Kutukan Kucing Putih

Kutukan Kucing Putih
Maaf


__ADS_3

"Jika aku kebahagiaanmu, kenapa kau menjauhiku dan masuk dalam penderitaan cinta?"



"Ren, aku bawain coklat kacang kelinci, kayak biasanya, nih." Adya datang membawa sekotak coklat, ia menyodorkanya kepada Gerren yang saat itu tengah menikmati coklat batang. Seketika senyuman ceria di wajah Adya hilang.



"Aku udah makan coklat pemberian Kayla tadi," ucap Gerren menunjukkan coklat pemberian itu. Adya berubah murung, ia menarik coklat itu dalam dekapannya.



"Gerren bisa makan lain kali." Adya tidak menyerah dan masih menawarkan coklat itu.



"Kata bunda, aku nggak boleh makan coklat banyak\-banyak, ntar giginya rusak." Lagi, Gerren kembali menolak pemberian Adya, membuat hatinya kecewa, tapi Adya masih menunjukkan sebuah senyuman, membuat perasaan bersalah di hati Gerren timbul karena telah menolaknya.



"Ya udah, aku kasih ke Raka, aja." Adya berjalan pergi meninggalkan Gerren yang kecewa.



"****!" Leon langsung memaki Gerren begitu pemuda itu menyelesaikan kisahnya.


Gerren hanya bisa terdiam menatap gelang biru milik Adya. "Lo orang paling **** yang pernah gue kenal, Ren! Masih kecil sok-sokan berkorban! Lo sadar nggak sih apa yang lo lakuin ini malah memperbesar jarak di antara lo sama Adya, pantes aja Adya ngejauhin, lo," tutuk Leon. Leon tampak mondar-mandir dan terus menerus mengomeli kebodohan Gerren.


Gerren memejamkan matanya erat, ia merasa yang dikatakan Leon memang benar, ia sangat bodoh. Andai saat itu ia tidak menciptakan jarak mungkin Adya tidak akan seperti sekarang. Tapi mungkinkah semua itu karena keputusan Gerren yang memilih menjauh?



Adya yang murung berjalan mendekati Raka yang sedang bermain di halaman rumahnya. Dengan kesedihan karena penolakan, ia merasa heran karena sejak kehadiran Raka, Gerren drastis. "Raka," lirih Adya, gadis itu tersenyum ke arah Raka dan anak laki\-laki itu membalasnya.



Senyum, hanya ini yang bisa Adya lakukan untuk menutupi luka dan kecewanya. "Raka, ini Adya bawain coklat kelinci," ucap Adya.



Raka menatap kotak putih itu dan menerimanya dengan senang hati. "Makasih banget, ya, Adya. Eh, Gerren nggak ikut?" tanya Raka.



Adya menggeleng lemah, "Gerren lebih seneng main sama Kayla," gumam Adya dengan suara sangat lembut. Namun, masih dapat terdengar oleh Raka.



"Ya udah Adya main sama Raka, aja," ajak Raka. Adya mengangguk bahagia, walau Gerren mulai dingin padanya tapi ada Raka yang ramah dan selalu baik padanya.



"Apa?! Jadi bener, Gerren itu sahabat, lo?" Kaget Usagi. Gadis itu terbelalak tidak percaya begitu mendengar kisah panjang Adya.

__ADS_1


"Menurut, lo? Cerita yang gue buat itu karangan, gitu?" sinis Adya. Usagi menggeleng tidak percaya dengan cerita Adya, rasanya sangat aneh, Adya yang seperti ini dan Gerren? Oh, siapa pun tolong Usagi yang pikirannya mulai oleng.


"Tapi, kenapa lo ngejauhin Gerren kalau Gerren itu alasan lo jadi single selama ini?" Adya terdiam, ia memikirkan kejadian menyakitkan hari itu.


"Karena Gerren udah ingkar janji," ujar Adya. Jujur Adya tidak ingin membicarakan hal ini. "Gue selalu berusaha ngelupain dia, berusaha move on tapi nggak bisa." Adya mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Tapi Gerren kayaknya juga ngerasa hal yang sama," ujar Usagi. Adya menaikan kepalanya menatap Usagi.


"Maksud, lo gimana?"


"Gue rasa Gerren juga suka sama, lo." Adya mengernyit tidak percaya dengan kalimat Usagi.


"Gue rasa nggak, aish! Udahlah males gue bahas yang ginian, lebih baik kita ngerjain PR lagi."


***


Istirahat pertama, seperti biasa Usagi harus mendapat ujian menghadapi gangguan Leon. Tapi saat ini ia tidak membantah atau mengomeli Leon, hal ini tentu membuat Leon heran.


"Sayang kenapa, sih, diem aja?" tanya Leon, pemuda itu mencolek lengan Usagi membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.


"Gue kepikiran sama Adya, gue khawatir Adya jadi perawan tua," celetuk Usagi.


"What!? Kok gitu?"


"Jadi, tadi malem Adya cerita sama gue."


"Cerita apa?"


