC kembali memberi peringatan.
***
Pasangan dansa kedua Adya kini mulai menari dengan lihai, tak seperti sebelumnya. Pria yang sebelumnya berdansa dengannya benar-benar kaku bak robot.
"Hai, nama kamu siapa?" tanya pria itu mengiringi dansa mereka.
"Adya."
"Nama yang bagus, kamu juga cantik. Tapi sayang jutek orangnya."
"Kalo nggak suka sama gue ya udah. Nggak maksa, lagian cuma pasangan dansa sementara," ketus Adya.
'Buset! Pedes amat! Kek sambel geprek,' batin pria itu.
"Mari bertukar lagi!" ucap MC
***
Pasangan ketiga Leon, Leon menghela napas lega saat melihat pasangannya yang tampak semampai. Karena sedari tadi ia terus di hampiri kesialan, pasangan pertamanya yang merupakan wanita paruh baya, pasangan keduanya yang berbadan bak mobil tronton, dan kali ini nasib baik berpihak padanya.
"Hai Leon," ucap gadis itu. Leon tersentak mendengar suara yang tak asing lagi. Ia menatap gadis di hadapannya dan ternyata keberuntungan tak berpihak padanya. Pasangan dansa ketiganya ini tak lain adalah salah satu diantara ratusan mantannya.
"Kenapa? Gue cantik, ya?" goda gadis itu.
"Nggak B aja!"
'Apes bener hidup gue!' batin Leon. Leon melirik ke arah Gerren yang sedari tadi aman dengan pasangan dansanya. Ia berharap pasangan selanjutnya lebih baik dari sebelumnya.
'Cecan! Kalian kemana! Gue pengen dansa bareng lo pada!' teriak hati kecil Leon. Sungguh jiwa playboy-nya meronta-ronta tak terima dengan takdir.
"Mari bertukar lagi!" ucap MC.
***
Pasangan keempat Gerren, seperti sebelumnya Gerren hanya diam tanpa kata. Menjaga jarak agar kutukan itu tak datang di saat penting ini.
"Hai Ren," sapa gadis di hadapannya.
Gerren terkejut saat gadis itu memanggilnya dengan nama 'Ren'. "Sorry, maksud gue Gerren. Ini Gerren, 'kan?"
"Heem."
"Nggak nyangka kita bakalan ketemu, jujur aku ngarepnya bakalan jadi pasangan dansa terakhir kamu. Tapi malah jadi pasangan keempat. Tapi nggak papa ini udah lebih dari cukup." Gadis itu tampak tersenyum bahagia. Gerren terus menatapnya berusaha mengenali gadis itu. Tapi siapa? Matanya nampak tak asing. Siapa gadis itu?
"Waktunya bertukar pasangan!"
Gerren menukar pasangan, pandangannya tak lepas dari gadis bergaul biru muda itu. Ia merasa sudah mengenal gadis itu.
__ADS_1
'Siapa dia?' batin Gerren.