
Cowok playboy memang pantes dikutuk! Biar tau rasa! Gimana sakitnya kalau disakiti
_Usagi_
"Ah gue kenyang, meong." Gerren menatap Leon penuh amarah. Dengan langkah seribu Gerren mendekati Leon dengan empat kali mungilnya. Gerren menerkam Leon seperti singa yang mendapat mangsanya.
"Lo udah rusak kemeja harga seratus juta punya gue!" bentak Gerren meluapkan kekesalannya.
"Ntar gue ganti." Leon mendorong tubuh Gerren dan melepaskan cengkraman Gerren. "Sekarang kita harus kabur, kalo kita berubah lagi jadi manusia, bisa gawat. Karena kita nggak pake baju," ucap Leon lagi. Leon berjalan mendahului Gerren yang masuk kesal.
"Hei kalian udah ketemu sama tuan muda?" Suara itu membuat langkah kecil Gerren dan Leon terhenti keduanya bersembunyi di balik tembok dan melihat dia pengawal mereka yang sibuk mencari sesuatu. Buka sesuatu tapi mereka mencari Gerren dan Leon.
"Kita udah pergi berapa lama?" bisik Leon.
"Kurang lebih tiga jam," sahut Gerren.
"Apa?" tanya Leon dengan ekspresi wajah kucing yang kaget.
"Diam! Jangan keras-keras." Gerren membungkam mulut Leon dengan tangan mungilnya, lebih tepatnya kaki mungilnya.
Gerren dan Leon memperhatikan dua pengawal yang mulai mendekati pakaian mereka yang sudah hancur berantakan karena cakaran Leon, dan banyak sekali bercak darah tikus di sana.
"Ini pakaian tuan muda Leon," ucap salah satu pengawal.
"Yang ini punya tuan muda Gerren. Pakaiannya berdarah! Apa jangan-jangan ... Mereka di culik?" ucap pengawal itu.
"Kita harus segera melapor, bawa barang bukti ini," ucap pengawal lainnya.
***
"Apa? Bagaimana bisa?" ucap Rai penuh kecemasan. Putra semata wayangnya diculik, dan tak ada yang tahu?
"Ya ampun, Gerren ...." Bunda Gerren melemaskan dan tersungkur. Beruntung beberapa orang termasuk Ibunda Adya juga membantu.
'Kemana, Ren?' batin Adya.
"Adya, keadaan di sini lagi genting. Mungkin nggak hanya Leon atau Gerren saja. Bisa jadi kalian juga target selanjutnya. Jadi kalian juga harus pulang." Setelah memberi perintah Eza, Rai, dan beberapa pengawal beserta Orang tua dari Leon ikut bersama mereka.
"Jeng Hilda, ikut ke rumah saya, aja," ucap Ami.
"Iya, lebih baik malam ini kita semua nginep di rumah kita, Ma. Ya, biar lebih mempermudah."
"Kita bisa nenangin mereka," ucap Ami seraya menepuk pundak Bunda Adya.
"Nyonya mobil sudah siap," ucap supir keluarga Reksa.
Mereka berjalan beriringan menuju mobil yang telah terparkir tepat di pintu keluar. Tiba-tiba Adya menghentikan langkahnya. "Ada apa sayang?" tanya Ibunda Adya.
"Bun, Adya ada urusan bentar," ucap Adya. Setelahnya Adya pergi dengan cepat.
"Gue ikut!" pekik Usagi seraya menyusul langkah Adya.
Keduanya sampai di sebuah semak belukar yang menjadi fokus utama Adya. "Ada apa, Ya?" tanya Usagi pada Adya.
"Ssst!" Usagi mencibir ben dengar respon Adya yang tak menyenangkan hati.
Adya meraba semak belukar itu dan ....
"Meong!" Dua emot kucing melompat ke dalam pelukan Adya.
Usagi yang belum siap dengan kejutan itu pun melonjak kaget hingga terjatuh. "Hahaha!" tawa Adya menggelegar saat melihat Usagi yang terjatuh.
"Eh itu kucing siapa?" tanya Usagi.
"Entah, mana gue tau!"
"Bawa pulang aja yuk, imut, loh. Mana tau bisa jadi pelihara," ucap Usagi.
"Bisa jadi tuh!" Adya menyerahkan satu kucing kepada Usagi. "Lo yang itu aja, gue nggak suka. Keliatannya kucing itu ****!" ucap Adya.
