
Kamu ingat persahabatan kita! Namun, tak mengingat janji yang kamu ingkari!
_Adya_
Adya berjalan menuju pintu dan membuka pintu itu. Tapi kagetnya bukan pengawal atau pembantu rumah yang berdiri di ambang pintu. Tapi justru Seno kakak dari Adya.
"Kak ... Kak Seno ngapain?" tanya Adya dengan wajah gugupnya. Dengan sedikit rasa ragu ia menarik senyuman di wajahnya.
"Kamu udah minum obat?" tanya Seno seraya menilik kamar Adya.
"Belum, kak," jawab Adya canggung.
~~
'Adya sakit?' batin Gerren yang berada di dalam kamar mandi.
Seno memasuki kamar Adya dengan pandangan yang menelusuri setiap sudut kamar.
"Siapa di kamar mandi?" Adya terkejut saat kakaknya bertanya soal itu, tubuhnya menegang seketika.
"I ... Itu yang di ... Di kamar mandi---"
"Kenapa gugup?"
"Yang di kamar mandi itu, Usagi," jawab Adya dengan satu tarikan napas.
"Usagi?" tanya Seno.
Adya mengangguk cepat tanpa ragu. Seno tersenyum hangat seraya mengacak pelan rambut Adya. "Buka softlensnya pake kacamata aja. Takutnya kamu lupa," ucap Seno.
Adya mengangguk senang, baginya Seno adalah saudara laki-laki yang lebih, baginya Seno itu sahabat juga pacar. Kenapa? Karena Seno romantis, dia paham jika adiknya seorang jomblowati.
Sesaat setelah Seno keluar Adya berjalan menuju cermin dan membuka softlensnya, lalu memakai kacamatanya dan jadilah Adya mata empat.
"Keluar!" ucap Adya.
Lalu keluarlah Gerren, Leon, dan Usagi. Beruntung di detik terakhir Usagi berpikir cerdas dan ikut masuk ke dalam kamar mandi.
"Kalian bisa ke rumah Usagi sekarang, nyokap kalian ada di sana." Adya berjalan menuju nakas dan membuka laci nakas miliknya.
"Heem bener itu. Ayo aku anter, bahaya lama-lama di sini," ucap Usagi.
Langkah Leon terhenti sesaat ia berbalik menatap Adya. "Lo nggak akan bocorin rahasia kita, kan?"
"Rahasia kalian aman," sahut Adya tanpa menatap wajah Leon.
***
SMA Arce adalah SMA berkualitas tinggi yang dihuni oleh para siswa kaya dan bermartabat. Dan di sanalah sekolah baru Adya dan Usagi, setelah menjalani hidup selama sebelas tahun di Jepang.
"Nggak nyangka kita bisa masuk ke sekolah yang beginian," ucap Usagi terus mengagumi sekolah barunya.
"Kita ke ruang kepsek sekarang," ucap Adya datar.
Mereka berjalan menyusuri koridor dengan tatapan aneh para siswa\-siswi yang berdiri di sepanjang koridor.
"Kayak nggak pernah liat manusia!" ketus Adya.
"Hei, sailormoon!" Suara itu mengalihkan kekesalan Usagi dan Adya. Kedua gadis itu menoleh menatap Leon yang berdiri tak jauh dari mereka.
__ADS_1
"Kalain ngapain di sini?" tanya Leon.
"Mau masak! Ya mau sekolah, lah!" ketus Usagi.
"Gue cuma nanya," ucap Leo memelas.
"Pertanyaan yang nggak bermutu!" ketus Usagi dan Adya. Keduanya langsung berjalan meninggalkan Leon sendiri.
"Kalian mau kemana?" tanya Leon mengejar langkah Usagi dan Adya.
"Mau ke kolam renang, buat nenggelamin elo!" cecar Usagi.
"Galak bener!" Aksi PDKT ala Leon gagal untuk sosok sailormoon Indonesia yang satu ini.
"Mungkin jurus tarik ulur bakalan berhasil," ucap Leon pada dirinya sendiri.
PDKT jurus tarik ulur versi Leon akan di mulai!
***
"Anak\-anak perkenalkan ini Usagi Reksa dan Adya Nugraha, mereka murid baru di sekolah dan di kelas kita," ucap kepala sekolah memperkenalkan Adya dan Usagi.
Semua murid tersenyum ramah terhadap kedua gadis itu, mungkin ketenaran mereka akan dimulai pada babak ini.
"Bagus mereka pasti duduk di kursi belakang kita, bekas si kembar Ando sama Alda," bisik Leon.
"Bahagia banget kayaknya," ucap Gerren datar.
"Gue mau deketin Usagi, sailormoon." Leon mengambil buku yang ada di atas meja.
"Lo mau berubah jadi kucing?" bisik Gerren.
Gerren segera memalingkan wajahnya menatap Leon serius. "Lo nggak ngibul, 'kan?" tanya Gerren.
Leon menggeleng seraya menaikan dua jarinya. "Suer."