Usagi memulai ceritanya dan membuat Leon terkejut bukan main, cerita versi Adya jauh lebih menyakitkan dari pada Gerren. Tapi satu yang dapat disimpulkan, kedua orang ini saling mencintai tapi juga saling menyakiti, karena anggapan bodoh mereka.


"Emang."


"Ha? Maksudnya?"


"Emang, sebenarnya si Gerren suka sama Adya dari dulu, sejak kenal Gerren, yang gue tahu di awal kenal itu, Gerren anak yang dingin, cuek, dan nggak suka sama cewek lain. Dan waktu Gerren cerita, baru gue sadat kalau dibalik sikap dingin Gerren itu karena kesetiaan dia sama Adya."


"Kita harus buat kesalah pahaman diantara mereka ilang," tegas Usagi.


"Tapi caranya gimana?" Leon berpikir keras bingung dengan cara apa yang harus digunakan.


"Gue tau!" Usagi menggebrak meja kantin membuat Leon yang sedang melamun terkejut bukan main.


"Apa?"


"Hari ini, latihan untuk anggota inti taekwondo, 'kan?" Usagi menaik-turunkan alisnya menanti jawaban dari Leon. Gadis ini tampak sangat antusias.


"Iya, terus?"


"Jadi rencananya gini...."


Usagi membisikkan rencananya,  seketika Leon yang mendengar ide cemerlang itu tampak sangat bersemangat.


"Bagus!"

__ADS_1


***


Adya yang telah memakai seragam taekwondo mulai memasuki ruang latihan, tidak seperti biasanya ruang latihan tampak sunyi tidak ada seorang pun.


"Hadeh! Dasar orang Indonesia, nggak ada disiplinnya." Adya menggerutu seraya meletakkan tasnya di kursi penonton.


"Semua orang punya kesibukan jadi wajar kalau telat."  Gerren yang entah dari mana menyahuti kalimat Adya. Adya menoleh menatap Gerren yang sedang merapikan sabuk hitamnya.


"Lo sebagai ketua yang tegas, dong. Udah jam segini masih telat, apa lagi mereka itu anggota inti."


"Nggak perlu lo bilang, gua juga udah lakuin, tapi memang kayaknya mereka terlalu santai." Gerren berjalan menuju loket dan mengambil beberapa alat latihan.


"Jadi ketua kok lembut banget!" cerocos Adya, beruntung kalimat itu hanya dapat terdengar olehnya.


Ctak!


Tiba-tiba saja lampu di ruang latihan mati, membuat Adya yang sedang duduk melompat dari posisinya. "Aaaa!" teriak Adya.


Gerren yang sedang menata alat latihan segera menghampiri Adya yang ketakutan. "Lo nggak papa?" Gerren menggenggam tangan Adya yang bergetar hebat.


"Gue, gue takut, Ren." Adya menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Gerren. Jantungnya berdegup kencang, tubuhnya gemeter ketakutan. Gerren dapat merasakan semua ketakutan Adya, pemuda itu membelai rambut Adya, menenangkan gadis itu dari ketakutannya.


"Gue, cek dulu, ya." Gerren berusaha melepaskan pelukan Adya agar ia bisa bergerak mengecek saklar. Tapi Adya masih saja mencengkramnya, membuatnya susah bergerak.


"Dya, kalau lo kayak gini gue nggak bisa ngidupin lampunya," ujar Gerren.


Adya perlahan melepaskan pelukannya dan langsung menutup kedua matanya begitu pelukan Gerren terlepas darinya. Gerren berjalan menuju saklar dan mencoba menghidupkan lampu, tapi tidak bisa, dapat disimpulkan jika ada orang yang memutuskan sambungan saklarnya.


Gerren memutuskan untuk mengeceknya, ia mencoba membuka pintu tapi usahanya sia-sia. Seseorang sudah mengunci pintu. "Woi! Buka pintunya! Siapa pun itu!" pekik Gerren.


"Ren...," lirih Adya. Gerren yang mendengar lirihan itu langsung berlari ke arah Adya dan memeluknya.


"Gue takut."


"Nggak usah takut, ada gue di sini," ucap Gerren seraya mengelus rambut Adya.


"Gue minta maaf, Ay," ucap Gerren.


"Ren, gue juga minta maaf."


"Maaf, buat apa?" Gerren menaikan alisnya berusaha mencerna maksud Adya.


"Maaf, karena gue udah ngejauhin, lo."


Deg!


Jantung Gerren berdetak sangat kencang begitu mendengar kalimat itu. "Maaf," lirih Adya lagi.


'Jadi bener Adya masih inget sama gue,' batin Gerren. Ia semakin mengeratkan pelukannya dan mencium kening Adya.


"Lo ngapain, Ren!" sengit Adya.


Gerren terbelalak ia juga tidak tahu apa yang ia lakukan, ini semua terjadi begitu saja tanpa ia sadari.

__ADS_1


"Oh, iya, lo minta maaf buat apa?" Adya mendongakkan kepalanya menatap wajah Gerren di tengah kegelapan. Kini ketakutannya mulai berkurang, entah kenapa tapi Adya sedikit lega.


"Karena gue udah nyakitin, lo."


__ADS_2