'Enak aja nih orang ngatain gue! Tapi ada benernya juga,' batin kucing yang ada dalam dekapan Usagi. Yang tak lain adalah jelmaan Leon. 'Kenapa gue harus di rawat sama si manis jembatan Ancol ini?' batin Leon.
Usagi berjalan dengan girang menuju mobil mereka, meninggalkan Adya dan kucing yang ia gendong. Adya mengangkat tubuh kucing itu lalu mendekatkan tubuh kucing ia ke wajahnya. "Gue bakalan tolongin lo, Gerren," ucap Adya. Sontak jelmaan Gerren terbelalak kaget mendengar ucapan itu.
'Adya tau siapa gue?'
Adya berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Dengan cepat ia memasuki kamar dan menutup rapat. Kucing jelmaan Gerren yang sedari tadi terus saja meronta-ronta.
Adya merasa kesal dengan kucing kecil yang sok kuat itu, akhirnya Adya melonggarkan dekapannya saat kucing mungil itu berusaha melepaskan diri, alhasil kucing itu terpental dan jatuh ke lantai.
"Rasain!"
__ADS_1
"Aw!" keluh kucing jelmaan Gerren.
Adya mencibir dan mengabaikan kucing itu. Adya melangkah menuju cermin, membuka softlens yang ia pakai, setelahnya ia mengambil kacamata miliknya dan memakai kacamata itu.
Kucing putih yang awalnya terduduk di lantai mulai berjalan menghampiri Adya. "Woi! Kenapa lo bisa tau kalo gue Gerren?" tanya Gerren.
"Nggak penting!"
"Penting buat gue!"
Adya yang awalnya sedang memilih buku di rak kecil pun terhenti. Adya berbalik dan menatap kucing mungil itu nyalang. "Karena waktu lo berubah jadi kucing gue ada di sana," jawab Adya jujur.
"Oh gitu," ucap Gerren manggut-manggut. "Lo ngapain, sih?" tanya Gerren yang kesal melihat Adya yang terus mengotak-ngatik rak buku.
"Nyari buku yang mungkin ada sangkut pautnya tentang perubahan lo," jawab Adya.
"Emang ada?"
Adya menggedik bahunya. "Gue lagi usaha," ucap Adya.
"Nggak akan ada, karena ini kutukan!"
"Kutukan?"
Gerren mengangguk. "Masa iya?" tanya Adya tak percaya.
"Ceritanya gi--"
"Halo, guys!" Usagi tiba-tiba saja muncul dengan kucing jelmaan Leon yang masih ada di gendongan. Namun, bukan itu yang menjadi data tarik Adya tapi alat mandi kucing yang Usagi bawa.
"Itu apaan?" tanya Adya.
"Alat mandi kucing, gue baru beli di toko tadi," ucap Usagi girang.
"Lo mau mandiin kucingnya?" tanya Adya.
Usagi mengangguk layaknya anak kecil. 'What? Gue nggak mau dimandiin!' batin Leon.
Tiba-tiba kucing itu melompat dari genggaman Usagi. "Woi kucing! Mau kemana lo!" Usagi melempar semua peralatan yang ia bawa ke arah Adya, membuat gadis itu kewalahan menangkap barang-barang itu.
Aksi kejar-kejaran antara Usagi dan Leon pun terjadi, membuat seisi kamar berserakan bakal kapal pecah. Setelah cukup lama, "hap! Yee dapet, juga akhirnya." Usagi menangkap ekor Leon dan menariknya seperti mainan.
'Aduh ekor gue! Sakit banget, meong,' batin Leon.
Adya mengambil kucing yang terus saja Usagi tarik ekornya. Adya menggendongnya. "Kalo megang kucing gini. Jangan tarik ekornya!" Adya menyerahkan kembali kucing itu.
"Iya-iya." Usagi melangkah menuju kamar mandi sambil membawa Leon dan peralatan mandi kucing.
"Eh, sekalian yang ini juga mandiin," ucap Adya menyerahkan kucing jelmaan Gerren.
"Lo nggak mau mandiin?" tanya Usagi.
Adya menggeleng kaku, karena ia tahu apa yang akan terjadi jika Adya ikut memandikan kucing.
Tiga puluh menit kemudian ....
"Huwaaaaa! Adya ... Gue di cakar sama dua kucing imut itu, huwaaaa!" tangis Usagi pecah sesaat setelah keluar dari kamar mandi.
Adya berusaha menahan tawanya. "Udah, lo obatin dulu sana," ucap Adya.