"Jangan-jangan dia jodoh, lo," ucap Gerren.
"Whut? Serius?"
"What! Bukan whut!"
"Lidah gue kaget jadi keseleo," ucap Leon mengelak.
"Adya, Usagi, silahkan duduk di sana," ucap kepala sekolah seraya menunjuk kursi kosong di belakang Gerren dan Leon.
Keduanya berjalan menuju meja yang sudah tersedia. Hal yang paling dihindari justru harus mereka hadapi, yaitu dua sahabat tergaje Gerren dan Leon, ralat bukan tergaje tapi terkutuk.
"Hai selamat datang di kelas unggulan," sapa Leon. Namun, Usagi dan Adya mengabaikannya. Leon kembali menatap kebelakang, sebelum sesaat kemudian ia kembali menyapa. "Semoga kalian betah," bisik Leon.
"Gue pelintir juga kepala, lo!" Kesal Usagi.
Leon tampak kesal dan kembali menatap lurus ke depan.
***
Bel istirahat telah berbunyi, semua murid keluar menuju kantin, kelas sudah sunyi hanya tinggal mereka berempat, siapa lagi jika bukan empat anak dari keluarga besar.
"Ke kantin, yuk," ajak Usagi.
Adya menurunkan bukunya, menatap Usagi nyalang, ia tidak suka jika saat membaca buku ia mendapatkan gangguan.
__ADS_1
"Sorry," ucap Usagi. Usagi mencibir karena saat Adya membaca buku ia selalu berubah menjadi cuek dan jutek. "Masa iya, lo baca buku. Sedangkan gue cuma duduk diem liatin elo. 'Kan nggak lucu," keluh Usagi.
Adya menutup bukunya, menatap Usagi seraya menaikan kacamatanya. "Kalo lo mau ke kantin yaudah sana. Gue males," ucap Adya.
"Lo mau ke kantin?" Sambar Leon dengan semangat, siapa yang ingin melewatkan kesempatan paling bagus dalam hal PDKT?
"Nggak jadi!" ketus Usagi.
"Udah, ke kantin sama gue, aja." Leon menarik tangan Usagi. Membuat gadis itu yang awalnya dalam posisi duduk manis kini telah berdiri di hadapan Leon.
"Tapi gue nggak mau," rengek Usagi sambil terus berusaha membebaskan genggaman tangan Leon.
"Gue nggak nerima penolakan!" Leon segera menggendong Usagi dan membawanya keluar kelas. Leon tak melepaskan Usagi meski gadis itu terus saja meronta\-ronta, bahkan mengeluarkan berbagai sumpah serapahnya.
Adya yang melihat kegaduhan itu hanya tertawa. Bukan menolong, padahal sudah berkali-kali Usagi meminta pertolongan.
"Lo sakit?" tanya Gerren, namun Adya mengabaikan itu dan tetap membaca. Ya, Adya mengabaikan pertanyaan itu.
Merasa kesal karena diabaikan Gerren menarik buku Adya. Membuat gadis itu semakin kesal.
"Mau lo apa, sih?" kesal Adya.
"Gue mau tau lo sakit apa?"
"Apa peduli, lo?"
"Gue sahabat lo."
"Sahabat? Heh! Basi!"
Adya berjalan meninggalkan Gerren, jujur saat membicarakan tentang persahabatan, hatinya benar-benar sangat hancur.
Sementara Gerren ia merasa ada perubahan pada dirinya, 'perasaan ini ... Gue mau berubah!' batin Gerren.
"Ay! Gue mau jadi kucing!" ucap Gerren panik.
Dengan segera Adya berbalik menghampiri Gerren. Namun, setelah cukup lama, Gerren malah tidak berubah.
"Lo nipu gue?!"
"Nggak bukan gitu, tadi gue memang mau berubah tapi---"
"Pembohong!" Adya memukulkan buku yang ia pegang ke tubuh Gerren lalu meninggalkan Gerren di kelas.
***
Gerren kini hanya bisa diam duduk di rooftop sekolah yang menjadi tempat favoritnya saat sedang sedih.
"Kenapa sih gue harus ngejalani kutukan ini? Padahal gue nggak nyakitin hati cewek!" Kesal Gerren.
"Yakin nggak pernah nyakitin cewek?" Suara itu mengalihkan pandangan Gerren. Dapat Gerren pastikan itu suara siapa.
"Peri cinta?"
Peri cinta tersenyum ke arah Gerren, lalu datang mendekati Gerren. "Kamu udah nyakitin seseorang yang sampai sekarang luka di hatinya masih membekas," ucap Peri cinta.
"Maksudnya? To the point aja! Aku mau tau kenapa? Kenapa aku berubah jadi kucing walau nggak godain cewek!? Kenapa aku di kutuk walau aku nggak pernah nyakitin cewek?" ucap Gerren meluapkan semua kegelisahannya.
"Aku akan jawab sekarang," ucap Peri cinta.
__ADS_1