
Biru menghentikan laju motornya dan melepaskan helm yang dipakainya, dia baru saja mengantar pesanan
ayam goreng oleh pelanggan. Cewek berusia 20 tahun itu sudah terbiasa kerja keras untuk kehidupannya, yatim piatu sejak usia 10 tahun membuatnya seolah waktunya hanya untuk kerja dan menghasilkan uang sebanyak mungkin. Selepas SMA, Biru bekerja apa saja yang bisa dia lakukan, pagi hingga sore dia bekerja di sebuah tempat makan ayam goreng, dan jika malam hari Biru bekerja menjual singkong keju di pinggir jalanan.
“Antarkan lagi ayam goreng ini!” Teriak Manda, salah satu pegawai di kedai ayam tempat Biru bekerja.
“Sorry, aku harus pulang, waktu kerjaku sudah habis” Teriak Biru sambil melepas celemek dan tersenyum di hadapan Manda, Manda nyengir dan terpaksa harus memanggil pekerja lainnya.
Biru terkenal sangat rajin, sehingga menyuruh dia untuk melakukan kerja apapun adalah kesukaan bagi merega, termasuk Manda. Biru melambaikan tangannya, Manda terpaksa membalas lambaian tangan Biru. Biru berjalan kaki menyusuri trotoar menuju tempatnya dia tinggal. Bukan rumah yang besar, bahkan tempatnya tergolong kumuh dan tidak dia sendiri yang menempati. Ada sahabatnya, Nina yang juga tinggal di sana.
Hujan dua jam lalu yang mengguyur meninggalkan genangan di jalan yang tidak rata, Biru berjalan dengan santainya sambil bernyanyi riang. Tak berapa lama ada mobil lewat dengan kecepatan tinggi, karena genangan air terlindas oleh mobil berwarna hitam tersebut, maka air genangan muncrat di baju Biru.
“Wooooiiiii” Biru berhenti sejenak, melihat sepatunya hampir semua basah, celana dan juga baju. “Ih sial” Biru menggerutu lagi. Mobil hitam yang dia lihat telah lenyap dari pandangannya. “Awas saja kalau ketemu” Biru
berjalan kembali sambil berusaha mengelap bajunya, tentunya sia-sia, air yang kotor itu telah mengotori bajunya.
Sampai di depan gang menuju tempat tinggalnya, Biru berhenti. Da melihat Mita, salah satu teman yang sudah dia anggap sebagai sahabat tengah berbincang dengan seseorang yang mengenakan pakaian jas lengkap
di sebelah mobil hitam. Biru menyembunyikan dirinya di samping pagar agar tidak terlihat jelas oleh Mita dan orang tersebut. Mita nampak akrab dengan pria tersebut, sesekali terdengar tertawa renyah dari Mita.
“Mobil itu?” Biru menunjuk mobil tersebut sambil mengingat-ingat kejadian air muncrat di jalan tadi. Dia yakin jika mobil itulah yang membuat dia hampir basah kuyup dengan air kotor itu. Biru melangkahkan kaki hendak
menuju yang punya mobil, baru selangkah Biru berhenti, pria itu tepat menatap Biru. Meskipun jaraknya hampir 10 meter dari Biru berdiri, tapi ketampanan pria itu mendadak membuat nyali Biru menciut. Dia tidak ingin memperpanjang urusan dengan pria yang ternyata masih sangat muda dan tampan itu. Pria itu lalu kembali masuk ke dalam mobilnya dan berlalu meninggakan tempat tersebut, Mita melambaikan tangan dan mengangguk.
__ADS_1
“Hai Bi” Mita melambaikan tangannya,
“Oh hai” Biru membalas lambaian tangan Mita dan ikut tersenyum.
“Kamu kenapa basah semua? Kotor pula?” Tanya Mita sambil memperhatikan Biru dari atas sampai bawah. Biru menggeleng, dan mengatakan bukan apa-apa.
Mereka berdua sampai di tempat Biru, tempat yang sebenarnya jauh dari kata layak untuk dijadikan tempat tinggal.
“Mau sampai kapan kamu akan tinggal di sini?” Tanya Mita sambil menikmati mie instan buatan Biru. Biru menatap Mita, mulutnya penuh dengan mie yang dia buat.