"Ok, Usagi udah pergi, sekarang ceritain ke gue kenapa kalian bisa kayak gini?" tanya Adya.
"Setelah gue perhatiin mukanya, dia mirip kayak Peri cinta," bisik Leon pada Gerren.
"Bocah baru paham!" ketua Gerren.
"Jadi ceritanya gini---"
"Ntar dulu!" cegah Adya.
"Kenapa?"
"Kuping kalian mana?"
"Kuping apa?"
"Gue rasa kita mau balik jadi manusia, deh!" ucap Gerren.
"Kalo kalian berubah, pastinya keadaan kalian bug*l, dong?" ucap Adya panik.
"Gue--"
__ADS_1
"Jangan banyak bacot! Ntar kalian keburu jadi manusia di sini! Gue nggak mau mata gue infeksi!" Adya menarik ekor kedua kucing itu dan melempar mereka ke dalam kamar mandi.
Brak!
Bum!
"Kita berubah!" ucap Leon dari dalam kamar mandi.
"Ya, kita butuh baju," ucap Gerren datar.
Adya keluar dan mencari akal, 'kalau gue minjem baju kak Seno, dia bakalan curiga. Rahasia ini bakalan kebongkar, terus gimana caranya gue bisa dapet baju?' batin Adya.
Idenya muncul saat seorang pengawal berbadan gemuk lewat di depan mata Adya. "Pak Santoso!" panggil Adya. "Saya minjem baju bapak, boleh?" ucap Adya.
"Buat apa Non?"
"Buat ... Ah itu nggak penting. Alasannya terlalu panjang, sekarang bapak ambilin baju sama celana bapak, dua!" Adya mendorong tubuh gempal pak Santoso dan mengarahkannya ke kamar supir.
***
"Baju apaan, nih?" keluh Leon.
"No comen!" ucap Adya.
"Ini baju muat untuk dua orang! Gede banget!" keluh Gerren.
"Celananya bisa dilipet, guys," keluh Leon.
"Berisik!"
"Adya, lo udah keringin bulu kuc ... Eh? Kalian kok ada di sini? Dan baju siapa itu, gede banget, hahaha!"
"Ini ulah sahabat, lo!"
"Kalian kenapa ada di sini? Kucingnya mana?" tanya Usagi.
"Gue bakalan cerita, tapi lo harus bisa jaga mulut! Jangan teriak!"
Usagi mengangguk patuh.
***
Setelah Gerren menceritakan tentang kutukannya, "aaaaaa!" Dengan cepat Adya membungkam mulut Usagi.
"Udah gue bilang, jaga mulut! Lebay banget!" kesal Adya.
"Jadi kalian lagi nyari cinta sejati?" tanya Usagi.
Gerren dan Leon mengangguk bersama. "Udah nemu?" tanya Usagi penasaran.
"Kalo udah ketemu, pasti nggak akan gini!" kesal Leon.
"Pasti ada cara lain selain cinta sejati," ucap Adya.
"Apa?" ucap Leon, Gerren, dan Usagi bersamaan.
"Gue juga nggak tau, sih." Adya menggedik bahu dan berjalan menuju pintu. "Gue mau keluar bentar." Saat Adya hendak membuka pintu terdengar suara salah seorang pengawal keluarga Nugraha.
"Nona muda." Suara itu mengagetkan mereka berempat. Semua pandangan teralihkan ke arah pintu.
"Gawat!" pekik Adya.
"Kenapa?"
"Kalo pengawal tau kita di sini, bisa salah paham! Kalian harus sembunyi," ucap Adya.
"Di mana?" bisik Leon dengan wajah panik.
"Di lemari!" ucap Usagi memberi intruksi. Gerren beserta Leon berjalan ke arah lemari.
"Eh jangan!" Langkah keduanya terhenti.
"Di bawah kolong!" ucap Usagi memberi intruksi lagi.
Keduanya merunduk dan hendak bersembunyi di bawah kolong.
"Eh jangan, juga," ucap Usagi lagi.
"Ah, lama!" kesal Adya. Adya menarik kedua pria itu. "Masuk!" ucap Adya seraya menunjuk pintu kamar mandi.
"Tap--"
__ADS_1
"B*c*t!" Adya menendang kedua pria itu hingga masuk ke dalam kamar mandi dan segera menutupnya.
"Aman!" ucap Usagi seraya mengangkat tangan dan menepukannya dengan tangan Adya.