“Sampai hutang kamu lunas ke aku, lalu aku bisa bayar ke Pak Aldo si rentenir itu, lalu aku bisa kontrak atau membeli rumah yang layak” jawaban Biru tentu membuat Nadira hanya bisa terdiam. Terakhir dia meminjam uang dari Biru sebesar 7 juta, dengan alasan dia sakit dan tidak pegang uang sama sekali, bahkan Biru memberikan uang itu dengan segera karena Mita menelponnya dan menangis. Bilang jika dia terkena penyakit mematikan.
“Maaf Bi…” ucap Mita memelas, sebenarnya Biru tidak tega mengucapkan hal tersebut kepada Mita, tetapi terkadang ucapan Mita dianggap terlalu keterlaluan. Tapi dalam hati kecil Biru, dia sangat menyayangi sahabatnya tersebut. Mita yang cantik, yang selalu ceria dan akhir-akhir ini dia selalu cerita jika sedang dekat dengan seseorang, seseorang yang kaya dan mampu membuatnya senang di setiap harinya.
Mita sudah pulang, Nina sahabat Biru yang juga tinggal di tempat tersebut datang, dia juga bekerja dari pagi hingga sore. Dan ketika malam, dia bekerja dengan Biru. Mukanya nampak kusut malam ini. Nina membanting dirinya ke atas tempat tidur.
“Kenapa Nin?” Tanya Biru, dia baru saja membereskan barang dagangan yang akan dia bawa ke lapak tempat mereka berjualan. “Kalau kamu capek atau sakit, kamu nggak usah ikut jualan, baiar aku saja” Biru duduk di sebelah Nina.
“Iya nih, badanku capek-capek semua, maaf ya Bi…aku nggak bisa bantu kamu jualan” Nina memohon.
“Nggak apa-apa, aku bisa, kamu istirahat saja di rumah”
“Bi… kamu habis pinjam uang lagi ya sama Pak Aldo? Harusnya kamu nggak usah melakukan hal itu lagi, kamu fikir Mita benar-benar memerlukan uang itu?” Nina seolah menghakimi apa yang dilakukan Biru. “Kamu tahu sendiri kan kalau hutang sama dia, kamu akan dikejar kejar melulu” Nina mengingatkan, tapi tidak perlu diingatkn pun dia tahu resiko itu. Sudah beberapa kali dia dikejar anak buah Pak Aldo.
__ADS_1
“Maaf Nin” Biru merasa bersalah. “Bahkan tabungan kita juga ikut habis, aku panik saat Mita bilang sakit parah” Biru menunduk.
Nina mengehela nafas, menatap Biru iba, lalu diraihnya tangan Biru, “Tidak apa, berjanjilah ini yang terakhir kalinya” ucapan Nina menenangkannya.
Harusnya uang yang terkumpul bisa saja dia gunakan untuk menyewa kamar kontrakan yang lebih layak, harusnya dia juga tidak terjebak hutang dengan rentenir itu.
“Nin, kamu tahu kalau dia ada pacar?” Tanya Biru.
“Iya, dia cerita beberapa hari yang lalu, sepertinya dia punya pacar yang mapan, setidaknya itu dari ceritanya, tapi entahlah, aku turut senang kalau itu benar” Nina masih dalam posisi berbaring.
“Sepertinya benar, tadi sore sepulang aku kerja, aku lihat dia sedang berbincang dengang seseorang yang memang kaya, cowok itu tampan dan mobilnya juga bagus” Biru mengingat-ingat wajah si cowok itu.
“Oh ya? Di mana?”
“Depan gang, nampaknya mereka sudah akrab, kalau bilang itu teman dekat atau pacarnya, mungkin saja benar”
“Setelah itu kamu, carilah pacar atau calon suami yang mapan, biar kamu bisa keluar dari tempat ini dengan mudah, tidak perlu kerja begitu keras, atau bahkan kamu tidak perlu kerja sekalipun, lalu yang terpenting kamu bisa
terhindar dari para rentenir jahat itu” Ucap Nina, disambut tawa Biru yang renyah. Candaan yang mengandung doa dari Nina patut diamini.
“Lalu bagaimana si Roy?” Roy adalah pacar Nina, sudah setahun belakangan mereka berpacaran, Roy bukanlah cowok tajir tapi entah apa yang membuat Nina jatuh cinta padanya.
“Dia beda, kamu jangan mengikuti jejakku” Nina tertawa terbahak-bahak. Nina sahabat Biru yang umurnya 3 tahun lebih tua darinya, dia juga sangat bijak dan lebih dewasa. Biru bergegas bersiap diri untuk segera menuju tempat
__ADS_1
jualannya.